Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 28


__ADS_3

Sore ini Mas Dwi sengaja pulang lebih cepat karena aku ada janji dengan dokter untuk cek kandungan. Syukurlah, kondisi tubuhku aman, kondisi janinnya juga tak ada yang perlu dikhawatirkan. Usia kehamilanku sudah memasuki minggu ke enam. Namun, karena belum ada perubahan dari segi fisik, aku masih merasa seperti belum ada yang tinggal dalam perutku.


Ketika dokter menunjukkan gambar calon bayi kami melalui layar monitor sembari menjelaskan, kami berdua kompak tersenyum bahagia. Ia masih begitu kecil, aku melihatnya seperti sebutir kacang yang lucu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini, hanya saja menjaga kesehatan baik fisik maupun pikiran adalah PR untuk kami.


Kusimpan rapi foto hasil USG pertamaku. Akan kuperlihatkan foto ini nantinya pada anakku ketika ia sudah besar. Aku ingin tahu bagaimana responnya ketika ia melihat dirinya sewaktu masih di dalam kandungan.


"Udah, jangan dilihatin terus fotonya! Katanya mau disimpen," ujar Mas Dwi mengingatkanku.


"Lucu tahu Mas bentuknya," jawabku kemudian.


Meski yang tampak hanya seperti sebutir kacang, namun mengetahui ia adalah calon buah hatiku rasanya sungguh membahagiakan. Mas Dwi ikut tersenyum sembari sesekali melirik ke arahku. Ia masih harus fokus dengan kemudinya.


"Kamu inget, kan, kata dokter tadi? Makan yang teratur, tidur yang cukup dan jangan stres," ucap Mas Dwi mengingatkan.


"Iya, Mas. Aku inget kok," jawabku sembari memasukkan foto USG ke dalam amplop lalu memasukkan lagi amplop itu ke dalam tas.


"Kamu harus janji satu hal sama aku!"


"Apa itu?"


"Apa pun yang menjadi beban pikiranmu, ceritakan semuanya sama aku. Aku gak mau kamu menyimpan masalahmu sendiri," ucap Mas Dwi dengan tegas.


"Iya, Mas. Aku bakal cerita terus kok," jawabku, "Oh, iya, mampir ke toko peralatan bayi yuk, Mas!" ajakku tiba-tiba.


"Mau ngapain? Kan masih lama butuhnya," jawab Mas Dwi.


"Tapi, aku pengen lihat-lihat. Kita juga bisa sekalian mengira-ngira total pengeluaran untuk nanti, kan?"


"Ya ... bisa sih, harus banget nih ke sana sekarang?" tanya Mas Dwi lagi. Aku mengangguk semangat.


"Ya-ya-ya, baiklah. Demi istri tercinta, aku turutin apa pun yang kamu minta," jawabnya seraya mengusap rambutku.


"Makasih, Sayang," ucapku dengan hati yang berbunga-bunga.


"Iya, sama-sama, Sayang," balas Mas Dwi dengan senyumannya yang begitu manis.


Kami mengunjungi salah satu toko peralatan bayi yang cukup terkenal di sini. Tokonya lumayan besar. Ruangan di dalamnya didominasi warna pink pastel dan biru pastel. Sangat lembut dan menenangkan. Mas Dwi merangkul bahuku sembari kami berjalan menyusuri toko ini. Semuanya terlihat lucu dan menggemaskan. Aku ingin beli semuanya.


"Ini lucu banget gak sih, Mas?" tanyaku seraya menunjuk sebuah kotak tidur yang di lengkapi dengan gantungan benda langit di atasnya.


"Ini bisa digabung gitu gak sih sama ranjang kita?" Mas Dwi balik bertanya padaku.


"Gak tahu, memang ada yang model begitu?"


"Iya, ada. Jadi, nanti si baby bisa tidur bareng sama kita."


"Wah, mau!" seruku hingga membuat Mas Dwi gemas dan mencubit pipiku.


"Selamat sore, Bapak, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan toko ini.


"Ini, Mbak. Untuk box yang ini bisa digabung sama ranjang gitu gak?" tanya Mas Dwi pada pelayanan itu.

__ADS_1


"Iya bisa, Pak. Untuk ukuran juga bisa disesuaikan," jawab pelayan itu.


Kemudian kami lanjut berkeliling dan bertanya banyak hal. Ternyata toko ini sangat lengkap. Bahkan mereka menjual pakaian, aksesoris dan juga popok bayi. Dengan begitu, kami tidak perlu mencari toko lain lagi. Harganya juga terjangkau. Yah, ada harga ada rupa. Tidak terlalu mahal tapi juga masih ramah di dompet.


