Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
38


__ADS_3

Menghitung mundur waktu pernikahanku yang tinggal 10 hari lagi. Bukannya tenang, rasa gugupku justru semakin berkeliaran. Segala macam pikiran buruk terus berputar di otakku. Apa calon pengantin lain juga merasakan hal yang sama? Jika dulu aku hanya membayangkan yang indah-indah terkait pernikahan, kini hal indah itu pun seketika tergantikan dengan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi.


Aku belum ambil cuti, mungkin satu minggu lagi atau kurang. Untung saja semua persiapan pernikahanku sudah beres. Cincin yang kami pesan pun sudah jadi kemarin sore, cantik sekali. Aku tidak sabar menggunakan cincin couple itu bersama Mas Dwi.


"Lena, apa kamu sibuk?" tanya Tasya dari mejanya, ia sedikit membuatku terkejut. Lamunanku buyar.


"A--aku gak sibuk kok," jawabku seraya menengok ke arahnya.


Terlihat ia menekan tombol mouse-nya beberapa kali kemudian beranjak. Menarik salah satu kursi kemudian duduk di sebelahku. Ruangan kami cukup sepi, hanya ada kami berdua dan beberapa karyawan lain yang letak mejanya sedikit jauh dari kami.


"Boleh aku ngobrol sebentar?" tanyanya meminta izin.


"Silakan."


"Aku mau memperjelas omonganku beberapa hari yang lalu. Aku gak ingin punya masalah dengan teman kerjaku, apalagi kita satu ruangan," ujarnya pelan, tapi ia sudah sedikit lebih berani dari pada waktu itu. Ia mau melihat mataku meski sesekali melihat ke arah lain.


"Ah iya, aku setuju."


"Kamu pasti penasaran masalah Robi, kan?"


"Hmm ... iya," jawabku jujur.


"Mungkin kamu sudah menduga, Robi memang mantan pacarku. Dia berjanji untuk menikahi aku, walaupun akhirnya dia pergi dengan alasan dia sudah dijodohkan."


Meski dugaanku tak meleset, tetap saja aku terkejut. Sudah berapa wanita yang menjadi korbannya? Benar-benar laki-laki kur*ng aj*r!


"Apa aku boleh curhat sedikit? Aku ingin meluapkan ini semua supaya gak ada lagi yang aku sembunyikan darimu."


"Ceritakan saja! Aku gak keberatan untuk mendengarkan curhatanmu," ujarku. Jujur bukannya benci, sekarang aku justru kasihan padanya.


"Semakin kita mencintai seseorang, semakin dalam pula rasa sakit yang mungkin kita terima. Yah, itu yang aku rasakan. Ketika lepas darinya, rasanya aku seperti orang gila. Dia cinta pertamaku. Meski usia kami terpaut cukup jauh, gak menjadi penghalang bagi kami berdua kala itu."


Suaranya terdengar sedikit bergetar. Aku pun merasakan hal yang sama. Meski aku merasa sudah begitu lepas bahkan membencinya, tapi tak bisa kupungkiri aku pernah mencintainya dan merasakan hal yang Tasya juga rasakan. Dadaku sedikit sesak.


"Hei, kamu menangis?" tanyaku terkejut ketika ia seketika tertunduk dan mengusap pipinya.


"Hehe, gak kok." Ia kembali mendongakkan wajahnya dan tersenyum. Aku masih bisa melihat matanya berkaca-kaca.


"Jangan pura-pura bahagia! Kita pernah merasakan hal yang sama," ujarku berusaha menenangkan.


Ia memelukku tanpa meminta persetujuan, aku pun kaget. Sepertinya ia sangat mencintai Robi. Sesaat hanya hening yang menyelimuti kami berdua. Kemudian terdengar isakan tangis yang begitu pelan. Dadaku begitu nyeri mendengarnya.


Aku penasaran apa yang sudah Robi lakukan pada wanita ini. Kalau dilihat dari sikapnya kali ini dan juga cerita Mas Dwi waktu itu, sepertinya rasa sakitnya lebih dalam dari pada aku. Kalau kuhitung, mungkin sudah tiga tahun lebih berlalu, tapi Tasya masih menyimpan rasa sakitnya. Benar-benar keterlaluan.


"Ah, maaf," ujarnya kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air matanya.

__ADS_1


"It's ok. Jangan malu! Kalau kamu butuh, datanglah lagi! Aku gak akan meledekmu," ujarku seraya tersenyum.


"Kamu memang orang baik. Maaf aku pernah jahat padamu. Aku benar-benar menyesal."


"Wajar, manusia pasti pernah khilaf."


"Ahh ... haha iya. Aku benar-benar malu. Orang yang pernah kujahati masih bisa berbaik hati padaku." Ia tersenyum malu.


"Oh iya, jangan lupa datang ke resepsiku!" ujarku mengalihkan pembicaraan.


"Tentu, aku pasti akan datang. Kudoakan agar semuanya berjalan dengan lancar." Terdengar suaranya kini sudah membaik, seperti ada beban yang telah terlepas.


"Amin. Terima kasih banyak, ya."


..


Sepulang kerja, aku ingin sekali makan es krim. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku memakannya. Untung saja Mas Dwi tidak menolak ajakanku. Ia justru semangat mengajakku ke kedai es krim favoritnya.


"Apa kamu suka?" tanya Mas Dwi ketika aku baru saja menikmati suapan pertama.


"Hmm ... iya suka. Rasanya manis," jawabku.


"Ya namanya es krim pasti manis, Lena. Apa kamu gak menemukan sesuatu yang berbeda dari rasa es krim lainnya?"


