Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
21


__ADS_3

Hatiku masih berbunga-bunga. Apakah lamaran kemarinku terima? Tentu saja! Meskipun aku belum menjawab langsung lamaran Mas Dwi, hati kecilku sangat amat senang menerima pernyataan itu. Aku berharap rasaku padanya benar-benar cinta, bukan karena pelarian apalagi kasihan.


Pagi ini hari Minggu, dengan piyama yang masih melekat dan handphone yang selalu digenggaman, aku keluar dari kamar lalu duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan.


"Pagi, Ma," sapaku pada Mama yang masih sibuk memotong wortel.


"Tumben sudah bangun? Ini kan hari Minggu." jawab Mama yang heran pada diriku. Padahal biasanya aku bangun pagi kok. Sepertinya.


"Ck! Orang nyapa dijawab kek!" gerutuku kesal.


"Halah! Kaya tamu aja," sanggah Mama. Aku hanya memanyunkan bibir dan mengaktifkan handphoneku.


"Ma, ada undangan nikah," ujarku tanpa melihat ke arah Mama.


"Dari siapa?"


"Anaknya Pak Agung."


"Oh."


"Oh aja?" tanyaku seraya menoleh.


"Lalu apa? Toh Mama gak mungkin datang," ujar Mama yang kemudian memasukkan sayuran potongnya ke panci.


"Kenapa gak mungkin?"


"Kalau nanti Pak Agung jatuh cinta lagi sama Mama gimana? Kalau istrinya ngamuk gimana?" jawaban sekaligus pertanyaan Mama membuatku spontan mengerutkan kening.


"Ma? Kok pede sekali, sih?" tanyaku heran.


"Loh? Mama itu bicara sesuai fakta dan Mama gak mau merusak hari bahagia mereka."


"Tapi kan istrinya Pak Agung gak kenal Mama."


"Kalau kenal bagaimana?"


"Yaa ... toh sudah punya anak besar-besar. Mana mungkin Pak Agung akan balik menyukai Mama lagi?"


"Lihat tuh para artis! Mereka bisa bercerai dan menikah lagi padahal umurnya sudah lebih dari setengah abad." Pernyataan Mama sama sekali tidak terpikirkan olehku. Benar juga, tapi kok sedikit berlebihan.


"Tapi kan Mama ...."


"Heiisss!! Sudah! Gak usah bawel!" Mama memotong omonganku. Begitulah Mama, tidak pernah mau kalah. Lagi pula aku tak ada alasan juga untuk memaksa Mama datang kesana. Aku kembali fokus ke handphoneku. Mas Dwi sudah menghubungiku sepagi ini.


Mas Dwi : Pagi, Len.


Alena : Pagi, Mas.


Mas Dwi : Eh, sudah bangun.


Alena : Mas, plis ya! Aku bukan anak kecil.

__ADS_1


Mas Dwi : Haha ... iya, sorry. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?


Alena : Hmm ... ya, begitulah.


Tentu saja nyenyak. Hatiku saja sedang berbunga-bunga bahkan sampai aku terbangun pun masih bahagia. Minggu pagi ku yang sangat bersinar.


Mas Dwi : Apa kamu mau jalan-jalan hari ini?


Alena : Kemana?


Mas Dwi : Kemana saja.


Alena : Aku gak terbiasa jalan-jalan. Jadi aku gak tahu.


Mas Dwi : Shopping mungkin?


Alena : Mas, gajian saja masih seminggu lagi.


Mas Dwi : Kan ada aku.


Alena : Jangan coba merayuku dengan dompetmu! Oke?


Mas Dwi : Yah, padahal biasanya cewek gak nolak tuh diajak shopping.


Alena : Jangan samakan aku dengan lainnya! Aku sadar dan sangat paham susahnya cari uang. Jadi aku gak mungkin segampang itu menghamburkan uang.


Mas Dwi : Memang idamanku.


Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan sore. Karena meskipun hatiku sedang gembira, itu tidak bisa menutupi bahwa fisikku cukup lelah. Aku butuh istirahat sebentar.


"Ma ...."


"Hmm."


"Bagaimana hubungan Mama dengan Robi?"


"Ya begitulah."


"Begitu bagaimana?"


"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan!" ujar Mama yang sekarang sibuk meracik bumbu ayam goreng. Aku berpikir sebentar, apa yang harus kutanyakan lebih dulu? Hanya satu poin yang langsung terpikirkan.


"Apa Mama masih melakukan ... anu?" aku menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah ku bersamaan sebagai kode ketika mengucap kata 'anu'.


"Kadang." Jawaban yang singkat tapi masih terasa menyakitkan di jantungku.


"Apa kalian saling suka?" tanyaku lagi. Mama hanya mengangkat bahu. Aku tidak tahu maksudnya.


"Mama mulai menyukai Robi?" tanyaku memperjelas.


"Len, kamu itu sudah besar," ucap Mama seraya memasukkan ayam potongan pertama ke dalam penggorengan.

__ADS_1


"Lalu?"


"Jangan banyak bertanya!" ujar Mama datar, tapi rasanya menusuk terlalu dalam.


