Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
31


__ADS_3

Bukan karena sedang jatuh cinta, tapi di antara yang sebelumnya, Mas Dwi-lah yang memberikanku cinta sesungguhnya. Bahkan terkadang aku tidak percaya bisa secepat ini mendapatkan pengganti Robi yang memberikanku rasa sakit begitu dalam.


"Jadi hari ini kita kemana?" tanya Mas Dwi.


Iya, hari ini kami sudah berencana untuk menghabiskan waktu di luar. Meski bukan ke tempat wisata yang jauh, tapi setidaknya kami bisa menyegarkan pikiran sejenak. Kebetulan desa kami cukup jauh dari tempat wisata, hanya ada sebuah taman yang memang dirawat.


Setiap sore biasanya ramai anak-anak yang bermain sepeda, tapi untuk taman bagian dalam, hanya boleh masuk dengan ditemani oleh orang dewasa. Guna menjaga keasrian dari tempat tersebut. Bagian dalam taman ini dihiasi dengan berbagai macam bunga. Selain bunga, ada juga ditanam beberapa pohon yang tinggi menjulang dan bisa membuat teduh sekitarnya.


Kami memilih duduk di salah satu tanah kosong yang teduh. Di sini juga sudah disediakan banyak kursi, tinggal pilih sendiri dan kami memilih lesehan dengan beralaskan tikar. Di sekitar juga banyak yang berjualan buah, meski terkesan ramai, tapi tempat ini tidak berisik. Itulah alasan kami datang ke tempat ini.


"Apa kamu sering datang ke sini?" tanya Mas Dwi ketika kami baru saja duduk. Aku menggeleng.


"Hanya beberapa kali, itupun sudah lama. Aku gak nyangka tempatnya udah berubah jadi sebagus ini," jawabku seraya menghirup napas panjang. Aku suka udara yang sejuk seperti ini.


"Ah, sayang sekali. Padahal tempat ini cocok didatangi ketika pikiran sedang penat."


"Iya, aku setuju. Mas sering datang ke tempat ini?" tanyaku kemudian.


"Gak juga, baru beberapa kali. Tempat ini juga baru direnovasi. Jadi beberapa bulan lalu sempat ditutup."


"Oh iya? Aku sama sekali gak tahu."


"Gimana mau tahu kalau kerjaanmu hanya di rumah dan kantor saja?" tanyanya meledek.


"Ah, asalkan bisa tidur nyenyak saja rasanya aku sudah tenang. Gak pernah berpikir untuk refreshing seperti ini."


"Ck ck ck! Dasar!" ujarnya kemudian mengacak rambutku.


Manis sekali rasanya bisa bersama Mas Dwi seperti ini. Sepertinya aku juga sudah lama tidak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak menguras pikiran. Aku harus bisa memanfaatkan hari ini sebaik mungkin.


Sekarang waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Belum begitu banyak orang yang datang, adapun sepertinya manusia-manusia yang kesehariannya sibuk seperti kami. Hidup di desa tapi dengan kesibukan kota, cukup menyulitkan ternyata.


"Len, coba lihat ini!" Mas Dwi menunjukkan layar handphonenya. Di sana terlihat berbagai macam desain undangan.


"Ini undangan?" tanyaku bingung. Bagaimana tidak, hubungan pun belum direstui, mana mungkin bisa sudah memikirkan undangan?


"Iya. Sudah, pilih saja dulu."


"T--tapi Mas ...."


"Sssttt! Apa kamu gak mau menikah denganku?" Pertanyaan retoris. Mana mungkin aku tidak mau menikah dengannya?


"Ya sudah, sini aku lihat!" Kuambil handphone itu dari tangan Mas Dwi. Kulihat satu persatu bentuk dari undangan yang tersedia.


"Mas sudah pilih?" tanyaku.

__ADS_1


"Belum, aku baru lihat-lihat tapi belum nemu yang cocok."


