Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 41


__ADS_3

Sejak hari itu, Mas Dwi semakin banyak menghabiskan waktu di depan komputernya. Pekerjaan yang pernah ia janjikan akan dilimpahkan padaku, tak ada satupun yang ia berikan. Berbagai alasan dibuatnya agar aku tak mengganggu pekerjaannya sama sekali. Jika sudah begitu, aku hanya bisa mengalah dan meninggalkannya sendiri.


Tatapan matanya yang begitu tegas membuatku tak berani banyak bicara. Aku hanya berharap masalah di kantor segera selesai. Bukan hanya masalah aku yang terabaikan, namun aku juga tidak tega melihat energi dan waktu Mas Dwi yang banyak terkuras.


Malam itu aku sudah begitu lelah, banyak tugas kuliah yang datang bersamaan. Mas Dwi juga beberapa kali kubujuk untuk segera tidur, namun ia menolak dengan berbagai alasan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur lebih dulu tanpa menunggunya. Namun, ternyata tidak semudah yang kukira. Meski rasanya begitu mengantuk, tubuhku enggan terlelap begitu saja.


"Sayang, udah tidur?" tanya Mas Dwi dengan lembut, bahkan aku tidak yakin benar ia yang bertanya. Mungkin hanya pikiranku saja karena terlalu mengantuk, akhirnya aku tidak merespon apapun.


Setelah itu, Mas Dwi keluar dari kamar. Kuintip sedikit, ia membawa ponselnya ke luar. Tidak biasanya, aku sering mendengar sayup-sayup Mas Dwi menerima telepon ketika aku tertidur. Entah mengapa kali ini ia harus membawa ponselnya keluar.


Perlahan aku turun dari ranjang dan mengikutinya. Kubuka pintu kamar perlahan, terlihat Mas Dwi sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia bicarakan. Mungkinkah urusan pekerjaan masih harus dibicarakan saat jarum jam hampir melewati angka sebelas?


Aku kembali menutup pintu kamar sepelan mungkin agar Mas Dwi tidak mendengarnya. Pikiranku mulai bimbang, ada beberapa kemungkinan yang muncul di benakku. Teringat akan pesan singkat yang pernah diterima tengah malam, keesokan paginya Mas Dwi harus keluar kota. Mungkinkah kali ini juga urusan pekerjaan?


Kupejamkan mata sejenak, kuyakinkan diri bahwa Mas Dwi tak pernah berkhianat, ia bukan orang jahat. Semua yang ia lakukan selalu memiliki alasan di baliknya. Terlebih kemarin ia juga bercerita kalau di kantor sedang ada masalah. Baiknya kali ini aku tidak mengganggu, takut justru menambah masalah.


Sembari menunggu Mas Dwi kembali, aku merebahkan diri lagi di ranjang kami. Tak membutuhkan waktu lama, Mas Dwi sudah kembali ke kamar dan melihat ke arahku sebentar. Aku pura-pura tertidur, namun masih bisa mengintip sedikit. Mas Dwi kembali duduk di meja kerjanya dan membuka berkasnya lagi.



Waktu menunjukkan hampir pukul enam sore, Mas Dwi belum juga pulang. Ponselnya bisa dihubungi, namun tidak diangkat. Mas Dwi biasanya selalu memberi kabar jika memang harus terlambat pulang. Akhir-akhir banyak sekali yang berubah darinya. Ingin tidak menaruh kecurigaan, namun sayangnya keadaan berlaku sebaliknya.


"Kak, aku boleh minta tolong?" Pertanyaan Tria membuyarkan lamunanku.


"Iya, ada apa?" tanyaku dan segera masuk ke dalam kamar Tria.


"Tolong pegang ini sebentar!" Ia memberikanku sebuah kotak kecil yang berisi banyak foto polaroid. Tria naik ke atas meja dan menyusun kabel lampu tumbler di dindingnya.


Kulihat satu persatu isi kotak tadi. Ada fotoku juga, lebih tepatnya foto kami ketika hari pernikahanku. Di atas kasurnya banyak foto berserakan, sepertinya itu foto yang tergantung sebelumnya.


"Kak, aku minta fotonya!" pintanya padaku.


"Ah, ini." Aku memberikan kotak itu padanya. Ia menggantung fotonya satu persatu dibantu dengan penjepit dengan bentuk yang lucu-lucu.


Aku tidak pernah menghias kamar seperti ini. Jangankan hiasan dinding, isi kamar saja semua Mama yang urus. Aku hanya menentukan warnanya saja.


Penasaran dengan foto yang berserakan di atas kasurnya, aku mendekat ke ranjangnya dan melihat foto-foto itu. Banyak foto Tria bersama teman-temannya, dia memang anak yang mudah bergaul. Beberapa juga ada foto ia bersama seorang lelaki, mungkin pacarnya.


Kemudian mataku tertuju pada sebuah foto yang menunjukkan foto bertiga di dalamnya: Tria, Mas Dwi dan seorang wanita. Awalnya kukira itu adalah foto Kak Julia, namun ternyata bukan. Wajahnya terasa familiar, namun aku tidak bisa mengingatnya.


"Kak, jangan lihat! Aku malu!" teriak Tria mengagetkanku. Foto yang baru kupegang juga kukembalikan lagi ke tempatnya.


"Eh? Kenapa malu?"


"Anu … pokoknya jangan!" Ia langsung lompat dari mejanya dan membereskan semua foto yang ada.

__ADS_1


"Fotonya masih banyak yang bagus, kenapa dilepas?" tanyaku penasaran.


"Hehe, aku … baru putus," jawabnya malu-malu seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


"Hmm, ternyata," jawabku. "Tapi, kan, masih banyak foto lain yang gak bareng sama mantanmu. Kenapa semua dilepas?" tanyaku lagi.