"Emm ...." Aku menyendok sekali lagi, "Iya, lebih enak. Lebih lembut mungkin?" ujarku. Aku sedikit bingung. Jujur aku bukan pengamat makanan manis, jadi yang aku tahu hanya rasa enak dan tidak enak.


"Tempat ini salah satu kedai es krim kesukaanku sejak SMP. Aku bukan orang yang terlalu suka dengan rasa manis. Benar katamu, es krim di sini lebih lembut dari pada es krim biasanya," ujarnya lagi kemudian menyuap es krimnya.


"Hmm ya-ya-ya," ujarku seperlunya. Aku sangat menikmati es krim ini. Sudah seperti orang yang belum pernah makan es krim.


"Apa ada kedai es krim favoritmu? Kapan-kapan kita kesana juga."


Aku menggeleng. "Biasanya aku hanya makan es krim yang ada di minimarket atau restoran cepat saji. Belum pernah ke kedai khusus es krim."


"Benarkah? Jadi ini pertama kali?" tanya Mas Dwi terkejut.


"Heem. Apa ada yang aneh?" tanyaku heran.


"Sedikit. Jarang kutemui perempuan yang gak suka jajan seperti kamu."


"Sebenarnya bukan gak suka jajan, sih. Aku suka tapi jajanan minimarket saja. Bukan jajanan seperti ini," jawabku. "Oh iya, Mas. Kemarin Tasya cerita padaku."


"Cerita apa?"


Kemudian aku menceritakan semuanya. Waktu menyebutkan nama Robi, Mas Dwi terlihat sedikit geram. Ia langsung berhenti memakan es krimnya.

__ADS_1


"Hah ... laki-laki itu benar-benar g*la ternyata. Gak akan aku biarkan dia bisa menikah dengan Puspa," ujar Mas Dwi.


"Iya, rasanya aku pun ingin membunuhnya," ujarku yang juga emosi.


"Kak Dwi, kan?" Tiba-tiba seseorang mengganggu kami berdua. Seorang wanita bertubuh langsing, cantik dengan rambut panjang sedada. Sontak kami berdua menengok ke arahnya.


"Lyla?" tanya Mas Dwi seraya beranjak dari kursinya. Aku pun terbelalak. Siapa wanita ini?


"Iya, Kak. Aku Lyla. Wah, gak nyangka banget bisa ketemu lagi dan Kakak masih mengingatku," ujarnya dengan suara yang centil. Argh! Aku cemburu.


"Ah iya, perkenalkan ini Lena, calon istriku," ujar Mas Dwi. Hal itu tidak lantas membuat moodku baik. Aku masih menatap sinis wanita itu. "Sayang, perkenalkan ini Lyla. Adik tingkatku di kampus dulu." Aku hanya memberikan senyum yang sangat kupaksakan.


"Hai, Kak Lena. Senang bisa kenal dengan Kakak," ujarnya terlihat senang, entah bagaimana aslinya. Aku rasa dia bukan wanita baik-baik.


'Tapi aku gak senang bisa mengenal kamu,' batinku.


"Oh iya, apa aku boleh minta kontak Kakak? Mungkin lain waktu kita bisa ketemu lagi."


Apa-apaan wanita ini? Kok berani sekali bicara seperti itu bahkan di depan calon istri Mas Dwi. Sangat tidak tahu diri.


"Maaf, kebetulan nomorku baru saja terblokir. Kamu simpan nomor Lena saja, kamu bisa menghubungi aku lewat dia," tolak Mas Dwi halus. Harusnya wanita ini sadar kalau dia sudah ditolak.


"Ah begitu, bagaimana kalau Kakak saja yang simpan nomorku? Jadi, nanti kalau Kakak sudah punya nomor yang baru, Kakak bisa langsung chat aku," ucapnya seraya menyunggingkan senyum manja. Aku pun beranjak dari kursi.


"Mohon maaf Mbak Lyla, kami sedang ada urusan penting. Bisa mbak pergi sekarang?" usirku.


Sontak ia melihat ke arahku, tersirat kekesalan dari sorot matanya. "Oh, maaf kalau aku mengganggu waktu kalian. Aku harap kita bisa bertemu lagi ya, Kak. Aku permisi," ujarnya seraya pamit dengan senyuman yang sangat menyebalkan.


Kami berdua kembali duduk. Mungkin terlihat jelas kalau kali ini aku sedang kesal, lebih tepatnya cemburu.


"Apa kamu cemburu?" tanya Mas Dwi.


"Apa aku terlihat bahagia?" tanyaku balik.


"Apa kamu lupa cerita dari Irvan? Mantannya tiba-tiba muncul dan membuat Dinda murka," ujar Mas Dwi mengingatkan.


"Tapi aku gak suka tingkahnya, Mas." sanggahku.


"Iya, aku mengerti. Sudah ya! Aku gak akan memberikan kontakku padanya. Aku gak akan berkomunikasi dengannya," ujar Mas Dwi lembut.


"Apa Mas dulu kenal dekat dengannya?"


"Gak kok. Hanya beberapa kali dia aku jadikan narasumber karena kebetulan tugasku berhubungan dengan mata kuliah yang sedang dia ambil."


"Haahh ...." Aku mendengus pelan. "Semoga saja dia bukan bibit-bibit pelakor."

__ADS_1


"Amin. Sudah, jangan berpikir aneh-aneh! Ingat, pernikahan kita gak lebih dari satu minggu lagi. Jangan sampai kacau karena masalah sepele!"


Aku mengangguk pelan. Semoga semua ini hanyalah godaan sebelum menikah, bukan pertanda apapun.


__ADS_2