Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 36


__ADS_3

"Woah, baru ini kerja kelompok bisa kenyang banget!" seru Idham sembari mengusap-usap perutnya.


"Iya, beruntung banget kita bisa satu kelompok sama Kak Lena," tambah Ardan.


"Hmm, berarti berikutnya kerja kelompok di sini lagi aja, ya?" ujar Ojak mengambil kesimpulan.


"Gundulmu! Gak tahu diri banget! Dibaikin malah ngelunjak!" sungut Naura.


"Gak apa-apa kok, aku malah seneng kalau kalian mau kerja kelompok di sini," jawabku.


"Tuh, kan! Kak Lena aja gak keberatan kok. Kenapa Kak Nau yang sewot?" gerutu Ojak. "Lagian, kan gak harus Kak Lena terus. Bisa juga gantian Kak Nau yang traktir," ujarnya lagi sembari memainkan matanya ke kanan dan ke kiri dengan senyum yang meledek.


"Udah-udah-udah! Udah pada kenyang, kan? Sekarang kita lanjut, tinggal sedikit lagi." Doni mengingatkan kami akan tugas lagi.


"Baiklah-baiklah," ucap Ojak seraya membuka kembali laptop Idham.


Kami lanjut mengerjakan tugas. Di tengah diskusi kami, Mas Dwi keluar dari kamar menuju dapur. Sontak kami mereka berhenti membahas tugas dan langsung menengok ke arah Mas Dwi.


"Kak, makasih ya traktirannya!" seru Idham pada Mas Dwi. Ia mewakili teman-temannya yang hanya mengangguk-angguk di belakangnya.


"Iya, sama-sama. Semangat nugasnya!" jawab Mas Dwi disertai senyuman manisnya.


Mas Dwi masuk ke dapur, kami lanjut berdiskusi lagi. Empat sekawan ini begitu semangat membahas soal terakhir, namun berbeda dengan Naura. Ia tampak gelisah dan tidak nyaman di tempat duduknya.


"Kamu kenapa, Nau?"


"Anu … mmm … kebelet pipis," jawabnya.


"Oalah! Ya udah sana! Itu kamar mandinya di sebelah kiri dapur," jawabku sembari menunjukkan letak kamar mandi.


"Oke deh! Sebentar ya!" Ia langsung berdiri dan melangkah ke kamar mandi.


Kami kembali fokus pada tugas. Beberapa menit berlalu, akhirnya Naura kembali dan duduk. Kuperhatikan ekspresinya dan masih sama, ia senyam-senyum sendiri padahal tak ada sesuatu yang lucu saat ini. Sebaiknya aku pantau saja dulu. Kalau sampai gelagatnya semakin mencurigakan, aku harus menegurnya agar tidak berkelanjutan.


Tepat pukul 17.00, tugas kami selesai dan langsung kami kirimkan ke dosen. Deadline-nya sebenarnya masih tiga hari lagi. Namun daripada membuang waktu dan tertumpuk tugas lainnya, jadi lebih baik kami menyelesaikannya sekarang.


"Ah, akhirnya selesai juga," ujar Idham sembari memasukkan laptopnya ke dalam tas.

__ADS_1


"Nanti malem mabar*, yuk!" ajak Ardan.


"Gaslah!" sambut Ojak semangat.


"Aku ikut, asal jangan di rumahku," jawab Doni.


"Iya-iya-iya! Rumahku kosong," jawab Idham yang peka terhadap teman-temannya. Karena basecamp mereka kalau tidak di rumah Idham, ya, di kost Ardan.


Rumah Ojak terlalu ramai, katanya rumahnya dihuni oleh keluarga besar. Mulai dari kakeknya sampai beberapa paman dan bibinya. Kalau Doni, alasannya ibunya galak. Mereka tidak bebas untuk mengekspresikan keseruan ketika mereka bermain.


Akhirnya mereka pamit pulang. Seperti biasanya, Naura diantar oleh Idham. Bisa kulihat Idham anak yang baik. Meski awalnya kukira ia nakal dan genit, ternyata setelah mengenal lebih dekat ia tidak seburuk yang kukira.


"Sepertinya teman-temanmu itu anak yang lumayan pintar," ujar Mas Dwi ketika aku baru saja duduk di sebelahnya. Kini kami duduk di ruang tengah sembari menonton acara TV.


"Hmm, iya. Mereka enak diajak diskusi, gak ada yang cuma numpang nama," jawabku.


"Ada satu sih," ujar Mas Dwi ragu.


"Apanya yang ada satu?" tanyaku bingung.


