Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
27


__ADS_3

Mas Dwi tidak menyetujui permohonan pengunduran diri dari Reyna. Karena adanya pertimbangan satu dua hal sesuai dengan peraturan perusahaan, Reyna diberikan izin selama dua puluh hari. Jika dalam jangka waktu tersebut Reyna belum juga bisa kembali ke kantor maka baru diputuskan bahwa ia diberhentikan.


Sepulang kerja, aku kembali ke rumah, tapi aku tidak akan tinggal. Ada beberapa barang yang harus kuambil. Aku berharap rumah kosong, sehingga aku tidak perlu menghabiskan energi untuk berdebat dengan penghuni rumah itu.


"Perlu bantuanku?" tanya Mas Dwi sebelum aku keluar dari mobil.


"Gak perlu Mas. Mas tunggu di mobil saja! Lagi pula kayanya rumah lagi kosong, jadi aku aman."


"Baiklah. Jangan terlalu lama ya!"


"Iya."


Kemudian aku keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Aku masih menyimpan kunci rumah ini. Sesungguhnya aku rindu. Dua puluh tahun aku tinggal di rumah ini, seandainya Papa masih hidup, tentu rumah ini tetap menjadi tempat tujuanku untuk pulang. Namun sayang, semua tak lagi sama. Bukannya masuk, aku justru terisak di depan pintu. Aku rindu Papa.


"Lena, kamu pulang?" terdengar suara wanita di belakangku. Suara siapa lagi kalau bukan suara Mama.


Kuhapus air mataku dan lanjut membuka pintu rumah. Aku bersikap seolah tak ada manusia di belakangku. Aku masuk ke kamar, mengambil beberapa berkas dan barang lain yang belum sempat kubawa waktu itu.


"Lena, kamu sehat, kan?" tanya Mama dari pintu kamarku. Aku tidak menjawab, tapi rasanya air mataku terus memberontak agar boleh keluar dari tempatnya.


"Lena, kamu itu salah paham," ujar Mama lagi, namun aku tetap tidak peduli.


"Mama gak pernah mencintai Robi dan sekarang dia sudah bukan suami Mama lagi. Dia sudah tahu kalau Mama pura-pura hamil." Mama tetap berbicara meskipun aku tidak mengacuhkannya.


"Lena, kembalilah ke rumah. Ini rumahmu, kasian papamu." Mendengar 'papa' disebut, sontak aku berhenti memilah berkas dan berdiri.


"Papa sudah bahagia disana. Justru Papa akan sedih punya istri seperti Mama," jawabku tegas.


"Mama akui Mama salah. Maksud Mama memintamu untuk memulai hidup sendiri bukan berarti kamu bukan anak Mama lagi, tapi kamu harus bisa melepaskan laki-laki br*ngs*k itu dan mencari pasangan yang serius," ujar Mama menjelaskan. Aku memang menyimak, tapi aku tetap diam. Masih teringat jelas ucapannya waktu mengusirku, dari mana salah pahamnya?


"Kembalilah ke rumah, Mama--"


"Mama udah gak punya uang? Iya? ATM berjalan Mama sudah gak berfungsi lagi? Setelah Robi gak menafkahi lagi, lalu Mama kembali padaku begitu? Enak sekali!" sahutku memotong omongan Mama.


"Lena! Kamu gak boleh bicara gitu sama mamamu!" Tiba-tiba Mas Dwi muncul di belakang Mama.


"Mas? Kan aku sudah bilang tunggu di mobil saja!"


"Aku khawatir, maaf, tapi kamu gak seharusnya bicara begitu," ujar Mas Dwi.


"Kamu yang waktu itu antar Lena pulang, kan?" tanya Mama pada Mas Dwi.


"Iya, Bu. Saya Dwi."


"Ah iya saya ingat. Jangan marahi Lena! Dia wajar bersikap seperti itu. Memang saya yang salah," ucap Mama dengan nada yang lemah. Aku menatapnya kaget. Sejak kapan Mama jadi seperti ini?


Kebetulan barang-barangku sudah selesai kukemasi. Aku langsung keluar kamar tanpa mengindahkan mereka berdua.


