Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 33


__ADS_3

Tengah malam aku terbangun, kucari Mas Dwi namun ia tak ada di sampingku. Di meja kerjanya juga ia tidak ada. Aku mulai panik, pergi ke mana ia malam-malam begini?


"Mas, Mas Dwi?" panggilku dari ranjang, namun tak ada jawaban.


Aku turun dari ranjangku dan mencarinya keluar kamar. Ruang tamu dan ruang tengah juga kosong, di dapur juga tidak ada. Semoga saja ada di kamar mandi.


"Mas ...." panggilku pelan, tak ada jawaban juga.


Kubuka pintunya dan benar, kamar mandi juga kosong. Kepalaku mulai pusing, aku panik. Aku ingin menangis saat ini juga.


'Mas, kamu ke mana?' batinku.


Aku memberanikan diri untuk mengecek pintu depan, pintunya masih terkunci dari dalam. Mas Dwi pergi lewat mana? Baru hendak kubuka pintu depan, seseorang menarik tanganku hingga kami kini saling berhadapan.


"Kamu mau ke mana jam segini?" tanya Mas Dwi yang masih menggenggam tanganku.


"Mas!" seruku seraya memeluknya. Aku menangis lagi. Aku takut.


"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu keluar jam segini?"


"Mas yang ke mana? Aku cari di mana-mana gak ada," jawabku sambil menangis.


"Cup-cup-cup! Udah ya jangan nangis lagi! Aku dari belakang tadi," ujar Mas Dwi sembari mengusap rambutku.


"Ngapain coba Mas tengah malem ke halaman belakang, nangkep maling?" tanyaku kesal.


"Maaf, aku cuma cari angin kok. Aku baru selesai lembur, makanya mau cari angin sebentar."


"Cari angin, kan, bisa di kamar aja! Jendela juga bisa dibuka."


"Aku gak mau kamu kedinginan, Sayang. Udah ah, nangisnya! Yuk masuk kamar lagi, di luar gini dingin loh!" bujuknya dengan lembut sembari mengecup puncak kepalaku.


Kami pun kembali masuk ke kamar. Mas Dwi menyelimutiku perlahan. Seperti biasa, ia mengusap rambutku dengan lembut sampai aku tertidur. Namun, aku belum mau terpejam untuk sekarang.


"Kenapa ngelihatinnya kayak gitu? Ada yang salah?" tanyanya padaku. Aku menggeleng, Mas Dwi mencium lagi keningku.


"Jangan khawatir, aku gak akan ke mana-mana kok! Maaf udah buat kamu khawatir," ucapnya lagi.


"Mas."

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawabnya lembut. Ia selalu memanggilku dengan sebutan 'sayang' padahal panggilanku untuknya tidak berubah sejak dulu, tapi ia tidak pernah protes.


"Gak jadi, aku gak tahu mau ngomong apa," jawabku. Iya, aku memang tidak tahu mau bicara apa. Aku hanya ingin ia tetap fokus padaku.


"Mau apa? Bilang aja!"


"Gak mau apa-apa kok," jawabku jujur.


"Minta jatah, ya?" Pertanyaannya membuatku terbelalak.


"Ihh! Mas apaan, sih!" sungutku seraya mencubit lengannya.


"Iya-iya maaf, bercanda, Sayang. Tapi, kalau kamu minta juga ya ayo sih," candanya lagi.


"Tahu ah! Nyebelin!" Aku berbalik arah dan membelakangi Mas Dwi.


"Aku tahu kok kamu ngode minta di peluk," ujarnya, kemudian memelukku sesuai ucapannya.


Aku bergeming, aku malas berdebat lagi. Kubiarkan tangannya memelukku. Aku juga senang menerimanya meski aku gengsi untuk mengakuinya.


"Kan, anteng aja di peluk, gengsian sih!"


"Udah, kan? Itu yang Mas mau?" tanyaku seperti orang marah, namun tentu Mas Dwi paham aku mulai menanggapi permainannya.


"Apaan itu? Gak ada rasanya," balasnya lagi.


"Gak malu kalau perempuan yang mulai duluan?" sindirku.


"Mmm ... ada kesenangan tersendiri sih kalau kamu berani mulai duluan," ujarnya dengan nada menantang, namun tentu aku tidak akan memulai lebih dulu.


"Hmm, lalu?"


"Karena kamu terlalu lama, jadi selalu aja aku yang memulai duluan," ujarnya seraya menyerangku. Akhirnya permainan kami di mulai kembali.