"Hmm ... Mas mau yang kaya gimana?"


"Simpel aja, jangan terlalu ramai!"


"Kalau ini?" Aku menunjuk salah satu bentuk undangan yang sederhana. Undangan itu berwarna putih dengan tulisan di tengahnya berwarna emas. Bentuk tulisannya juga cantik. Aku langsung tertarik begitu melihatnya.


"Boleh juga, coba lihat bagian dalamnya!" pinta Mas Dwi. Aku klik bagian undangan yang tadi, kemudian terbuka halaman baru yang memperlihatkan isi dari bentuk undangan yang kami pilih.


"Wahh!! Cantiknya," ujarku. Aku sangat suka konsep sederhananya dan lagi tidak ada foto yang perlu ditambahkan di sana. Jujur, aku lebih suka undangan yang berisikan tulisan saja.


"Kamu suka?" tanya Mas Dwi. Aku mengangguk. "Ya sudah, tandai dulu saja. Nanti kita pilih lagi mana yang paling cocok," ujarnya lagi.


Kemudian kami memilah dan memilih lagi. Banyak sekali jenisnya, ternyata banyak yang lebih bagus lagi dari pada pilihanku yang pertama. Sulit juga untuk menentukan mana yang terbaik.


"Minggu depan mungkin orang tuaku akan datang lagi," ujar Mas Dwi.


"Eh? Mau apa?" tanyaku bingung.


"Bertemu kamu mungkin," jawab Mas Dwi.


"Ih! Gak usah ngegoda deh! Orang kemarin saja responnya begitu. Mana mungkin mau bertemu lagi?" ujarku sedih.


"Iya, sih, tapi, apa kemarin itu bukan bentuk penolakan?" tanyaku lagi. Mas Dwi menggeleng.


"Aku yakin itu bukan penolakan. Aku kenal Papaku. Percayalah! Pasti ada jalan keluarnya!"


"Semoga saja ya, Mas," jawabku penuh harap.


"Dulu, Papa juga gak setuju kok dengan mantanku."


"Oh iya?" tanyaku cukup terkejut. "Tapi kan, Mas sudah hampir menikah, bagaimana mungkin gak disetujui?"


"Ya itu tadi, restu orang tua itu penting. Bermodalkan cinta, aku memaksa orang tuaku untuk setuju, tapi akhirnya kami berpisah juga. Cukup memalukan sih," ujarnya kemudian tertawa kecil. Sepertinya ia menertawai dirinya sendiri.


"Lalu, sekarang Mas mau memaksa orang tua Mas lagi untuk menyetujui hubungan kita?" tanyaku khawatir. Mas Dwi menggeleng sambil tersenyum.


"Kamu berbeda, Len. Mama sudah setuju padamu sejak awal kalian bertemu. Sedangkan Papa, bukan gak setuju tapi kurang setuju. Bukan kesalahan fatal yang kamu miliki sehingga kamu masih bisa membentuk dirimu menjadi yang Papaku inginkan," jelas Mas Dwi. Aku masih belum bisa mengerti apa maksudnya.


"Jadi begini, dulu alasan keluargaku gak setuju aku menikah dengan mantanku itu karena memang dia punya tabiat yang buruk. Dia memang terlahir kaya, itu yang membuatnya hidup serba mewah. Yang lebih buruk, dia sering menghamburkan uangku untuk sesuatu untuk hal yang gak penting." Mas Dwi berhenti sejenak menelan salivanya dan bicara kembali.


"Memang pendidikan itu penting, tapi etitut itu jauh lebih penting. Memang mungkin pendidikanmu kurang, tapi etitutmu lebih dari cukup bila dibandingkan dengan mantanku sebelumnya," ujarnya kemudian tersenyum.


'Ah ... jadi perbandingannya hanya dengan mantannya,' batinku dalam hati.

