![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Meski sudah lewat beberapa hari, masih terngiang ucapan Papa dari Mas Dwi. Apa ini adalah akhir dari segalanya? Apa hubunganku harus kandas bahkan sebelum kumulai? Aku membenamkan wajah diantara lengan yang kulipat di atas meja. Apa hidupku harus sesulit ini? Masalah yang tak kunjung berhenti dan terus bertambah setiap harinya.
"Alena." Seseorang dengan logat khasnya menyebut namaku.
"Hm? Mas Bobi, ada apa?" tanyaku setelah mendongakkan kepala.
"Tidur kamu?"
"Nggak kok, Mas," jawabku kemudian duduk lebih tegak.
"Nih buat kamu," ujarnya seraya menyerahkan selembar kertas cantik berwarna coklat muda berlapis plastik bening.
"Apa nih? Undangan?" Kubuka undangan itu dengan niat setengah-setengah karena moodku yang kurang baik.
"Yaps! Datanglah dengan Pak Dwi, ya!" ujarnya kemudian tersenyum.
"Hah? Mas menikah lagi? Bukannya Mas udah menikah?" tanyaku bingung.
"Iya, resepsi saja. Kalau akad memang sudah lama."
"Uwah! Jadi bagaimana caranya aku mengucapkan selamat?"
"Doakan agar kandungan istriku sehat," ujarnya setengah berbisik.
"Sungguh? Hmm ... akhirnya keponakanku akan bertambah lagi. Berapa bulan, Mas?"
"Baru 3 minggu. Ya sudah, aku lanjut ke yang lain, ya."
"Oke mas! Semoga semuanya lancar."
Kemudian Mas Bobi keluar dari ruanganku. Undangan lagi ya? Hmm ... kapan aku bisa menyebar undangan juga, ya? Jangankan menyebar undangan, baru kenalan saja sudah ditolak.
..
"Kukira kamu menikah lagi, Bob!" ujar Mas Dika.
Seperti biasa kami sedang di kantin, sejak semua kembali membaik, aku juga kembali makan bersama mereka. Meski kini Tasya banyak diam, bahasan kami tak ada habisnya. Setidaknya bahasan kami tidak ada gosip-gosip lagi.
"Mana ada menikah lagi? Bisa habis aku dicincang istriku," ujar Mas Bobi sambil tertawa.
"Wah, galak juga ya istri Mas Bobi?" tanya Atika.
"Oh jelas! Tapi aku sayang. Hahaha."
Sontak kami semua pun ikut tertawa. Mas Bobi yang tampak sangar pun bisa lucu seperti ini.
"Istri gak galak itu bukan istri namanya," tambah Mas Dika.
"Oh iya? Wah, saya jadi takut nih," tambah Haris, karyawan baru bagian marketing pengganti Reyna.
"Jangan percaya! Aku sebagai istri gak terima dibilang istri itu galak," sanggah Atika.
"Bukannya semua itu tergantung karakternya, ya?" tambahku.
"Nah! Benar tu kata Lena," tambah Atika lagi.
"Heee! Lena itu belum menikah. Mana bisa ucapannya kamu jadikan patokan?" ujar Mas Dika.
"Betul! Aku setuju! Dulu sebelum menikah istriku lemah lembut, penurut. Eh, sekarang galak kali. Serius!" tambah Mas Bobi meyakinkan.
"Galaknya gimana, Mas?" tanya Haris. Dia memang masih muda jika dibandingkan dengan kami semua.
"Ya begitulah. Perkara salah taruh handuk pun mengomel, padahal kan tinggal pindah sendiri bisa," tambah Mas Bobi.
__ADS_1
"Heii! Kamu pikir istrimu gak capek urus rumah segala macam? Kamu tinggal taruh handuk di tempatnya pun gak bisa? Wajar kalau istrimu mengomel," jawab Mbak Tami yang lebih senior di antara kami semua.