Sampai di rumah, kami mulai membayangkan bagaimana kondisi kamar ini ketika nanti bayi kecil kami sudah lahir. Kalau saja kami sudah tinggal di rumah sendiri, tentu kami akan menyiapkan kamar khusus untuknya. Namun untuk saat ini, kami cukup membayangkannya saja.


Aku sangat bersemangat membayangkan bagaimana aku mengatur kamar untuk anak kami. Akan kupenuhi kamarnya dengan berbagai mainan dan hiasan dinding. Tak lupa juga peralatan makan yang berwarna-warni serta bergambar berbagai karakter lucu. Ah, membayangkannya saja sudah menyenangkan.


"Sayang, kamu bahagia banget sih kayaknya," jawab Mas Dwi seraya memeluk tubuhku.


"Aku lagi bayangin kamar anak kita, Mas. Aku mau konsepnya full color gitu," ujarku antusias.


"Nanti kalau pas udah besar dia gak suka gimana? Kenapa gak kasih warna monokrom aja kayak kamar kita?" sanggah Mas Dwi.


"Ih! Mas gak seru ah! Kan kalau dia gak suka nanti bisa cat ulang," jawabku tak mau kalah.


"Iya-iya, aku bercanda kok. Aku nurut kamu aja, asal jangan nanti anak kita laki-laki tapi kamu kasih warna pink," ujar Mas Dwi mengingatkan.


"Apa yang salah sama warna pink? Kan bagus."


"Iya bagus, tapi masa untuk anak laki-laki kamarnya warna pink? Kasihan dong dianya. Warna lain, kan, masih banyak. Toh kamu sendiri gak suka warna pink," jawab Mas Dwi lagi.


"Tapi sekarang aku suka warna pink," jawabku masih mengeyel.


"Aku curiga anak kita nanti perempuan."


"Kok bisa? Mas tahu darimana?" tanyaku tak percaya.


"Ya cuma nebak, kita tunggu waktunya aja nanti. Kan, bisa di USG," jawab Mas Dwi lagi.


..


Mas Dwi sudah tertidur dengan nyenyak di sebelahku. Aku terbangun karena mendengar notifikasi pesan masuk di ponsel Mas Dwi, aku pun membukanya.


[ Malam, Kak. Kakak kok gak pernah baca pesanku? Padahal terkirim terus. ]


'Pesan dari siapa ini? Kenapa mencurigakan?' batinku.


Ting! Satu pesan dari nomor yang sama masuk kembali.


[ Wah, akhirnya dibaca juga! Kakak apa kabar? Kok belum tidur? Pasti lagi lembur, ya? ]


Membaca pesan itu, seketika kantukku menghilang. Aku yakin Mas Dwi tidak akan pernah meladeni cabe kering ini. Kalau dibiarkan ia bisa semakin mengganggu Mas Dwi.


[ Kak, kok di-read aja, sih? Aku kangen loh sama Kakak. Kapan kita bisa ketemu lagi? ]


'Ketemu lagi katanya? Kapan mereka bertemu? Siapa perempuan ini sebenarnya?' batinku berdebat sendiri. Ingin kubangunkan Mas Dwi, namun kasihan. Ia masih terlelap dalam mimpinya sembari memelukku.


[ Maaf, kamu siapa ya? ] Aku mulai membalas pesan itu. Langsung dibaca. Hebat! Dia sangat bersemangat membalas pesan dari Mas Dwi.


[ Aku Lyla, Kak. Kakak kok gak save nomorku, sih? Aku kangen banget sama Kakak. Setiap malam aku bayangin bisa tidur dalam pelukan Kakak. ]

__ADS_1


'G*la! Berani sekali dia bicara begitu?' Aku semakin geram, aku langsung mengambil posisi duduk dan meneleponnya.


"Halo, Kak! Akhirnya aku bisa denger suara Kakak lagi," jawab perempuan itu lebih dulu. Ya, aku mengenali suaranya. Kami pernah bertemu sebelum aku menikah dengan Mas Dwi. ((Baca Season 1 Part 38))


"Heh perempuan g*la! Kamu gak punya harga diri atau gimana, sih? Bisa-bisanya jam tiga subuh hubungin suami orang dan bayangin bisa tidur dalam pelukannya? Sini datang ke rumah kalau berani! Kubakar otakmu biar biar gak kegatelan ganggu suami orang!" bentakku padanya.


Mendengarku marah-marah, Mas Dwi langsung bangun dan merebut ponselnya. Ia melihat nomor yang tertera di layar dan langsung mematikannya.


