![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Suasana di rumah sedikit kurang nyaman setelah kejadian hari itu. Tria tidak pernah ikut sarapan, berangkat dan pulang tanpa mengucap salam. Bahkan ketika tak sengaja berpapasan pun ia sama sekali tidak menegurku. Mas Dwi pun sama, ia hanya bicara padaku seolah tak ada manusia selain aku di sini.
"Mas, apa gak sebaiknya Mas bicara lagi dengan Tria?" tanyaku pada Mas Dwi yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Mas," panggilku lagi. Ia masih tetap diam.
"Sayang," panggilku sekali lagi dengan menarik salah satu tangannya dari keyboard laptop.
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Mas gak dengar aku ngomong apa?"
"Iya aku dengar, tapi, apa bisa kamu biarkan aku fokus sebentar, Sayang? Aku lagi kecolongan," ujarnya.
"Eh, kecolongan apa?" tanyaku kaget. Pantas saja sejak tadi Mas Dwi begitu fokus pada layar laptopnya.
"Proyekku hilang satu, padahal aku benar-benar ingat kalau besok tinggal tanda tangan kontrak," jelasnya dengan pandangan yang kembali fokus ke layar.
"Ya udah, Mas fokus dulu, nanti baru ceritakan lagi padaku," ujarku kemudian. Kalau meladeni aku yang ada konsentrasi Mas Dwi akan terganggu.
Kutinggalkan Mas Dwi dengan pekerjaannya dan pergi ke dapur. Mungkin segelas kopi bisa membantu konsentrasinya. Ketika air panas baru saja kutuang, Tria keluar dari pintu kamar mandi.
"Tria udah makan?" tanyaku. Aku tidak betah kalau ikut mendiamkannya.
"Udah kok, Kak." Kemudian ia berlalu dan masuk ke dalam kamarnya. Aku berharap ada waktu yang longgar agar bisa bicara berdua dengan Tria.
"Diminum dulu, Mas," ujarku sembari meletakkan segelas kopi di atas meja kerja Mas Dwi.
"Makasih ya, Sayang," ujarnya seraya tersenyum dan meminum kopinya sedikit.
"Sama-sama, Mas."
Aku kembali ke kasur dan menyibukkan diri dengan ponselku. Satu pesan kuterima dari Dinda, ia mengirimkan berita bahagia. Kini ia tengah mengandung buah hati pertamanya dengan Irvan. Ah, senangnya. Kalau saja aku bisa hamil dalam waktu dekat, tentu anakku, Dinda juga Atika bisa berteman.
__ADS_1
Namun mengingat aku akan kuliah, mungkin akan lebih baik kalau hamil tidak hamil di awal semester.
'Ahhh! Udah jelas kalau urusan hamil itu pemberian Tuhan, untuk apa aku berpikir yang nggak-nggak?' gerutuku sendiri dalam hati.
Waktu berlalu tanpa terasa, Mas Dwi masih berkutat dengan laptopnya. Kantukku mulai menyerang, ingin sesekali menemani Mas Dwi lembur. Namun kini aku tidak bisa begadang lagi seperti dulu. Kuputar video-video lucu untuk mengalihkan rasa kantukku. Sayang, belum habis video itu terputar, aku sudah masuk ke dalam alam mimpi.
Udara dingin mengusik tidurku. Kucari Mas Dwi hendak merapatkan tubuh, tapi tidak kutemukan. Dengan terpaksa kubuka mataku untuk mencari keberadaannya. Ternyata ia masih duduk di meja kerjanya, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
"Mas ...," panggilku.
"Iya, Sayang? Kenapa bangun?" tanyanya tanpa menengok ke arahku.
"Udah jam segini loh! Ayo tidur!" ajakku tanpa beranjak dari kasur.
"Sedikit lagi, ya. Tidur lagi gih!"
"Mas ...," bujukku. Bukan karena dingin, tapi karena aku tidak tega melihatnya lembur sampai pagi begitu.
"Sebentar ya, Sayang."
"Iya-iya-iya, oke." Ia pun segera menutup laptopnya dan beranjak ke kasur lalu merebahkan dirinya di sebelahku.
"Memang kerjaannya gak bisa dikerjain besok, ya?" tanyaku setelah tangannya sudah menghangatkanku.
"Bisa kok. Ya udah ayo tidur," ajaknya.
