![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Mas Dwi berjalan mendekat dan menarikku menjauh dari Kak Julia. Raut wajahnya tak bisa kumengerti, seperti hendak marah tapi juga tidak. Berbeda ketika aku melihat Mas Dwi yang sedang bertengkar dengan Tria beberapa hari yang lalu.
"Dwi, kamu makin dewasa ya sekarang, kamu sehat, kan?" tanya Kak Julia dengan lembut. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ngapain kamu bawa dia ke sini?" tanya Mas Dwi pada Tria.
"Rumah ini nantinya bakal jadi milik aku, kan? Ya udah, gak salah dong kalau aku ajak Kak Julia tinggal di sini?" jawab Tria tanpa rasa bersalah.
Terlihat Mas Dwi menarik napas dalam-dalam, lalu melirikku. Ini masalah keluarga yang rasanya tidak boleh ada ikut campur dari pihak anggota lain seperti aku. Ingin masuk kamar saja, tapi jiwa penasaranku juga muncul. Mas Dwi menggenggam tanganku kuat-kuat. Ia sedang menahan emosinya.
"Bagaimana kalau Papa tahu?" tanya Mas Dwi lagi. Ia sama sekali tidak bicara pada Kak Julia.
"Aku akan bicara pelan-pelan. Lagi pula, sekarang Kak Julia udah jadi janda, apa Mas tega hidup enak sedangkan Kak Julia harus susah payah menghidupi dirinya sendiri juga anaknya di gubuk yang kecil?" tanya Tria sembari menarik empati Mas Dwi.
"Kalau dia bisa menyelesaikan kuliahnya dan gak menjadi anak durhaka, hidupnya gak bakal--"
"Mas, udah cukup! Ayo, masuk kamar sebentar!" ajakku pelan. Sengaja aku memotong omongan Mas Dwi yang kurang pantas untuk didengar anak kecil.
Mas Dwi sontak menatapku, kini tersirat amarah yang semakin besar. Kuusap lengan kanannya, berharap ia bisa lebih tenang untuk sejenak. Ia menarik napasnya lagi, lalu berjalan ke kamar lebih dulu.
"Maaf, kalau aku lancang, tapi biarkan aku bicara sebentar dengan Mas Dwi," ucapku pada Tria dan Kak Julia.
"Aku akan berhutang banyak padamu, Alena," ujar Kak Julia dengan senyuman yang ia paksakan di tengah tangisnya.
Aku hanya membalas senyum kemudian meninggalkan mereka dan masuk ke kamar. Sebenarnya aku juga tidak ingin ikut campur. Meski kini aku adalah bagian dari mereka, namun aku sadar ini masalah keluarga inti yang belum selesai. Melihat Kak Julia kini menjanda, aku langsung teringat bagaimana susahnya dulu perjuangan Mama sebelum aku bisa bekerja sendiri.
"Mas, sebelumnya--"
"Aku tahu, maaf aku lepas kontrol," jawab Mas Dwi memotong ucapanku.
Mas Dwi diam sejenak menatap dinding kosong kamar kami. Aku agak bingung untuk mengatakan apa, aku merasa bersalah karena telah ikut campur. Namun aku juga tidak bisa membiarkan Faiz melihat pertengkaran orang tua, itu tidak baik untuk psikologisnya.
"Apa kamu mau pindah dari rumah ini?" tanya Mas Dwi padaku.
"Kalau memang itu harus, aku akan ikut ke manapun kamu pergi, Mas," jawabku.
"Sebelum Tria mendapatkan pekerjaan, aku belum diizinkan untuk menyerahkan rumah ini untuknya. Sebenarnya rumah ini memang udah atas nama Tria, tapi dia belum tahu."
__ADS_1
"Apa Papa melarang kita untuk tinggal bersama Kak Julia?" tanyaku.
"Dulu, waktu sedang marah-marahnya. Gak tahu kalau sekarang."
"Rasanya gak ada orang tua yang bisa membiarkan anaknya hidup susah, Mas."
"Iya, seharusnya begitu."
"Mas ... Mas pasti gak tega, kan, membiarkan Kak Julia hidup susah?" tanyaku hati-hati. Yang kulihat Kebencian Mas Dwi tidak sebesar ucapannya, aku yakin ia masih menyayangi Kak Julia.
"Aku memang sangat membenci kebodohannya di masa lalu, tapi bagaimanapun dia masih kakak kandungku."
"Jadi, Mas mengizinkan Kak Julia untuk tinggal di sini?"
"Untuk sementara waktu mungkin iya. Tapi, kalau sampai dia melakukan kebodohan lagi, aku gak bisa membelanya di depan Papa."
Aku sedikit lega mendengarnya. Melihat keluarga Hermansyah hidup tanpa kekurangan, tentu aku tidak akan tega melihat Kak Julia kesusahan sendiri. Rasanya ia sudah cukup mendapatkan balasan atas kesalahan yang pernah ia perbuat. Manusia pasti bisa berubah, asal ada niat dan berada di lingkungan yang tepat.
Sejak hari itu, Kak Julia resmi pindah ke rumah ini. Pekerjaanku juga sedikit terbantu, ia mau membantuku membereskan rumah. Kadang kami juga memasak bersama. Sejauh ini, aku bisa menilai kalau Kak Julia itu orang baik. Ia hanya pernah tersesat saja.
