![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Author POV
Keesokan harinya; Lena, Dwi, Puspa dan Tria pergi untuk berjalan-jalan. Rencananya mereka hanya akan berjalan di tepi pantai sembari menikmati semilir angin dan juga air kelapa muda. Benar-benar liburan yang menyegarkan—setidaknya bagi mereka selain Lena.
"Kalau mau ke kedai, saya sudah siapkan ruangan di lantai dua," ujar Agung menawarkan.
"Wah, boleh itu. Bisa sambil lihat sunset, kan?" tanya Puspa yang sangat bersemangat dalam menikmati liburan ini.
"Bisa, ruangannya juga luas," jawab Agung yang juga merasa senang bisa mengajak mereka untuk mampir ke kedai yang ia rintis sendiri.
Sementara itu, Tria hanya sibuk dengan ponselnya. Memotret ke sana kemari, terkadang ia juga sambil mengambil cangkang-cangkang kerang yang menurutnya lucu.
"Masih aja kayak dulu, ya!" ujar Agung yang baru saja menghampiri Tria.
"Memang ada hal lain yang bisa dilakuin selain ini?" tanya Tria dengan nada yang sedikit kurang enak di dengar. Agung tidak tersinggung, tapi ia sedikit bertanya-tanya apa alasan yang membuat Tria menjadi kembali dingin.
Sementara itu di sisi lain, ada tiga manusia yang sedang mengamati mereka.
"Liat deh, menurutmu mereka cocok, gak?" tanya Puspa.
"Enggak, gak cocok," bantah Dwi dengan tegasnya.
"Dih, bilang aja sirik!" omel Puspa.
"Gak salah nih? Aku ke sini bawa gandengan, kenapa harus sirik? Kamu itu kali yang sirik," balas Dwi tak mau kalah.
Lena hanya tertawa melihat tingkah lucu kedua saudara itu. Sesaat ia merasa iri dan ingin memiliki saudara kandung juga.
Memperdebatkan segala sesuatu yang tampak di mata, menyindir satu sama lain dan membicarakan pekerjaan pada akhirnya adalah cara mereka menikmati waktu bersama dengan 'hangat'. Sedikit-banyak Lena juga bisa menyesuaikan pembahasan mereka, sehingga pikiran kacaunya pun bisa teralihkan.
Sampai akhirnya, Lena mendapatkan telepon dari Bu Hepi yang mengatakan kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Terpaksa ia kembali ke villa bersama dengan Dwi, sedangkan Puspa tetap di pantai sembari bermain bersama dengan Tria.
__ADS_1
"Siapa yang nyariin kamu? Memang kamu ajak temen?" tanya Dwi yang juga tidak tahu siapa yang mencari Lena.
"Enggak tuh, Mas. Aku gak kasih tau siapa-siapa kalo kita ke sini," jawab Lena tak kalah bingung.
Ketika sampai di villa, mereka disambut oleh tamu yang sangat asing—dan juga Bu Hepi tentu saja. Beliau akhirnya memberi tahu kalau tamu yang datang adalah Selena bersama dengan suami dan anaknya yang masih berusia satu tahun.
Sesaat suasana begitu canggung, sesekali Lena melirik dan memperhatikan penampilan Selena. Bukan berniat untuk menghujat, ia hanya ingin mencari titik kemiripan wanita itu dengan ayahnya.
"Mohon maaf, kalau saya boleh tahu, Anda ini siapa dan apa tujuan Anda mencari istri saya?" tanya Dwi dengan sopan.
"Ah, iya. Maaf, sepertinya saya mengganggu hari libur kalian. Saya akan kembali memperkenalkan diri. Nama saya Selena adik tiri dari Mbak Alena," ujar Selena lembut.
Dwi menoleh ke arah Lena, namun ia mendapati istrinya tidak terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
"Kamu udah tau?" tanya Dwi setengah berbisik.
Lena mengangguk pelan. "Ya, sedikitnya Bu Hepi udah cerita ke aku, Mas."
Kemudian mereka berdua meminta penjelasan yang lebih detail pada Selena. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Bu Hepi sebelumnya, wanita itu memang anak dari Alm. Pak Hendra, ayah dari Alena. Dan tujuannya datang menemui Alena adalah untuk mengajaknya menjadi 'keluarga'.
