Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 10


__ADS_3

Makan malam ini terasa begitu manis. Bukan makanannya yang manis, tapi suasananya. Meski pakaian kami berdua bukanlah gaun cantik ataupun jas mewah, yakni hanya piyama lusuh yang sudah kami miliki bertahun-tahun. Makan malam ini terasa begitu istimewa dan menyenangkan.


Makanan yang tersaji juga sangat enak, karena selain bumbunya pas, juga ada serbuk cinta yang terkandung di dalamnya. Untung saja, sampai candle light dinner ini berakhir, Tria belum juga pulang. Jadi, aku tidak perlu merasa canggung karena mendapatkan momen romantis di waktu yang tidak tepat.


"Sebenarnya, apa yang membuat Mas merencanakan makan malam romantis begini?" tanyaku sembari membereskan sisa makan malam ini.


"Pertama, proyekku yang kemarin sempat hilang ternyata hanya terselip saja. Kedua, aku ingin membuat istriku bahagia," jawabnya kemudian tersenyum.


"Aku bisa menerima alasan pertama dan aku mengucapkan selamat atas proyek yang sudah kembali," jawabku seperti atasan yang sedang bicara pada anak buahnya. "Namun, untuk alasan kedua aku masih mempertanyakan. Bukannya selama ini Alena sudah cukup bahagia menjadi istrimu?" tanyaku lagi dengan bahasa yang masih sama.


"Hmm ... apakah seorang suami tidak boleh memberikan kebahagiaan yang lebih untuk istrinya?"


"Tentu saja aku tidak menolak," jawabku kemudian tertawa kecil dan memindahkan piring kotor ke tempat pencucian piring.


"Aku tahu, kamu akhir-akhir ini banyak sekali berpikir berat. Entah itu memilih antara bekerja dan kuliah, entah itu masalahku dengan Tria dan juga masalah dengan omongan Bu Ijah."


"Mas memang selalu mengerti apa yang aku rasakan, ya," ungkapku.


Malam itu kami habiskan untuk fokus berduaan saja. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kondisi kantor setelah aku resign, cerita tentang kuliahku, dan masih banyak lagi. Ia laki-laki terbaik yang pernah kukenal. Ia bisa menjadi pendengar serta pencerita yang baik pula.


Aku sampai bingung, sejauh ini aku belum menemukan apa kekurangannya. Ya, memang manusia tak ada yang sempurna. Hanya saja yang aku lihat darinya tak ada yang buruk di mataku. Apakah ini yang dinamakan cinta buta?


..


Hal yang untuk saat ini tidak kusukai adalah tinggal sendirian di rumah, sedangkan Mas Dwi harus pergi ke kantor. Aku menganggur dan tidak tahu harus menghabiskan waktu untuk apa. Untuk semester kali ini, jam kuliahku banyak dimulai di siang hari, sehingga aku harus berangkat sendiri ke kampus. Setelah semua pekerjaan rumah selesai kukerjakan, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Baru saja kurebahkan tubuh ini di sofa, terdengar suara anak-anak memanggil namaku dari luar.


"Tante Lena!"


"Tante!"


Terdengar dari suaranya, sepertinya ada lebih dari satu anak. Segera kubuka pintu depan dan terlihat ada tiga orang anak kecil lengkap dengan seragamnya sedang berdiri di depan gerbang. Aku pun menghampiri mereka.


"Eh, ada Rino. Ada apa ya?" tanyaku pada Rino yang sudah kukenal.


"Aku Elika, Tante," ujar seorang anak dengan rambut sebahu memperkenalkan diri.


"Erika, Tante. Bukan Elika. Dia gak bisa ngomong 'r'," ujar Rino. Terlihat ekspresi kesal dari wajah Erika.


"Terus kalau kamu siapa namanya?" tanyaku pada seorang yang lain.

__ADS_1


"Aku Erina, Tante," jawab anak itu. Nama yang mirip.


"Jadi, Rino, Erika dan Erina ke sini ada perlu apa? Bukannya kalian harus ke sekolah, ya?" tanyaku lagi.


"Kata Lino, Tante punya banyak mainan. Jadi, apa pulang sekolah nanti kami boleh main?" tanya Erika.


"Wah, kalau nanti siang Tante pergi, kalau sore aja gimana? Jadi, kalian tidur siang dulu," ujarku memberikan opsi.


"Solenya jam belapa, Tante?" tanya Erika lagi. Meski ia tampak paling kecil tapi Erika paling cerewet diantara yang lain.


"Mmm ... jam 4 gimana?"


"Oke, Tante! Nanti jam 4 kita dateng ke sini ya!" seru Erina.


Kali ini Erina yang bersemangat. Sedangkan Rino dan Erika saling bertepuk tangan. Tampaknya mereka berdua sangat senang diizinkan untuk main ke rumah ini.


"Iya, tapi jangan lupa izin sama orang tua kalian ya!" ujarku mengingatkan.


"Siap, Tante! Kami berangkat sekolah dulu, ya!" ujar Rino semangat sembari memberikan tangan kanannya.


Aku paham, ia mengajak untuk salim. Aku pun memberikan tanganku padanya. Ia langsung mencium punggung tanganku dengan pipi kirinya. Erika dan Erina pun mengikuti apa yang dilakukan Rino.


'Sungguh anak-anak baik yang pintar,' batinku.


"Dadah! Hati-hati ya di jalan!" balasku.