__ADS_1


"Aku memang menghendaki kita menikah dalam waktu dekat, akan aku usahakan bagaimanapun caranya," ujarnya seraya menggenggam tanganku.


"Mas ...."


"Hm? Ada apa?"


"Apa Mas masih mencari tahu atau berkomunikasi dengan mantan Mas itu?" tanyaku ragu-ragu.


"Ahh ... jangankan berkomunikasi, mengingat namanya pun aku enggan."


"Padahal Mas dulu mencintainya kan? Bagaimana Mas bisa jadi begitu membencinya?"


"Semakin dalam kamu mencintai seseorang, maka semakin sakit pula luka yang mungkin kamu terima darinya," ujar Mas Dwi lembut. Manik matanya menatapku lekat. Tersirat luka batin yang mendalam disana.


"Butuh waktu dua tahun untuk aku bisa benar-benar lepas dari rasa sakit itu, Len. Kini, aku sudah memantapkan hati untuk memilihmu. Memang aku gak bisa memaksa, tapi aku berharap kamu bisa menjadi wanita yang memang aku butuhkan dan kamupun membutuhkan aku."


Kalimat yang terlontar rasanya terdengar begitu tulus. Meskipun aku menjalin hubungan ini belum lama, akupun telah merasa nyaman. Aku juga bukan tipe wanita yang suka berganti-ganti pasangan. Karena fokusku adalah bekerja, bukan urusan perasaan.


..


Satu minggu berlalu begitu saja. Rasa tegang kembali menyelimuti diriku. Malam ini, di rumah ini lagi dengan tatapan yang sama. Om Hermansyah masih belum memberikan tatapan yang lembut untukku. Entah memang begitu pembawaannya atau memang dia yang tidak menyukaiku. Entahlah.


"Jadi, kamu masih mau mempertahankan hubunganmu dengan Dwi?" tanya Om Hermansyah lagi.


"I--iya, Om."


"Apa kamu siap kalau Om berikan persyaratan agar kamu boleh menikah dengan Dwi?" tanyanya lagi. Serius, kali ini lebih tegang dari pada yang sebelumnya. Rasanya hidup matiku bisa ditentukan hari ini. Aku menatap Mas Dwi, ia hanya mengangguk perlahan.


"Iya, saya siap, Om," jawabku sedikit takut.


"Baiklah, kamu bisa mempertimbangkan ini terlebih dahulu. Kamu boleh menikah asalkan kamu mau melanjutkan pendidikanmu. Setidaknya S1, kalau mau lebih itu lebih baik," ujar beliau. Kami semua terkejut, tak terkecuali Tante Meira.


"Pa, gak bisa gitu dong! S1 itu lama, empat tahun, Pa! Dwi gak mau menunggu lebih lama lagi," ujar Mas Dwi seketika memberontak.


"Ya itu urusan kalian. Kalau kalian mau mendapatkan restu dari Papa, ya itu syaratnya," ujar beliau seolah permintaannya tak bisa lagi diganggu gugat.


"Ma, apa Mama akan diam saja?" tanya Mas Dwi pada Tante Meira. Beliau hanya menggeleng. Rasanya memang semua kendali keluarga ini ada di tangan Om Hermansyah.


"Baik, Om. Saya terima," jawabku mantap tanpa mendiskusikan ini pada Mas Dwi. Mas Dwi pun langsung menatapku tak percaya.


"Len! Jangan sembarangan!" ujarnya padaku.


"Lena saja setuju, kenapa kamu keberatan?" tanya Om Hermansyah seolah tidak mau tahu dengan yang Mas Dwi inginkan.


Meski membutuhkan waktu yang begitu lama, sepertinya itu lebih baik daripada aku harus putus hubungan dengan Mas Dwi. Mas Dwi menatapku sedikit kecewa karena memberikan keputusan tanpa meminta persetujuan darinya. Maafkan aku, aku yakin pasti ada jalan lain setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2