Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 18


__ADS_3

"Memang mulut manusia satu ini gak bisa dijaga!" bentak Mas Dwi seraya mengangkat tangannya hendak menampar Kak Julia.


"Maaaas!!" teriak Tria dari ruang tengah, ia baru saja keluar dari kamar.


Kak Julia menengok ke arah Mas Dwi dan wajahnya tampak sangat kaget. Lalu ia menjatuhkan keranjang pakaiannya hingga beberapa isinya keluar dan berserak di lantai. Aku yang terkejut justru mematung di tempat, aku masih tidak mempercayai kejadian seperti ini terjadi tepat di depan mataku. Tria berlari ke arah kami dan berdiri di sebelah Kak Julia.


"Kakak gak apa-apa, kan?" tanya Tria pada Kak Julia. Terlihat ia begitu menyayangi Kak Julia. Kak Julia hanya menggeleng, aku bisa melihat tangannya gemetar.


Mas Dwi menurunkan tangannya dan melangkah ke kamar. Aku yang tidak tahu harus bagaimana, memilih untuk mengikuti Mas Dwi saja. Belum pernah kulihat ia semarah ini. Ia duduk di kursi kerjanya dengan tangan mengepal di atas meja dan pandangan lurus ke monitornya yang mati. Ritme napasnya terdengar begitu cepat, membuatku sedikit takut untuk mendekat.


"Mas," panggilku pelan. Kuberanikan diri untuk mendekat, aku yakin ia tak mungkin menyakitiku.


"Maaf," ucapnya lirih bahkan hampir tidak terdengar. Rasa takutku seketika hilang, kudekati Mas Dwi dan memegang bahunya.


"Untuk apa Mas minta maaf?" Aku sedikit bingung, ia sedang marah pada Kak Julia, namun mengapa justru meminta maaf padaku?


"Maaf aku sering lepas kontrol dan mengecewakanmu. Kamu tentu gak suka punya suami yang kasar," jawabnya dengan volume suara yang masih sangat kecil.


"Apa Mas memang sering kasar sejak dulu?" tanyaku lagi.


Ia menggeleng dan menjawab, "Hanya terjadi di saat-saat tertentu. Aku gak terima ada yang kasar sama orang terdekatku, terlebih dia adalah istriku."


"Aku paham kok, Mas. Mas gak perlu minta maaf untuk itu," jawabku.


Kemudian ia memutar kursinya dan memeluk pinggangku. Kurasakan ritme napasnya perlahan kembali normal.


Ia menyandarkan kepalanya di perutku dan bicara sendiri, "Maafkan Papa ya, Nak. Papa gak akan marah-marah lagi."


Mendengar itu, aku pun langsung menyunggingkan senyum. Aku tidak tahu apakah Mas Dwi akan bertindak seperti tadi atau tidak jika aku belum mengandung anaknya. Yang pasti, aku masih bisa mengerti tindakannya yang seperti tadi. Masih manusiawi dan dalam batas normal. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika ada orang lain yang berlaku tidak baik pada pasanganku.

__ADS_1


"Ah iya, aku dapat sabunnya," ucapnya seraya melepaskan pelukannya dariku.


"Oh iya? Mas beli di mana?"


"Di apotek. Soalnya aku gak tahu harus beli di mana lagi."


"Uhh! Makasih, Sayang," seruku lalu memeluk Mas Dwi erat. Senang sekali rasanya bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.


"Sayang, aku pengen makan tomyum*, beli yuk!" ajaknya tiba-tiba.


"Bukannya Mas gak doyan, ya? Tomyum, kan, asem banget rasanya," jawabku mengingat Mas Dwi tidak suka rasa asam.


"Tapi aku bayanginnya kaya seger gitu. Yah, itung-itung buat membilas asemnya omongan Kak Julia tadi," ucapnya dengan ekspresi wajah mengejek.


"Apaan sih, Mas!" Aku tak kuasa menahan tawa. Aku tahu ini salah, namun aku juga cukup kesal melihat tingkah Kak Julia yang semakin jari semakin menjadi.