"Maksud Mama apa?" Aku beranjak dari kursiku dan berdiri disebelah Mama. "Mama benar-benar menyukai Robi? Bukannya Mama sendiri yang bilang kalau gak mungkin mengkhianati Papa, tapi kenapa Mama sekarang seperti ini?"


Sungguh kini emosiku memuncak. Selama ini, setelah Mama menikah lagi, Mama selalu angkat tangan ketika Robi menggangguku. Kenapa Mamaku bisa seperti ini? Apa ini alasannya? Mama lebih mencintai Robi daripada anaknya sendiri?


"Kalau kamu gak terima, kamu bisa keluar dari rumah ini," ujar Mama, tak terlihat sedikitpun kasih sayang disana. Benarkah beliau ini Mamaku?


"Ma? Mama mengusir Lena?" tanyaku dengan air mata yang sudah siap mengalir. Mama mematikan kompornya dan menghadap ke arahku.


"Kamu sudah besar, Len. Harusnya masalah seperti ini gak perlu kamu pusingkan. Kamu tinggal fokus cari uang dan pasangan baru. Sudah waktunya kamu mulai hidupmu sendiri." Penjelasan Mama membuatku terbelalak.


"Gak perlu dipusingkan? Mulai hidup sendiri?" tanyaku dengan nada tinggi. Tidak peduli lagi aku durhaka ataupun tidak. "Apa Mama sudah g*la?"


Plak!


Tamparan kedua yang aku terima dari Mama. Lagi-lagi karena Robi.


"Jaga bicaramu Lena! Aku ini Mamamu!" ujar Mama yang juga penuh dengan emosi.


"Oke fine! Jangan pernah anggap Lena anak Mama lagi!"


Aku meninggalkan dapur dan masuk ke kamar. Kukemasi semua barang-barangku. Cuci muka, berganti pakaian lalu pergi. Melihatku keluar kamar dengan 2 buah koper besar, Mama tidak menahan sama sekali. Baguslah, aku juga tidak sudi tinggal di rumah ini lagi.


Dengan air mata yang masih mengalir, aku tidak tahu harus kemana lagi. Kutepikan mobilku di pinggir jalanan sepi. Aku menangis sejadinya. Aku bisa g*la. Benar-benar g*la.


Siapakah yang bisa disalahkan? Mama yang merebut pacarku? Robi yang khilaf? Aku yang durhaka? Siapa? Siapa yang bisa disalahkan atas semua masalah ini?


Kubenturkan kepalaku beberapa kali pada stir mobil. Berteriak sekencangnya, tak peduli ada yang mendengar atau tidak. Sakit! Hancur semuanya. Terlebih yang melakukan adalah Mamaku sendiri. Apa salahku? Apa aku bukan anak kandungnya?


Ketika sudah mulai tenang, kujalankan lagi mobilku. Aku tahu komplek yang banyak kos-kosan. Semoga tersedia setidaknya satu saja kamar untukku menginap satu malam, sebelum aku mencari tempat tinggal yang baru.


Tibalah aku disana, terlihat ada satu rumah yang bertuliskan 'Ada kamar kosong', aku tidak tahu itu kost untuk perempuan atau laki-laki, tidak ada keterangan disana. Kutepikan mobil dan masuk ke sana. Kebetulan ada pemiliknya. Ah, syukurlah.


"Permisi, mohon maaf apa disini benar ada kamar kosong?" tanyaku pada seorang ibu yang membukakan pintu.


"Ah iya, ada satu kamar, Kak," jawabnya. Aku merasa lega.


Kemudian aku ditunjukkan salah satu kamar yang kosong di lantai 2. Cukup luas untuk ku tinggali sendiri. Ada satu kasur ukuran single tanpa ranjang, lemari kecil, satu buah kipas angin dinding, serta kamar mandi. Cat dindingnya masih bagus, sepertinya penyewa kamar sebelumnya adalah orang yang rajin.


Sayangnya kost ini untuk minimal 3 bulan. Padahal aku hanya mencari untuk satu malam saja. Tapi setelah melihat-lihat, rasanya tempat ini cocok untukku. Semua penghuninya adalah orang yang sudah bekerja, bukan lagi anak sekolah maupun kuliah.


Kost ini bisa untuk perempuan maupun laki-laki, katanya ada juga pasangan yang sudah menikah dan tinggal disini. Tidak masalah bagiku. Lalu yang paling penting, biayanya cukup terjangkau dan terdapat tempat untuk parkir mobil.


Aku akhirnya memilih untuk tinggal disana. Ibu pemiliknya baik, ia mengizinkan aku untuk membayar setengah dulu dan sisanya dibayarkan nanti setelah gajiku turun.


Setelah semua barang kumasukkan ke kamar, aku merebahkan diri di kasur. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan. Aku hanya merasa, setidakadil inikah hidupku? Kehilangan Papa, teman-teman, pacar, dan sekarang Mamaku.


Baru saja kemarin aku merasakan bahagianya dilamar secara pribadi, belum genap satu hari aku sudah bersedih lagi? Malang sekali hidupku. Bahkan aku tidak tahu aku ini layak melanjutkan hidup tidak.

__ADS_1


__ADS_2