![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Sudah seminggu otakku diajak untuk bertempur dengan masalah di rumah, hari ini harus kembali fokus pada materi perkuliahan. Beberapa menit sekali Mas Dwi memantauku lewat pesan singkat, ia memastikan kalau keadaanku baik-baik saja. Sesekali ia mengirimkan stiker-stiker lucu berisi gombalan receh, aku tak kuasa menahan tawa. Aku merasa kembali menjadi remaja. Yah, bahkan masa remajaku tidak melalui percintaan manis dan lucu seperti ini.
"Len, gimana nanti sore, bisa ikutan gak?" tanya Naura ketika aku sedang asyik berkirim pesan dengan Mas Dwi.
"Mau kerjain di mana? Kalau kalian gak keberatan, suamiku minta kerjain tugasnya di rumahku aja," jawabku.
Aku sudah meminta izin pada Mas Dwi. Dari pada aku mengerjakan tugas di luar tanpa pengawasan, baginya lebih baik kami mengerjakannya di rumahku saja. Dengan begitu, Mas Dwi akan lebih mudah mengawasiku. Aku pribadi tidak masalah kalau harus mengerjakan di luar, tapi jika suami tidak mengizinkan, mau bagaimana lagi?
"Aku sih gak masalah, kalau kalian gimana?" tanya Naura pada empat sekawan yang sedang asyik dengan ponsel miringnya. Apa lagi kalau bukan sedang memainkan game online.
"Aku sih yes," jawab Idham.
"Aku juga yes," tambah Doni.
"Anak kost pasti ikut yes! Karena kalau kerjain di luar bakal boros jajan. Hehe," jawab Ardan disertai alasannya dan tawa kecil di ujungnya. Aku sungguh memahami kondisi dompetnya sebagai anak kost dengan kiriman yang pas-pasan.
"Kalau aku gak yes, apa kalian bakal mengubah haluan?" jawab Ojak dengan pertanyaan.
"Tentu nggak," jawab Idham. Kami semua menahan tawa. Kasihan Ojak selalu menjadi ekor.
Empat sekawan ini saling bicara, namun tanpa melihat siapa lawan bicaranya. Pandangan mereka lurus ke layar ponsel. Dasar anak-anak jaman sekarang. Untung saja di kelas mereka tidak seperti itu.
"Bener gak apa-apa ngerjain di rumahmu? Nanti kalau berisik gimana?" tanya Naura masih meyakinkanku.
"Iya, gak apa-apa. Beneran deh! Lagi pula rumahku selalu sepi. Jarang-jarang ada tamu yang dateng, rame-rame pula," jawabku yakin. Karena Mas Dwi yang meminta maka aku menurutinya. Kalau bukan suruhannya mana mungkin aku berani membawa tamu laki-laki?
Waktu istirahat sudah habis, kami masuk ke kelas lagi. Aku senang bisa berteman dengan mereka, apalagi empat sekawan ini. Rasanya seperti memiliki empat bodyguard. Meski ada beberapa di antara mereka yang bisa dibilang pendiam, tapi ia juga tidak sombong ataupun ketus padaku. Aku bisa menghargai karena pribadi setiap orang itu berbeda-beda.
..
Aku kembali ikut dengan mobil Idham, Naura juga bersama kami. Ojak dan Doni mengendarai motornya masing-masing. Ardan dibonceng Ojak karena dia memang tidak dibekali kendaraan oleh orang tuanya. Idham sudah paham arah ke rumahku tanpa perlu aku tunjukkan lagi jalannya. Bersamaan dengan aku turun dari mobil, Tria baru mengeluarkan motornya dari garasi.
"Baru pulang, Kak? Kok bawa rombongan?" tanya Tria.
"Iya, nih, mau ngerjain tugas. Sama Mas Dwi disuruh kerjain di rumah aja," jawabku. "Oh iya, kamu mau ke mana?" tanyaku kemudian.
"Ah, begitu. Aku mau ngerjain tugas juga, gak sampai malem kok," jawabnya seraya menaiki motornya dan menghidupkannya.
__ADS_1
"Ya udah, hati-hati ya!" pesanku.
"Siap, Bos!" jawabnya seraya melajukan motornya. Terlihat ia menunduk hormat ketika melewati Naura dan yang lainnya.
"Itu adik iparmu yang waktu itu, ya?" tanya Naura.
"Iya, yuk masuk!" ajakku.
Mereka kupersilakan untuk duduk di sofa dan kutinggal ke dapur untuk meminta Mbak Arum menyiapkan minuman serta camilan. Tak lupa aku juga mengambil laptop dari kamarku. Idham dan Naura juga sudah mengeluarkan laptopnya. Sedangkan Ardan, Doni dan Ojak, jangankan laptop buku saja aku tidak yakin mereka membawanya. Karena tas mereka terlihat begitu kecil.
"Rumahnya nyaman banget, ya, gak terlalu kecil tapi gak terlalu besar juga. Suasananya juga bikin tenang," ujar Naura.
"Iya, gak kayak rumah Idham. Rumahnya kebesaran tapi gak ada manusianya, jadi horor," tambah Ojak.