"Kalau dia memang pendiam sih, tapi sekali ikut ngomong ya jawabannya berbobot," jawabku, mengingat tadi hampir semua jawaban yang kami tulis adalah hasil rangkaian Doni. Yang lainnya hanya menambahkan.


"Ah, begitu rupanya," jawab Mas Dwi sambil mengangguk-angguk mengerti.


..


Malam-malam Mama datang ke rumahku dengan membawa beberapa sayuran dan daging yang sudah dibumbui. Tak lupa ia mengomel karena nomorku yang beberapa hari kemarin tidak bisa dihubungi, nomor Mas Dwi juga sama karena sudah diganti dengan nomor baru. Lengkap sudah.


Aku sedikit berbohong, aku tidak mengaku kalau ponsel itu rusak karena kubanting. Aku mengatakan kalau ponselku terjatuh dan mati total. Meski sedikit tidak percaya, namun akhirnya tetap percaya karena ponsel itu sudah berumur hampir tiga tahun.


"Kok kamu semakin kurus, sih? Gak doyan makan?" tanya Mama yang mulai curiga.


"Mmm … doyan kok. Memang iya, ya, makin kurus?" tanyaku seolah tidak tahu. Sebenarnya aku sudah menimbang badan dan beratku turun hampir lima kilogram.


"Kamu gimana, sih, Dwi? Memang kamu gak memantau Lena teratur makan atau nggak?" tegur Mama pada Mas Dwi.


"Ma, kok jadi Mas Dwi yang disalahin?" sanggahku.

__ADS_1


"Maaf, Ma. Nanti Dwi bakal lebih memperhatikan jadwal makan Lena lagi," jawab Mas Dwi sembari menunduk hormat.


"Ma, kami bukan anak kecil lagi," bantahku lagi.


"Mau sampai kapanpun kamu itu tetap anak Mama. Meskipun kamu udah menikah, memang Mama akan diam aja kalau kamu gak diberi perlakuan yang layak?" balas Mama tak mau kalah.


"Sayang, udah, ya!" ucap Mas Dwi sembari mengusap bahuku.


"Ya udah, makan yang banyak! Jaga kesehatanmu! Mama masih ada urusan," ujar Mama seraya berdiri dan membawa tasnya.


"Iya, Ma. Hati-hati," ujar Mas Dwi seraya mengantar Mama keluar.


Aku masih duduk di sofa, kesal akan tindakan Mama yang menganggap Mas Dwi lalai. Mas Dwi yang baru masuk, kembali duduk dan merangkulku.


"Jangan terlalu dipikirin omongan Mama tadi! Niat Mama baik kok, Mama itu khawatir sama kamu," ujar Mas Dwi dengan lembut.


"Iya aku tahu, tapi gak harus menyalahkan Mas juga, kan?" sanggahku.


"Aku sekarang itu tangan kanan mamamu, Sayang. Wajar kalau Mama seperti tadi," ujar Mas Dwi lagi yang masih membela Mama.


"Ya udahlah, terserah," jawabku, kemudian berdiri dan masuk ke kamar.


Mas Dwi ikut masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di belakangku. Ia tak bicara apapun. Sesaat kemudian ia memelukku serta mengecup puncak kepalaku dan tertidur. Mas Dwi memang tipe orang yang mudah sekali terlelap ketika sudah menempelkan kepalanya di bantal. Tinggallah aku yang masih terjaga dan menatap dinding kosong.


Sejujurnya, orang yang paling berperan besar dalam traumaku adalah mamaku sendiri. Pertama ialah ketika Papa meninggal, Mama yang juga kacau justru menghamburkan banyak uang Papa sampai akhirnya aku berhenti sekolah. Kedua, ketika Mama menjadi selingkuhan pacarku sendiri. 


Itulah alasan mengapa aku kesal dengan tingkah Mama yang seperti tadi. Ia bisa marah hanya karena ia mengira Mas Dwi tidak bisa menjagaku dengan baik. Lalu bagaimana dengannya? Apakah Mama adalah orang tua yang baik? Bukankah dia sendiri yang mengukir luka terdalam di batinku?


Sulit bagiku saat ini untuk bisa mempercayai orang lain. Orang terdekatku, orang yang melahirkanku, adalah orang yang telah mengkhianati kepercayaanku untuk pertama kalinya dan terparah. Bagaimana mungkin aku bisa percaya pada orang lain?


.


.


.


* Mabar adalah singkatan dari Main Bareng. Biasanya digunakan oleh anak-anak yang hobi bermain gim online bersama.

__ADS_1


__ADS_2