Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 2


__ADS_3

Udara dingin masih terus menyelimuti padahal kini aku sedang berdiri di depan kompor sembari menggoreng telur untuk lauk sarapan. Pakaian kotor sudah kumasukkan ke dalam mesin cuci untuk direndam. Tak lama kemudian terlihat Tria baru keluar dari kamarnya dengan membawa handuk.


"Masak apa, Kak?" tanyanya.


"Ini goreng telur," jawabku.


"Oh, gak ada sayur?" tanyanya lagi.


"Ada kok, udah mateng. Tadi Kakak masak bening bayam," jawabku menjelaskan.


"Ah, iya. Kukira gak ada sayur," jawabnya kemudian lanjut berjalan ke kamar mandi.


Usai memasak, aku memutar mesin cuci dan lanjut menyapu ruangan. Untung rumahnya tidak terlalu luas, jadi tidak memakan waktu lama jika hanya untuk sekedar menyapu. Ketika masuk ke kamar, terlihat Mas Dwi masih tertidur pulas. Kasihan sekali, ia semalam lembur entah sampai jam berapa. Kusapu lantai kamar dengan hati-hati. Takut Mas Dwi terbangun, nanti ia akan sibuk memaksa untuk membantuku. Sedangkan aku tahu dia sedang kelelahan.


"Kak Len sapu kamarku nggak?" tanya Tria ketika aku baru keluar kamar. Ia juga baru selesai mandi.


"Nggak, aku gak berani masuk kamar sembarangan," jawabku.


"Ohh, masuk aja gak papa kok, Kak. Aku sementara tunggu di luar sembari Kak Len nyapu kamarku," ujarnya.


"Ah, iya oke."


Kemudian ia membuka kamarnya dan aku dipersilakan masuk. Kamarnya rapi dan berwarna-warni. Sesuai dengan image Tria. Bonekanya banyak, pernak-pernik di dindingnya juga beragam. Terlihat banyak foto polaroid tergantung dengan cantik di kabel lampu tumblr yang menghiasi kamarnya. Kemudian mataku tertuju pada sebuah keranjang kecil yang berisi tumpukan pakaian.


"Tria, itu baju bersih atau kotor?" tanyaku.


"Kotor, Kak. Nanti mau kubawa ke laundry sekalian berangkat ke kampus."


"Kan ada mesin cuci, itu Kakak juga lagi nyuci kok," ujarku.


"Aku gak sempet buat nyetrikanya, Kak. Gak apa-apa kok, udah biasa ke laundry."


"Gampang urusan nyetrika, bawa ke dapur gih! Cuci sekalian aja!"


"Ya udah kalau gitu," ujarnya kemudian mengambil keranjang itu dan membawanya ke belakang. Aku lanjut menyapu. Setelah semua pekerjaan beres, aku segera bersiap untuk mandi.


"Sayang," panggil Mas Dwi dengan suaranya yang sedikit serak.


"Iya, Mas," jawabku sembari melihat ke arahnya.


"Hngg ...." Ia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu melirik jam dinding. "Kamu udah mau mandi? Udah masak?" tanya Mas Dwi.


"Udah kok, Mas. Udah beres semua."


"Kok gak bangunin aku, sih?" tanyanya sembari duduk dan mengerjap beberapa kali.


"Mas kan capek, atau Mas mau mandi duluan?" tanyaku.


"Terus kamu mau ngapain?"


"Aku mau jemur pakaian, kayanya udah selesai itu yang lagi dikeringin," jawabku sembari menajamkan pendengaran dan fokus mencari suara alarm mesin cuci.

__ADS_1


"Mandilah dulu, aku masih mau cek kerjaan."


"Ya udah kalau gitu."


Kemudian aku keluar dengan membawa handuk. Terlihat Tria sedang sarapan di meja makan, sepertinya ia ada kelas pagi.


"Masuk kuliah jam berapa?" tanyaku.


"Jam 7, Kak."


Sekarang sudah hampir jam 7, sedangkan dia masih makan. Ya sudahlah, aku juga harus segera ke kantor. Kalau banyak bertanya yang ada aku juga ikut terlambat.


