![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Aku berangkat berdua dengan Tria. Kampusku melewati kampusnya, tapi katanya Tria tahu jalan tikus yang bisa ia lewati tanpa perlu memutar balik lewat jalan besar. Sesampainya aku di depan gerbang, terlihat Naura sedang duduk di warung bakso seberang kampus. Ia memanggilku, aku pun menghampirinya.
"Siapa tadi?" tanyanya.
"Ah, adikku," jawabku padanya.
"Tunggu, ya! Kuhabiskan sedikit lagi!" ujarnya.
"Iya-iya."
Aku pun duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian seseorang, anak kelas kami juga, datang dan menyapaku.
"Hai, Alena," sapanya.
"Iya, hai." Aku tak ingat namanya. Hanya saja aku tahu kalau kami satu kelas.
"Pasti kamu lupa, namaku Idham," ujarnya kemudian tersenyum.
"Ah, iya, Idham. Maaf aku lupa."
"Iya, gak apa-apa kok."
Ia terlihat salah tingkah. Aku pun membuang pandangan ke arah lain. Sedikit tidak nyaman, kutebak usianya sama dengan mahasiswa baru lainnya.
"Kamu tahu, aku paling benci anak-anak sok asik seperti Idham tadi," ujar Naura ketika kami sudah pergi dari warung bakso tadi.
"Aku pun, kupikir mereka gak akan berani mengganggu karena dari segi fisik pun aku terlihat jauh lebih tua dari mahasiswa lainnya."
"Anak-anak jaman sekarang memang gak ada yang beres," ujarnya seraya menggelengkan kepala.
Kami pun masuk ke dalam kelas. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya. Tak ada kendala. Sayangnya, ada salah satu dosen yang tampak sangat masa bodoh dengan mahasiswanya. Ia tak peduli mahasiswanya berisik, ia tetap fokus menjelaskan. Padahal aku yakin banyak yang tidak memperhatikan karena suasana kelas yang tidak kondusif.
"Hai, Alena. Pulang sama siapa?" tanya Idham ketika perkuliahan sudah berakhir. Ternyata ia duduk di belakangku dari tadi. Aku sama sekali tidak menyadarinya.
"Sama aku!" sahut Naura dengan nada sinis.
"Ah, kalau pulang sendirian, jangan segan bilang padaku, ya! Aku bawa mobil kok, jadi gak bikin kamu kepanasan." Pernyataannya membuatku semakin geli.
"Mobil ortu aja bangga!" sungut Naura. Aku fokus menyusun buku dalam tas, tak mengindahkan Idham sama sekali.
"Kenapa kamu yang menyahut dari tadi? Aku bicara dengan Alena." Kini Idham menanggapi Naura.
"Aku duluan," ujarku kemudian berdiri dan meninggalkan Idham juga beberapa temannya. Naura pun beranjak dari kursinya dan berjalan di belakangku. Entah bagaimana reaksi Idham dan teman-temannya, aku tidak menengok sama sekali.
Kami berdua berjalan ke parkiran, kukira Naura membawa kendaraan. Ternyata tidak. Ia hanya spontan membalas ucapan Idham karena tahu aku malas meladeni anak itu. Naura mengajakku untuk naik kendaraan umum. Baru saja hendak mengiyakan, ponselku berdering.
__ADS_1
"Halo, Mas," jawabku setelah tombol 'terima' kutekan.
"Selesai kuliah jam berapa? Aku lagi perjalanan pulang," tanya Mas Dwi dari seberang sana.
"Aku baru keluar kelas, Mas. Ini mau pulang."
"Tunggu, ya! Lima menit lagi sampai."
"Jangan ngebut-ngebut, Mas!" ujarku mengingatkan. Terkadang Mas Dwi membawa kendaraan seperti orang sedang balapan.
"Iya. Wait for me, Dear!" ucapnya sebelum telepon di tutup.
"Siapa? Pacarmu, ya?" tanya Naura setelah ponsel kumasukkan ke dalam tas.
"Suamiku," jawabku malu-malu.
"Seriously? Kamu udah menikah?"
Ia begitu terkejut. Apakah wajahku tidak meyakinkan? Tanpa menjawab, aku hanya menunjukkan cincin pernikahan kami di jari manis tangan kananku. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Reaksi yang mirip seperti awal kami berkenalan waktu itu.
"Wajahmu sungguh gak meyakinkan! Aku gak percaya!" ucapnya tak percaya.
"Ya kalau kamu gak percaya, nanti aku kenalkan sama suamiku. Ah iya, atau kamu mau sekalian kuantar pulang? Dari pada harus naik angkutan umum, kan?"
"Aku gak akan menolak," jawabnya yakin. "Apalagi aku harus membuktikan kebenaran akan status pernikahanmu itu."
Kemudian kami duduk di kursi yang tersedia di dekat pintu gerbang. Kursi ini memang sering digunakan orang-orang yang menunggu jemputan. Tak sampai 5 menit, mobil Mas Dwi sudah muncul di depan pintu gerbang.
"Yuk, udah dateng tuh!" ajakku pada Naura.
