![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Ditemani Mbak Arum, aku duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Mas Dwi pulang. Berbagai bayangan buruk berkecamuk di pikiranku. Ke mana Mas Dwi pergi? Mengapa dia harus pergi? Mengapa responnya seperti itu? Dan yang paling buruk, aku takut terjadi sesuatu padanya di jalan karena ia menyetir dengan kondisi pikiran yang sedang tidak baik. Sungguh aku tidak bisa tenang sedikit pun dalam kondisi seperti ini.
"Bu, ayo makan dulu! Ini sudah hampir jam sepuluh malam," ujar Mbak Arum. Aku enggan menjawabnya.
Sejak tadi ia duduk di sebelahku sembari memijat lengan dan kakiku. Aku tidak memintanya, namun juga tidak menolak. Pikiranku terfokus pada Mas Dwi, hingga pijatan Mbak Arum pun sama sekali tidak kunikmati.
"Mbak, Mas Dwi ke mana, ya?" tanyaku random dengan tatapan mata yang tidak beralih sama sekali dari teralis jendela.
"Mungkin Bapak sedang menenangkan diri, Bu," jawab Mbak Arum.
"Apa aku juga dianggap pembuat masalah? Aku ini istrinya, kan?" tanyaku lagi. Aku masih menatap teralis yang aku tahu ia tidak akan bergerak.
"Bu, kadang seseorang memang butuh waktu untuk sendirian. Bukan berarti Ibu yang bersalah."
"Benar begitu?" Kini aku menatap wajah Mbak Arum. Ia mengangguk setuju sambil tersenyum.
Sejenak ruangan kembali hening. Bisa kurasakan sesekali Tria keluar dari kamarnya dan menatap ke arahku lalu masuk kembali. Aku masih kesal padanya. Bukan karena aku cemburu dengan Layla, melainkan karena ia telah membuat Mas Dwi jadi seperti ini. Aku khawatir akan terjadi sesuatu pada Mas Dwi, mentalnya terlihat kurang stabil beberapa hari terakhir.
Kurebahkan kepalaku di pinggiran sofa, Mbak Arum membantuku untuk meluruskan kaki. Mataku mulai mengantuk, namun pikiranku masih memaksa untuk terus terjaga dan menunggu Mas Dwi pulang. Tak bosan Mbak Arum juga memintaku untuk makan malam. Akhirnya aku minta untuk dibuatkan susu saja, mengingat anakku juga butuh asupan.
Entah berapa lama aku sudah terpejam. Begitu aku membuka mata, Mbak Arum sudah tidak ada dan digantikan dengan Mas Dwi yang tertidur di sebelahku. Ia duduk di lantai dengan kepala yang dia sandarkan di sofa, di sebelah lenganku. Seketika jantungku langsung terpacu dan segera beranjak dari posisi tidurku.
"Mas, bangun!" ucapku sembari menepuk bahunya pelan.
"Hm, kamu udah bangun?" tanya Mas Dwi sembari menegakkan posisi duduknya.
Matanya terlihat begitu lelah, rasanya lebih baik aku memintanya untuk istirahat dulu saja. Urusan bertanya, bisa dilakukan nanti. Mas Dwi masih menggunakan kemeja yang sama, namun kacau. Entah di mana jas dan dasinya, mungkin masih di dalam mobil.
"Ayo pindah ke kamar, Mas!" ajakku.
Ia hanya mengangguk dan berdiri, lalu memberikan tangannya padaku. Aku pun meraih tangannya dan berdiri. Perlahan kami melangkah ke kamar tanpa ada yang membuka pembicaraan. Sampai di kamar, kubiarkan Mas Dwi mengganti pakaiannya dan langsung kembali tidur tanpa menyuruhnya untuk membersihkan diri. Tanpa berkata-kata, ia menarikku dalam pelukannya dan kembali memejamkan mata.
Aku yakin ia kelelahan, deru napasnya terdengar tidak stabil. Kupandangi wajahnya, rautnya tak seperti biasa. Melihatnya sekacau ini, aku merasa gagal menjadi pendamping hidupnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi aku merasa kalau ia masih belum mempercayaiku sepenuhnya. Meski terasa sakit, aku harus tetap berada di sisinya. Aku ingin menemaninya sesuai janji yang terikat di hari pernikahan kami. Kuusap lengannya sampai aku juga ikut kembali tertidur.
…
__ADS_1
Pagi hari biasanya disambut kecupan manis, hari ini tidak ada. Ketika aku membuka mata, kudapati Mas Dwi sudah berdiri di depan cermin dengan pakaian lengkap. Dasi berwarna dasar navy dengan garis putih yang nyaris tak terlihat. Alisku bertaut, sejak kapan Mas Dwi mau menggunakan kemeja berwarna kuning menyala?
"Sayang?" panggilku dari ranjang. Kini aku sudah duduk, namun dengan kaki yang masih tersembunyi di dalam selimut.
"Iya?" jawabnya sembari membalikkan tubuhnya dan melihat ke arahku.
"Mas yakin pakai kemeja kuning? Sejak kapan?" tanyaku tak percaya.
"Kuning?" tanyanya seperti orang linglung sembari menunduk melihat kemeja yang kini sudah melekat di tubuhnya.
