![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Aku perempuan, perempuan yang normal, namun terkadang aku merasa tidak normal ketika sedang berkumpul bersama dengan sesama perempuan. Bukan masalah ketertarikan seksual, namun lebih pada kebiasaan. Aku masih berusaha mencari apa manfaat dari menghabiskan waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain.
Ketika seseorang membicarakan orang lain lagi di depanku, bukan berarti aku tidak tertarik. Hanya saja, aku berpikir bagaimana jika aku ada di posisi mereka yang sedang menjadi bahan pembicaraan. Apakah aku akan senang? Belum tentu. Jika yang dibicarakan adalah prestasi tentu aku akan bangga, namun bagaimana jika yang dibicarakan adalah aib?
Kujauhkan diriku sejauh mungkin dari orang-orang yang senang bergosip. Aku hanya tidak ingin diriku menjadi giliran untuk bahan pembicaraan mereka. Yah, walaupun sudah pasti, tanpa aku bergabung pun tetap saja akan ada bahan yang bisa dijadikan omongan, baik dari diriku sendiri maupun keluargaku.
"Bu, untuk makan siang mau dimasakin apa?" tanya Mbak Arum.
"Adanya apa aja, Mbak?" tanyaku.
Kini aku sedang duduk di dapur sembari menghabiskan susu. Mbak Arum membuka kulkas dan memperlihatkan isinya. Semenjak tidak pernah memasak, aku jarang sekali mengecek isi kulkas. Hingga terkadang stok makanan sudah habis tapi aku tidak tahu.
"Gak ada sayuran, ya? Mau ke pasar sekarang?" tanyaku.
"Bisa, Bu. Ibu lagi pengen makan apa?" tanyanya.
"Emm ... saya lagi pengen gado-gado. Tolong beliin ya, Mbak!" pintaku pada Mbak Arum.
"Baik, Bu. Lalu untuk makan siang dan makan malam bagaimana?" tanyanya lagi.
"Apa aja deh, yang kira-kira enak. Oh iya, jangan beli sawi putih, ya! Soalnya Bapak gak suka," ujarku.
"Baik, Bu."
"Ini uangnya, nanti notanya jangan lupa ya, Mbak!" ujarku mengingatkan sekaligus memberikan selembar uang seratus ribuan.
"Baik, Bu. Saya ke pasar dulu," pamitnya seraya melangkah ke luar.
Sedikit aneh, aku yang lebih muda namun aku juga yang dipanggil 'ibu'. Sedangkan ia justru kupanggil 'mbak'. Tapi tak apalah, toh masih sama-sama sopan.
Tak lama kemudian, Tria keluar dari kamarnya dengan handuk yang bertengger di bahu. Aku jarang sekali melihatnya ada di rumah. Ingin sekali aku bisa dekat dengannya, namun sayang ia banyak menghabiskan waktu di luar. Di rumah pun ia mengurungkan diri.
"Tria," panggilku dari dapur.
Ia menengok dan menjawab, "Iya, Kak. Ada apa?"
"Buru-buru kuliah gak?" tanyaku lagi. Kemudian ia menggeleng.
__ADS_1
"Sini ngobrol sebentar!" ajakku. Ia menurut dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan ini.
"Udah sarapan?" tanyaku lagi.
"Belum, Kak. Nanti aja." Ia menjawabku seperlunya.
"Kamu marah, ya?" tanyaku langsung pada intinya. Ia menggeleng lagi.
"Maaf, ya, gara-gara aku, Kak Julia harus diusir untuk kedua kalinya," ucapku tulus. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku terus bicara meski ia tak mau membuka suara. Kini ia menundukkan pandangan dan terdengar sedikit isakan tangis.
"Hei, kok malah nangis? Maaf, ya, maaf banget. Aku pasti bikin kamu kecewa banget. Maaf, ya," ucapku bersungguh-sungguh.
Tria turun dari bangkunya dan hendak bersujud di depanku. Aku pun langsung menahan tubuhnya agar tidak melakukan itu.
"Kamu kenapa, sih? Kenapa malah mau sujud?" tanyaku panik. Aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan sekarang.
"Maafin aku, Kak," ucapnya seraya memelukku erat.
"Maaf untuk apa?"
Ia tak menjawab lagi. Isakan tangisnya terdengar semakin menjadi. Aku pun melakukan apa yang biasanya Mas Dwi lakukan padaku. Kubiarkan ia menangis sampai puas, baru nanti akan aku tanyakan lagi kelanjutannya.
"Kak, maaf," ucapnya lagi.
"Iya, aku maafkan kok. Tapi, kamu minta maaf untuk apa? Apa aku boleh tahu?" tanyaku dengan lembut.
Ia kembali diam, namun kini ia mulai melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursi. Ia mengambil tisu yang ada di meja makan ini dan mengusap air matanya.
"Maaf, ya, Kak. Gara-gara aku, Kakak sampai masuk rumah sakit," ucapnya dengan isakan tangis yang masih tersisa.
"Bukan salahmu kok, memang fisikku aja yang lemah. Lagi pula, pagi itu, kan, yang bertengkar Mas Dwi sama Kak Julia. Apa hubungannya sama kamu?" tanyaku lagi. Aku masih belum bisa mengerti arah pembicaraannya.
