![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
"Apa mungkin dia bakal ganggu Mas Dwi lagi? Bukannya dulu Mas Dwi pernah hampir bunuh perempuan itu?" tanyaku pada Puspa.
Puspa mengangguk setuju. Ia menyandarkan punggungnya di sofa dan menghela napas. "Iya, kacau banget Dwi waktu itu. Ketakutanku bukan masalah Dwi yang bakal berpaling atau apa, tapi aku takut mental Dwi yang terganggu lagi. Jelas itu gak baik untuk kalian, kan?"
"Iya, kamu bener." Teringat kejadian beberapa bulan lalu, benar-benar membuatku ingin mengutuk perempuan itu.
"Jangan khawatir! Orang suruhanku bakal terus ngawasin kok. Gak akan aku kasih ruang untuk perempuan itu lagi."
Kami hening sejenak, lalu Puspa mulai berbicara lagi. "Oh iya, aku mau tanya sesuatu."
Jantungku seketika bergejolak, teringat aku masih menyimpan rahasia dari Puspa. Ia terlihat sedang menimbang sesuatu. Mungkinkah dia sudah mengetahui semuanya? Namun, kenapa ia masih bisa biasa saja denganku? Aku sudah menjadi selingkuhan mantannya, meskipun aku sendiri tidak tahu kalau aku sudah menjadi selingkuhan.
"Tanya… apa?" tanyaku dengan ragu.
"Ah, sebenernya ini masalah pribadiku. Aku sedikit ragu, apa aku udah jadi perempuan yang baik apa nggak," ucapnya sembari mencubit-cubit bantal sofa yang ada di pangkuannya.
Aku masih memandangnya dengan serius tanpa menanyakan apapun. Setiap kata yang terucap dari mulutnya membuat tubuhku semakin menegang.
"Memang salah, ya, kalau aku fokus untuk mengembangkan bisnis? Toh sebagai perempuan, aku sadar diri kalau aku sering banget belanja untuk sesuatu yang gak penting, belum lagi untuk make-up dan juga skincare yang harganya gak murah. Memang salah kalau aku pengen bisa memenuhi semuanya sendiri?"
"Emm… ya nggak salah, sih. Iya, gak salah. Aku pun kalau bukan karena syarat dari mertuaku, mungkin sekarang aku masih bekerja," jawabku. Hatiku sudah sedikit tenang karena bukanlah Robi yang ia bahas saat ini. Namun, aku masih mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan padanya tentang itu.
"Sebenernya, salah satu alasan aku belum pengen menikah karena pacarku meminta untuk aku berhenti kerja ketika kami udah menikah nanti. Dan aku ngerasa kayak… 'huh?' 'why?' gitu, kan. Memang apa masalahnya? Toh bisnis ini aku yang kembangin dari nol," ujarnya dengan emosi yang tersirat di dalamnya.
"Ya, memang bisnis ini punya Papa. Papa yang mendirikan perusahaan. Tapi… aku yang membangun semuanya, aku ngerasa gak ikhlas aja ketika perusahaan ini lagi berada di puncak dan aku harus mundur lalu memasrahkan perusahaan ini ke orang lain. Aku ngerasa itu gak masuk akal."
"Hmm, ya… aku paham. Memang gak bisa dikomunikasikan lagi?"
__ADS_1
Ia menggeleng lemah. "Udah sering kami bahas, tapi dia keras banget. Gak mau ngalah," jawabnya putus asa.
"Ah, gitu ya. Kalau boleh aku tahu, kamu sebenernya nyaman atau nggak jalanin hubungan sama dia?"
"Gimana ya…, aku juga gak tahu. Dibilang nyaman, ya nyaman. Tapi kalau disuruh pilih antara dia atau pekerjaan, ya aku pilih pekerjaanku."
"Jadi kasarannya, kamu masih merasa belum butuh untuk punya pasangan, ya?" tanyaku menyimpulkan.
"Iya, kamu benar," jawabnya yakin tanpa pikir panjang.
"Aku belum tahu harus kasih saran apa. Cuma yang pasti mungkin kalian harus lebih banyak bertemu, banyak mengobrol. Ya, kalian perlu banyak sharing tentang diri kalian yang sebenarnya, bukan hanya masalah pekerjaan. Bahas film favorit misalnya; makanan kesukaan; hobi; phobia, yah apapun itu yang bisa bikin kalian semakin mengenal satu sama lain."