"Eh? Kaget lah aku Kak Tami ikut bicara. Maaf lah Kak, walaupun begitu kami tetap cinta istri kok," ujar Mas Bobi yang tampaknya sedikit segan dengan Mbak Tami.
"Ya kalau gak cinta mana mungkin kamu menikah dengannya," tambah Mbak Tami.
"Ngomong-ngomong menikah, Pak Dwi kemana, Len?" tanya Mas Dika padaku.
"Eh? Itu ada urusan sama Bu Manajer," jawabku sedikit kaget.
"Kenapa bahas menikah jadi lanjut ke Lena? Kan yang mau resepsi si Bobi," tanya Mbak Tami.
"Wah, kakak ketinggalan berita rupanya. Lena dan Pak Dwi akan menikah loh," jawab Mas Bobi.
"Oh iya? Wah! Kukira hanya gosip," ujar Mbak Tami.
"Pak Dwi HRD-kah? Woahh! Selamat ya Mbak Len," tambah Haris.
"Eh ... t--tapi belum tahu kapan," jawabku gugup.
"Gak apa-apa Lena, yakinkan dulu semuanya! Kami semua akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua," ujar Mbak Tami.
"I--iya terima kasih, Mbak," ujarku.
Aku melirik Tasya sedikit. Raut wajahnya tampak sengit. Aku bingung, ada apa dengannya?
"Eh-ehh! Kalian lupa? Tasya juga kan sudah tunangan. Barangkali dia juga hendak menikah," ujar Atika. Mungkin dia kasihan, Tasya sama sekali tidak dianggap di meja ini.
"Aku hampir lupa kalau ada Tasya. Hahaha," ujar Mas Bobi seraya menambahkan tawa di ujung kalimatnya. Terlihat ekspresi Tasya semakin sengit.
"Iya, Tasya jadi pendiam sekali sekarang. Ada apa Tas? Sariawankah kamu?" tanya Mas Dika.
"Enak saja! Aku nyimak kok," sanggah Tasya.
"Biasanya kamu selalu paling heboh loh, Tas. Kok sekarang hening sampai kami lupa kalau kamu ada," tambah Mas Dika lagi. Aku turut menahan tawa. Maafkan aku, Tasya.
"Iya, katanya udah tunangan. Kok gak ada kabar lagi kelanjutannya?" tambah Atika.
Benar juga. Aku sudah kenal Tasya sejak awal masuk kerja dan itu berarti sudah lewat dua tahun. Waktu itupun dia bercerita kalau sudah tunangan hampir satu tahun. Jarak waktu yang cukup panjang.
"Tunanganku itu masih ada tugas di luar negeri, jadi kami belum bisa menentukan jadwal yang tepat," jawab Tasya.
"Luar negeri? Wow! Kerja apa?" tanya Atika semangat.
"TKI ya? Hahaha." tanya Mas Bobi sambil tertawa keras. Aku tahu dia hanya menggoda, bukan menghina.
"Enak saja! Gak mungkin lah!" sanggah Tasya dengan sombongnya. Aku mengerutkan kening, kenapa makin kesini aku makin tidak respect padanya?
"Santailah! Aku hanya bercanda!" ujar Mas Bobi lagi. Tasya menggerutu sendiri, entah apa yang ia ucapkan.
..
Malam ini, aku sudah berjanji akan menemani Tria untuk berbelanja dan sudah pasti Mas Dwi tidak boleh ikut. Kami pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.
"Kamu mau cari baju yang kaya gimana?" tanyaku ketika kami sudah masuk di salah satu toko yang menjual pakaian.
"Hmm ... apa aja deh Kak, yang cocok," jawabnya.
"Ya yang model gimana? Kan setiap acara ada ketentuannya sendiri."
"Yang penting cantik, Kak."
"Haduuuh ... kalau cuma cantik mah banyak. Memang mau dipake buat apa, sih?"
__ADS_1
"Hehe ... tapi jangan bilang Mas Dwi, ya!" ujarnya pelan.