"Kalau bukan aku yang bawa Kak Julia ke rumah ini lagi, tentu gak akan ada masalah seperti kemarin," jawabnya. Ah, ternyata ia berpikir sejauh itu.
"Hei, aku mengerti kok. Kalau aku jadi kamu, aku juga gak mungkin tega melihat kakakku sendiri hidup susah. Apalagi kalau hidup kita terlihat lebih enak. Benar, kan?" tanyaku dengan hati-hati. Ia mengangguk.
"Yah, aku udah mencoba membujuk Mama dan Mas Dwi untuk mempertahankan Kak Julia. Sayangnya, gak bisa. Mereka gak kasih toleransi," ujarku lagi.
__ADS_1
"Iya, Mama pasti mendapat kontrol dari Papa. Sedangkan Mas Dwi itu papa kedua. Ya udah, sama aja. Sama-sama gak bisa dibantah," jawab Tria.
"Sebelumnya aku minta maaf, ya, Kak. Aku sempat marah karena aku merasa kesal. Semua membela Kakak, semua memprioritaskan Kakak. Sedangkan Kak Julia dilirik aja nggak," ujar Tria lagi.
Ucapannya membuatku tertunduk. Aku sempat berpikir begitu juga. Bukan aku tidak berterima kasih karena sudah diberikan perhatian, namun aku hanya tidak ingin ada yang tersisihkan karena adanya aku.
"Kamu gak perlu minta maaf, aku juga merasakan yang kamu rasakan. Maaf aku membuat Kak Julia--"
"Kak, Kakak gak salah." Tria memotong ucapanku dan kembali bicara, "Setelah kupikirkan baik-baik, sebenarnya Mama dan Mas Dwi udah mengambil keputusan yang tepat. Kak Julia benar-benar berubah. Perilakunya benar-benar seperti orang yang gak diajarkan sopan santun."
"Kamu yakin setuju dengan keputusan mereka?" tanyaku tak percaya. Bahkan sampai detik ini pun aku merasa keputusan mereka cukup tidak adil.
"Yakin, Kak. Seseorang yang bersalah memang bisa dimaafkan. Tapi ketika udah diberi kesempatan kedua dan dia justru makin memperburuk keadaan, bukannya hal yang wajar kalau dia menerima ganjarannya?" tanya Tria sembari menyampaikan argumennya.
"Iya, kamu benar. Tapi, di balik ganjaran yang memang harus dia dapatkan, apa gak ada rasa kasihan untuk Kak Julia? Dia udah resign dari tempatnya bekerja. Lalu untuk biaya hidupnya dengan Faiz bagaimana?" Aku balik mengajukan argumenku.
"Di usia Kak Julia yang udah kepala tiga, seharusnya dia bisa berpikir langkah yang terbaik untuk dirinya sendiri juga keluarganya. Tapi kenyataannya mana? Dia justru meninggikan egonya sendiri," ujar Tria.
Aku terdiam mendengar jawabannya. Yang Tria ucapkan ada benarnya. Jadi, selama ini aku dibutakan oleh rasa kasihan? Kami diam sejenak. Sepertinya ia juga sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kemudian Tria menyampaikan lagi opininya. Ia merasa sikap buruk yang Kak Julia lakukan, terutama terhadapku adalah karena rasa irinya. Ia iri aku bisa mendapatkan suami dan mertua yang begitu menyayangiku. Ia iri karena banyak yang turut bahagia atas kehamilanku dan mereka semua begitu peduli padaku. Semua yang aku dapatkan tidak pernah ia dapatkan.
Jangankan disayang, bahkan ketika hamil ia justru diusir dari rumah dan tinggal bersama suami serta istri pertama suaminya. Di sana ia juga tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup, istri pertama yang tak senang akan kehadirannya, turut menambah beban pada pikiran dan hatinya. Aku bisa merasakan kepahitan hidupnya walau hanya membayangkannya saja.
"Jadi, Kakak gak perlu merasa bersalah lagi, ya! Kak Julia pantas kok mendapat balasannya yang seperti itu. Jangankan Mas Dwi, aku juga gak mau calon keponakanku disakiti olehnya. Padahal lahir juga belum," ujar Tria mengakhiri pembicaraan kami pagi ini.
"Makasih banyak, ya!" ucapku sembari tersenyum.
"Terima kasih untuk apa?"
"Kamu udah buat pikiranku jadi lebih tenang, aku terus merasa kalau Kak Julia mendapatkan perilaku yang gak adil," jawabku lagi.
"Hmm, Kakak jangan terlalu baik! Nanti Kakak diinjak-injak terus sama orang jahat!" ucapnya seperti sedang memberi peringatan anak kecil.
"Haha, iya! Makasih loh!"
"Jangan banyak-banyak makasihnya, nanti kehabisan stok! Udah ah, aku mau mandi. Nanti telat kuliahnya," ucapnya kemudian beranjak dari bangku dan segera melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku menghela napas lega. Meski aku tidak tahu apa yang bisa Kak Julia lakukan untuk mempertahankan hidup bersama anak lelakinya. Setidaknya aku tidak lagi merasa bersalah. Aku hanya bisa berharap Kak Julia bisa belajar dari kesalahannya, bukan justru menjadikan orang lain sebagai pelampiasan emosinya.