"Itu… maaf, mungkin Mbak gak akan suka dengar ini, tapi saya minta orang untuk cari tau tentang keluarga Mbak sejak beberapa bulan yang lalu. Dan kebetulan saya tinggal di kota sebelah, jadi saya berinisiatif untuk menemui Mbak."
"Apa tujuanmu? Apa gak lebih bagus kalo kita gak usah ketemu sama sekali?" tanya Lena dengan nada yang terdengar begitu ketus.
Selena tersenyum tipis. "Saya mengerti kalau Mbak bakal marah dan gak suka, apalagi status ibu saya yang adalah istri kedua."
"Bagus kalau kamu sadar," balas Lena lagi.
Dwi mengusap bahu Lena, ia tak ingin istrinya mengamuk di sana.
"Ibu saya meninggal beberapa tahun setelah ayah, jadi pertemuan ini murni inisiatif diri saya sendiri. Saya ingin menebus kesalahan yang dibuat ibu saya." Terdengar sebuah keikhlasan dari ucapannya
__ADS_1
Niat Selena begitu tulus. Ia ingin menjadi saudara yang baik untuk Lena, baik dari segi hubungan maupun lainnya. Bahkan ia juga berencana untuk membantu apa pun yang Lena butuhkan, baik dari segi finansial maupun yang lainnya demi menebus rasa bersalahnya.
"Sebenarnya saya merasa sakit hati ketika mengetahui kalau ibu adalah istri kedua, bahkan rasa hormat saya sempat hilang pada saat hal itu terbongkar," ungkap Selena.
Perlahan Lena mulai terbuka. Jikalau benar wanita itu tidak tahu dengan masalah poligami ayahnya, tentu Lena merasa jahat karena sudah menghakimi orang itu. Lagi pula ia hanyalah seorang anak yang tidak bisa memilih untuk lahir di keluarga siapa.
"Sejujurnya aku gak tau harus bagaimana. Aku gak membencimu, tapi bukan berarti aku menyukaimu. Kau pasti paham maksudku," ujar Lena pelan.
Selena mengangguk. Ia sudah membayangkan hal yang lebih buruk daripada ini sebelumnya.
"Mbak juga bisa menghubungiku jika memang butuh bantuan." Kemudian Selena mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya dan memberikannya kepada Lena. Kertas tersebut merupakan kartu nama.
"Kupikir ini terlalu berlebihan. Kau bisa pergi dan melupakan kalau kita pernah bertemu. Gak perlu merasa bersalah, semua ini bukan kesalahanmu." Setelah mengatakan hal tersebut, Lena undur diri dan masuk ke dalam kamar.
"Maaf, seperti yang bisa Anda lihat, istri saya sedang hamil. Emosinya sedikit kurang stabil. Sebagai suami, saya menghargai keputusannya. Saya terima niat baik Anda, tapi saya harap Anda juga bisa menghargainya," ujar Dwi sebagai penengah.
Tidak ada pembahasan yang dilakukan lagi setelahnya. Selena dan keluarganya pergi, kemudian Dwi menyusul Lena ke kamar.
Di kamarnya, Lena duduk di atas ranjangnya sembari bersandar. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri untuk kali ini. Bahkan ia sempat mengutuk diri sendiri karena tidak bisa tegas dalam menghadapi masalah.
"Udah pulang?" tanya Lena ketika Dwi baru saja menutup pintu kamar.
"Udah, baru aja. Jangan terlalu jadi beban, ya! Mereka bisa diajak ngomong baik-baik kok. Kalau memang kamu terganggu, aku juga gak akan biarin mereka untuk muncul lagi," jelas Dwi seraya merengkuh Lena ke dalam pelukannya.
Lena tak menjawab dan hanya mengangguk. Dwi mengusap lembut puncak kepala Lena, lalu mengecupnya singkat.
"Mau balik ke pantai, gak?" Dwi menawarkan, barangkali mood Lena bisa membaik setelah mereka berjalan-jalan.
"Mas gak capek?"
"Enggak dong! Kamu capek, ya?"
__ADS_1
"Enggak sih, tapi boleh gak langsung ke kedainya Bli Agung aja? Aku males jalan-jalan, pengen jajan aja," pinta Lena.
"Boleh, Sayang. Kalau mau jalan-jalan sambil kugendong juga boleh kok," goda Dwi. Jelas saja Lena menolak. Sebuah hal uang mustahil mau Lena lakukan di muka umum. Dan akhirnya mereka pun kembali ke pantai sebelum matahari terbenam.