![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Kupandangi tetesan air yang mengalir perlahan di kaca jendela bagian luar ruang kelas. Kebetulan siang ini aku mendapat kelas di paling ujung, sehingga mendapatkan akses jendela yang langsung menghadap ke jalan raya. Hujan turun sejak dua jam yang lalu, kini tersisa rintik-rintik air yang turun dengan lemah tertiup angin.
Aku ingin segera pulang dan tidur. Udaranya sangat mendukung untuk mengantarkanku ke alam mimpi. Ditambah lagi dosen kali ini menjelaskan dengan kurang bersemangat, hanya membaca materi yang ia tampilkan di layar proyektor. Satu kelas terlihat kompak. Ya, kompak untuk memilih tidur dan berharap jam perkuliahan kelima ini segera berakhir.
Tepat di belakangku, ada Idham dan ketiga kawannya. Terlihat Idham yang sudah lebih dahulu berangkat ke alam mimpi. Ia bersembunyi di balik tubuhku dan Naura, dosen yang duduk di balik meja tentu tak akan melihatnya. Tak hanya Idham, teman-teman yang lain --terutama yang laki-laki-- juga banyak yang tidur di baris belakang.
Sabar, lima belas menit lagi. Setelah ini bisa pulang dan tidur. Kasurku yang empuk masih setia menungguku.
Sepuluh menit.
Lima menit.
Oke, waktu perkuliahan akhirnya berakhir. Pak Dosen menutup perkuliahan hari ini dan keluar kelas. Sial, bersamaan dengan Pak Dosen yang baru keluar kelas, hujan turun kembali dengan derasnya. Mahasiswa yang sudah mulai melangkah ke luar, memilih untuk kembali masuk ke dalam kelas.
"Ini ujan gak mau kompromi bentaran apa, ya? Udah waktunya pulang malah makin deres," keluh Naura yang sedang memeluk tasnya dengan erat dan menyandarkan kepalanya di meja.
"Iya, padahal aku udah ngantuk banget," balasku dengan mata yang sudah memaksa untuk dipejamkan.
Kami bisa nekat untuk pulang, namun tetap saja untuk bisa mencapai parkiran, kami masing-masing perlu menerobos hujan karena jarak gedung perkuliahan dengan parkiran lumayan jauh dan tidak ada atap pelindungnya. Beruntung untuk mereka yang membawa mobil dan sudah parkir di basement, mereka bisa pulang dengan tenang tanpa takut basah kehujanan.
"Idham betah banget tidur, kayaknya kita tinggal juga dia gak bakal sadar," ujar Naura.
"Biasa, Kak. Kalau kami jahat mungkin dia udah sering terkunci di dalam kelas," jawab Ardan.
Hanya Ardan yang terlihat masih begitu segar, sedangkan Doni dan Ojak masih berusaha melawan rasa kantuknya. Aku pun begitu. Sesekali kucubit lenganku untuk mengembalikan kesadaran. Sesekali juga aku menahan napas beberapa detik, agar tubuhku memberontak bahwa mereka butuh oksigen dan membuat mataku kembali jernih. Namun tetap saja, atmosfer di sini tak membiarkan kami untuk terjaga lebih lama.
Ting!
Notifikasi pesanku berbunyi. Mas Dwi mengirimkan sebuah pesan.
[ Aku di basement gedung barat, kalau udah selesai kuliah langsung ke sini aja! Jangan sampai kehujanan! Naik lift, jangan lewat tangga! ]
__ADS_1
Aku tersenyum membaca pesan itu. Ia tak memberitahuku kalau hendak menjemput, bagaimana kalau tadi aku sudah pulang lebih dulu? Dasar suamiku ini!
[ Iya, Mas. Aku jalan ke sana sekarang. ] balasku.
"Kak Lena mau ke mana?" tanya Ojak ketika aku baru saja berdiri.
"Pulang, udah dijemput soalnya. Aku duluan ya!" ujarku pada mereka.
"Aku boleh nebeng gak?" tanya Naura.
Sebenarnya tidak masalah siapapun yang mau ikut pulang bersama. Hanya saja mengingat gerak-gerik Naura yang mencurigakan waktu itu, aku merasa sedikit harus menjaga jarak antara dia dan Mas Dwi.
