![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Hari semakin sore, cahaya jingga mulai masuk ke kamarku melalui celah ventilasi. Mas Dwi sedang tertidur pulas di sebelahku. Ia tampak begitu menikmati tidur di kasurnya kembali, bukan di sofa seperti beberapa hari yang lalu. Rambutnya sedikit berminyak, sepertinya ia lupa untuk keramas. Meskipun begitu, wajah tampannya tak luntur sama sekali.
Ah, aku terlalu memuji suamiku sendiri. Tentu saja ia terlihat tampan, karena aku mencintainya. Kalau dia bukan milikku, mungkin aku akan menilainya biasa saja. Aku penasaran, berapa wanita yang sudah berhasil merebut hati lelaki tampan ini. Aku akan cemburu jikalau ada di antara mereka yang lebih dariku. Hahh, aku hampir lupa aku ini siapa. Hanya seorang gadis yang bahkan SMA saja tidak lulus. Tentu banyak wanita lain yang jauh lebih daripada aku.
Kumainkan rambut Mas Dwi yang menutupi keningnya. Tak lama ia terbangun dan menatapku dengan mata yang masih mengantuk.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya padaku dengan suara khasnya setiap baru bangun tidur.
"Gak apa-apa kok, Mas," jawabku seraya tersenyum.
"Apa yang lagi kamu pikirkan?" tanyanya lagi. Dia memang terlalu peka.
"Aku mikir, kenapa ada manusia setampan kamu, Mas," jawabku jujur.
"Hmm, ya," jawabnya sambil mengangguk-angguk. "Aku memang malaikat, makanya aku jauh lebih tampan dari pada manusia lainnya," ucapnya lagi. Ya, oke. Dia memang narsis, bahkan sangat narsis kalau sedang berdua seperti ini.
"Kadang aku menyesal terlalu sering memujimu, Mas," candaku.
"Iya, jangan terlalu sering memuji! Tanpa kamu puji pun aku sadar kalau aku tampan," pujinya lagi pada diri sendiri.
"Baiklah-baiklah." Aku mengalah menghadapi jiwa narsisnya.
"Sayang."
"Hm, apa, Mas?"
"Aku kangen," ucapnya.
"Setiap hari kita ketemu, gimana Mas bisa bilang kangen?" tanyaku lagi.
"Aku udah konsultasi sama dokter, katanya boleh melakukan 'itu' meskipun kamu sedang hamil," ujarnya.
Ah, iya aku mengerti alasannya ia mengatakan rindu padaku. Memang sejak kami tahu aku sedang mengandung, Mas Dwi tidak pernah meminta 'jatah' dariku. Hal itu berarti sudah satu bulan lebih kami 'berpuasa'. Aku tidak menyangka ia bisa setahan itu.
"Kok ketawa?" tanyanya.
"Gak apa-apa kok, Mas," jawabku dengan tawa yang masih tertahan.
"Boleh, kan?" tanyanya lagi.
"Boleh apa, Mas?" tanyaku seolah tak mengerti.
"Ah, lama!" keluhnya, kemudian ia bergerak dalam sepersekian detik dan kini ia sudah berada di atasku bertumpu dengan kedua tangannya.
"Mas, kamu titisan vampir atau apa?" tanyaku kaget melihat pergerakannya seraya mengerjap beberapa kali.
__ADS_1
"Iya, aku vampir," jawabnya kemudian wajahnya mendekat hampir mencium bibirku.
Sayang, tiba-tiba pintu kamar kami diketuk seseorang.
"Oh, ****! Ganggu banget!" gerutu Mas Dwi kemudian turun dari ranjang kami. Sedangkan aku? Jelas aku tertawa melihat wajah kesalnya itu. Ia benar-benar menggemaskan.
"Ada apa?" tanya Mas Dwi ketika pintu sudah dibuka.
"Maaf, Pak. Ada tamu nyariin bapak," jawabnya.
"Ya udah, sebentar lagi saya keluar," jawab Mas Dwi lagi.
"Baik, Pak. Permisi," pamit Mbak Arum kemudian pintu kamar di tutup kembali.
Mas Dwi kembali ke ranjang kami dan duduk di sebelahku. Ia menatapku sebentar lalu ekspresinya berubah sinis.
"Aku benci ekspresimu itu. Kamu hutang padaku malam ini," ucapnya lagi, lalu mengecup bibirku sebentar. Kemudian merapikan rambutnya dan ke luar kamar.
Aku hanya diam menatapnya. Terkadang aku masih tidak percaya memiliki suami seperti dia. Aku benar-benar mencintai apapun yang ada pada dirinya. Termasuk hal-hal kecil yang manis seperti baru saja terjadi.
Beberapa menit kemudian Mas Dwi kembali dengan membawa map biru dan meletakkannya di atas meja. Ia menulis sesuatu di atas kertas dan menempelkannya di papan jadwalnya.
"Siapa tamunya, Mas?" tanyaku ketika Mas Dwi sudah duduk di sebelahku.
"Orang kantor, tadi memang aku yang minta dia antarkan berkas ke sini kalau udah pulang kerja," jawabnya.
"Bukan apa-apa kok, biasa ada masalah sedikit," jawabnya sembari merapikan rambutku.
"Masalah apa?"