"Tapi, Mas juga tidur," pintaku.
"Iya, Sayang. Ssttttt!"
Ia memintaku untuk diam dan segera kembali tidur. Tak lupa sebuah kecupan manis ia berikan lagi. Aku pun memejamkan mata lagi dan terlelap beberapa saat kemudian, entah bagaimana dengan Mas Dwi.
Keesokan paginya, Mas Dwi terlihat masih terpejam di sebelahku. Raut wajahnya tampak begitu lelah. Seandainya bisa, ingin rasanya aku membantu pekerjaannya. Kukecup keningnya sekali, lalu turun dari kasur dan mulai beraktivitas lagi.
__ADS_1
..
"Mas, aku mau resign secepatnya," ujarku pada Mas Dwi yang masih menyantap sarapannya.
"Secepatnya? Kok tiba-tiba?"
"Aku mau bantu pekerjaanmu dari rumah, jadi sekretaris pribadi," ujarku mengutarakan hasil pikiranku beberapa hari terakhir.
"Ah, pasti gara-gara aku lembur kemarin, ya?" tanya Mas Dwi menyimpulkan.
"Ya gak juga sih, dari lembur yang kemarinnya dan kemarin-kemarinnya lagi juga," jelasku.
"Kalau itu maumu gak masalah, toh perusahaan itu milikku, jadi selamat Anda di terima bekerja di kantor yang baru!" ujar Mas Dwi dengan suara yang dibuat tegas dan mengajakku salaman.
Aku pun tertawa geli, begitu juga Mas Dwi. Aku senang Mas Dwi tidak keberatan untuk kubantu pekerjaannya. Semoga saja aku benar bisa membantunya, bukan malah membuatnya semakin repot.
Akhirnya, aku mengajukan surat pengunduran diri. Meski yang menerima adalah suamiku sendiri, tentu aku tetap harus mengikuti prosedur yang berlaku di perusahaan. Tak lupa juga aku berpamitan dengan karyawan lainnya. Meski banyak yang menyayangkan, terutama Atika dan Tasya yang merasa kehilangan rekan kerja. Namun, aku tetap meyakinkan kami masih bisa sering bertemu di luar kantor.
Oke, selesai. Aku resmi menjadi pengangguran dan merupakan calon mahasiswa baru. Meski kukatakan aku hendak menjadi sekretaris pribadi Mas Dwi, tetap saja aku bukan karyawan terdaftar. Sisa hari libur kumanfaatkan untuk mempelajari materi-materi dasar mata kuliah jurusanku. Meski semua terasa baru, tapi untuk dasarnya sepertinya aku bisa mengikuti dengan baik.
"Udah siap menjadi mahasiswa baru?" tanya Mas Dwi sembari menyusulku duduk di atas kasur.
"Udah dong! Yah, meski rasanya sedikit takut," ungkapku jujur.
"Kamu pasti bisa kok! Jangan takut! Aku kenal beberapa dosen di sana, karyawannya juga. Jadi jangan khawatir, banyak yang menjagamu di sana," ujarnya meyakinkanku.
"Bukan itu yang aku takutkan, Mas."
"Lalu apa? Malu karena gak seumuran dengan mereka?" tanya Mas Dwi lagi.
"Iya, aku takut dipandang aneh."
"Percaya sama aku, mereka gak akan memandang begitu. Lagi pula, kamu gak sendirian kok, pasti nanti ada yang seumuran denganmu di semester yang sama. Fokus belajar, gak usah pikirin pandangan orang, oke!" ujar Mas Dwi mengingatkanku. Aku pun mengangguk meski pikiranku masih banyak keraguan.
__ADS_1
Masuk kuliah S1 di usia 25 tahun, perkiraan bisa selesai minimal 4 tahun. Jadi usiaku saat itu hampir kepala 3. Apakah aku bisa punya anak sebelum lulus? Sungguh pikiran ini terus menggangguku. Namun, kalau aku hamil ketika masih kuliah, apakah bisa aku fokus belajar?
'Oke, fokus! Fokus! Fokus! Jangan khawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Tetap pada target untuk menyelesaikan kuliah. Urusan anak, pasti ada jalannya. Tuhan pasti sudah menyiapkan jalan yang terbaik. Yuk, semangat!' Aku berusaha menyemangati diriku sendiri.