Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 5


__ADS_3

"Loh, Rino udah dijemput?" tanya Mas Dwi yang baru saja selesai mandi.


"Iya, Mas. Baru aja," jawabku.


"Kamu dari mana? Sore banget pulangnya," tanya Mas Dwi pada Tria yang kini duduk di sebelahku dan asik dengan ponselnya.


"Main," jawabnya singkat.


"Motornya udah diganti oli belum? Itu jadwal gantinya harusnya dari minggu kemarin loh," ujar Mas Dwi mengingatkan, bukan pertama kalinya.


"Iya, besok ih!" jawab Tria dengan nada kesal.


Aku hanya bisa menjadi penonton di sini. Mas Dwi langsung masuk ke kamar, disusul dengan Tria yang juga masuk ke kamarnya. Aku teringat kalau belum belanja untuk keperluan sarapan besok pagi, sepertinya aku harus pergi ke warung sebelum malam mulai larut.


Warungnya tidak begitu jauh, letaknya tepat ada di ujung gang. Kondisi jalan juga tidak begitu sepi, masih banyak keluarga yang duduk di teras rumahnya sambil bercengkrama. Terlihat juga anak-anak kecil yang tenang dipangku orang tuanya.


'Keluarga yang sempurna,' batinku.


Sampai di warung, aku mengambil sebungkus racikan sayuran untuk sop dan 1 bungkus tempe ukuran sedang. Setidaknya cukup untuk sarapan besok pagi. Tidak lupa aku juga membeli telur. Mas Dwi kadang suka masak telur tengah malam kalau tiba-tiba lapar di tengah lemburnya.


"Berapa, Bu?" tanyaku pada ibu penjaga warung sembari menyerahkan belanjaanku.


"Lima belas ribu, Neng. Neng teh orang mana? Kok aku baru lihat," tanya ibu itu setelah memberitahu total belanjaku.


"Ah, saya orang baru, Bu, di sini. Istrinya Mas Dwi," jawabku sembari mengeluarkan uang dua puluh ribuan. "Ini uangnya, Bu," ujarku lagi.


"Oalah, istrinya si Dwi toh!" seru ibu itu dengan renyahnya. "Aku ini masih saudara jauhnya Bu Meira loh, kelihatan kan cantiknya sama?" tanyanya lagi dengan PD-nya.


"Oh, masih saudara?" tanyaku terkejut. Mas Dwi tidak pernah memberitahu aku sama sekali.


"Iya, saudara dari Nabi Adam," ujarnya kemudian tertawa lepas. Aku pun ikut tertawa karena kebodohanku sendiri. "Aduh, Neng. Jangan gampang percaya gitu, ih! Aku cuma bercanda. Aku cuma ngefans aja tuh sama Bu Meira, udah cantik, pinter, baik lagi," ujarnya lagi memuji Mama Meira.

__ADS_1


"Hehe, iya." Aku tidak tahu harus merespon apa.


"Nah kembalianmu, lain kali belanja yang banyak ya! Dulu Bu Meira setiap hari beli tempe di sini. Dwi dulu suka makan tempe bacem. Udah tahu belum?" tanyanya sembari menyerahkan lima lembar uang seribuan.


"Ah, saya belum tahu, Bu," jawabku jujur.


"Nah, ambillah satu tempe lagi, anggap bonus dariku." Ibu itu memberikan satu bungkus tempe lagi.


"Ini serius, Bu?" tanyaku tak percaya.


"Iya, udah bawa aja! Bilang sama Dwi, sombong sekali dia sama Teh Uun. Gak pernah mau lagi belanja di sini," ujarnya. Ahh, jadi namanya Teh Uun.


"Iya, Bu. Terima kasih banyak. Nanti saya sampaikan ke Mas Dwi," ujarku senang. Ya, senang dapat belanjaan gratisan dan juga senang punya kenalan baru yang ramah.


"Iya, sama-sama. Panggil 'Teteh' aja, jangan 'Ibu', biar kelihatan lebih muda," ujarnya kemudian tertawa lagi.


"Hehe iya, Teh. Saya permisi dulu ya!"


