![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Agenda pagi yang jarang sekali terlewatkan dan sangat menyebalkan adalah morning sickness*. Ditambah lagi sekarang Mas Dwi selalu bangun lebih pagi daripada aku. Sungguh aku tidak tega, aku yang hamil tapi ia juga turut merasakan susahnya. Jam tidurnya berkurang padahal agendanya selalu padat.
Pagi ini kami berdua sudah bolak-balik ke kamar mandi karena mual yang menyerangku ketika hendak mencuci muka. Mas Dwi begitu khawatir hingga tak bisa membiarkanku bolak-balik sendirian.
"Mas, itu sabunnya tolong buang dong!" pintaku pada Mas Dwi.
Sabun dengan aroma buah kesukaanku kini juga menjadi sasarannya. Dengan mata yang masih mengerjap sesekali karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang, Mas Dwi mengambil sabun dari tempatnya dan membawanya ke luar.
"Udah kubuang, gimana? Masih mual?" tanyanya sembari ikut berjongkok di sebelahku.
"Mendingan, Mas. Nanti beliin sabun yang gak harum, ya!" pintaku sambil berpegangan pada Mas Dwi hendak berdiri.
"Memangnya ada?" tanyanya bingung.
"Ada kayanya," jawabku ragu. Aku juga belum pernah menemukan sabun yang tidak harum.
"Di mana belinya?" tanya Mas Dwi sembari memapahku keluar dari kamar mandi.
"Gak tahu, tapi tolong cariin ya, Mas!" pintaku lagi. Sungguh aku tidak tahan mencium bau wewangian itu.
"Iya, Sayang. Nanti aku cariin," jawab Mas Dwi kemudian.
"Mual lagi?" tanya Kak Julia yang kebetulan baru mau masuk ke dapur.
"Iya, Kak," jawabku.
"Untung dulu pas hamil Faiz, aku gak rewel. Jadi gak nyusahin suamiku," ujar Kak Julia seraya melangkah ke dalam dapur.
Aku sedikit tersinggung. Tersirat ada ketidaksukaan dalam kalimat yang terlontar dari mulut Kak Julia.
Mas Dwi pun menjawabnya, "Tolong ya mulutnya dijaga!"
"Loh, apa yang salah? Kan, aku cuma berbagi pengalamanku dulu," jawabnya santai sembari membuka kulkas.
__ADS_1
"Udah, Mas! Yuk, masuk kamar aja!"
Kami pun masuk lagi ke dalam kamar. Mas Dwi terlihat sedang mengatur napasnya. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, kejadian yang sangat tidak tepat untuk memulai hari. Semoga saja masalah tadi tidak mempengaruhi kinerja Mas Dwi nantinya.
"Secepatnya aku harus survey rumah baru," ucap Mas Dwi tiba-tiba.
"Loh, kenapa, Mas? Bukannya Mas sendiri yang bilang kalau Tria itu tanggung jawab Mas?"
"Aku gak mau kamu setres cuma gara-gara omongan Kak Julia yang gak ada filternya," jawab Mas Dwi kemudian.
"Aku gak apa-apa kok, Mas. Serius deh!" ucapku berusaha meyakinkan.
"Masalahnya sekarang ada calon anak kita yang harus kita jaga, Sayang. Kamu gak bisa egois kaya dulu lagi. Lalu menyimpan semuanya sendirian. Sekarang kamu gak bisa begitu lagi," ujar Mas Dwi dengan nada yang penuh kekhawatiran.
Ia menunduk dengan pandangan lurus ke bawah. Kuusap lembut punggungnya. Mas Dwi yang dulu selalu tenang, kini tidak lagi. Semakin aku mengenalnya, semakin banyak kejutan yang aku terima darinya.
Awalnya pagi ini Mas Dwi memaksaku untuk pulang ke rumah Mama sementara ia bekerja, namun aku menolak. Aku tidak boleh lari dari masalah, aku masih yakin Kak Julia tidak sejahat yang terlihat.
