Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 22


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.23, Atika mengabarkan kalau ia baru saja melahirkan anak pertamanya. Aku begitu senang mendengarnya, kuajak Mas Dwi untuk mengunjungi Atika sekarang juga. Dengan adanya sedikit perdebatan akhirnya Mas Dwi mengalah. Kami pun segera bersiap untuk pergi ke klinik.


Setelah kami keluar dari kamar, terlihat Mama Meira sedang duduk sendiri di ruang tengah. Ia masih menikmati sinetron kesukaannya, sinetron itu selalu ia lihat setiap kali jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mungkin agenda Mama di rumahnya sendiri juga begitu, tak bisa tertinggal satu episode pun tontonan kesukaannya.


"Kalian mau ke mana malam-malam begini?" tanya Mama Meira sembari mengecilkan volume suara TV-nya.


"Anu, Ma. Temenku ada yang baru melahirkan, jadi aku mau menjenguknya sekarang," jawabku.


"Hampir jam sembilan loh ini, kenapa gak besok aja?" Pertanyaan sama seperti yang Mas Dwi lontarkan tadi.


"Aku udah ingetin tapi dia tetep ngeyel," ujar Mas Dwi seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.


"Mas ...." bujukku dengan nada manja sembari memegang lengannya


"Ah, ya sudahlah, yang penting hati-hati! Jangan lupa pakai masker!" Mama akhirnya mengizinkan.


Kami pun berangkat ke klinik tempat Atika melahirkan. Sampai di sana, terlihat ia dan suaminya sedang tersenyum bahagia memandangi bayi kecilnya itu. Ternyata bayinya perempuan, cantik seperti ibunya dan hidungnya mancung seperti ayahnya. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka menular kepadaku.


"Semoga kandunganmu juga sehat selalu, ya!" ucap Atika gantian mendoakan.


"Makasih banyak!" jawabku senang.


Atika melahirkan secara normal, bayinya lahir pukul 19.03. Yah, ada sedikit perasaan takut ketika ia menceritakan bagaimana sakitnya proses melahirkan. Namun, ia tak lupa juga mengatakan kalau rasa sakitnya terbayar dengan kebahagiaan ketika mendengar suara tangis dari bayi kecilnya. Seketika aku langsung mengusap lembut perutku dan berharap yang terbaik untuk kedepannya.


Kurang lebih sudah setengah jam kami ada di ruangan ini, Mas Dwi mulai mengajakku untuk pulang. Alasannya aku butuh istirahat. Aku pun menurut, asal bisa melihat Atika dalam keadaan sehat saja rasanya sudah senang.

__ADS_1


"Mas, tadi bayinya lucu banget, ya?" tanyaku ketika kami mobil kami sudah memasuki jalan raya.


"Iya, pipinya gembul banget," respon Mas Dwi sembari menyetir.


"Nanti kamu juga selucu itu kan, Nak?" tanyaku sembari mengusap perutku. Mas Dwi menengok ke arahku dan ikut tersenyum.


"Anak kita nanti lebih lucu kok," sahut Mas Dwi.


"Eh, Mas ... by the way, Kak Julia itu anak kandung Mama Papa, kan?" tanyaku. Tiba-tiba aku teringat pada kelakuan Kak Julia


"Ya ... iya, memang kenapa?" tanya Mas Dwi lagi.


"Kok kelakuannya bisa beda banget ya?"


"Beda gimana?"


"Ahh, mau gimana lagi? Aku juga bingung, dia banyak berubah sejak SMA dan semakin parah saat masuk kuliah. Dibanding Tria, dia sebenarnya lebih tertutup lagi. Entah karena aku saudara laki-laki jadi dianggap gak bisa diajak bicara atau gimana, yang pasti aku gak tahu banyak tentang masalah pribadi mereka," jelas Mas Dwi.


"Hm? Jadi, kalian memang jarang ngobrol?"