Setiap pagi, Kak Julia berangkat bekerja bersama Faiz dengan mengendarai sepeda motornya yang sudah cukup tua. Mungkin ia beli motor itu ketika kondisinya sudah tidak baru lagi. Jarak rumah kami ke sekolah tempat Kak Julia bekerja juga cukup jauh, bisa memakan waktu hampir satu jam.
Satu hal yang tidak luput dari pandanganku, Mas Dwi masih belum terbiasa dengan keberadaan Kak Julia di rumah ini. Ia juga tidak mau makan bersama di ruang makan. Jadi, aku mengalah untuk membawakan makanan ke kamar dan makan berdua setiap harinya. Tak apa, aku yakin lama kelamaan Mas Dwi bisa menerima Kak Julia lagi.
"Jadi, usia pernikahan kalian udah berapa lama?" tanya Kak Julia saat kami sedang menjemur pakaian bersama.
"Emm ... jalan empat bulan, Kak," jawabku.
"Ah, masih baru, ya. Tapi meskipun begitu, pasti kamu sering dapat omongan gak enak dari tetangga sebelah," ujar Kak Julia.
"Kok tahu, Kak?" tanyaku sedikit kaget.
"Aku masih ingat sedikit mulut-mulut tetangga sekitar sini. Apa lagi rumah sebelah ini," ujar Kak Julia sembari melirik ke arah kanan. Sebelah kanan rumah kami adalah rumah Bu Ijah.
"Ah, ya, begitulah. Untung Mas Dwi bisa menenangkanku, kalau gak ada Mas Dwi mungkin aku udah ribut dengan tetangga sebelah," jawabku.
Malamnya, seperti biasa aku sedang menunggu Mas Dwi menyelesaikan pekerjaannya. Tanpa alasan yang jelas, aku duduk di sebelahnya sembari memperhatikan apa yang ia kerjakan.
__ADS_1
"Sayang, ada yang mau aku beritahu padamu," ucapnya sembari menyimpan dokumen yang baru selesai ia kerjakan.
"Apa itu?"
"Besok malam, Papa dan Mama akan datang," ucap Mas Dwi. Aku senang, namun juga takut karena ada Kak Julia di sini.
"Mas yang kasih tahu mereka?" tanyaku.
"Bukan, Tria sendiri yang beritahu mereka. Besok kalau Papa sedikit kasar, tolong dimengerti, ya! Jadi, jangan takut!"
Nyaliku menciut mendengarnya. Dulu memang aku sangat takut pada Papa Hermansyah, namun makin lama ia bisa menjadi sosok ayah yang menenangkan untukku. Aku bisa merasakan kehadiran ayah kandungku ketika melihat Papa Hermansyah. Namun tak bisa kupungkiri, kini rasa takut itu kembali muncul.
..
Ketegangan yang dulu kurasakan ketika pertama kalinya Mas Dwi membawaku kepada keluarganya, kini kurasakan kembali. Aku duduk di sebelah Mas Dwi di sofa yang sama, lalu di sofa lainnya di sebelahku, Kak Julia duduk bersama Tria. Kemudian di sofa yang ada di seberang kami sudah ada Papa Hermansyah dan Mama Meira. Faiz diminta untuk masuk ke kamar dan tidak ikut dalam pembicaraan ini.
Meski bukan aku yang bersalah, aku turut merasakan ketegangan yang luar biasa di ruangan ini. Tatapan membunuh dari Papa Hermansyah sungguh menusuk dan lekat menatap ke arah Tria juga Kak Julia tanpa berkedip.
"Apa kamu menyesal atas perbuatanmu itu, Esa?" tanya Papa. Ya, Esa adalah panggilan Kak Julia dari orang tuanya. Esa Juliani Hermansyah lengkapnya.
"Iya, Pa. Esa menyesal," jawabnya dengan tatapan lurus ke bawah.
"Apa kamu pikir bisa semudah itu untuk mendapatkan fasilitas lagi dari keluarga ini?" tanya Papa lagi. Kali ini Kak Julia tidak menjawab.
"Ingat, namamu bahkan sudah tidak ada lagi dalam hak waris keluarga ini!"
"Iya, Pa. Esa ingat," jawab Kak Julia lagi.
"Kalau kamu memang berniat kembali bergabung dengan keluarga ini, apa yang bisa kamu lakukan untuk mengembalikan nama baik keluarga yang sudah kamu rusak 10 tahun lalu?" tanya Papa dengan nada yang sangat amat tegas.
Kak Julia kembali terdiam. Tiba-tiba ada yang bergejolak dalam perutku. Makin lama semakin mual. Mengapa asam lambungku datang di saat yang tidak tepat? Sebisa mungkin kutahan, namun rasanya badanku semakin gemetar. Terasa keringat dingin mulai membasahi tubuhku.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mas Dwi yang melihatku mulai tidak nyaman duduk di sebelahnya.
Aku hanya menggeleng dan menutup mulutku. Ada yang memaksa untuk keluar dari dalam perut. Aku pun berdiri dan menunduk hormat pada keluarga yang lain untuk pamit meninggalkan ruang pembicaraan ini. Mas Dwi mengikutiku ke kamar mandi.
Tak ada yang bisa kukeluarkan, rasanya hanya angin namun mualnya sangat menggangu. Kepalaku semakin pusing, bahkan tidak sanggup berdiri. Kurasakan tubuhku mulai tumbang, lalu semuanya gelap dan aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.
__ADS_1