Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
33


__ADS_3

Pagi ini terasa lebih dingin dari pada biasanya. Sepertinya semalam turun hujan. Entahlah, aku tidak tahu karena tidurku terlalu nyenyak. Pintar sekali, Mama memilih mengabariku bahwa beliau sakit di hari Sabtu. Jadi aku bisa menginap karena hari Minggu aku tidak bekerja.


Aku keluar kamar, mendapati pemandangan yang dulu sering kulihat. Mama yang sedang bergelut dengan alat masaknya. Entah mengapa, rasa kesalku sudah menghilang. Mengapa semudah ini aku luluh? Mungkin sudah seharusnya seorang anak lebih mengerti orang tuanya.


"Baru bangun?" tanya Mama basa-basi.


"Hmm," jawabku. Kemudian aku duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan lalu mengecek handphoneku.


Mas Dwi : Bagaimana keadaan di rumah? Keadaan mamamu juga bagaimana?


Lena : Semuanya terlihat sama seperti dulu. Mama juga hanya sakit biasa dan sepertinya sudah membaik.


Mas Dwi : Syukurlah. Apa aku perlu kesana?


Lena : Gak perlu, Mas. Nanti siang atau sore aku akan pulang ke kostan.


Mas Dwi : Baiklah. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu!


Lena : Oke, Mas.


Mas Dwi : Ah, aku terlupa satu hal.


Lena : Apa itu?


Mas Dwi : Aku kangen.


Blushh!! Jantungku langsung berpacu, terasa kehangatan mulai menjalar ke pipiku. Apa-apaan ini? Bisa-bisanya lelaki berusia 27 tahun masih bisa menggombali aku seperti ini.


Mas Dwi : Jangan merona seperti itu! Aku gak bisa membedakan mana pipimu dan mana udang rebus.


Lena : Mas! Please, jangan membuatku malu!


Aku membalas pesan ini dengan senyum yang tak bisa lagi kutahan. Serius, aku seperti merasa seperti bocah ABG lagi.


Mas Dwi : Haha! Sorry, sorry! Tolong bukakan pintu dong! Di luar dingin.


Lena : Hah? Maksudnya?


Aku langsung berdiri dan melihat ke arah ruang tamu. Apa mungkin Mas Dwi datang. Tapi, mau apa?


"Ada apa, Len?" tanya Mama yang juga terkejut melihatku tiba-tiba berdiri.


"Ada yang datang," jawabku kemudian lari ke ruang tamu dan melihat ke luar lewat jendela. Terlihat Mas Dwi di depan pintu sedang berdiri menghadap ke luar.


Segera kurapikan rambut dan bercermin dengan menggunakan layar handphone. Hah, mengapa bisa senekat ini sih? Kan aku belum bersiap sama sekali.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu kubuka, ia pun langsung berbalik badan dan tersenyum sumringah.


"Hai!" sapanya padaku.


"Mas, kenapa kesini tanpa bilang padaku, sih?" tanyaku tanpa mengindahkan sapaannya.


"Apa kamu gak mau membalas salamku?"


"Bahkan Mas gak mengucap salam," ujarku kemudian.


"Ups! Sorry! Selamat pagi, Alena," ujarnya seraya tersenyum.


"Pagi, Mas. Ayo masuk, di luar dingin!"


"Ah, iya." Kemudian ia masuk dan pintu kembali kututup.


"Mau minum apa?"


"Air putih saja. Jangan yang dingin!"


"Iya-iya."


Kemudian ia duduk, aku menuju dapur. Mama tidak bertanya apapun, tapi bisa kulihat sekarang ia sedang tersenyum.


"Mas ngapain kesini?" tanyaku seraya duduk dan meletakkan minuman itu di atas meja.


"Iya boleh, tapi setidaknya bilang dulu. Biar aku bisa mandi dulu."


"Gak papa, toh sebentar lagi aku akan terbiasa melihatmu setiap bangun tidur," jawabnya lagi seraya tersenyum lebar.


Blush! Pipiku memerah lagi. Jantungku lagi-lagi bergejolak. Ah! Menyebalkan sekali! Mau sampai kapan aku tidak terbiasa dengan momen seperti ini?


"Tunggu sebentar, aku mau mandi dulu!" ujarku.


"Padahal begini saja gak masalah," ujar Mas Dwi.


"Iya bagimu. Sudahlah, tunggu sebentar! Oke?"


"Iya-iya, aku tunggu."


Aku langsung beranjak ke kamar dan menyiapkan pakaian ganti. Kulirik jam di dinding masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Niat sekali manusia satu itu.