.


Seperti biasa, setiap pagi selalu aku yang bangun lebih dulu. Aku merasa indra penciumanku sudah membaik, aku juga sudah jarang mual-mual lagi. Niatnya, pagi ini aku mulai memasak lagi. Sayang, ternyata aku salah. Baru saja masuk dapur dan melihat Mbak Arum sedang mengupas bawang, aku sudah angkat tangan, langsung ada yang hendak keluar melalui tenggorokanku.


Aku kembali masuk ke kamar dan mengatur kembali pernapasanku. Kuputuskan untuk menyiapkan setelan kerja Mas Dwi. Aku baru sadar, selama aku menjadi istrinya, sekalipun aku belum pernah membelikan Mas Dwi pakaian. Semua kemeja yang tergantung di sini pernah kulihat ia pakai ke kantor, tandanya Mas Dwi tidak memiliki kemeja baru. Hah, istri macam apa aku ini?

__ADS_1


Kupilihkan kemeja berwarna merah marun sepasang dengan dasinya serta jas hitam. Oh iya, aku baru sadar kalau jas yang Mas Dwi miliki semuanya berwarna hitam. Apa ada orang mengira kalau Mas Dwi tidak berganti pakaian? Ya ampun, aku merasa tidak berguna sebagai istri.,


"Mas ... bangun, Sayang," ujarku sembari menepuk pelan lengan Mas Dwi. Wajahnya lucu, sepertinya ia sedang bermimpi.


"Sayangku, ayo bangun!"


"Hmm ... iya," jawabnya dengan mata yang masih tertutup.


Pemandangan paling indah di pagi hari adalah Mas Dwi yang tanpa memakai atasan dan terkena cahaya matahari. Rasanya aku sedang melihat pangeran vampire idolaku di dalam film. Ia begitu tampan dan bersinar.


"Sayang, ayo mandi, kerja!" ucapku lagi.


Ia melihatku dengan matanya yang masih menyipit karena silau, bukannya bangun ia justru menarikku dalam pelukannya.


"Mas, nanti kesiangan loh!" ujarku mengingatkan.


"Kamu masih muda tapi udah pikun ya, Sayang," jawabnya tanpa membuka mata.


Ah iya, aku baru ingat. Mas Dwi sudah mengambil tugas untuk kerja dari rumah. Kalau begitu untuk apa aku menyiapkan kemeja? Huh! Otakku perlu dibersihkan lagi. Sudah terlalu banyak memori lama yang perlu dibuang agar tidak menghambat memori yang terbaru.


Mas Dwi kembali terlelap, aku terjebak dalam pelukannya. Kalau aku keluar sekarang, tentu ia akan terbangun. Aku harus menunggu beberapa saat lagi. Kuamati wajah Mas Dwi lagi, tak ada bosannya kupandangi wajah tampannya. Apa ia pernah ngiler? Pasti wajah tampannya juga tidak akan luntur. Semoga nanti anak kami mirip dengan papanya, tampan, mancung dan pintar. Aku senyam-senyum sendiri membayangkannya.


Beberapa saat kemudian, Mas Dwi mengusap pipiku dengan lembut. Aku membuka mataku perlahan, cahaya matahari yang masuk semakin banyak dan menyilaukan.


"Pagi, Sayang," ucapnya sembari tersenyum manis. Ah, ternyata aku ketiduran lagi.


"Pagi juga, Mas," jawabku sembari mengerjap beberapa kali, menyesuaikan jumlah cahaya yang bisa diterima mataku.


"Kamu cantik banget ya kalau bangun tidur," ujarnya.


"Gak usah muji, aku tahu Mas pasti ada maunya," balasku seraya meregangkan otot-otot tubuhku.


"Kalau ada mau ngapain harus pakai kode? Minta langsung juga dikasih kok," jawabnya manja sembari memelukku lagi.


"Mas, jangan bikin aku pengen tidur lagi!" gerutuku seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Mas Dwi.


"Hmm, berhubung aku ada kerjaan, jadi kali ini kamu kulepaskan," jawabnya seraya mencium pipiku dan melangkah ke luar.


Aku hanya bisa tersenyum menerima perlakuan manisnya setiap hari. Seandainya aku tidak memiliki trauma, tentu masalah kemarin bukanlah apa-apa. Aku akan berusaha menghilangkan traumaku. Aku percaya Mas Dwi tidak akan melakukan hal bod*h seperti Robi waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2