"Kalau ngobrol sih biasa, jalan-jalan bareng juga dulu sering, cuma ya ... itu, dia gak pernah cerita masalah pribadinya. Setiap ditanya pasti ada aja alasannya," ujar Mas Dwi dengan pandangan yang lurus ke depan. Tapi dari suaranya aku bisa merasakan ada kesedihan di sana.


Alisku bertaut, bagiku Mas Dwi selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Dulu di kantor juga banyak yang bilang bahwa Mas Dwi itu pendengar yang baik pula. Apa kalau kondisinya seperti ini, berarti kesalahan ada pada Kak Julia? Karena sebagai pendengar tentu tidak bisa memaksa orang lain untuk bercerita.


Ketika kami sudah sampai, kondisi rumah sudah sepi. Semua sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Mas Dwi juga terlihat begitu lelah, karena belum beristirahat sejak pagi. Untung kali ini dia tidak ada lemburan, sekejap ia telah terlelap di sebelahku. Ia lelaki yang hebat, tak berhenti sedetik saja untuk menjagaku meski kutahu beban hidupnya sudah berat bahkan sebelum kami bertemu. Kukecup keningnya, aku berjanji pada diriku sendiri akan berada di sisinya seumur hidupku.

__ADS_1


..


"Nih, minum!" Tiba-tiba Kak Julia memberikanku segelas susu ketika aku baru selesai mandi.


"Ini ... apa?" tanyaku tak mengerti.


"Ya susu, lah! Kamu kira apa?" tanyanya dengan nada yang lumayan kasar.


"Esa!" sahut Mama Meira dari dapur. Aku masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.


"Minum aja, gak usah bawel!" Kak Julia memaksaku untuk menerima gelas susu itu kemudian ia masuk ke kamarnya.


"Gak ada racunnya kok, itu tadi Mama yang buat," ucap Mama lagi. Aku pun melangkah ke dapur.


"Ini maksudnya apa ya, Ma?" tanyaku berharap Mama mau menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Mama udah tahu semuanya, Dwi udah cerita." Mama mematikan kompornya dan duduk di sebelahku. "Maafkan perilaku kakak iparmu, ya! Perilakunya memang sedikit berbeda dengan saudaranya yang lain," ujar Mama lagi. Aku hanya diam dan mengerjap beberapa kali.


"Ah, iya." Aku mengangguk berusaha mengerti. Kuminum sedikit susu yang sudah Mama buatkan ini.


"Maaf ya, kamu jadi sasaran kemarahan kakak iparmu. Kalau dia gak berubah untuk beberapa hari ke depan, Mama udah bilang bakal ngusir dia lagi dari rumah ini," ucap Mama Meira sembari mengusap tanganku.


"T--tapi Ma, apa itu harus? Nanti Kak Julia mau tinggal di mana? Kalau Kak Julia gak bisa menerima kedatanganku, aku bisa kembali ke rumah orang tuaku," ungkapku jujur. Meski aku tersakiti oleh kata-kata Kak Julia, rasanya aku tidak bisa melihatnya menjadi keluarga yang terbuang.


"Tenang, ini semua bukan gara-gara kamu kok. Esa memang udah mengecewakan kami, jadi memang harus ada konsekuensi yang dia terima. Rumah ini, sementara masih di tangan Dwi, kamu istirnya dan kamu jauh lebih berhak untuk tinggal di sini dari pada Esa." Sejenak Mama berhenti dan menarik napas panjang.

__ADS_1


"Tolong jaga Dwi, jangan sampai dia lepas kontrol! Dia persis seperti papanya, terlihat tenang namun kalau marah .... Yah, intinya kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan. Mama percayakan Dwi sama kamu, Alena." Mama mengakhiri ucapannya dengan senyuman penuh harap. Aku mengangguk lagi.


Meski aku sudah mengetahui cukup banyak fakta mengenai Kak Julia, namun aku masih penasaran apa yang bisa membuat Kak Julia menjadi seperti ini. Ketika seseorang berbuat salah, tentu ada penyebabnya, ada pemicunya. Sejauh ini aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku.


__ADS_2