![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh pasangan pengantin lainnya. Namun yang kini aku rasakan sungguh di luar dugaanku. Kukira hanya ada bahagia yang kurasakan, tapi kenyataannya, aku juga merasa canggung dan malu. Sebentar, jangan dulu berpikiran negatif! Jangan mengira kalau aku tidak bahagia! Aku bahagia kok, sungguh!
Aku pun tidak mengerti kenapa, padahal aku sering pergi berdua dengan Mas Dwi. Namun duduk berdua bersamanya di pelaminan seperti ini membuat hatiku tergelitik. Canggung rasanya duduk berdua di hadapan banyak orang dan kami adalah pusatnya.
Katanya pernikahan ini diselenggarakan dengan sederhana, tapi lagi-lagi jauh dari dugaan. Konsep yang pernah kupilih dengan Mas Dwi memang terlihat sederhana di gambar, tapi setelah diterapkan sungguh luar biasa. Tamu yang hadir pun tak ada habisnya.
Kulihat wajah kedua ibuku -ibu kandung dan ibu mertuaku-, mereka semua terlihat bahagia. Senyum indah mengembang di wajah mereka. Syukurlah, aku senang melihat mereka juga bahagia di hari istimewaku ini.
"Hei, itu Irvan," ujar Mas Dwi ketika manik matanya menangkap Irvan dan istrinya muncul di antara kerumunan.
"Ah, iya itu dia," jawabku senang. Di belakangnya juga muncul kedua orang tuanya. Meski aku senang, aku sedikit khawatir. Apa yang mungkin terjadi ketika mereka bertatap muka dengan Mama?
"Mas Dwi, Alena, selamat ya!" ujar Dinda yang lebih dulu menyalami kami.
"Terima kasih banyak ya kalian sudah mau hadir," ujarku sembari salaman dan cipika-cipiki dengan Dinda.
"Lena jangan sedih-sedihan lagi, ya! Sekarang kan sudah punya pangeran yang bisa selalu menjagamu," goda Irvan.
"Ihh! Jangan menggodaku, ya!" ujarku seraya tertawa. Begitu juga Mas Dwi.
Menghargai tamu yang lainnya agar tidak terlalu lama, akhirnya kami mengakhiri obrolan dan dilanjut dengan foto bersama. Kuintip sedikit dari ujung mataku, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pertemuan Pak Agung dan Mama. Syukurlah, aku merasa tenang.
"Aleenaaa!" seru Atika. Dia langsung menyerbuku setelah menyalami Mas Dwi. Ia memeluk serta menciumi pipi kanan kiriku. Memang manusia satu ini, sering sekali heboh. Rasanya ia lupa kalau dia sedang membawa satu nyawa lagi di dalam perutnya.
"Aku tadi terharu sekali tahu," ujarnya.
"Eh? Kenapa?" tanyaku bingung.
"Waktu sesi akad tadi. Ya ampun, aku sampai menangis. Akhirnya adik kecilku menikah juga," ujarnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Ah, haha! Rasanya akan bahagia kalau aku memiliki kakak sepertimu," ujarku senang.
"Hei jangan ngerumpi, gantian dengan tamu yang lain!" seru Mas Rizal, suami Atika.
"Ih! Mas ini memang gak bisa lihat aku senang sebentar," gerutu Atika. Aku hanya tertawa.
Di belakang Atika dilanjut dengan teman-teman kantor yang lain, termasuk Tasya dan Bu Manajer. Meski terasa sedikit malu karena harus bertemu dengan banyak orang, semua itu terbayar ketika mereka semua memberikan senyum bahagianya untuk kami.
Entah sudah berapa jam, kakiku mulai lelah berdiri. Untungnya tamu undangan tak sebanyak tadi. Aku lelah tersenyum, meski rasanya aku tak ingin berhenti. Aku tidak ingin senyumku luntur satu menit pun.
"Aku gak menyangka yang datang akan sebanyak ini," ujar Mas Dwi.
"Hm ... apalagi aku, Mas. Katanya pernikahan ini diselenggarakan sederhana, tapi mana?" tanyaku meledek.
"Hehe, ini gak semewah pernikahan artis-artis di luar sana, kan?"
__ADS_1
"Ya memang gak semewah itu, tapi ini di luar bayanganku, Mas."
"Jadi, kamu gak suka dengan semua ini?" tanya Mas Dwi yang seolah takut aku kecewa.
