![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Tria bergegas menyembunyikan beberapa foto yang masih berserakan di tempat tidurnya. Terlihat ekspresi wajahnya seperti orang panik. Mas Dwi yang kini berdiri di hadapanku melihat ke arah Tria dengan tatapan yang menyelidik.
"Foto apa itu?" tanya Mas Dwi.
"Temen-temenku, gak penting!" jawab Tria sambil cengengesan.
"Kalau gak penting, kenapa disembunyikan begitu?" tanya Mas Dwi lagi.
"Mas kok lama banget pulangnya? Kenapa gak angkat teleponku juga?" tanyaku mengalihkan perhatian Mas Dwi. Aku masih ingat kalau Tria pernah menyembunyikan kisah asmaranya dari Mas Dwi.
"Ah, iya. Tadi masih ada sesuatu yang harus diurus, jadi aku gak sempat angkat teleponnya. Maaf ya, Sayang!" jawab Mas Dwi seraya mengusap puncak kepalaku.
"Mending Mas keluar deh! Bau apek tahu!" usir Tria seraya berdiri. Bersamaan dengan itu, sebuah foto juga jatuh ke lantai. Dengan cepat Mas Dwi mengambil foto itu dan melihatnya. Ekspresinya yang tadi biasa saja, kini berubah menjadi merah padam.
"Kenapa kamu masih simpan foto ini?" tanya Mas Dwi dengan nada marah dan menunjukkan foto itu ke wajah Tria.
"Anu … itu keselip, aku bukan sengaja simpan kok," jawab Tria yang ekspresinya semakin kacau.
"Foto apa, Mas?" tanyaku kemudian.
Mas Dwi menatapku penuh amarah. Foto yang ingin kulihat justru ia remas kuat-kuat dan ia lemparkan ke luar, lalu ia keluar dari kamar Tria tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat itu, spontan aku pun mengikuti langkah Mas Dwi.
"Selamat sore, Pak," sapa Mbak Arum sembari menunduk hormat.
Mas Dwi tidak mengindahkan keberadaannya dan terus melangkah ke luar menuju mobil. Beberapa kali kupanggil namanya, namun ia masih bergeming. Kini kami sudah berada di teras rumah, di samping mobil tepatnya. Ketika pintu mobil sudah ia buka, aku langsung berlari dan menarik lengannya.
"Mas, Mas kenapa? Ada apa?" tanyaku dengan air mata yang sudah hampir menetes.
Terdengar Mas Dwi menghela napasnya dengan kasar. Ia melepaskan tanganku dari tangannya lalu memegang kedua bahuku, manik matanya menatapku lekat. Ada kemarahan, kesedihan juga rasa sakit yang tersirat di sana. Ia menarik tubuhku dan memelukku erat, untuk sesaat tak ada kata-kata yang terlontar. Berkali-kali ia mengatur napasnya dengan kasar, namun tidak berkurang sama sekali degup jantungnya yang terdengar begitu keras. Lagi, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali melalui mulutnya, lalu melepaskan pelukannya dariku.
"Aku pergi sebentar," ucapnya dengan suara parau.
"Mas mau ke mana? Aku ikut!" jawabku.
__ADS_1
Ia tersenyum tipis dan mengusap pipiku, "Di rumah aja, jaga calon anak kita baik-baik! Aku gak lama kok."
"Aku ikut!" ucapku lagi. Aku tak bisa membiarkannya pergi dengan kondisi seperti ini.
"Kamu gak perlu khawatir, Sayang! Secepatnya aku pulang lagi," ucapnya. Ia mengecup keningku dengan lembut, lalu menyeka air mataku dan kembali membuka pintu mobil.
"Mas …."
Aku masih memegang tangannya. Dengan lembut ia melepaskan genggaman tanganku dan masuk ke dalam mobil. Aku hanya bisa mematung menatapnya yang bahkan tak melihat ke arahku. Perlahan ia memundurkan mobil dan segera berlalu entah ke mana. Tubuhku melemah, beruntung ada Mbak Arum yang langsung menangkapku.
"Bu, ayo masuk!" ucapnya. Aku hanya bisa mengangguk lemah.