"Saya pamit dulu ya, Bu."


Terdengar suara Mas Dwi yang berpamitan lalu mengejarku. Aku kesal melihat Mas Dwi yang membela Mama. Jelas-jelas ia sudah tahu semua ceritanya, masih bisa dia membela Mama? Aku terus berjalan dan tidak masuk ke dalam mobil. Mas Dwi langsung menghentikanku.


"Kenapa gak masuk ke mobil?"

__ADS_1


"Kalau Mas lebih membela Mama, lebih baik Mas gak usah kenal aku lagi."


"Lena, aku gak bermaksud begitu. Sejahat apapun mamamu, dia tetap ibumu."


"Terserah!"


Aku mulai berjalan lagi tanpa mempedulikan Mas Dwi. Mas Dwi menarik lenganku sehingga membuatku kini menghadap dirinya. Ia memegang kedua bahuku.


"Hei, tenang! Ayo pulang! Kita bahas pelan-pelan! Oke?" pinta Mas Dwi lembut.


Aku kesal tapi aku sudah lelah. Aku pun masuk ke dalam mobil. Mas Dwi membawaku ke rumahnya karena aku tidak ingin ada gosip baru bila membawa Mas Dwi ke kamar kostku.


"Sudahlah, jangan merengut seperti itu! Maaf kalau tindakanku gak sesuai dengan yang kamu inginkan," ucap Mas Dwi ketika kami baru saja duduk di sofa.


"Aku sangat membenci perempuan itu Mas. Apa mas gak paham juga?" ujarku penuh emosi.


"Tunggu disini!" Kemudian Mas Dwi beranjak dari sofa dan menuju dapur. Ia membawakanku minuman dingin.


"Minumlah dulu dan atur nafasmu!" ujarnya. Aku menurut. Kuteguk minuman itu sedikit lalu kuatur nafas sampai emosiku sedikit mereda.


"Aku tahu dia ibuku dan sampai detik ini aku masih belum bisa memaafkannya."


"Aku paham kok yang kamu rasakan. Bukannya aku membela yang salah. Aku hanya menghargai mamamu sebagai orang tua."


Aku tidak menjawab. Aku kesal akan diriku sendiri yang terlalu mudah terpancing emosi dan sulit untuk memaafkan. Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana.


"Lena, maaf kalau aku seolah gak peduli dengan yang kamu rasakan. Tapi, kalau memang kamu mau kita menikah dalam waktu dekat, tentu kamu harus segera baikan dengan mamamu untuk meminta restu."


"Gak boleh begitu, Len. Restu orang tua itu penting."


"Antar aku pulang Mas, aku butuh tidur," ujarku.


Aku malas berpikir untuk saat ini. Mas Dwi pun menuruti permintaanku, yah aku bersyukur dia begitu menghargaiku.


..


"Pagi, Alenaaaaa!!!!" sambut Atika ketika aku baru saja masuk melewati pintu kantor. Mas Dwi sudah masuk lebih dulu karena tadi aku pergi ke mesin minuman untuk membeli teh.


"Wah, bumil akhirnya masuk kerja lagi. Kamu benar sudah kuat? Padahal kamu diberi izin untuk bekerja dari rumah."


"Ah, aku gak betah kelamaan di rumah. Apalagi dengar omelan mertuaku yang ribet itu. Sedikit-sedikit nyuruh ngecek saluran air lah, gak boleh pake perhiasan lah, ribet pokoknya."


"Saluran air? Kenapa harus dicek? Itu kan tugas suamimu."


"Kamu tahu lah, suamiku itu sering kerja lembur. Katanya sih saluran air harus selalu bersih, gak boleh ada yang mampet. Biar melahirkannya nanti lancar," ujarnya menceritakan mitos-mitos orang tua jaman dulu.


"Lalu kamu percaya?" tanyaku yang sedikit meragukan.


"Percaya gak percaya sih. Demi anak apa aja pasti aku lakuin," ujarnya seraya tersenyum dan mengusap lembut perutnya yang sudah membesar.


"Ya sudahlah, yang penting kamu dan calon bayimu selalu sehat yaa," ujarku seraya ikut tersenyum.


