![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Sejak hari pernikahanku bulan lalu, aku belum pernah berkunjung lagi ke rumah Mama. Meski sudah kumaafkan, tetap saja masih belum bisa mengalir seperti dulu. Sulit menjadi diri yang pendendam sepertiku ini. Masih sering terombang-ambing antara memaafkan dan juga menyimpan rasa sakit.
Pagi itu, aku sedang menyiapkan sarapan untuk Mas Dwi dan Tria. Aku agak ragu Mas Dwi mau menyantap masakan ini, karena makanan ini dibeli dari warung Teh Uun. Tapi, semoga saja tidak. Kalau memang dia tidak mau makan, tentu ia akan menyuruhku membuang sayuran ini sejak semalam.
"Pagi, Sayangku," ucap Mas Dwi sembari merangkul bahuku dan mencium keningku lembut.
"Pagi, Mas. Kok udah bangun? Masih terlalu pagi loh," ujarku.
"Aku lagi kangen sama kamu, jadi gak mau jauh-jauh," godanya lagi.
"Aku lagi pegang pisau loh, Mas. Jangan menggodaku!" ujarku mengingatkan.
Aku sedang memotong wortel, namun Mas Dwi dengan jahilnya menggoda sambil memelukku. Kemudian ia mengambil sebuah kursi dan duduk di sebelahku.
"Nah, gitu. Udah ya, anteng! Jangan jahil, oke!" ujarku seolah berbicara dengan anak kecil.
Mas Dwi diam sejenak lalu kembali memeluk pinggangku dan membenamkan wajahnya di sana. Aku masih tetap fokus pada sayuranku, tapi perlahan piyamaku mulai tersingkap dan kurasakan sentuhan lembut dari Mas Dwi di perutku.
"Mas, nanti Tria lihat loh!" ujarku sembari meletakkan pisau dan menarik tangan Mas Dwi dari sana.
"Sini sebentar!" pinta Mas Dwi yang kemudian menarikku untuk duduk di pangkuannya.
"Ada apa, Mas? Nanti kesiangan loh ke kantornya." Aku masih berusaha mengingatkan.
"Sssttttt!"
Ia menempelkan telunjuknya di bibirku sebagai isyarat agar aku diam. Mulai kurasakan hembusan napasnya di wajahku, wajah kami kini berhadapan begitu dekat. Mas Dwi semakin merapatkan dirinya dan mulai mencium bibirku. Meski hampir tak pernah absen mendapatkan sentuhan manis darinya, tetap saja permainan ini menjadi candu bagiku.
Baru saja kunikmati sentuhan itu, tak lama kemudian suara bel rumah kami berbunyi.
Ting tung!
Mas Dwi melepaskan ciumannya dan mendengus kesal. Meski aku merasakan hal yang sama, namun aku justru tertawa melihat wajah kesalnya. Sungguh menggemaskan.
"Siapa sih bertamu sepagi ini? Ganggu orang aja!" umpatnya kesal.
"Masku sayang, jangan marah-marah gitu ah! Sana gih, bukain pintunya! Kali aja penting," ujarku dengan lembut
"Tunggu tamu bulananmu pergi dan aku akan balas dendam," ujar Mas Dwi yang kemudian mencium bibirku sekali lagi lalu beranjak dari kursi.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkahnya, lelakiku satu-satunya yang kini sedang berjalan ke arah depan untuk membuka pintu. Sungguh keputusan yang tepat menikah dengannya, kehidupanku berubah 180 derajat. Menjadi wanita yang paling bahagia. Setidaknya dalam sejarah hidupku.
"Iya, gak kesasar kok. Kan sudah pernah sekali ke sini."
Terdengar suara yang tidak asing di telingaku. Segera aku mengintip dari balik tirai, terlihat Mama menggunakan jaket merah marunnya dan membawa tas kecil. Mereka berjalan ke arah dapur, aku pun ke luar dari sini.
"Mama, ngapain pagi-pagi ke sini?" tanyaku.
__ADS_1
"Penyambutan yang di luar dugaan ternyata," ujar Mama.
"Ya, abisnya gak bilang dulu kalau mau ke sini," jawabku lagi sembari mencium tangan Mama. "Mama gimana kabarnya?"