"Sayang, kamu marah-marah kenapa, sih? Ini masih terlalu pagi," tanya Mas Dwi sembari mengerjap beberapa kali.


"Mas pernah ketemu lagi sama Lyla? Iya? Di mana? Kenapa Mas gak cerita? Kenapa dia bisa punya nomor Mas? Sejak kapan Mas bohongin aku?" tanyaku bertubi-tubi, tubuhku sudah gemetar sejak mendengar suara perempuan itu. Air mataku tak bisa lagi kutahan.


"Sayang, tolong percaya aku ya! Aku gak mungkin bohongin kamu," ucapnya meyakinkanku, namun aku tak bisa percaya begitu saja.


"Gimana aku mau percaya? Terakhir kita ketemu dia, dia gak punya nomor Mas. Dan sekarang dia masih bisa tahu nomor Mas dari mana? Aku ... aku ...." Aku tak bisa lagi berbicara. Perasaanku kacau. Aku ingin menangis dan teriak sekuatnya.


"Sayang, dengerin aku dulu ya!" bujuk Mas Dwi sembari memegang tanganku. Aku menepisnya.


"Keluar dari kamar ini!" Aku tak ingin melihat wajah Mas Dwi untuk saat ini.


"Sayang, jangan gitu--"


"Keluar, Mas!" usirku sambil menangis.


"Sayang, stop! Tenang! Aku bisa jelasin semuanya."


Mas Dwi memelukku dengan paksa. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya, namun tidak bisa.


"Lepasin aku, Mas! Aku gak mau lihat kamu," pintaku sambil menangis.


"Ssstttt! Tenangin dirimu dulu, ya!" ujarnya dengan sabar dan suara yang lembut.


"Sakit, Mas," ucapku dengan tangis yang makin menjadi. Kurasakan dadaku semakin sesak.


"Aku gak mungkin berkhianat, Sayang. Aku cinta sama kamu sampai kapanpun. Percaya sama aku, ya! Kamu boleh pukul aku, kamu boleh tampar aku sekarang. Aku berani bersumpah, aku gak berpaling sedikitpun dari kamu," ucapnya lagi.


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya bisa menangis. Tak bisa kubayangkan lelakiku satu-satunya diharapkan orang lain untuk tidur bersamanya. Sampai kapanpun aku tidak akan ikhlas.


Aku menangis sampai lelah tanpa bicara apa pun. Mas Dwi masih memelukku dengan erat. Ia mengecup keningku beberapa kali. Perlahan aku bisa kembali tenang, meski masih sesenggukan. Aku percaya Mas Dwi tidak mungkin berkhianat, namun membaca pesan tadi saja rasanya hatiku seperti teriris.


"Sayang, udah tenang, kan?" tanya Mas Dwi dengan lembut. Aku mengangguk dalam dekapannya.


"Aku gak pernah kasih nomorku ke dia. Dia dapat nomorku dari teman kuliahku dulu. Jujur dia memang sering mengirimkan pesan, tapi selalu aku hapus sebelum kubaca. Aku menghargai kamu, aku juga gak berminat untuk meladeni dia, kamu percaya, kan?"


"Tapi, sakit, Mas. Coba Mas baca pesannya, apa itu pantas?" jawabku dengan isakan tangis yang masih tersisa.


Mas Dwi pun mengambil ponselnya lagi dengan satu tangannya lalu membuka pesan masuknya. Setelah itu, ia langsung melepas pelukannya dariku. Ia mengeluarkan sim card dari ponselnya, lalu mematahkannya menjadi dua bagian.


"Mas, kok dipatahin? Kan Mas masih butuh untuk urusan kerjaan," jawabku. Meski aku masih kesal, namun akal sehatku masih berjalan dengan normal.


"Istriku jauh lebih penting," ucapnya kemudian memelukku lagi. Aku menangis lagi dalam pelukannya. Aku tidak bisa mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Marah, kesal, juga terharu bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Maaf ya, Sayang. Kalau tahu dia akan senekat itu, pasti udah aku blokir sejak awal. Maaf udah buat kamu sakit hati lagi," ucapnya lagi seraya mengecup keningku dengan lembut.


Kubenamkan wajahku dalam pelukannya. Aku sangat mencintai suamiku, aku tidak ingin ia disentuh sedikitpun oleh wanita lain. Aku ingin menjadi satu-satunya, tidak boleh ada yang memiliki Mas Dwi meski dalam khayalan mereka. Ia milikku dan selamanya akan seperti itu.


__ADS_2