"Itu, kan, Atika sementara masih cuti melahirkan. Anggota dia ada yang gak beres kerjanya. Dia salah mengatur jadwal janjian, sedangkan pihak yang lain udah terlanjur datang. Jadi, mereka marah dan menuntut karena kantor kita dibilang membuang waktu mereka," jelas Mas Dwi.
"Ah, terkesan sepele tapi bahaya juga," jawabku.
"Hmm, yah, begitulah. Tapi gak apa-apa, udah ada yang handle kok," ujar Mas Dwi lagi. Aku mengangguk, sedikit lega karena Mas Dwi tidak harus turun tangan.
"Mandi gih, udah sore! Aku mau cek berkas dulu," perintahnya padaku.
Kulirik jam dinding, jarum pendeknya sudah melewati angka 5. Aku pun bergegas mandi dan Mas Dwi kembali ke meja kerjanya.
..
Pagi itu, aku sedang memperhatikan Mbak Arum yang sedang merapikan pot bunga di halaman rumahku yang kecil. Mas Dwi sudah berangkat kerja sedangkan Tria belum keluar dari kamarnya. Kak Julia sudah tidak ada di rumah ini lagi, aku tidak tahu kapan dan ke mana ia pergi.
Kasihan sekali. Bahkan lebih baik ia di rumahnya sendiri waktu itu daripada harus pindah ke sini dan diusir untuk kedua kalinya. Bahkan ia juga sudah berhenti dari tempat ia bekerja. Aku tidak bisa membayangkan jika harus menjadi Kak Julia, hidupnya berat sekali.
__ADS_1
"Bu, ini bunganya udah mati. Mau dibuang atau gimana?" Pertanyaan Mbak Arum membuyarkan lamunanku.
"Iya buang aja, Mbak. Besok biar Bapak yang cari bunga baru," jawabku.
"Baik, Bu."
Mbak Arum membawa pot itu ke depan gerbang, sepertinya ia membuang bunganya ke tempat sampah. Lalu ia kembali dengan pot yang sudah kosong.
"Pagi, Mbak Alena," sapa Bu Sinta yang sedang lewat depan rumahku. Ia sedang menggendong bayi kecil.
"Pagi juga, Bu Sinta. Mau ke mana, Bu?" tanyaku basa-basi sembari berjalan ke luar.
"Ini loh, ajakin cucu jalan-jalan," ucapnya.
"Loh, ternyata Bu Sinta udah punya cucu? Ibu kelihatan muda banget padahal," ujarku jujur. Bu Sinta terlihat masih berusia paruh baya, bahkan lebih muda dari pada Mama.
"Iya, anak saya menikah muda soalnya. Yah, gak apa-apa. Biar bisa dibilang awet muda," jawabnya disertai dengan tawa kecil.
"Haha, iya, Bu. Cucunya lucu banget, perempuan atau laki-laki?" tanyaku lagi.
"Perempuan, tapi gak pernah bisa dipakaikan anting, jadinya kelihatan kayak cowok begini."
Kemudian kami mengobrol hal-hal kecil sembari mengajak cucunya bercanda. Cucunya lucu sekali, sudah mulai bisa diajak bercanda. Ingin menggendongnya, namun aku masih belum berani. Mungkin aku bisa mencobanya lain waktu.
Tak lama setelah Bu Sinta pamit pulang, datanglah Bu Ijah yang baru pulang dari pasar.
"Tadi Bu Sinta bawa cucunya," tanya Bu Ijah tanpa basa-basi.
"I--iya, memang kenapa, Bu?" tanyaku. Tentu ada alasannya mengapa Bu Ijah bertanya seperti itu.
"Mbak Alena tahu gak sih, itu tuh anak hasil kecelakaan tahu!" jawabnya.
"Hah? Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Iya, anak lahir di luar nikah. Untung aja lakinya mau tanggung jawab, kalau nggak, apa gak makin malu itu keluarganya Bu Sinta?" ucap Bu Ijah seolah hidupnya paling lurus.
"Yah, itu masalah keluarga mereka, Bu. Untuk apa kita ikut campur?" ujarku agar pergosipan ini tidak berlanjut.
"Ya gimana gak ikut campur, saya sebagai warga juga risih loh, Mbak," ujar Bu Ijah lagi.
"Risihnya kenapa, Bu? Memang keluarga Bu Sinta mengganggu keluarga Ibu?" tanyaku.
"Ya memang gak mengganggu, Mbak. Tapi, gak enak aja dilihat mata. Udah hamil di luar nikah, setelah melahirkan anaknya malah dititipkan sama neneknya. Eh, orang tuanya malah merantau berdua. Apa bukan anak yang kurang aj*r kalau begitu namanya?" ujar Bu Ijah panjang lebar.
"Saya bisa mengerti apa yang Bu Ijah rasakan. Memang sedikit kurang nyaman kalau punya tetangga yang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Itu permasalahan keluarga mereka, kita gak ada hak untuk ikut campur. Bahkan jika itu terjadi pada keluarga kita sendiri, kita juga gak suka, kan, kalau keluarga kita jadi bahan omongan orang?" Aku gantian bicara panjang lebar pada Bu Ijah. Berharap ia bisa bertobat dan keluar dari dunia pergosipan.
__ADS_1
"Hah, Mbak Alena ini memang gak asyik diajak ngobrol. Omongan saya disanggah terus," ujarnya seraya memanyunkan bibir dan meninggalkanku. Aku hanya menggeleng melihatnya dan segera kembali masuk ke rumah.