Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 45


__ADS_3

Empat bulan pertama, pernikahan kami diwarnai dengan berbagai masalah, namun dari sanalah kami sadar kalau kami belum mengenal satu sama lain. Bisa dikatakan kami terlalu egois karena masih belum bisa berbagi masalah hidup bersama. Keinginan untuk tidak membebani justru berakhir sebaliknya. Kami saling mencurigai, saling merasakan takut, dan tidak bahagia karena menyimpan masalah sendirian.


Namun kini tidak lagi, bulan-bulan berat tersebut telah membawa hubungan kami menjadi lebih bahagia. Dimulai hubungan Mas Dwi dengan Tria yang semakin membaik, kandunganku yang semakin sehat, dan tentunya hubunganku dengan Mas Dwi yang semakin harmonis.


Kandunganku memasuki minggu ke-20 atau bulan ke-5. Dokter sudah menawarkan apakah kami ingin mengetahui jenis kelamin calon anak kami, namun Mas Dwi menolak. Baginya, anak kami adalah hadiah, akan lebih baik jika semuanya menjadi kejutan. Aku pun menurut saja, karena tidak masalah yang lahir nanti anak laki-laki ataupun perempuan.


"Langsung pulang, kan?" tanya Mas Dwi padaku ketika kami baru saja masuk ke dalam mobil.


"Kok pulang? Kan tadi katanya mau ke kafe," rengekku menagih janji Mas Dwi.


"Tapi sekarang hampir jam makan malam, Sayang. Nanti kalau kafenya rame gimana? Kan kita gak suka antre terlalu lama. Kalau aja tadi gak kelamaan nunggu dokter, mungkin sekarang kita bisa mampir ke kafe."


"Ya udahlah, terserah Mas aja!" jawabku seraya membuang pandangan ke arah jendela.


"Sayang, jangan ngambek gitu dong!" bujuk Mas Dwi sembari mengusap tanganku. Aku hanya diam dan tak menjawabnya. Sudah hampir seminggu aku ingin datang ke kafe itu, tapi selalu saja ada sesuatu yang menundanya.


"Kalau Mas gak bisa tepatin, ya jangan janji!" sungutku lagi.


"Iya-iya, maaf! Sekarang kita pulang, ya? Kamu juga pasti udah capek." Ucapan Mas Dwi terdengar begitu lembut hingga sulit untukku tetap menyimpan kesal padanya, akhirnya aku pun luluh.


"Ya udah, iya."


Mas Dwi menarik tubuhku hingga kini kami kembali berhadapan. Kecupan manis ia berikan lagi tepat di keningku, lalu dengan jarinya ia menyelipkan rambut ke balik telingaku.


"Jangan ngambek, nanti kalau aku libur, kita jalan-jalan. Oke?"


Aku hanya memjawabnya dengan anggukan kepala. Kemudian ia kembali mengecup keningku dan memasangkan sabuk pengaman padaku.


Mas Dwi mulai melajukan mobil perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit. Tanpa kami duga, ternyata di luar gedung sedang hujan deras. Perdebatan kami tadi serasa tidak berguna. Dalam keadaan hujan deras seperti ini tentu ice cream bukanlah makanan pilihan.

__ADS_1


Mobil kami sedang berhenti menunggu giliran keluar dari palang parkiran. Kuperhatikan dari samping, Mas Dwi sedang menatap lurus ke depan. Wajahnya yang begitu tenang terkadang membuatku banyak berpikir.


'Apakah ia sering membatin sepertiku? Apakah ia mengeluh ketika berdebat denganku? Apa yang sedang ia pikirkan dengan ekspresi wajah setenang itu?' batinku tak pernah berhenti mempertanyakan apapun tentangnya. Meskipun katanya ia sudah tak menyimpan rahasia dariku, namun tetap saja ia terlihat misterius di mataku.


Udara terasa semakin dingin, padahal AC mobil sama sekali tidak dihidupkan. Untungnya kondisi jalanan tidak begitu ramai, hingga kami bisa sampai di rumah lebih cepat. Betapa terkejutnya, ketika kami baru saja turun dari mobil, seseorang muncul dari balik pintu dengan senyuman yang begitu sumringah.


"ALENAAAAA!!!!!" Wanita itu berteriak seraya berhambur ke arahku. Ia memelukku dengan erat seolah ia sudah bertahun-tahun tidak bertemu denganku.


"Kamu kok ke sini gak bilang dulu sih? Bukannya kemarin waktu kita video call, kamu masih di Jepang?" tanyaku setelah ia melepaskan pelukannya dariku. Tak hanya dirinya, aku pun sangat senang melihat dia kini berada di rumahku.


"Aku bohong. Hehe! Aku kemarin udah sampai di hotel yang dekat bandara," jawabnya ringan dengan senyuman yang masih belum luntur.


"Hei, makin item aja!" ejek Mas Dwi.