Usai mandi, tepat ketika aku membuka pintu kamar mandi, Mas Dwi baru saja meletakkan keranjang pakaian di samping mesin cuci. Tria sudah tidak ada di meja makan.


"Mas ngapain?" tanyaku.


"Abis jemurin baju," jawabnya santai.


"Ya ampun, Mas. Kan aku udah bilang, biar aku aja! Harusnya Mas sarapan aja, gak usah mikirin kerjaan rumah!" omelku.


"Masih pagi udah berisik aja ya kamu!" ujar Mas Dwi yang kemudian mencubit pipiku. "Jangan bawel! Aku gak mau istriku kecapekan, aku bantu sedikit gak masalah, kan?" Kini ia merangkul pinggangku.


"Ya udah iya," ujarku mengalah. Ia pun tersenyum lembut padaku.


"Gitu dong! Ya udah, gantian aku yang mandi," ujarnya seraya melepaskan pelukannya dariku.


..


"Eh, ada Mbak Lena. Baru pulang kerja?" sapa Bu Ijah.


"Iya, Bu. Ibu habis dari mana?" tanyaku basa-basi.


"Ini loh, anak saya rewel minta dimasakin sayur kangkung. Bosen makan daging katanya. Mana maksa harus masak untuk makan malam, gak mau ditunda besok-besok," ujarnya padaku.


"Oh, iya ... pinter ya, Bu, anaknya. Mau makan sayur," responku. Karena jarang kutemui anak kecil yang suka makan sayur.


"Iya, anak saya itu pinter banget. Meskipun baru kelas satu, dia sudah lancar membaca loh!" ujarnya lagi.


"Wah, pasti Ibu telaten sekali ya buat bimbing anaknya," pujiku.


"Oh jelas! Mbak Lena udah isi belum? Kalau mau cepet isi, jangan kecapekan, Mbak! Berhenti kerja aja terus fokus ngurus rumah!" ujar Bu Ijah dengan lancarnya. Ditanya seperti itu jantungku serasa dipukul.


"Sore, Bu Ijah," sapa Mas Dwi yang baru turun dari mobil dan berdiri di sebelahku yang masih mematung.


"Sore, Mas Dwi. Duh, sudah sore masih ganteng aja sih. Beda kalau orang kerja kantoran mah ya," ujar Bu Ijah.


"Ibu bisa aja. Maaf, kami permisi mau masuk dulu ya, Bu!" ujar Mas Dwi. Apa ia tahu apa yang aku pikirkan saat ini?


"Oh iya, silakan," jawab Bu Ijah tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya.


"Mari, Bu," ucap Mas Dwi sembari menggandengku masuk ke rumah.

__ADS_1


Aku hanya menunduk hormat pada Bu Ijah sebelum masuk. Sampai di dalam, aku langsung masuk ke kamar. Mas Dwi yang menutup pintu depan. Kutaruh sepatu dan tas kerja di tempatnya lalu duduk di atas kasur. Pertanyaan Bu Ijah tadi berkeliaran di pikiranku. Tak lama kemudian Mas Dwi juga masuk ke kamar dan duduk di sebelahku.


"Jangan dipikirkan omongan Bu Ijah tadi. Kita menikah baru satu bulan, wajar kan kalau belum diberi momongan?" ujar Mas Dwi lembut.


"Apa Mas gak takut kalau aku ... gak bisa kasih Mas--"


"Sstttt!" Mas Dwi memotong omonganku dan menarikku dalam pelukannya. "Jangan berpikir yang nggak-nggak! Kita sudah pernah periksa dan gak ada masalah akan hal itu. Memang belum waktunya aja kok, tenang ya!" ujar Mas Dwi seraya mengusap rambutku dengan lembut.


Meski bulan depan aku mulai masuk kuliah, tapi kami tidak ada rencana untuk menunda momongan. Sebelum menikah, kami pernah mengecek kesehatan masing-masing, tak menunjukkan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Mungkin aku hanya harus lebih kebal akan omongan tetangga.