Syukurlah, suasana hati Mas Dwi sudah membaik. Ia ikut tertawa dengan renyahnya. Kami bersiap lalu pergi ke restoran Thailand terdekat. Meski disebut restoran terdekat, tetap saja tempatnya jauh. Membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk bisa sampai di sana, belum lagi kalau jalanan macet.


"Iya, tapi gak masalah sih buatku, toh aku masih bisa bertemu Mas setiap hari. Itu udah lebih dari cukup."


"Apa kamu sedang merayuku sekarang? Kamu minta dibelikan apa?" tanya Mas Dwi dengan nada bercanda.


"Aku minta Mas tidur tanpa memelukku," balasku.


"Sepertinya lebih baik kamu minta mobil baru dari pada yang satu itu," jawabnya sembari tersenyum nakal.


"Senyummu menyebalkan sekali, Mas," candaku kemudian mengalihkan pandangan ke arah jalan.


Matahari mulai bersiap untuk undur diri. Warna jingga kemerahan sudah menghiasi langit yang cerah. Tak ada awan yang menghalangi keindahannya. Aku sangat menyukainya. Bagiku, senja memberikan sebuah bukti, bahwa sesuatu yang pergi pasti akan kembali. Hari yang buruk akan berlalu dan kembali lagi dengan hari yang lebih baik.

__ADS_1


Kami sudah sampai di restoran. Meski bangunannya tidak begitu besar, namun makanan yang dijual di sini lumayan enak menurutku. Sekarang juga masih belum jam makan malam, jadi masih banyak meja yang kosong. Jika telat sebentar saja, tentu kami tidak akan kebagian tempat.


"Mas yakin mau makan tomyum? Nanti kalau gak habis gimana?" Aku mengingatkan sekali lagi sebelum kami memesan.


"Iya, yakin," jawab Mas Dwi mantap.


Kami pun memesan tomyum, nasi goreng seafood dan jamur krispi, masing-masing satu porsi. Untuk minumannya aku memesan air mineral sedangkan Mas Dwi memesan es teh. Apa pun makanannya, di manapun tempatnya, minuman yang kami pesan tidak pernah berubah. Kecuali memang kami ingin memesan minuman tambahan.


Terkejut? Iya, sangat terkejut. Ketika makanan datang, dengan semangat Mas Dwi mulai mencicip kuah tomyumnya. Ia yang biasanya kutawari saja menolak, kini justru ia sendiri yang meminta. Porsi tomyum ini cukup banyak, bahkan untuk dua orang juga masih cukup.


Kami makan dengan tenang. Terlihat Mas Dwi begitu menikmati makanannya. Ia sesekali menyendok nasi gorengku. Sebagai gantinya, ia juga menyuapkan tomyumnya padaku. Untungnya restoran sedang tidak ramai, jadi rasa maluku masih bisa diredam. Bukan malu karena Mas Dwi bersemangat makan, tapi malu karena suap-suapan di tempat umum seperti ini.


Langit sudah gelap ketika kami keluar dari restoran. Makan malam ini begitu menyenangkan. Setelah beberapa hari di rumah harus makan di dalam kamar, sekarang kami bisa makan lagi di tempat yang seharusnya. Rasanya energiku sudah kembali terisi penuh.


Baru saja kami membuka pintu rumah, kami kembali disambut dengan ekspresi wajah yang begitu asam dari Kak Julia. Lebih asam dari pada kuah tomyum.


"Kalian dari mana?" tanyanya seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.


Mas Dwi tak menjawab dan terus melangkah ke kamar. Tak lupa tangannya juga masih memegang tanganku, aku pun tak punya pilihan selain mengikuti langkahnya.


"Udah capek-capek masak, malah makan di luar. Memang gak bisa ya menghargai orang sedikit aja," gerutu Kak Julia dengan suara yang cukup keras.


Mas Dwi menghentikan langkah sejenak dan menjawab, "Belajarlah menghargai orang lain kalau kamu juga ingin dihargai!"


Singkat, padat dan cukup menusuk. Mas Dwi pun kembali melangkah dan membawaku masuk ke kamar.


.


.

__ADS_1


.


*)Tom yum merupakan makanan berkuah dengan cita rasa asam pedas. Isinya beragam mulai dari udang, kerang, cumi, hingga diganti potongan daging ayam, serta jamur.


__ADS_2