"Pagi Kak Tika! Wah akhirnya masuk juga! Aku rindu tahu!" ujar Tasya yang baru saja datang dan bergabung bersama kami.

__ADS_1


"Hai, Tasya! Aku tahu kok kalau aku ini memang ngangenin," jawab Atika penuh percaya diri.


"Rasanya aku sedikit mual," jawabku meledek.


"Gak bisa ya liat orang lain bahagia sedikit?" ujar Atika seraya mencubit pelan lenganku. Tentu saja dia bercanda.


"Haha ... maaf maaf! Ya sudah, aku harus segera ke ruangan. Ada laporan yang harus kuberikan ke Mas Dika," ujarku agar obrolan kami tak merembet menjadi gosip.


"Ah iya, aku lupa ada janji telepon client sebentar lagi," tambah Atika.


Lalu kami masuk ke ruangan masing-masing. Tasya berjalan di sampingku tanpa bicara. Aku juga ikut diam, karena pada dasarnya aku tidak terlalu banyak bicara dengan orang yang tidak terlalu dekat denganku. Terlebih aku masih mencurigai Tasya. Rasanya ingin kutanyakan secara langsung, tapi jelas itu langkah yang salah.


Setelah sampai di ruangan, kusiapkan laporanku dan kuberikan ke Mas Dika.


"Ini laporan yang Mas minta kemarin," ujarku seraya memberikan map biru itu ke tangan Mas Dika.


"Ah iya, terima kasih," ucapnya lalu ia membuka map itu.


"Sama-sama, Mas."


"Oh iya, Len," ucap Mas Dika sebelum aku beranjak.


"Ada apa, Mas?"


"Dengar-dengar kamu sebentar lagi mau menikah ya dengan Pak Dwi? Kok gak sebar undangan sih? Atau aku gak diundang?" Pertanyaan Mas Dika membuatku terbelalak.


"Eh? Menikah?" Benar kata Mas Dwi, gosip ini sudah menyebar karena ada dalangnya.


"Iya, kata Tasya, kalian mau menikah dalam waktu dekat."


"Kapan Tasya bilang begitu, Mas?"


"Mungkin dua atau tiga hari yang lalu. Memangnya salah, ya? Ahh memang dasar tukang gosip itu orang."


"Tukang gosip? Siapa yang Mas maksud?" tanyaku seolah tidak mengerti. Kalau tiga hari yang lalu, tepat sehari setelah Mas Dwi memancingnya.


"Si Tasya. Kamu sih jarang ikut makan sama kami. Setiap hari tuh ada aja gosip yang dia bawa. Bahkan dia bilang kalau anak marketing itu nekat mengundurkan diri karena gak siap melihat Pak Dwi mau menikah."


"Hah? Sumpah?" Serius, kali ini aku terkejut.


"Iya serius. Ah, kan. Keseringan denger gosip dari dia jadi ketularan suka ngegosip," keluh Mas Dika. Rasanya ini kesempatan yang tepat untuk mengorek gosip tentangku.


"Em ... anu mas, kalau gosip tentangku, Mas juga tahu, kan?"


"Jelas tahu, tapi aku gak percayalah! Karena aku tahu komplek kostan itu memang kost campur. Aku juga tinggal di sana sebelum menikah," jawab Mas Dika sedikit membuatku senang. Ternyata masih ada orang yang tidak termakan hoax.


"Jadi, semua gosip berasal dari ... Tasya?" tanyaku hati-hati. Takut terkesan menuduh.


"Hmmm ... kalau itu aku juga kurang yakin, ya. Aku pribadi dengarnya memang dari Tasya, tapi dia tahu dari mana aku juga gak tanya."


"Ah begitu. Ya sudah, terima kasih banyak ya Mas. Aku kembali ke ruanganku dulu." aku merasa sudah cukup mendapatkan informasi yang kubutuhkan.


Sudah cukup jelas siapa dalang dari semuanya. Aku tinggal memperjelas apa motifnya. Dasar lambe turah! Tunggu pembalasanku!

__ADS_1


__ADS_2