Mas Dwi masih sibuk dengan pekerjaannya di depan komputer, sedangkan aku sibuk dengan ponselku. Sambil merebahkan diri di kasur, pikiranku melalang buana. Aku masih sedikit bingung, mertuaku menganjurkan untuk berhenti bekerja dan fokus kuliah. Mas Dwi juga tidak memaksa, ia menyerahkan semua keputusan padaku, namun tetap saja ia juga menganjurkan hal yang sama.


Kupejamkan mata dan menimbang sejenak, apa aku benar-benar harus berhenti bekerja? Aku sudah mengambil kelas reguler, tapi masih ada waktu satu minggu untuk pindah ke kelas karyawan jika memang berubah pikiran. Apa mungkin aku berhenti dari kantor dan mencari pekerjaan sambilan? Sepertinya itu bisa jadi rencana yang bagus.


"Sayang, kalau ngantuk tidur duluan aja!" ujar Mas Dwi. Seketika aku langsung membuka mata.


"Hm? Belum kok, Mas," jawabku.


Mas Dwi ternyata tidak hanya sibuk bekerja di kantor penerbitan. Dia juga punya pekerjaan sampingan yang ia urus dari rumah. Kantornya ada di luar kota, katanya ia biasa mengunjungi sekitar tiga bulan sekali. Itulah alasan dia sering sekali lembur. Meski sibuk begitu, ia juga tidak segan untuk terus membantu pekerjaan rumah. Rasanya aku menjadi tidak berguna sebagai istri.


Tok-tok-tok!


"Mas, ada tamu," ujar Tria dari balik pintu. Mas Dwi langsung beranjak dari kursinya yang kebetulan bersebelahan dengan pintu.


"Siapa?" tanya Mas Dwi setelah pintu terbuka.


"Gak tahu, ibu-ibu gitu. Katanya sih mau ketemu Kak Len." Mendengar namaku disebut, aku segera turun dari kasur dan melangkah ke arah mereka.


"Cari aku?" tanyaku. Tria hanya mengangguk.


"Ya udah, ayo keluar! Aku temani," ucap Mas Dwi. Kami pun menemui tamu tersebut. Dua orang ibu-ibu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Selamat malam, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Mas Dwi ketika kami sudah duduk bersama mereka.


"Malam Mas Dwi, Mbak Alena. Maaf mengganggu malam-malam. Kami perhatikan Mas dan Mbak selalu berangkat pagi pulang sore, jadi baru bisa bertamu malam hari," ujar seorang ibu berbaju coklat.


"Iya, gak apa-apa kok, Bu," jawab Mas Dwi.


"Sebelumnya saya memperkenalkan diri dulu. Saya Bu Nita, istri Pak RT dan yang disebelah saya ini Bu Ndari," ujarnya memperkenalkan diri. Aku dan Mas Dwi hanya mengangguk-angguk.


"Jadi, tujuan kami ke sini itu mau memberi tahu kalau di RT kita ada agenda ibu-ibu yakni arisan bulanan. Yah, gunanya agar antar tetangga bisa saling kenal dan lebih dekat. Barangkali Mbak Alena berminat untuk gabung, begitu." jelas Bu Nita.


"Emm ... anu, Bu. Kalau boleh tahu, kumpulnya di mana ya? Dan biasanya hari apa?" tanyaku.


"Untuk tempatnya bergiliran, Mbak. Masalah waktu biasanya hari Sabtu atau Minggu, menyesuaikan dengan pemilik rumah juga."


"Ah, begitu. Setorannya berapa, Bu?"


"Kalau ikut 1 nama, nanti setorannya perbulan 100 ribu. Kalau Mbak Alena mau ikut beberapa nama juga boleh, tinggal dikalikan saja jumlah uangnya." Kini gantian Bu Ndari yang menjelaskan.


Akhirnya kami ikut 2 nama. Setelah beres masalah arisan, kami mengobrol beberapa hal sembari menghabiskan minuman yang sudah dibuatkan Tria. Sebelumnya, aku jarang sekali bahkan tidak pernah ikut agenda dengan tetangga seperti ini. Jangankan ikut agendanya, mengenal tetangga pun tidak banyak. Rasanya ketika sudah menikah, berbaur dengan tetangga seperti ini adalah hal yang wajib.

__ADS_1


__ADS_2