"Itu …." Ia perlahan duduk di kasurnya dan mulai bercerita, "Aku kira kami berteman, ternyata cuma aku yang menganggap mereka teman."


Rasanya masalah dengan teman jauh lebih menyakitkan dari pada dengan pasangan. Pantas saja akhir-akhir ini ia banyak menghabiskan waktu di rumah, ternyata sedang ada masalah. Aku pun ikut duduk di sebelahnya.


"Kalau mau cerita, boleh kok," pancingku. Tentu aku tidak akan memaksa, hanya menawarkan saja.


"Huuhh!" Tria menghela napasnya.


"Kami berteman dari awal perkuliahan, tugas kuliah selalu kita kerjakan sama-sama, main juga sering bareng. Tapi, makin ke sini makin pada egois. Jangankan main bareng, chat di grup aja mulai gak respon lagi." Suaranya terdengar menyedihkan.


"Mungkin mereka sibuk, kan, kalian sudah semester akhir." Aku berusaha berpikir positif.


Tria menggeleng sembari tersenyum kecut, "Enggak, Kak. Mereka udah nemu temen baru. Setiap aku ajak keluar udah gak bisa lagi, tapi di hari yang sama mereka bisa pamer lagi jalan-jalan sama temen yang lain."


"Ah, aku mengerti."


Pasti kesal juga kalau aku berada di posisi Tria. Hanya saja, kita tidak memiliki hak untuk memaksakan orang lain agar mau berteman dengan kita. Mereka juga berhak untuk memilih dengan siapa mereka bisa berteman.


"Tapi gak masalah kok, Kak. Kalau masih berteman sama mereka, aku banyak menghabiskan waktu di luar. Kalau sekarang aku bisa lebih fokus menyelesaikan skripsiku di rumah," jawabnya dengan senyuman yang ia sunggingkan. Aku mengangguk setuju.


"Iya, untung ada Kak Lena. Aku gak akan merasa sendirian lagi."


Aku berharap senyuman yang ia berikan itu tulus tidak ada beban yang sengaja ia sembunyikan. Bagi sebagian orang, teman itu lebih penting daripada pasangan. Ah, aku hampir lupa kalau ia juga baru putus dengan pacarnya.


"Lalu, kalau aku boleh tahu, kenapa kamu bisa putus? Bukannya kalian belum lama pacaran?"


Tria terlihat menahan tawanya. Sungguh respon yang sangat berbeda dari kebanyakan orang.


"Kamu putus cinta tapi kayak gak ada masalah," tanyaku bingung.


"Sejujurnya aku bingung, Kak. Aku gak tahu harus sedih atau gimana dengan pengalaman ini," jawabnya dengan tawa yang masih tertahan.


"Mengapa bisa begitu?"


"Jadi gini, Kak. Emm … tapi Kakak jangan cerita ke siapa-siapa, ya! Kalau Mas Dwi boleh sih," ujarnya kemudian.


"Iya, aku gak akan cerita ke siapa-siapa. Mau cerita ke siapa juga?" jawabku yakin.


Ia menarik napasnya dalam-dalam. Setelah tawanya menghilang, ia memulai cerita.

__ADS_1


"Jadi, aku diselingkuhin, Kak. Dan selingkuhan pacarku itu …." Ia tak melanjutkan ceritanya.


"Temanmu? Sahabatmu?" Aku berusahalah menebak-nebak. Ia hanya menggeleng.


"Selingkuhannya pacarku itu … laki … laki," jawabnya.


"Hah? Gimana?" Aku masih tak percaya mendengarnya hingga merasa ucapan Tria perlu diperjelas lagi.


"Haha, Kakak gak salah dengar kok. Iya, pacarku ternyata doyannya sama sesamanya, sesama lelaki, Kak," jawabnya dengan ekspresi yang tampak geli. Aku tidak tahu harus merespon apa. Sedikit sulit untuk kupercaya.


"Sulit dipercaya ya, Kak? Sama, aku juga awalnya gak percaya," jawabnya sambil tertawa.


"Iya, aku lumayan susah untuk percaya. Kamu tahu dari mana? Apa kamu pernah melihatnya langsung?" tanyaku.


"Iya, sedikit menggelikan," jawabnya dengan padangan yang seolah mengingat lagi kejadian yang telah berlalu. "Aku pernah melihat dia, emm … berciuman dengan teman lelakinya di kost dia."


"Oh My … aku gak bisa membayangkan." Aku sangat terkejut mendengar ceritanya.


"Haha, jangan dibayangkan, Kak! Aku juga menyesal pernah melihat itu, setiap teringat kejadian itu aku merasa geli sendiri," jawabnya dengan ekspresi jijik.


"Oke-oke-oke, jangan bahas lagi!" pintaku seraya menggelengkan kepala.


"Sayang, aku pulang," panggil Mas Dwi dari depan pintu kamar Tria. Kami pun menengok ke arah Mas Dwi bersamaan. "Kalian cerita apa, sih? Asyik banget," tanya Mas Dwi seraya mendekat ke arah kami.


"Ada deh!" jawabku dan Tria dengan kompak.


.


.


.


.


Selamat malam teman-teman semuanya!


Mohon maaf kemarin belum bisa update karena terkendala koneksi internet 🙏


Ada yang pengen Alena crazy up lagi?


Komen sebanyak-banyaknya ya!


Kalau komentarnya tembus 20, lusa Bulan bakal kasih crazy up 5 bab sekaligus!


Ditunggu komentar kalian ya! ❤️

__ADS_1


Salam sayang dari Bulan ✨✨


__ADS_2