"Kak Nau sama kita-kita aja! Kalau sama rumah Doni, kan, searah. Bangunin aja ini kebo satu!" ujar Ojak sembari menarik telinga Idham.
"Kalian mau bareng Idham? Terus motor kalian gimana?" tanyaku.
"Kita tadi berangkat juga nebeng, Kak. Soalnya semalem tidur di rumah Idham," jawab Ardan.
"Idham masih tidur, aku udah pengen banget pulang. Bareng kamu aja deh," jawabnya.
"Dham, bangun! Kalau tidur udah kaya mayat aja! Ada gempa bumi juga gak bakal bangun!" ujar Ardan sembari mengguncang tubuh Idham.
"Hmm … iya … ayo beli jagung!" jawabnya seraya menegakkan posisi duduknya dan menggaruk kepalanya, namun matanya masih terpejam.
"Kan, ngelantur," ucap Ardan.
"Mau beli jagung di mana?" tanyanya lagi, kini matanya membuka sedikit dan mengerjap beberapa kali.
"Di Jonggol!" jawab Ardan sembari memukul bahu Idham.
"Sakit, woy! Santailah!" umpat Idham. "Loh, udah pada mau pulang? Memang kuliahnya udah selesai?" ucapnya lagi, ternyata ia bisa tertidur dengan nyenyak walaupun sambil duduk. Aku menggeleng melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Udahlah, aku mau pulang! Kalian hati-hati, ya! Jangan ngebut-ngebut!" pamitku pada mereka. Terserah Naura mau ikut siapa, yang pasti jangan harap ia bisa merebut Mas Dwi dariku.
"Aku bareng Lena, kalian kelamaan!" sungut Naura seraya mengikuti langkahku ke luar kelas.
Sengaja aku tak mengajaknya bicara, ia juga sama. Ia sibuk bersenandung kecil sepanjang jalan. Aku sangat berharap ia bisa menjadi teman yang baik seperti Atika. Satu hal yang kusuka darinya, ia tak begitu banyak bicara. Ketika aku diam juga ia tak banyak bertanya.
"Mobilnya di mana?" tanyanya padaku ketika kami sudah tiba di basement gedung barat.
"Sebentar," jawabku sembari melihat sekeliling. Terlalu banyak mobil yang terparkir di sini, warnanya juga hampir seragam. "Coba jalan ke sana dulu!" ajakku seraya melangkah perlahan mencari mobil Mas Dwi.
"Itu, bukan?" tanya Naura dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu keluar.
"Ah iya, itu mobilnya," jawabku seraya mempercepat langkah ke sana. Melihatku berjalan ke arahnya, Mas Dwi langsung keluar dari mobil dan menyambutku.
"Sayang, kamu gak perlu lari-lari gitu! Aku bakal tunggu kok walaupun lama," ujar Mas Dwi seraya mengusap bahuku.
"Gak apa-apa kok, Mas. Udah gak betah juga di sini, pengap. Makanya aku pengen cepet pulang," ucapku dengan manja. Sengaja kulakukan itu agar Naura melihat semuanya.
"Loh, ada Naura juga. Mau bareng lagi?" tanya Mas Dwi.
"Hehe, iya, Mas," jawabnya.
'Beraninya dia memanggil Mas Dwi dengan sebutan Mas juga?' batinku geram.
"Maaf, bisa diralat? Jujur aku kurang nyaman dipanggil seperti itu oleh orang asing. Lebih baik panggil namaku aja," tegur Mas Dwi. Kata orang asing ditegaskan di sana. Aku merasa senang mendengarnya.
"Ah, begitu, ya. Maaf, aku panggil 'Kak' aja, ya, kalau begitu? Idham dan yang lain juga, kan, memakai sebutan itu," ucap Naura kemudian.
"Kalau itu terserah, panggilan 'Mas' hanya digunakan oleh keluarga dan istriku aja," jawab Mas Dwi dengan nada datar seraya membukakan pintu mobil untukku. "Ayo, Sayang masuk ke mobil!" ucapnya padaku dan beralih ke pintunya sendiri.
"Ayo, masuk, Nau!" ajakku. Naura hanya tersenyum tipis dan membuka sendiri pintunya lalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1