Ketika aku berjalan ke dapur, sudut mataku menangkap dua keranjang pakaian yang menumpuk di dekat pintu belakang. Semenjak ada Kak Julia, lorong sebelah dapur ini tidak pernah rapi, selalu saja ada tumpukan pakaian. Padahal aku sudah memisahkan pakaian kotorku dan Mas Dwi di kamar. Supaya tidak menambah beban Kak Julia.
..
Sore itu, aku sedang menyusun pakaian ganti Mas Dwi di lemari samping kamar mandi. Mas Dwi baru saja pulang kerja dan duduk di ruang tengah sembari melepaskan rasa lelahnya. Tiba-tiba Kak Julia yang juga baru pulang langsung bicara dengan padaku dengan suara yang cukup keras.
"Baju yang ada di keranjang ini tadi ke mana?"
"Rumah ini kecil, gak usah teriak pun semuanya dengar," sahut Mas Dwi dari ruang tengah.
"Aku cuci, masih ada di jemuran, Kak. Belum kuangkat," jawabku pelan.
"Kamu gimana sih? Masa gak bisa bedain baju bersih sama kotor?" tanyanya lagi.
"Loh, memang itu bersih?" Aku balik bertanya. Sungguh aku tidak tahu, kukira memang semuanya pakaian kotor.
__ADS_1
"Yang satu bersih, yang satu kotor. Kamu bod*h atau gimana sih? Bajunya itu harus di cuci pakai tangan, gak bisa pakai mesin! Kalau rusak emang kamu mau tanggung jawab?"
Jleb! Jantungku serasa ditusuk mendengarnya. Kuakui aku memang tidak memeriksa pakaian itu bersih atau kotor. Pakaian bersih ada tempatnya sendiri dan bukan di keranjang itu.
"T--tapi cucian bersih tempatnya di dalem situ," jawabku sembari menunjuk ruangan tempat aku menyusun pakaian Mas Dwi.
"Ada apa sih? Kenapa Alena dibentak-bentak?" tanya Mas Dwi dengan suara yang tak kalah keras dari suara Kak Julia sembari berjalan ke arah kami.
"Istrimu itu bod*h! Masa gak bisa bedain baju kotor sama bersih? Jangan-jangan gak bisa juga bedain baju mahal atau murah?" ujar Kak Julia lagi. Batinku semakin sakit mendengarnya, namun aku tidak bisa melawan.
"Jaga mulutmu ya, Kak! Kalau aku bilang Papa sekarang, Kakak bisa diusir sekarang juga!" ancam Mas Dwi.
"Dasar bayi! Bisanya ngadu," sungut Kak Julia yang kemudian pergi ke arah pintu belakang.
"Mas, udah ya! Jangan diladeni lagi! Aku yang salah kok," ucapku sembari menenangkan Mas Dwi. Aku justru berharap tidak ada pakaian Kak Julia yang rusak.
"Dia gak mikir apa? Kalau bukan karena kamu, dia gak akan diterima di rumah ini lagi," ujar Mas Dwi dengan emosinya yang masih belum mereda.
"Udah ya, Mas! Mas pasti capek, kan, baru pulang kerja? Masuk kamar gih, aku buatin kopi!" bujukku lagi.
"Dia itu bod*h! Kalau memang udah dicuci kenapa taruhnya di sini? Udah jelas di situ tempat baju kotor. Toh dia juga tinggal di sini udah setengah bulan, masa gak paham juga?" Mas Dwi masih lanjut mengomel dengan suara keras. Mustahil jika Kak Julia tidak mendengarnya.
"Mas ... udah--"
"Ckckck!" Suara decakan dari Kak Julia menghentikan ucapanku. "Masih pagi gak usah drama! Kamu udah hampir 30 tahun masih bertingkah seperti bayi. Kukira aku pergi selama 10 tahun bakal ada perubahan, ternyata nggak," ucap Kak Julia sembari berjalan melewati kami berdua dengan membawa keranjang pakaian.
"Memang mulut manusia satu ini gak bisa dijaga!" bentak Mas Dwi seraya mengangkat tangannya hendak menampar Kak Julia.
.
.
.
__ADS_1
*) Morning sickness adalah mual muntah yang terjadi saat hamil. Meski disebut morning sickness, kondisi ini tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi juga pada siang, sore, atau malam hari.