"Bukan, Mas. Aku suka kok, suka sekali malah. Jauh di atas ekspektasiku. Lagi pula dekorasi yang kita pilih dengan yang diterapkan sama. Gak masalah kok," jawabku seraya tersenyum. Aku tidak berbohong, aku memang puas dengan hasilnya.
"Itu temanmu, kan?" tanya Mas Dwi seraya menunjuk seseorang dengan kode matanya.
"Hm? Yang mana?" Aku masih berusaha mencari.
"Sebelah stand dessert itu," ujar Mas Dwi seraya menunjuk dengan kode matanya. Aku menyipitkan kedua mataku agar bisa melihat lebih jelas, tapi aku lupa kalau sedang menggunakan bulu mata tambahan. Bukannya makin jelas, malah semakin tak terlihat.
"Ah iya. Dia datang," ujarku setelah menemukan Radit di antara orang-orang yang masih menikmati hidangan.
"Dia sama siapa? Kok sepertinya gak asing," tanya Mas Dwi dengan mata yang menyelidik.
"Iya, kah? Aku gak bisa lihat jelas, Mas. Terlalu jauh." Iya, aku hanya bisa lihat dia menggandeng seorang wanita, tapi aku belum bisa mengenali wajahnya.
Tamu yang hadir mulai ramai lagi, kali ini sepertinya rekan-rekan kerja papa mertuaku. Aku sedikit takjub melihatnya. Penampilan mereka sedikit berbeda, yah kesan mahal lekat pada penampilan mereka. Keluarga terpandang memang beda, batinku.
Meski muncul sedikit rasa rendah diri, rasanya hal seperti ini tidak tepat jika membuatku merasa kalah level. Aku harus menjadikannya motivasi karena kini aku sudah resmi bergabung dengan keluarga Hermansyah. Aku tersenyum bangga, kini aku bisa mengangkat derajat keluargaku. Dan lagi, aku juga akan berusaha membuat keluarga suamiku bangga memiliki menantu seperti diriku.
"Dwi, kamu pintar sekali ya memilih istri, cantik seperti mamamu," puji seorang tante cantik yang memakai dress merah maroon dengan kesan mewah dan elegan. Rambutnya terurai cantik dengan sedikit sentuhan ikal di bagian ujungnya.
"Haha ... Tante bisa aja," jawab Mas Dwi. Aku hanya tersenyum di sebelahnya. Aku baru menyadari, tante ini mirip dengan Tante Meira. Apa mereka adalah keluarga?
Usai keluarga dari Mas Dwi yang datang, kini lanjut lagi tamu undangan lainnya. Tiba giliran Radit yang menyalami kami. Aku terkejut melihat siapa yang digandengnya, aku rasa Mas Dwi pun sama terkejutnya.
"Pak Dwi, Kak Lena, selamat ya atas pernikahan kalian," ujar Reyna ketika ia sudah menyalami kami berdua.
"Iya, terima kasih banyak ya sudah hadir," jawabku.
"Kak, maaf ya kalau kedatanganku gak diharapkan. Aku datang bersama kakakku, Kak Radit," ujarnya dengan sedikit rasa bersalah. Mendengar itu aku justru merasa tidak enak karena tidak mengundangnya.
"Jangan bilang begitu! Maaf yaa kalau aku gak mengundangmu secara langsung, aku tahu kalau kamu adiknya Radit, jadi ku pikir satu undangan saja cukup," ujarku berbohong. Sebenarnya aku juga baru tahu hari ini kalau Reyna adalah adik Radit.
"Ah, ternyata begitu. Maafkan aku," ujarnya lagi. Aku tidak tahu dia minta maaf untuk apa.
"Sudahlah, aku senang kamu bisa datang. Silakan nikmati pestanya, ya!" hiburku.
"Terima kasih banyak, Kak. Semoga keluarga Kakak bahagia selalu."
"Amin, terima kasih banyak, ya!" ujarku, kemudian Reyna berlalu dan gantian dengan Radit.
"Akhirnya ya, aku benar-benar harus berhenti mengejarmu," ujar Radit padaku. Kulihat Mas Dwi hanya tersenyum, sepertinya tersirat ungkapan kemenangan di sana.
__ADS_1
"Segeralah cari pasangan! Jangan menua sendirian!" ujarku padanya. Ia hanya tersenyum.
"Aku akan tetap menunggu dia sebelum aku bisa menemukan penggantinya," ucapnya kemudian berlalu. Aku sedikit bingung mencerna ucapannya. Mas Dwi mengusap punggungku.
