Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 9


__ADS_3

Terbiasa dengan keseharian yang hidup tanpa bertetangga, kini aku agak kesulitan karena harus banyak berbaur dengan lingkungan sekitar. Yah, memang pada dasarnya manusia tak bisa hidup sendirian. Jadi, mau tidak mau, berbaur dengan tetangga adalah salah satu yang memang harus aku lakukan, mengingat lingkungan ini begitu rukun dan menjujung tinggi nilai kekeluargaan.


Salah satu yang menurutku paling sulit ialah tidak mudah tersinggung akan omongan yang terlontar dari mulut mereka. Gampang saja orang bicara tanpa memikirkan perasaan orang yang mereka bicarakan. Ketika orang yang dibicarakan tersinggung, tentu tetap akan diserang balik. Seperti dibilang 'terlalu sensitif', 'baperan' dan lain sebagainya. Memang begitu mudah menghakimi seseorang tanpa memikirkan perasaannya.


Siang ini, untuk pertama kalinya aku mengikuti agenda ibu-ibu lingkungan, yakni arisan. Bu Nita selaku istri dari Pak RT menghampiriku dan mengajak untuk berangkat bersama. Kebetulan rumah kami juga dekat. Kali ini arisan dilakukan di rumah Bu Sinta, kebetulan ia yang mendapat arisan bulan lalu.


Sampai di sana, Bu RT mengenalkanku pada ibu-ibu lainnya. Rasanya sedikit malu, karena hampir semua seumuran dengan Mama. Baiklah, aku harus sadar kalau aku juga merupakan calon ibu-ibu.


"Hai, aku Oktari. Salam kenal ya!" Seseorang di sebelahku memperkenalkan diri ketika aku baru saja duduk.


"Oh iya, Mbak. Salam kenal juga," jawabku malu-malu.


"Semoga kamu betah ya tinggal di lingkungan ini," ujarnya.


"Ah, iya. Semoga ya, Mbak," jawabku.


Sebelum arisan dimulai, semua saling mengobrol dengan orang di sebelahnya. Berisik? Ya, tentu saja. Otakku butuh sedikit penyesuaian agar rasa pusing ini tidak berkepanjangan. Makanan yang disuguhkan semuanya manis, ada bolu, agar-agar, buah jeruk dan juga donat. Kemudian untuk minumannya ada air mineral kemasan gelas dan sirup dengan perisa anggur. Sungguh aku berharap ada sepotong gorengan hadir di salah satu piring-piring ini.


Tak lama kemudian, arisan dimulai. Ternyata ada dua jenis arisan, yang pertama adalah arisan uang dan yang kedua arisan oven listrik. Yang menang arisan uang adalah Bu Ijah, sedangkan arisan oven didapatkan oleh Bu Afi. Bukan main hebohnya, ibu-ibu ini melebihi para penonton sepakbola ketika bola berhasil masuk ke gawang. Aku meringis menahan suara berisik yang membuat telingaku sedikit berdenging.


"Kalau gak kuat, yuk pulang duluan!" ajak Mbak Oktari.


"Gak apa-apa kok, Mbak. Biar lebih terbiasa," jawabku.


Hari semakin sore, kalau saja tidak ingat anak dan suami di rumah, mungkin ibu-ibu ini bisa pulang besok pagi. Setelah salah seorang dari kami ada yang berpamitan, yang lain juga ikut pamit. Tentu aku juga melakukan hal yang sama. Aku harus segera masak untuk makan malam.


Ternyata rumahku dan Mbak Oktari searah. Bu RT mampir dulu ke rumah tetangga yang lain, jadi aku berjalan berdua dengan Mbak Oktari. Jarak rumah Bu Sinta ke rumahku sekitar 500 meter. Kami sudah banyak berbincang beberapa hal sembari berjalan pulang, sampai akhirnya ia menyinggung Bu Ijah.

__ADS_1


"Kamu, kan, sebelahan sama Bu Ijah, dia suka ganggu gitu gak sih?" tanya Mbak Oktari dengan volume suara yang sedikit ia pelankan.


"Mmm, gak juga sih," jawabku. Meski aku tak begitu suka dengan cara bicara Bu Ijah, namun ia belum pernah menggangguku.


"Hampir 3 tahun aku tinggal di sini, jujur agak kurang nyaman sama ibu-ibunya, tukang rumpi semua, terutama Bu Ijah. Apa lagi kalau dia udah ketemu Bu Sinta, buhh, cocok banget!" ujar Mbak Oktari. Padahal yang kami lakukan sekarang juga termasuk kategori rumpi. Aku tertawa kecil mendengarnya.


"Mari mampir dulu, Mbak!" tawarku. Kebetulan kini kami sudah sampai depan gerbang rumahku.


"Lain waktu deh, ya! Anakku yang kecil belum kumandikan, Pak Suami belum berani soalnya. Ya udah aku duluan, ya!" pamitnya kemudian berlalu.