Dengan sabar Mbak Arum menuntunku ke dalam kamar. Aku belum bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, Mas Dwi tidak pernah seperti ini. Ia tidak pernah mengabaikanku. Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Pikiranku kembali kacau, air mata tak bisa lagi kutahan.
"Bu, maaf bukannya saya mau ikut campur, tapi kalau Ibu butuh seseorang untuk bercerita saya siap. Luapkan sama saya gak apa-apa, Bu," ucapnya pelan tanpa menghilangkan rasa hormat.
"Mbak Arum bisa keluar sebentar?" pinta Tria yang baru saja masuk ke dalam kamarku.
"Kak, maafkan aku! Kakak bisa menyalahkan aku. Aku bersalah, Kak," ucapnya dengan pandangan lurus ke bawah.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang buat Mas Dwi jadi seperti itu?" tanyaku padanya.
Tria memberikan sebuah foto yang sudah kusut, sepertinya ini foto yang tadi sempat Mas Dwi remas dan ia buang. Itu adalah foto bertiga yang tadi sudah kulihat.
"Apa yang salah dengan foto ini? Siapa perempuan di foto ini?" tanyaku lagi.
"Maafkan aku, Kak. Itu … itu foto--"
"Foto siapa? Cepat jawab!" ucapku memotong ucapannya yang membuatku tidak sabar karena ia menjawabnya dengan ragu.
"Foto Kak Layla, mantan tunangan Mas Dwi," jawab Tria dengan suara yang kini bergetar.
Aku geram mendengar nama itu lagi. Lyla dan Layla kedua nama yang mirip dan keduanya sama-sama mengusik kebahagiaanku. Nama Layla memang sudah lama tidak kudengar, namun kini sekalinya nama itu muncul, perilaku Mas Dwi jadi berubah sekacau ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kak. Kakak boleh marah padaku, mau memukul atau menamparku juga boleh. Aku benar-benar minta maaf," ucap Tria yang terdengar begitu bersungguh-sungguh.
"Apa tujuanmu masih menyimpan foto ini? Kamu tahu perempuan ini pernah menyakiti saudaramu dan kamu masih mengabadikan fotonya? Apa yang ada dipikiranmu itu Tria?" ucapku dengan kemarahan yang tak bisa lagi kutahan.
"Maaf, Kak. Aku juga gak tahu kalau foto itu masih ada. Dulu aku sudah membuang semuanya. Aku gak tahu kalau masih ada yang tersisa."
"Terus, apa kamu tahu sekarang Mas Dwi ke mana?" tanyaku lagi. Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Keluarlah! Tunggu Mas Dwi pulang dan minta maaf padanya, bukan padaku!" ujarku seraya merebahkan diri dan membelakangi Tria.
Terdengar ia mulai melangkah menjauh dari ranjangku. Kuperhatikan lagi foto tadi. Gambar kecil itu masih terlihat jelas meski lipatan bekas diremas Mas Dwi tadi sudah meninggalkan jejak. Wanita itu cantik, namun rasanya tidak asing di mataku. Seperti pernah melihatnya, atau bahkan mengenalnya dekat, tapi siapa?
Kepalaku terasa semakin pusing. Aku mencoba menghubungi Mas Dwi, namun ponselnya kini tidak aktif. Aku sama sekali tidak tahu ke mana Mas Dwi akan pergi. Teman dekatnya tidak ada yang tinggal di desa ini, tidak mungkin ia kali ini mengunjungi temannya. Lalu ke mana? Selama beberapa bulan menjadi istrinya, aku sama sekali belum pernah lihat Mas Dwi menghabiskan waktu di luar kecuali bekerja.
'Naura?'
Tiba-tiba nama Naura terlintas di pikiranku. Kulihat lagi foto yang masih kugenggam. Benar, sekilas wanita ini mirip dengan Naura. Bedanya, rambut wanita ini sedikit bergelombang, sedangkan Naura tidak. Apakah ada hubungan antara Naura dengan Layla? Jadi, penyebab Mas Dwi berubah akhir-akhir ini adalah kemiripan antara Naura dengan Layla? Lalu, ke mana perginya Mas Dwi sekarang?
.
.
.
.
Selamat sore pembaca setia Bulan ✨
Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutan kisah Alena ❤️
Mohon maaf sudah membuat teman-teman lama menunggu..
Selamat membaca ✨✨
__ADS_1