"Biarin! Toh calon suamiku lebih suka cewek yang eksotis," balas Puspa tanpa rasa tersinggung. Ia memang memiliki kulit yang kuning langsat. Namun jika dibandingkan dengan pertama kali kami bertemu, kini kulitnya terlihat sedikit lebih gelap. Tentu saja kecantikannya tidak memudar sama sekali.


Kami pun masuk ke dalam rumah. Terlihat Mbak Arum dengan Tria sedang sibuk di dapur. Kabar baiknya lagi, kini Tria banyak belajar tentang cara merawat rumah. Bahkan tak jarang ia minta diajari memasak dengan Mbak Arum. Itu yang membuatku semakin senang karena rumah ini terasa semakin hidup.


"Jadi, gimana hasil pemeriksaan hari ini? Si kecil sehat, kan?" tanya Puspa lagi ketika kami baru saja duduk di sofa.


"Yah, perkembangannya semua baik. Sehat kok. Aku bersyukur dia cukup kuat walaupun mamanya kadang masih suka rewel," jawabku seraya tertawa kecil.


"Ikut seneng deh dengernya!"


"Buruan nikah makanya! Biar bisa hamil juga," ujar Mas Dwi seraya menyeruput kopi yang baru saja dibuatkan Mbak Arum. Puspa pun langsung melirik Mas Dwi dengan sinis.


"Ngeburu-buru nikah emang kenapa, sih? Emangnya mau bayarin dekornya? Mau bayarin bulan madunya? Sangkanya biaya nikah murah apa?" sungut Puspa.


"Semua orang tau kalau kamu itu wanita karir yang sukses. Hayo, kurang apa lagi?" jawab Mas Dwi tak mau kalah.

__ADS_1


"Ya bener, sih!" Kini ia tertawa karena omongan Mas Dwi benar adanya. "Eh tapi, sebenernya masalah nikah bukan urusan uang doang."


"Aku tau. Kamu masih belum yakin sama calonmu, kan?" ujar Mas Dwi lagi


"Si*lan!" sungut Puspa seraya melemparkan bantal sofa ke arah Mas Dwi. "Bisa gak sih kamu itu gak tau tentangku sedikit aja? Udah persis kayak cenayang!" gerutu Puspa. Mas Dwi pun tertawa puas.


"Memangnya kenapa kamu bisa belum yakin begitu? Dia gak kasih kepastian?" tanyaku penasaran.


"Hahhh!" Ia menghembuskan napasnya dengan paksa. "Dia udah ngajak serius dari awal, tapi gak tahu kenapa semakin aku jalanin hubungan sama dia semakin aku ngerasa aku gak pengen nikah."


"Eh?" Jawaban yang ia keluarkan sungguh di luar dugaan. "Kenapa kamu bisa mikir gitu?"


"Ya… aku ngerasa bisa hidup sendiri. Aku bisa mengurus diri sendiri, menghasilkan uang sendiri. Terus, untuk apa aku menikah?"


Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Pacaran pun udah cukup membuatku capek. Apa-apa harus menjaga perasaannya, apa-apa harus memikirkan dia. Jadi, aku merasa lebih bahagia kalau sendirian."


"Kalau kamu belum yakin, ya udah jangan buru-buru!" ujarku merespon ucapan Puspa. "Sekarang kamu fokus aja untuk menikmati hidup. Kalau dia memang orang baik dan serius sama kamu, pasti dia juga bakal berusaha untuk meyakinkan kamu," saranku.


"Dan kalau kamu masih merasa bisa apa-apa sendirian tanpa dia, tandanya kalian memang masih butuh waktu buat saling terbuka lagi," tambah Mas Dwi.


"Terbuka apa lagi maksudnya? Bukannya masalah ini cuma di aku?" Pertanyaan yang juga ingin kulontarkan namun sudah diwakilkan Puspa.


"Memang baik kalau kamu bisa mandiri, bahkan kamu juga bisa membantu suamimu nantinya untuk memenuhi kebutuhan kalian. Tapi ada hal yang perlu kamu tau, pernikahan bukan cuma urusan uang," ujar Mas Dwi dengan begitu jelas. "Coba aku tanya, kapan terakhir kali kalian jalan berdua untuk sekedar mengobrol atau minum kopi tanpa membahas pekerjaan?"


"Hmm, entahlah." Terlihat Puspa enggan untuk melanjutkan obrolan. Ia mengubah posisi duduknya dan meminum tehnya sedikit. "Aku butuh mandi," ujarnya lagi seraya beranjak dan melangkah ke kamar tamu.


Aku menatap Mas Dwi dengan bingung, namun tidak dengan ekspresi Mas Dwi. Ia justru tersenyum dan meminum kopinya lagi.


"Ayo ganti dulu pakaianmu!" ajak Mas Dwi seraya berdiri dan membawakan tasku ke dalam kamar. Aku pun mengikuti langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2