"Hm? Boleh boleh. Memang buat apa?" tanyaku lagi.
Kemudian Tria membisikkan sesuatu di telingaku. "Kencan."
"Woahh!!!" Aku langsung terkejut.
"Ssttttt!!! Jangan keras-keras, Kak!" ujarnya seraya memegang lenganku.
"Pfffttt, iya-iya. Kalau untuk kencan sih senyamanmu aja. Jangan terlalu dipaksakan!"
"Tapi tetap harus spesial dong, Kak!"
"Hmm ... oke-oke."
Lalu kami memilah pakaian satu persatu. Bahkan kami berpindah sampai tiga toko, namun sayang belum ada yang cocok di mata Tria.
"Padahal di toko yang tadi bagus loh," ujarku setelah masuk ke toko yang ketiga namun belum juga menemukan yang cocok.
"Iya bagus sih, Kak, tapi yang model itu temenku udah ada yang punya. Malu dong kalo ketahuan punya barang yang sama," ujarnya sambil merajuk.
"Ah, begitu ya? Bukannya lucu kalau punya barang yang sama?" tanyaku heran. Ia menggeleng cepat.
"No! Haram hukumnya untuk punya barang yang sama dengan orang yang kita kenal," jawabnya tegas.
"Eh? Hukum dari mana?"
"Masa Kakak gak tahu, sih? Ah, kudet nih! Manusia terutama cewek jaman sekarang itu paling anti sekali sama yang namanya punya barang kembaran, Kak," jelasnya.
"Oh iya?"
"Iya. Itu gak boleh."
"Kasihan dong tokonya kalau udah kebeli satu tapi gak ada yang beli lagi?"
"Emm ya ... gimana ya? Ya pokoknya haram deh! Udah gitu aja. Ayo, Kak, satu toko lagi! Kalau gak nemu lagi, kita lanjut besok. Oke?" ujarnya kemudian menarik tanganku menuju toko yang lain.
"Dasar ABG jaman sekarang!" ujarku pelan. Tria hanya tertawa mendengar itu.
Akhirnya kami bisa menemukan pakaian yang cocok setelah masuk di toko yang ke lima. Tumitku ngilu karena sudah lama sekali tidak berkeliling seperti ini. Kalau dihitung, kurang lebih kami sudah berkeliling hampir tiga jam. Aku mulai haus.
Pulang dari sana, kami pergi ke sebuah restoran cepat saji. Kami lupa kalau belum makan malam. Dasar wanita! Kalau sudah belanja, urusan perut pun terabaikan.
"Kak, Kakak dengan Mas Dwi hubungannya masih baik, kan?" tanya Tria setelah kami mendapatkan tempat duduk.
"Ya masih seperti biasa kok, memang kenapa?"
"Aku hanya khawatir Kakak mundur setelah kecewa mendengar ucapan papa waktu itu."
"Ohh ... gak apa-apa kok. Toh memang benar yang diucapkan papamu. Pendidikan itu penting."
"Papa itu jahat, Kak. Kalau urusan belajar gak ada toleransi."
"Ah, sudah terlihat sih."
"Tapi aku yakin kok, Kak Len bisa merebut hati Papa. Kakak itu udah cocok banget tahu sama Mas Dwi. Mama aja setuju."
"Oh iya?" Blusshh! Rasanya pipiku mulai merona.
"Iya Kak, Mama cerita kok. Katanya Kakak itu udah klik di hati Mama. Semoga aja Papa bisa dibujuk deh sama Mama."
"Amin-amin-amin. Semoga ya!" Doaku penuh harap.
__ADS_1
"Iya, amin, Kak," ujarnya kemudian tersenyum.
Aku pun berharap bisa mendapatkan restu dari orang tua mereka. Setidaknya, aku sudah mendapat dukungan dari Tria dan Tante Meira. Semoga satu restu lagi bisa aku dapatkan. Amin.