Mereka berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Dekat komplek ini memang ada gedung sekolah dasar, hanya aku tidak tahu apakah benar itu gedung sekolah mereka atau bukan. Seandainya salah satu dari mereka adalah anakku, pasti ia akan sangat senang karena memiliki banyak teman di lingkungan rumahnya.


Mengingat nanti sore anak-anak tadi akan bermain di rumah ini, tentu aku harus menyiapkan makanan untuk mereka. Kulihat stok bahan baku di dalam lemari makanan, hanya kutemukan 4 sachet puding mangga. Mungkin nanti aku bisa membuatkan puding saja untuk mereka, toh anak-anak biasanya suka makanan manis.


"Kak, ada waktu sebentar?" tanya Tria yang kini sedang berdiri di belakangku.


"Eh, iya ada," jawabku. Kukira ia tak ada di rumah. Ia kemudian duduk di salah satu kursi, aku pun mengikutinya.


"Apa Mas Dwi pernah bilang sesuatu tentangku?" tanyanya langsung pada inti pembicaraan. Aku menggeleng.


"Mas Dwi cuma bilang kalau kamu itu urusannya dia. Yah, sebenarnya aku gak nyaman, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat untuk bicara denganmu."


"Aku gak betah Kak tinggal di rumah ini," ujarnya mengagetkanku.


"Kenapa? Apa karena aku tinggal di sini?" tanyaku spontan. Karena sepenglihatanku, hubungan kakak-beradik ini aman-aman saja sebelum aku menikah.

__ADS_1


"Bukan, Kak. Bukan salah Kakak. Tapi memang keluarga kami yang udah lama gak baik-baik aja," jawabnya kemudian menunduk.


"Apa kamu butuh tempat cerita? Aku siap mendengarkan," ucapku sembari mengusap bahunya.


"Aku ... aku kangen Kak Julia," ucapnya terbata-bata. Kurasakan suara bergetar. Kasihan sekali, mungkin ia cukup dekat dengan kakak perempuannya itu. Aku pun mendekat dan memeluknya perlahan.


"Meski aku belum mengenal Kak Julia, tapi aku yakin dia adalah orang baik."


"Tapi semua anggap Kak Julia anak durhaka, Kak. Semua anggap Kak Julia itu contoh yang buruk," jawabnya lagi. Kini ia mulai sesegukan.


"Menangislah! Jangan ada yang ditahan!" ujarku dengan tangan yang masih mengusap punggungnya.


Tria langsung balas memelukku, tangisnya semakin menjadi. Kurasakan ada sesak yang telah lama ia pendam. Kubiarkan ia menangis sepuasnya agar rasa sesaknya selama ini bisa keluar semua. Ia tak bicara apapun selama beberapa menit. Hingga akhirnya ia melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya sendiri.


"Makasih banyak ya, Kak. Sebelum sama Kakak, aku cuma bisa pendam semuanya sendiri. Mas Dwi yang egois itu cuma bisa melarang tanpa peduli dengan apa yang aku rasain selama ini," ujarnya dengan sisa tangisnya.


"Benar begitu? Bukannya Mas Dwi itu orang yang begitu peduli?" tanyaku heran. Pernyataannya tidak sesuai dengan yang selama ini aku ketahui.


"Iya, pada dasarnya benar begitu, Kak. Tapi kalau masalahnya menyangkut Kak Julia, semua terlihat salah dan aku kena dampaknya."


Menurut ceritanya, Mas Dwi banyak membatasi aktivitas Tria. Banyak yang Tria lakukan salah di mata Mas Dwi. Karena tolak ukur Mas Dwi adalah Kak Julia yang sudah dikenal sebagai contoh yang buruk di keluarga ini.


Aku memang belum tahu kejadian yang sebenarnya, karena baru mendengar dari satu pihak saja. Aku belum mendengar dari pihak Kak Julia sendiri, maka dari itu aku tidak mau menghakiminya seseorang hanya dari cerita orang lain. Meski yang bercerita adalah suamiku sendiri.


Aku hanya bisa memberi support pada Tria sebagaimana seorang kakak yang memberi semangat pada adiknya. Tangisnya pun mereda, kini aku bisa melihat senyumnya yang beberapa hari ini sempat hilang.


"Kakak kuliah jam berapa?" tanyanya setelah tangisnya hilang seluruhnya.


"Jam 10, kalau kamu?"


"Sama. Ya udah, kita bareng aja, ya! Aku ada helm cadangan kok," ujarnya menawarkan.


"Gak ngerepotin nih?" tanyaku.


"Nggak kok, Kak. Lagi pula kampus kita searah."


"Ya udah deh, boleh kalau gitu. Kamu udah sarapan?" tanyaku mengingat tadi aku hanya sarapan berdua dengan Mas Dwi. Ia menggeleng.


"Sarapan gih! Tadi Kakak masak tumis kacang panjang campur tempe. Doyan gak?" tanyaku.


"Doyan kok, Kak. Mama dulu sering masak itu," jawabnya.

__ADS_1


Kemudian ia mengambil sarapannya. Pikiranku kini menjadi lebih tenang. Tria perlahan mulai mau terbuka padaku. Aku bersyukur bisa ada di sini saat ini. Karena aku tidak akan membiarkannya merasakan apa yang aku rasakan dulu. Terpuruk sendiri tanpa tahu harus lari kemana. Meski aku bukan yang terbaik, tapi aku akan mengusahakan sebisaku untuk membantunya menjadi lebih baik.


__ADS_2