"Daripada rumahmu, besar tapi berisik dan kamu hampir tiap malam mengungsi di rumahku," sanggah Idham tak mau kalah.
"Eh, udah-udah! Kok malah jadi debat. Ini diminum dulu!" ucapku menengahi mereka. Mbak Arum sudah membawakan sirup dengan perisa jeruk dan camilan berupa biskuit serta keripik kentang.
"Maaf, ya, adanya cuma ini," ujarku ketika semuanya telah tersaji di meja.
"Gak apa-apa, keluarin aja semua yang ada. Pasti habis kok kalau ada kita," ujar Ojak dengan candanya.
"Sok jaga image, padahal kalo di kostan Ardan dia yang paling banyak ngabisin jajanan," sanggah Doni.
Doni banyak diam, namun sekalinya bicara langsung tepat sasaran. Idham langsung cengar-cengir sembari menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Rasanya seperti punya adik laki-laki.
"Gak ada yang mau mulai nih?" tanya Ardan seraya membuka toples keripik kentang.
"Iya, kamu aja yang buka. Kamu irit soalnya. Kalau Idham yang buka nanti yang lain gak kebagian," ujar Ojak disertai dengan tawa yang mengejek.
Idham sudah siap melayangkan tangan kanannya hendak menjitak kepala Ojak. Dengan sigap Ojak beranjak dari duduknya dan menjauh dari Idham sambil tertawa. Kalau bercanda terus sepertinya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugasnya. Benar saran dari Mas Dwi, kami lebih baik mengerjakan tugas di rumah saja.
Merasa sudah banyak membuang waktu, Naura menegur Ojak dan Idham agar segera diam dan mulai mengerjakan tugas. Naura harus segera pulang, karena memang di rumah dia masih punya tanggung jawab yang lain. Meski terlihat seperti teman, namun mereka tetap bisa menghormati kami sebagai orang yang lebih tua.
Kami pun mulai mengerjakannya. Ternyata meski terlihat nakal dan cuek akan materi di kelas, empat sekawan ini merupakan anak yang pintar. Mereka bisa berdiskusi dengan baik, argumen yang disampaikan juga memiliki dasar, bukan hanya opini belaka. Aku beruntung memiliki kelompok seperti mereka.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor Mas Dwi masuk ke halaman rumah. Aku izin untuk meninggalkan diskusi kami sebentar dan membukakan pintu untuk Mas Dwi.
__ADS_1
"Hai, Sayang," sapa Mas Dwi. Ia hendak mencium keningku namun kutahan. Aku tidak ingin dilihat teman-temanku.
"Ah, oke aku mengerti," ujar Mas Dwi setelah ia melihat ada beberapa orang di ruang tamu. "Mereka udah pada makan?" tanya Mas Dwi kemudian.
"Belum, Mas. Baru tadi waktu jam makan siang," jawabku.
"Ajak pesan makanan, biar aku yang bayar," bisik Mas Dwi di telingaku.
"Yang bener, Mas?" tanyaku tak percaya.
"Iya, Sayangku. Kapan aku bohong?"
"Uhh, makasih!" ucapku manja. Aku senang sekali Mas Dwi bisa menerima teman-temanku dengan baik, bahkan mau membelikan makanan juga.
Mas Dwi mengusap rambutku sebentar kemudian melangkah ke kamar. Ketika aku kembali bergabung bersama teman-temanku, mereka menatapku dengan pandangan yang tak biasa.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanyaku bingung.
"Itu suamimu, Kak?" tanya Idham.
"I--iya, memang kenapa?" tanyaku lagi. Aku merasa seperti ada yang salah.
"Suamimu ganteng banget, Kak. Cocok banget kalian berdua," puji Ojak. Aku merasa sedikit malu. Namun, memang kuakui ketampanan Mas Dwi itu melewati batas. Kulirik Naura, ia terlihat sedang berusaha menahan tawa.
"Kamu kenapa ketawa?" tanyaku pada Naura.
"Aku ketawa lihat ekspresi mereka," jawab Naura. "Mereka laki-laki, tapi melihat suamimu, ekspresinya sampai seperti itu. Memang pesona suamimu itu luar biasa, ya," ujar Naura lagi.
"Ah, haha … ya, begitulah."
Aku tak tahu harus menjawab apa. Namun aku sedikit tidak nyaman mendengar pengakuan Naura tadi. Ya sudahlah, ia tidak mungkin mengganggu suamiku. Mas Dwi juga tidak mungkin meladeninya jikalau memang Naura berani mendekat.
"Oh iya, kalian lapar, kan? Ayo pesan makan!" ujarku mengalihkan pembicaraan.
"Wah, Kak Lena yang traktir nih?" tanya Ojak semangat.
"Iya, aku yang bayar. Pilih aja mau pesan apa," jawabku.
__ADS_1
Mereka bersorak gembira. Aku ikut senang melihatnya. Di samping itu, sudut mataku masih memperhatikan Naura, ia terlihat senyam-senyum sendiri. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, namun aku harus tetap waspada.