Aku pun kembali ke rumah dengan mood yang sudah membaik. Nanti aku harus mencari resep untuk membuat bacem. Merasa tidak berguna sampai aku tidak tahu makanan kesukaan suami sendiri. Setibanya aku di rumah, terlihat Mas Dwi agak terkejut melihatku datang.


"Kamu ke mana aja, sih? Pergi gak bilang-bilang," tanyanya panik.


"Ini beli sayuran untuk besok pagi," jawabku sembari memasukkan belanjaanku ke dalam kulkas.


"Kamu tuh masih gak enak badan loh, kenapa gak nyuruh aku aja?" tanyanya lagi. Nada bicaranya tampak benar-benar khawatir.


"Mas, aku udah sehat kok. Lagi pula aku cuma belanja di tempat Teh Uun doang."


"Kamu kenal Teh Uun?"


"Nggak sih, tadi beliau yang memperkenalkan diri. Katanya Mas sombong, jadi suruh sering belanja ke sana lagi. Nih dikasih tempe juga, gratis. Tetehnya baik," ujarku panjang lebar, tapi pandangan Mas Dwi tampak berbeda.

__ADS_1


"Lain kali belanja di supermarket aja, kalau kepepet mending beli mie instan di minimarket. Jangan belanja di warung itu!" ujarnya tegas kemudian melangkah masuk ke kamar.


"Loh, kenapa, Mas?" tanyaku sembari mengikutinya dari belakang.


Ketika kami sudah di dalam kamar, Mas Dwi mengajakku untuk duduk di sofa di sebelahnya. Sebelum bicara, ia menarik napas panjang. Rasanya aku seperti baru melakukan kesalahan besar.


"Aku gak melarangmu untuk kenal dengan orang di lingkungan ini, tapi kamu ingat, kan, kalau aku ini anak kedua di dalam keluargaku?" tanyanya membuka pembicaraan.


"Iya, Mas bilang kalau kakaknya Mas udah gak ada," ujarku pelan-pelan. Aku takut ingatanku salah.


"Iya, kamu benar. Dia memang udah gak ada, gak ada dalam daftar keluarga kami."


"Dalam daftar keluarga? Jadi?" Aku tidak berani menyimpulkan sendiri, karena rasanya masalah ini sangat sensitif.


Mas Dwi menceritakan, kalau sebenarnya ia punya seorang kakak perempuan. Namanya Esa Juliani Hermasyah. Dia anak yang pendiam dan penurut, berbanding terbalik dengan kepribadian Tria. Namun, karena kesalahannya akhirnya dia terpaksa diusir dari rumah.


Usianya hanya terpaut dua tahun dari Mas Dwi. Ia berhenti kuliah di semester ke lima dengan alasan salah jurusan, namun ternyata ia menyembunyikan rahasia besar. Papa yang begitu kecewa setelah mengetahui putrinya sudah mengandung anak dari seorang pria beristri, akhirnya mengusir anak pertamanya itu. Tak peduli dengan janin dalam kandungannya.


"Lalu, apa hubungannya dengan Teh Uun?" tanyaku makin penasaran. Kehidupan keluarga yang kusangka sempurna ternyata ada celanya juga.


"Dia adiknya laki-laki brengs*k itu," jawab Mas Dwi dengan emosinya yang tertahan.


"Lalu, di mana Kak Julia sekarang?" tanyaku lagi.


"Entah, intinya usahakan jangan belanja di sana lagi!" pinta Mas Dwi.


"Iya, Mas. Maafkan aku."


"Iya, gak apa-apa. Salahku yang gak menceritakan padamu sejak awal."


Kemudian Mas Dwi menarikku dalam pelukannya. Terdengar napasnya yang memburu. Ia masih begitu emosi. Kuusap lembut punggung Mas Dwi, berharap ia bisa segera tenang. Sebenarnya aku penasaran dengan Kak Julia, aku yakin dia sangat menyesal akan perbuatannya itu. Tapi, apakah tidak ada rindu lagi untuk Kak Julia dari keluarga ini?

__ADS_1


__ADS_2