Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
39


__ADS_3

Aku sudah izin untuk ambil cuti, begitu juga Mas Dwi. Waktuku menjadi seorang gadis yang berstatus lajang tinggal lima hari lagi. Sinar matahari mulai memaksa masuk ke dalam kamarku, tanpa kusadari aku sudah melamun selama empat jam. Iya, sekarang pukul sepuluh pagi sedangkan aku sudah terjaga sejak pukul enam.


Aku keluar kamar, rumah sepi. Yah, sebenarnya memang selalu sepi. Dapur kosong, Mama tidak ada di sana. Makanan pun belum tersaji. Tumben sekali, biasanya Mama selalu masak pagi meski aku tidak selalu sarapan. Kemana Mama pagi-pagi begini?


Sembari menunggu Mama pulang, aku memasak dengan bahan yang tersedia di kulkas. Hanya ada sayuran, aku tidak tahu pasti. Mungkin daun bayam, tapi sepertinya bukan. Cari aman, aku menumisnya saja. Ingin mencari resep di internet, tapi aku tidak tahu apa nama sayuran ini.


Dengan pengalamanku yang belum banyak, kusiapkan bumbu-bumbu yang biasanya memang menjadi pasukan penyedap tumisan. Seperti bawang merah, bawang putih, cabai, tomat, garam dan gula. Tak lupa royc* sebagai penyedapnya. Maaf, aku ini termasuk generasi micin. Ada yang kurang jika masakan tanpa penyedap tersebut.


Dari segi aroma dan rasa, menurutku sudah cukup. Semoga tidak membahayakan. Namun ketika aku cicip daunnya, rasanya sedikit aneh. Sedikit kasar jika dibandingkan dengan bayam, bukan rasa yang asing. Sebenarnya ini sayuran apa, sih?


Ceklek.


Terdengar suara pintu depan baru saja ditutup. Mama pulang, syal biru muda yang Mama kenakan langsung menarik perhatianku. Sepertinya hari ini tidak dingin apalagi hujan. Terlebih, sepertinya aku kenal dengan syal itu.


"Loh, ternyata sudah bangun. Kamu masak?" tanya Mama ketika baru masuk ke area dapur.


"Hm, iya. Mama dari mana?" tanyaku seraya meletakkan mangkuk sayur ke dalam tudung saji.


"Dari makam Papamu," jawab Mama seraya meletakkan plastik putih di atas meja dan melepas syalnya. Mendengar jawaban Mama seketika aku terbelalak.


"Mama ke makam Papa? Kok bisa? Ngapain?" tanyaku bertubi-tubi. Aku masih tidak percaya.


"Haahh ...." Mama mendengus pelan. "Bagaimana pun juga, Mama ini istri Papamu. Memangnya gak boleh berkunjung?" tanya Mama sembari menuang air ke dalam gelas.


"Bu--bukan begitu. Mama selama ini kuajak gak mau, tapi tiba-tiba ke sana sendiri. Kan aku jadi heran," jelasku.


"Mama hanya datang untuk curhat," ujar Mama seraya meletakkan gelas yang airnya baru saja ia minum.


"Curhat?"


"Hmm."


"Curhat apa?"


"Anak kami satu-satunya akan segera menikah. Meski memang sudah waktunya, tetap saja melepaskannya sendirian ke tangan orang lain bukanlah hal mudah." Jelas yang dimaksud adalah aku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Seketika aku pun merasa sedih.

__ADS_1


"Lena," panggil Mama lembut.


"Iya, Ma."


"Maaf ya, kalau kami sebagai orang tua masih banyak kekurangan dalam membesarkan dan membimbing kamu," ucap Mama sendu. Kalimat itu langsung menusuk jantungku.


"Ma, jangan bicara seperti itu! Mama dan Papa sudah memberikan segalanya yang terbaik untukku." Tidak terasa air mataku mulai menetes.


"Iya, Papamu memang selalu mengusahakan yang terbaik untukmu. Mencarikanmu sekolah terbaik dan memberikanmu kehidupan yang layak. Namun, maaf, Mama gagal. Mama hanya bisa menyusahkanmu, bahkan Mama sendiri yang membuat luka batin untukmu." Ucapan mama terhenti sejenak.


"Seandainya Mama bisa mengontrol keuangan dengan baik, bisnis Papamu pasti masih berjalan sampai sekarang, kamu bisa lulus SMA bahkan kuliah. Maafkan Mama yang justru menghancurkan kehidupanmu," ujar Mama seraya mengusap air matanya. Ingin rasanya memeluk Mama, tapi ada rasa yang menahanku.