"Jangan hiraukan, dia masih mempermainkan perasaanmu! Dia gak benar-benar menunggumu," bisik Mas Dwi di telingaku. Aku hanya mengangguk.
Acara akan berakhir kurang lebih dua jam lagi, tapi tamu undangan tak kunjung surut. Untungnya masih ada kesempatan untuk sekedar menikmati sajian kami sendiri. Aku puas dengan makanan yang ada, tidak perlu takut menjadi nyinyiran karena rasa masakan yang kurang nikmat atau kehabisan stok.
"Halo adik kecilku yang besar! Astaga, kamu tampan sekali!" ujar wanita cantik yang kini menghampiri kami berdua. Dari ucapannya 'adik kecilku yang besar', rasanya aku tahu siapa wanita ini.
"Sudah kubilang, kalau bukan keluarga pasti kamu akan jatuh cinta padaku," ujar Mas Dwi seraya tertawa. Rasanya mereka begitu dekat, bahkan dengan gampangnya wanita itu memeluk erat Mas Dwi. Tidak salah lagi, dia pasti Puspa.
"Beraninya kamu bilang seperti itu di sebelah istrimu? Bagaimana kalau aku merebutmu darinya?" ujar wanita itu lagi.
"Kalau kamu mau, kamu bahkan sudah merebutku sejak dulu," jawab Mas Dwi santai. Aku sedikit risih, meski mereka adalah saudara, tapi apakah pantas main peluk sembarangan seperti itu?
"Hai cantik! Ah, aku lupa namamu. Siapa, sih? Lena? Alena?" Kini dia beralih ke arahku. Senyum cerahnya seolah memaksaku untuk tidak boleh membencinya.
"Ah iya, panggil saja Lena," jawabku.
"Untung kamu lebih cantik dari aku, kalau saja kurang, pasti aku akan menggagalkan acara pernikahan ini," ujarnya dengan nada bercanda. Kami pun tertawa. "Kamu pasti tahu siapa aku. Aku Puspa, sepupu Dwi. Jangan cemburu padaku, oke!" ucapnya santai. Aku pun hanya bisa tertawa kecil untuk membalas ucapannya.
"Kamu gak datang bersama tunanganmu?" tanya Mas Dwi yang seketika membuat senyumku lenyap.
"Hmm ... no! Aku sudah mengajaknya, bahkan memaksanya tapi dia beralasan kalau sedang ada acara juga di rumah. Entahlah, bahkan selama aku di Indonesia dia belum menemuiku sama sekali."
"Ahh ... rasanya mulai tumbuh benih cinta dalam dirimu," ujar Mas Dwi menggoda.
"Benih apanya? Aku mengajaknya juga karena terpaksa menuruti permintaan pamanmu itu," ujar Puspa kesal.
"Dia papamu, bod*h!" sergah Mas Dwi.
"Kadang aku malu mengakuinya sebagai papa. Ah sudahlah! Aku mau mencicip makananmu lagi. Aku suka cake-nya. Lain kali belikan aku dari toko yang sama, oke!" ujarnya menutup obrolannya dengan Mas Dwi.
"Oh iya, Lena. Kalau Dwi nakal, lapor padaku! Aku akan tendang dia sampai pingsan," ucapnya kemudian berlalu. Aku menahan tawa, Mas Dwi pun sama.
"Dia orang yang baik, bukan?" tanya Mas Dwi ketika Puspa sudah jauh dari kami.
"Ya, sepertinya begitu," ujarku sembari melihatnya yang semakin menjauh dari kami. "Kasihan ya, dia dijodoh-jodohkan seperti itu. Hebatnya dia bisa tetap ceria, aku salut."
"Kamu benar, dia pandai menyembunyikan kesedihannya. Itulah alasan kenapa dia bisa dekat denganku," ujar Mas Dwi.
"Apa alasannya?"
"Nanti akan kuceritakan lagi," ujar Mas Dwi kemudian tersenyum.
__ADS_1
Benar kata-kata yang sering aku dengar selama ini. Orang yang selalu terlihat bahagia, bukan berarti mereka tidak punya masalah. Mereka hanya pandai menyembunyikan masalahnya sendiri.
Aku bersyukur, pesta pernikahanku hari ini semua berjalan dengan baik. Tidak ada kendala yang berarti, tidak ada juga orang-orang yang membuat masalah. Orang yang kukira akan menjadi biang onar, justru ia tidak berani datang. Aku sangat bersyukur diberikan Tuhan hari yang sempurna seperti hari ini.