Secepat kilat aku mandi, berganti pakaian dan sedikit bersolek. Wajahku terlalu pucat jika tidak kutambahkan pemerah bibir. Tapi jika hanya di rumah saja seperti ini, aku hanya menggunakan lip balm. Ketika aku keluar kamar, terlihat Mama sudah duduk di sofa dan mengobrol asyik dengan Mas Dwi.


"Len, kamu akan menikah kenapa gak bilang Mama? Apa kamu gak butuh restu Mama lagi?" tanya Mama ketika aku baru saja sampai di ruang tamu.


"Hah? Menikah?" Aku sedikit terkejut.

__ADS_1


Kami memang sudah sepakat akan memberitahu mamaku ketika keluarga Mas Dwi sudah benar-benar menerimaku. Untuk sekarang, persyaratan saja belum terpenuhi, mana bisa aku disebut sudah diterima di keluarga mereka?


"Ada sesuatu yang perlu kusampaikan padamu," ujar Mas Dwi. Aku pun duduk di sebelah Mama.


"Ada sesuatu yang belum aku tahu?" tanyaku. Ia mengangguk.


"Aku minta maaf kemarin sedikit kesal karena kamu menyetujui syarat papaku secara sepihak, tapi kini aku justru berterimakasih padamu."


"Berterimakasih? Untuk apa?" tanyaku masih belum mengerti.


"Semua biaya kuliah, Papa yang tanggung. Kita akan menikah bulan depan," jelasnya singkat.


Blarrrrr!! Bukan lagi bergejolak, kali ini jantungku rasanya sudah tidak duduk di tempatnya lagi. Seketika aku membeku. Aku akan menikah? Bulan depan?


"Len? Kamu gak papa?" tanya Mama seraya menepuk-nepuk bahuku.


"Ah, i--iyaa." jawabku terbata. Terlihat senyum Mas Dwi kini sangat sumringah. Aku belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Kuatur kembali nafasku, berharap jantungku bisa kembali lagi ke tempatnya.


"Mas, bagaimana mungkin kita bisa menikah bulan depan? Kita belum mempersiapkan apapun," ujarku ketika kesadaranku mulai pulih.


"Mama punya usaha WO, gak perlu pusing," jawab mas Dwi santai.


WO adalah singkatan dari Wedding Organizer yang merupakan sebuah usaha di bidang jasa yang membantu dalam mengurusi persiapan serta jalannya acara pernikahan.


"Lalu, masalah dana?" tanyaku.


"Jangan khawatir! Masalah dana itu urusan laki-laki," ujarnya Mas Dwi lagi.


"Tapi Mas, yang menikah kan kita berdua, mana mungkin hanya Mas sendiri yang keluar uang?"


"Memang kamu punya uang kalau mau bantu biaya pernikahan?" tanya Mama kemudian.


"Ya ... kalau untuk sekarang aku memang belum punya uang, sih," jawabku pelan. Benar kata Mama, aku memang belum punya uang yang cukup karena memang belum ada persiapan.


"Tenang! Aku gak akan keluar uang terlalu banyak kok. Papa sudah setuju untuk gak mengadakan resepsi yang terlalu besar. Jadi nanti hanya mengundang keluarga besar dan orang-orang kantor saja."


"Baiklah, akan ku pertimbangkan," ujarku mengalah. Mungkin bagiku ini memang terlalu cepat, namun bagi Mas Dwi yang sudah pernah gagal, tentu ia ingin pernikahan ini berlangsung sesegera mungkin agar tidak terjadi kegagalan lagi.


"Eh, sebentar-sebentar," ujarku tiba-tiba terlintas sesuatu. "Kok Mama langsung setuju begitu saja? Memang Mas Dwi sudah bicara apa saja?"


"Tadi waktu kamu mandi, Dwi sudah 'meminta' kamu secara pribadi," ujar Mama yang membuatku terbelalak.


"Hah? Kok bisa? Kenapa gak menunggu aku?" tanyaku tidak terima. Karena aku juga ingin lihat.


"Untuk apa? Toh jawabannya akan sama saja. Mama sudah menyetujui hubungan kalian sejak awal."


Aku mengerenyitkan kening. Kulihat kedua orang dihadapanku secara bergantian. Keduanya tersenyum bahagia. Sesungguhnya begitu pula yang hatiku rasakan, tapi ada kekhawatiran lain yang juga bermunculan di benakku.

__ADS_1


Ah, sudahlah! Rasanya aku sudah terlalu lama berkecimpung dalam masalah yang tidak berkesudahan, maka dari itu, begitu ada kebahagiaan yang hadir masih saja ada pikiran buruk yang muncul. Buang! Aku harus buang. Kini saatnya aku harus bahagia.


__ADS_2