"Gak apa-apa, Ma. Memang sudah jalannya hidupku seperti itu. Mama gak perlu menyalahkan diri sendiri. Tuhan memang membentukku dengan cara seperti ini, supaya aku bisa menjadi wanita yang lebih kuat. Mama gak salah, gak perlu minta maaf," jawabku setegar mungkin.


Memang terkadang aku merasa hidupku tidak adil. Bukan, bukan terkadang, tapi sering aku mengeluh atas hidupku. Kehilangan Papa, depresi, berhenti sekolah, keuangan keluarga yang semakin menipis. Sungguh nikmat yang sangat luar biasa. Belum lagi punya mantan pasangan yang ternyata, ahh tidak bisa aku deskripsikan lagi. Lalu mamaku? Meski begitu sakit yang aku terima buah dari perbuatannya, beliau tetap mama kandungku.


"Mama hanya berharap mertuamu bisa menyayangimu seperti mereka menyayangi anaknya sendiri dan juga suami yang bisa memberikan kebahagiaan serta hidup yang lebih layak untukmu."


"Amin. Aku berharap doa Mama bisa terkabul," ujarku seraya tersenyum. Mama pun tersenyum kemudian beranjak dan masuk ke kamar.


"Kamu sudah makan?" tanya Mama yang baru saja keluar dari kamar, ia sudah ganti pakaian.


"Belum," jawabku singkat.


"Ayo makan! Tadi Mama beli ayam goreng. Karena belum masak, tapi ternyata kamu sudah masak."


"Ah, ya sudah gak apa-apa. Bisa untuk lauk," ujarku. Lalu kami sama-sama mengambil nasi serta lauk-pauk masing-masing.


"Ini sayuran apa, Ma?" tanyaku.


"Loh, kamu masak tapi gak tahu ini apa?" tanya Mama bingung. Aku mengangguk. "Ini namanya daun lembayung, daun dari kacang panjang."


"Oh, jadi ini yang namanya lembayung," ujarku polos. Pantas saja rasanya familiar. Aku pernah makan tapi belum pernah lihat bentuk mentahnya.


"Ini lebih enak kalau dibobor, tapi ditumis juga enak kok," ujar Mama seraya menyuap nasinya yang pertama.

__ADS_1


"Bobor itu lodeh?" tanyaku lagi.


"Beda, tapi sama-sama pakai santan."


"Bedanya?"


"Kalau lodeh, itu pakai cabai. Kalau bobor gak pakai."


"Memang masak bobor apa bumbunya?" tanyaku masih penasaran. Karena kukira bobor dan lodeh itu sama.


"Cari sendiri di internet! Kamu tinggal pilih resepnya sendiri," jawab Mama malas. Aku memanyunkan bibirku kesal. Anaknya mau belajar masak bukannya diajari malah suruh cari sendiri.


"Dasar ya! Mau menikah tinggal berapa hari, tapi baru sibuk belajar masak sekarang. Nanti suamimu mau dimasakin apa?" celetuk Mama.


"Nanti aku beli rumah di depan rumah makan. Biar kalau laper Mas Dwi suruh beli sendiri," jawabku sekenanya. Tentu saja itu tidak serius. Aku bisa masak meskipun masih level pemula.


..


Malam ini aku sedang duduk berdua dengan Mama di depan televisi. Kami sedang menonton acara kuis, tapi Mama sibuk menatap layar handphonenya. Entah sedang chatting dengan siapa, tapi asyik sekali.


Kadang aku berpikir, Mama ditinggal Papa di usia yang masih muda. Apa Mama gak ingin menikah lagi? Kenapa juga Mama senekat itu untuk menikah dengan Robi? Meski alasannya untuk melepaskanku dari Robi, apa mungkin hanya itu alasannya?


"Len, setelah menikah kamu akan tinggal di mana?" tanya Mama.


"Di rumah Mas Dwi."


"Kenapa gak di sini saja? Toh Mama juga sendirian," ujar Mama menawarkan.


"Rumah Mas Dwi dekat kok dari sini, Ma."


Meski aku percaya Mas Dwi tidak akan berpaling, tentu aku masih trauma pasanganku pernah direbut mamaku. Tidak ada yang tidak mungkin, sejak kejadian itu rasanya kepercayaanku pada Mama telah memudar.


"Begitu ya? Akhirnya terjadi juga yang Mama takutkan selama ini. Ah, tapi gak apa-apa. Asal kamu bahagia dengan suamimu."


'Maaf, Ma. Seandainya Mama gak salah langkah waktu itu, tentu gak akan jadi pertimbangan yang berat untukku tinggal di rumah ini,' ujarku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2