Menurut ceritanya, Mbak Oktari sudah dikaruniai 2 orang anak perempuan. Anaknya yang terakhir masih berusia 8 bulan, sedangkan yang pertama baru masuk SD. Senang mendengar ia bercerita tentang kelucuan anak-anaknya. Tak apa, mungkin sekarang aku masih ditakdirkan untuk pacaran dengan Mas Dwi.


"Mas, ngapain?" tanyaku ketika mendapati Mas Dwi sedang beraksi dengan wajan dan teman-temannya.


"Mau masakin buat kamu," jawabnya. "Gimana arisannya? Seru?"


"Yah, lumayan. Berisik banget sih," ujarku sembari duduk di salah satu kursi.


"Hmm, bisa jadi. Mas masak apa sih? Sini aku lanjutin!" ujarku.


"Gak usah, mending kamu mandi gih! Nanti selesai mandi bisa langsung makan bareng."


"Mas, itu tugas istri loh!" ujarku.


"Jangan bawel, cepet sana mandi!" perintah Mas Dwi.


"Ya-ya-ya, oke-oke! Aku mandi."

__ADS_1


Aku mengalah. Segera aku beranjak dari kursi dan pergi mandi. Kubiarkan Mas Dwi berperang dengan alat dapur, toh masakannya juga enak. Sebelum masuk ke kamar, kulirik pintu kamar Tria. Pintunya terkunci rapat, sepertinya dia belum pulang. Aku sangat berharap masalah kakak-adik ini segera berakhir.


Usai mandi, Mas Dwi masih sibuk menyusun makanan di meja makan. Belum sempat aku membuka suara, Mas Dwi sudah melirik sinis dan menyuruhku segera berganti pakaian. Aku menurut saja, selama bukan aku yang memintanya untuk menggantikan tugasku.


Kutunggu Mas Dwi di dalam kamar, sebab perintahnya aku tak boleh keluar kamar sebelum ia yang meminta. Ya, lagi-lagi aku menurut. Kusibukkan diri dengan ponselku sembari menunggu Mas Dwi selesai mandi. Tak terlalu lama, ia pun selesai dan berganti pakaian juga.


Ia keluar sebentar kemudian memanggilku untuk menyusul. Baru saja pintu kubuka, ia memintaku untuk memejamkan mata. Ada apa sebenarnya? Bahkan tak ada tanggal spesial di bulan ini. Sembari berjalan dengan mata yang ditutup oleh kedua tangannya, otakku berusaha mencari tahu apa yang kira-kira akan ia lakukan kali ini.


"Oke udah sampe, pelan-pelan ya buka matanya!" ujar Mas Dwi ketika kami sudah sampai. Aku yakin ini di dapur, aku mencium aroma makanan yang begitu lezat.


Ia melepaskan tangannya dari kedua mataku, aku pun membuka mataku perlahan. Taraaa! Pemandangan indah mengejutkanku. Tertata rapi di meja makan, steak daging sapi dan capcay sebagai makanannya. Tak lupa dua gelas berisi minunan berwarna merah, yang aku tidak yakin itu sirup atau jus. Dan yang lebih mengejutkan, lampu dapur di padamkan. Hanya ada sebuah lilin cantik sebagai sumber cahayanya.


"Mas, ini apa?" tanyaku. Sungguh aku sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.


Mas Dwi memegang kedua tanganku dan mencium punggung tanganku. Sedikit menggelikan bagiku, namun aku sangat menyukainya.


"Selamat malam Minggu, Istriku," ucapnya disertai senyuman yang begitu manis.


Jantungku berdetak kencang. Kurasakan darahku menghangat di seluruh tubuh. Terharu dan bahagia bercampur jadi satu. Mulutku terkunci rapat, sepatah katapun tak mampu aku ungkapkan. Namun tak bisa kupungkiri, rasa cintaku semakin besar untuk suamiku ini.


Ia merapatkan jarak antara kami berdua, tersenyum lagi dan kemudian mengecup keningku dengan lembut.


"Selamat malam Minggu juga, Suamiku," ucapku memberanikan diri.


Mas Dwi mengusap rambutku dengan lembut, senyumannya menghipnotisku. Spontan aku memeluk tubuhnya dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Ia pun membalas pelukanku dan mengecup puncak kepalaku.


"Aku tahu, memiliki beban tersendiri ketika kamu mulai masuk ke dalam keluarga Hermawan. Belum lagi omongan tetangga yang sulit untuk kita terima. Tapi percayalah, aku akan memastikanmu selalu bahagia berada di sisiku," ucap Mas Dwi lembut.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Alena," ucapnya lagi.


Meski tak bisa kuungkapkan sepatah katapun padanya, namun jawabanku sudah pasti. Aku pun mencintai Mas Dwi dan akan tetap mencintainya seumur hidupku. Aku sungguh bahagia menjadi istrinya.


__ADS_2