"Serius mobilnya sebagus itu?" tanyanya lagi.
"Jangan bawel! Udah ayo, mau pulang bareng gak?"
"Iya-iya." Ia pun mengalah. Tak banyak berkomentar lagi. Sedikit menyebalkan, tapi masih bisa dimaklumi.
Mas Dwi menurunkan kaca depan dan menyapaku dengan sebutan "Sayang" seperti biasa. Sebelum masuk ke mobil, aku juga meminta izin Mas Dwi untuk memberikan tumpangan. Meski aku ragu Mas Dwi akan mengizinkan, ternyata ia tak menolak. Mungkin karena aku yang memintanya.
Aku pun duduk di kursi depan, sedangkan Naura di belakang. Mas Dwi menanyakan hal-hal ringan pada Naura, seperti keseharian kami di kampus, alasannya bisa menunda kuliah dan masih banyak lagi. Mas Dwi yang ramah dan Naura yang juga mudah akrab, mendengar mereka berbincang tampak seperti orang yang sudah lama saling mengenal.
Rumah Naura tak terlalu jauh meski tidak searah dengan rumah kami. Untung saja Mas Dwi tidak keberatan untuk mengantarkannya. Naura menawarkan kami untuk mampir, tapi kami menolak. Mas Dwi butuh istirahat karena nanti malam harus bekerja lagi. Aku juga sudah ada janji dengan anak-anak SD tadi pagi.
"Temanmu itu mudah berbaur, ya," ujar Mas Dwi.
"Yah, begitulah, Mas. Kalau gak ada dia mungkin aku gak punya teman," jawabku.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu punya teman, setidaknya kamu gak sendirian."
Begitu kami sampai di rumah, ketiga anak kecil itu sudah berdiri di depan pagar. Melihatku turun dari mobil untuk membuka gerbang, mereka teriak kegirangan. Menggemaskan sekali. Terutama Erika, ia mengenakan pakaian berwarna kuning cerah dengan rambut yang diikat 2. Ingin aku gendong sekarang juga.
"Kalian duduk di sini dulu, ya! Tante mau ganti baju," ujarku ketika mereka semua sudah duduk di sofa. Mas Dwi juga masuk ke kamar bersama denganku.
"Mereka ngapain ke sini?" tanya Mas Dwi sembari meletakkan tasnya di atas meja.
"Mau main, Rino yang ajak. Gak apa-apa, kan?" tanyaku.
"Asal gak bikin rumah berantakan gak masalah, kasian istriku yang capek beresinnya nanti," jawabnya dengan nada menggoda.
"Kan ada Mas yang bantu, jadi gak akan capek," jawabku sembari melepaskan dasi dari kemeja Mas Dwi.
"Hmm, udah pinter jawab ya sekarang," ucapnya sembari memainkan rambutku.
Jas dan dasinya sudah terlepas. Aku pun melepaskan sepatu dan meletakkan pada tempatnya. Sebelum berganti pakaian, Mas Dwi menarikku dan membuat kami kini saling berhadapan.
"Mas ngagetin ih!" seruku.
"Kamu kenapa cantik banget sih? Aku gak ikhlas kecantikanmu ini malah orang lain dulu yang melihatnya dan aku baru bisa lihat sekarang," ucapnya dengan nada manja.
"Bukannya Mas bisa melihatku setiap hari?"
"Jangan dandan terlalu cantik, nanti banyak yang naksir!"
"Siapa yang mau sama tante-tante?" tanyaku lagi.
"Jaman sekarang janda lebih menggoda, Sayang," ujarnya sembari meraba pinggangku.
"Apa aku akan jadi janda?"
"Tak akan kubiarkan," ucapnya kemudian mengecup bibirku. Aku menikmatinya sesaat, lalu melepaskannya.
"Ada anak-anak yang menunggu di depan," jawabku sembari mengusap pipi kiri Mas Dwi.
"Usir aja gimana? Aku kangen," ucapnya tak ikhlas kemesraan ini berlangsung begitu singkat.
"Jangan gitu ih, lanjut nanti malam ya!" jawabku sembari mengajukan opsi.
"Gak bisa, jangan lama-lama mereka mainnya! Bilang aja kamu sibuk," ujarnya seperti bocah yang merengek minta mainan baru.
"Iya, Masku Sayang. Sekarang lepaskan pelukanmu dulu, aku harus ganti baju dan menemani anak-anak itu bermain."
"Baiklah."
__ADS_1
Ia melepaskan pelukannya lalu mengecup bibirku lagi sekilas. Meski kutahu ia begitu keberatan, namun juga tidak mungkin menelantarkan anak-anak itu hanya untuk hasratnya sendiri. Kuganti pakaianku dan segera menemui ketiga anak tadi. Tak lupa lego yang mereka tunggu juga kubawa.
Mas Dwi ikut menghampiri kami dan meladeni anak-anak ini bermain. Lalu mereka kutinggal ke dapur untuk membuat puding. Sengaja kutinggalkan Mas Dwi menemani anak-anak itu karena aku senang melihat sisi kebapakannya. Ia terlihat semakin tampan.