Aku menggeleng dan turun dari ranjang. Mengambilkan kemeja biru langit yang kalem namun tidak terlalu cerah. Rasanya warna ini lebih cocok daripada kemeja kuning yang tadi diambilnya sendiri.
"Coba ganti kemeja yang ini, kayaknya lebih cocok dengan dasimu," ujarku dengan senyuman yang kuselipkan.
"Terima kasih, ya," jawab Mas Dwi. Aku merasa seperti orang lain ketika ia mengucapkan kata terima kasih dengan begitu kaku.
"Sama-sama, Sayang," balasku tanpa mempedulikan perasaanku saat ini.
Kuletakkan kemeja biru tadi di atas ranjang, lalu kubantu Mas Dwi melepaskan kancing kemejanya.
"Iya?" Ia sangat irit bicara, membuatku terus-terusan menghela napas setiap mendengar jawabannya.
"Kemarin Mas pergi ke mana?" tanyaku selembut mungkin.
"Dokter." Jawaban singkatnya berhasil membuat jantungku melonjak kaget.
"Dokter? Mas sakit?" tanyaku panik.
Ia hanya menggeleng dan tersenyum tipis. Tangan kanannya menyentuh rambutku dan menyelipkannya di balik telinga. Kemudian ia mengusap rambutku dengan lembut. Ekspresi wajahnya yang datar membuatku g*la. Membuatku seperti orang bod*h.
"Mas, apa yang masih Mas sembunyikan dariku?"
Lagi-lagi ia hanya menggeleng. Kancing kemejanya sudah sepenuhnya terlepas dan memperlihatkan dadanya yang bidang serta beberapa potongan roti sobek yang biasanya digilai para wanita. Atmosfer yang sedang tidak baik, membuat pemandangan indah ini sama sekali tidak terlihat indah di mataku.
"Tunggu aku pulang! Nanti akan aku ceritakan semuanya," ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.
__ADS_1
"Apa Mas gak mencintaiku lagi?"
Aku tak bisa menyembunyikan lagi, aku lemah, aku sangat mencintai Mas Dwi. Sedikit saja goresan darinya, itu sangat menyakitkan bagiku.
"Sampai mati aku hanya mencintaimu, mengapa kamu masih meragukan itu?" Mas Dwi balik bertanya.
"Kalau Mas mencintaiku, mengapa Mas masih bisa meninggalkan aku setelah melihat foto wanita itu?" jawabku sambil menunduk. Air mataku sudah mengalir deras, aku tak mampu menatap matanya.
"Jangan memikirkan yang bukan-bukan! Aku akan berangkat kerja dulu karena ada rapat. Aku janji akan pulang lebih awal dan menceritakan semuanya padamu, oke?" Ia mengatakan semua itu sambil memegang kedua pipiku dan membuat wajah kami saling menatap.
"Apa gak bisa Mas menceritakan sedikit aja? Inti permasalahannya misalnya? Atau alasan Mas bertemu dengan dokter? Aku perlu tahu, Mas. Aku gak bisa begini, aku penasaran," jawabku jujur.
Aku berharap setidaknya aku mengetahui sedikit saja kenyataan yang sedang terjadi. Aku yakin Mas Dwi pun tidak bisa bekerja dengan fokus jika keadaan masih seperti ini.
Manik matanya masih lekat menatapku, perlahan ekspresinya mulai mencair. Ia memperlihatkan raut kesedihan itu lagi. Ia menundukkan pandangan dan memelukku, membenamkan wajahnya di bahuku.
"Aku juga gak mau seperti ini. Kukira udah sembuh, tapi ternyata belum. Maafkan aku!" Suaranya terdengar begitu lemah. Tidak seharusnya ia meminta maaf atas rasa sakitnya sendiri.
Kuusap punggungnya dengan lembut, perlahan deru napasnya mulai stabil. Sengaja aku tak menjawab apapun, aku masih berusaha untuk mencari jawaban yang tepat. Aku tahu, luka batinnya kembali terbuka. Luka yang terlalu dalam dan tidak mudah diobati dalam waktu singkat. Trauma, masalah keluarga kami memang belum bisa terlepas dari trauma. Masing-masing dari kami memiliki trauma. Bukan tidak bisa, namun untuk lepas dari hal itu membutuhkan proses yang panjang.
"Mas gak perlu menceritakannya sekarang, aku mengerti. Berangkatlah bekerja, segeralah pulang seperti janjimu tadi!" ucapku sembari menatap matanya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan seperti tadi!" pintanya.
"Iya, Mas," jawabku yakin. Aku berusaha memberikan senyum untuknya, berharap ia juga bisa tersenyum kembali.
"Sayang …." panggilnya. Mendengar panggilan itu, hatiku yang tadi mendung kini kembali cerah.
"Iya, Sayang," jawabku.
Dalam waktu singkat, bibir lembut Mas Dwi sudah menyatu dengan bibirku. Tangan kanannya menahan daguku dan tangan kirinya memelukku. Mataku mengerjap tak percaya dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ia melepasnya sejenak dan bertanya, "Boleh aku meminta ini untuk sebentar?"
Aku mengangguk dan tersenyum. Ia membalas senyumku dan melanjutkan ciumannya.
__ADS_1