"Sehat, kamu sendiri gimana? Katanya sakit."
"Kok Mama tahu?" tanyaku bingung. Kulirik Mas Dwi yang sedang nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya.
"Sebenarnya kemarin mau ke sini, tapi kebetulan kerjaan lagi banyak. Jadi baru bisa pagi ini. Lagi pula kalau kesiangan keburu kalian berangkat kerja," jelas Mama.
"Padahal aku gak kenapa-kenapa," jawabku agak kesal.
Aku senang mendapat perhatian, namun jika berlebihan seperti ini rasanya juga kurang nyaman. Mungkin karena sudah lama terbiasa kurang perhatian, jadi aku butuh penyesuaian. Tak lama kemudian, Mas Dwi pamit untuk mandi. Mama pun kuajak ke dapur.
"Ni untuk sarapan," ujar Mama sembari membuka tas kecil yang berisi dua buah kotak makan.
"Ya ampun, Ma. Kenapa jadi repot-repot begini, sih? Mama bangun jam berapa coba?"
Kemudian kami lanjut berbincang banyak hal sembari aku menyisihkan sayuran yang tidak jadi kumasak. Usaha online shop Mama berkembang cukup pesat, bahkan Mama mulai mau membuka toko sendiri. Aku senang mendengarnya. Kuperhatikan sekilas, Mama terlihat lebih segar, tandanya hidupnya berjalan dengan baik meski hidup sendirian.
Karena aku harus segera bekerja, Mama juga pamit pulang. Meski kukatakan tak apa untuk tinggal sebentar, tapi Mama tidak mau. Alasannya ia harus survey tempat untuk tokonya. Meski usianya tak lagi muda, semangat hidupnya sungguh patut untuk ditiru.
..
Sepulang dari kantor, kami mampir ke supermarket mengingat kebutuhan bulanan kami mulai habis. Salah satu yang menjadi impianku sejak dulu akhirnya kini bisa terwujud, yakni bisa belanja untuk kebutuhan sehari-hari bersama dengan pasanganku. Dengan sabar Mas Dwi mendorong troli bahkan ia bisa diajak diskusi untuk memilih produk apa yang lebih baik untuk kami konsumsi. Benar-benar idaman.
"Memang sebelumnya gak aman kenapa?" tanyaku.
"Selalu laundry, tahu sendiri kadang ada aja kurangnya. Entah masih kusut, pewanginya berlebihan, bahkan hilang," ujar Mas Dwi sembari ikut mencium satu persatu tester pelembut pakaian.
"Terus apa gunanya mesin cuci?" tanyaku.
"Ya ... cuma untuk mencuci lap-lap meja mungkin, atau underwear. Aku jarang ada waktu untuk sekedar menyetrika."
"Tria?"
"Hahh ... anak itu, mana mau. Nganggur pun gak bakal mau dia, menyapu rumah aja mungkin dua hari sekali," keluh Mas Dwi.
Kasihan Mas Dwi, ternyata selama ini meski tinggal dengan adiknya tapi ia tetap mengurus dirinya sendiri. Untung saja aku bisa beberes rumah meskipun mungkin tidak serapi orang lain. Setidaknya urusan pakaian Mas Dwi tidak perlu membayar jasa orang lain lagi.
..
Menyiapkan makan malam, sudah. Mengangkat pakaian kering dari jemuran, sudah. Mandi juga sudah. Waktunya memanggil Mas Dwi untuk makan malam. Meski tinggal bertiga, rasanya kami jarang sekali berkumpul. Tria sering pulang malam bahkan menginap.
Sejak pulang tadi, aku sama sekali tidak melihat Tria. Motornya juga tidak ada. Kamarnya masih terkunci. Kalau dia pulang larut lagi, Mas Dwi bisa marah. Beberapa kali kucoba untuk menghubunginya, tapi nomornya tidak aktif. Meski terasa tidak enak seolah ikut campur urusannya, tapi aku merasa aku kini juga kakaknya. Akan menjadi hal yang salah kalau aku diam melihat sesuatu yang memang tidak baik.
"Tria belum pulang?" tanya Mas Dwi yang baru saja keluar dari kamar.
__ADS_1
"Eh, iya belum, Mas." Kini aku masih berdiri di depan pintu kamar Tria dan mencoba menghubunginya.