"Hmm, ya…," jawabnya sambil mengangguk.
"Mungkin aku gak pantes bilang begini, karena usia pernikahanku dengan Mas Dwi juga masih terbilang baru. Tapi bagiku, poin utama untuk cari pasangan itu adalah orang yang memang bisa diajak untuk bicara. Karena pernikahan itu sekali seumur hidup, jadi yah… seharusnya yang menjadi pasangan kita itu orang yang bisa jadi teman bicara kita. Bahkan untuk masalah sepele sekalipun. Kalau untuk sekedar mengobrol aja masih cari orang lain, sama temen juga bisa kan? Kenapa harus menikah?"
Ia menatapku dengan seolah tak percaya. Awalnya kukira ia akan menolak pendapatku dengan keras, namun ternyata tidak.
"Eh? Maksudnya?"
"Yah selama ini aku cuma tahu kalau menikah itu harus sepadan, selevel, seiman, dan masih banyak se-se-se lainnya. Tapi aku gak nyangka kalau ada contoh simple yang kayak gitu. Makasih banyak!"
Kemudian ia langsung memelukku dengan erat, respon yang cukup mengejutkan bagiku. Aku pun membalas pelukannya.
"Iya, sama-sama. Aku harap kamu gak salah pilih pasangan, ya! Jangan menikah karena orang lain, tapi menikahlah karena kamu memang bener-bener udah siap!" saranku lagi.
Setelah merasa cukup, kami kembali ke kamar masing-masing. Sebenarnya ia masih ingin berbagi banyak cerita denganku, namun sayangnya ia butuh istirahat karena baru saja melakukan perjalanan jauh. Mungkin besok atau lusa kami bisa berbincang lebih banyak lagi.
__ADS_1
Ketika baru saja masuk ke dalam kamar, aku mendapati Mas Dwi masih duduk di meja kerjanya. Namun kali ini tidak sedang bekerja, melainkan bermain game PC.
"Udah ngobrolnya?" tanya Mas Dwi seraya melepas headphone-nya.
"Udah. Tumben Mas nge-game, biasanya sibuk sama berkas," jawabku seraya berdiri di belakang kursi, memegang kedua bahunya, dan memperhatikan apa yang ada di layar monitornya. Terlihat ada gambar gedung-gedung runtuh dengan banyak orang-orang yang berpencar dengan senapan di tangan mereka.
"Iya, lagi pengen aja. Soalnya aku baru beli komponen yang baru," jawabnya seraya kembali melanjutkan permainan.
"Ah… begitu. Habis berapa?" tanyaku kemudian. Aku sama sekali tidak marah, hanya ingin tahu berapa nominal yang ia keluarkan untuk membeli komponen game tersebut.
"Mmm… gak banyak kok." Ucapannya terdengar ragu-ragu.
"Ya gak banyak itu berapa, Mas?" tanyaku lagi.
"Satu… juta empat ratus. Hehe!" jawabnya disertai dengan tawa.
Mendengar jumlah nominalnya, seketika aku langsung menarik napas panjang. "Sejuta empat ratus untuk game ya, Mas?" tanyaku mengulang ucapannya. Ia pun menjeda pemainannya dan langsung memutar kursinya hingga kami berhadapan.
"Sebentar, jangan marah dulu!" Ia beranjak dari kursi dan mengarahkanku untuk duduk di atas ranjang kami.
"Mas mau ngapain, sih?" tanyaku tak mengerti. Kini ia sedang membuka lemari.
"Sebentar, Sayang!" ucapnya tanpa melihat ke arahku. Kemudian ia kembali dan membawakanku sebuah kotak kecil. "Ini untuk kamu."
"Jadi, ceritanya ini lagi nyogok?"
Mas Dwi nyengir kuda, jawabannya menjadi jelas tanpa ia perlu mengeluarkan kata apapun. Ekspresinya sangat menggemaskan. Bahkan mungkin jika saat ini aku sedang marah, maka marahku akan hilang seketika hanya karena melihat wajahnya. Di luaran sana tentu orang-orang tidak akan menyangka kalau seorang 'Alfarez Dwi' juga masih memiliki sisi kekanak-kanakan seperti ini.
__ADS_1
Kubuka perlahan kotak kecil berwarna cokelat tua itu. Perasaan gemasku pada Mas Dwi seketika berubah, aku masih tidak percaya melihat barang yang ada di dalam kotak ini.
"Mas, kamu serius kasih aku ini?"