"Udah, gak usah dicari. Anak itu semakin lama makin ngelunjak. Biar jadi urusanku."
"T--tapi, Mas ...."
"Udah, gak apa-apa. Makanan udah siap, kan?" tanya Mas Dwi mengalihkan.
"Udah kok."
"Ya udah, ayo makan duluan aja! Tria udah besar, bisa mengurus dirinya sendiri."
Terlihat Mas Dwi sudah cukup muak menghadapi Tria. Sebagai saudara ipar, aku cukup bingung bagaimana langkah yang sebaiknya aku lakukan. Tapi rasanya mengikuti omongan suami untuk kali ini adalah langkah terbaik, karena Mas Dwi yang lebih mengenal Tria dibandingkan aku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Mas Dwi sudah tertidur dengan nyenyak di sebelahku. Aku belum bisa tidur, mengingat sampai sekarang Tria masih belum pulang dan nomornya belum bisa dihubungi. Mas Dwi menyuruhku untuk mengunci ganda pintu depan supaya ketika Tria pulang, tidak bisa masuk sendiri.
Dan benar, Tria mengirimkanku sebuah pesan singkat. Ia minta untuk dibukakan pintu depan. Dengan hati-hati kulepaskan pelukan Mas Dwi dari tubuhku. Sepelan mungkin aku turun dan keluar dari kamar, jangan sampai ia terbangun.
"Makasih, Kak," ujar Tria ketika pintu baru saja kubuka.
"Kamu dari mana? Kok jam segini baru pulang?" tanyaku pelan agar Mas Dwi tidak terganggu.
"Dari rumah temen," jawabnya singkat dan berjalan ke kamarnya meninggalkanku yang masih mengunci pintu.
"Hei, sebentar!" Aku memanggilnya, masih dengan suara yang pelan.
"Ada apa, Kak?" Ia berhenti dan berbalik badan.
"Maaf, aku memang hanya saudara iparmu. Tapi aku juga gak mau kalau kamu--"
"Kak, aku capek, ngantuk. Kalau mau nasehatin, mending besok pagi aja. Sekarang Kakak tidur lagi aja, keburu Mas Dwi sadar kalau Kakak gak ada di sebelahnya," ujarnya bahkan sebelum aku ucapanku selesai tersampaikan.
Tria sungguh berbeda dengan yang biasa kukenal. Apa yang terjadi padanya? Apa yang selama ini kukenal hanyalah topengnya saja? Ia pun masuk ke kamarnya meninggalkanku yang masih mematung. Semoga saja dia hanya sedang ada masalah, mungkin aku bisa bertanya lagi besok.
Ketika aku masuk ke kamar, Mas Dwi masih tetap di posisinya. Ia sudah begitu lelah bekerja 8 jam di kantor dan masih harus memeriksa perkembangan perusahaannya yang di luar kota dari jarak jauh. Awalnya kupikir bisa meminta Mas Dwi untuk fokus di satu pekerjaan saja. Tapi mungkin akan lebih baik kalau aku tetap mendukungnya dan memperhatikan kesehatannya daripada harus memaksanya untuk berhenti dari salah satu pekerjaannya.
..
Samar kudengar suara perdebatan di luar kamar. Mas Dwi sudah tidak ada di sebelahku, apa aku kesiangan? Kutajamkan lagi pendengaranku untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
"Kenapa sih terlalu berlebihan kaya gitu? Kak Julia ya Kak Julia, aku ya aku!"
Suara bentakan Tria terdengar jelas di telingaku. Seketika kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku langsung turun dari kasur dan ke luar kamar. Mereka berdua langsung menengok ke arahku. Terlihat wajah Tria sudah berlinangan air mata. Ia pun masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
"Maaf sudah mengganggu pagimu, Sayang," ucap Mas Dwi sembari menghampiriku lalu merengkuhku dalam pelukannya.
Ia membawaku kembali masuk ke dalam kamar. Bisa kudengar debaran jantungnya yang begitu cepat. Ia benar-benar marah. Aku tak berani membuka suara. Ia memelukku dengan erat di balik pintu kamar. Kubalas pelukannya sembari mengusap punggungnya, berharap emosinya bisa segera mereda.
__ADS_1