![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
"Hahh ... hahh ... haahh ...."
Kami berdua sama-sama berbaring dengan napas yang terengah-engah. Rasanya aku kembali ke masa kecil, di mana Papa masih sering mengajakku bermain dan juga saling menggelitik seperti yang aku dan Mas Dwi lakukan tadi. Kemudian kami berdua saling tatap, dia tersenyum padaku, aku pun membalasnya.
"Ternyata rasanya sudah menikah seperti ini ya," ujar Mas Dwi seraya mengusap pipiku. "Aku senang bisa melihatmu tertawa lepas seperti tadi."
"Aku cuma mau bilang terima kasih Mas untuk semuanya," ujarku seraya tersenyum. Rasanya kini air mataku mulai memberontak untuk segera keluar.
"Sstttt ... jangan menangis!" Mas Dwi dengan lembut mengusap ujung mataku yang mulai basah. "Sudah tugasku untuk bisa membahagiakanmu, Sayang," ucapnya kemudian mengecup keningku lagi.
"Ah, aku sudah masak. Emm ... lebih tepatnya cuma aku panaskan sih. Yuk, makan!"
"Mas, itu tugasku, kenapa Mas gak membangunkan aku saja?"
"Hei, it's ok. Aku tahu kamu capek."
Kami pun beranjak ke ruang makan. Di atas meja sudah tersedia masakan daging dan beberapa lauk lain.
"Ini bukannya menu di acara kemarin, Mas?" tanyaku heran.
"Hehe, iya. Soalnya masih ada sisa, dari pada dibuang, kan? Kamu keberatan, ya? Kalau iya, aku pesankan makanan baru," ujarnya sembari menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
"Eh, gak kok, Mas. Gak apa-apa. Kalau memang ada sisa ya apa salahnya dimanfaatkan, toh masih layak," jawabku. "Aku gak keberatan kok, aku kira Mas bukan orang yang seperti itu."
"Seperti itu gimana?"
"Ya gengsi misalnya, kan tetap saja namanya makanan sisa."
"Meskipun sisa, toh kita gak mengambil sisa makanan bekas orang lain. Ini juga masih jadi stok untuk isi ulang kok kemarin, jadi belum tersentuh tamu."
"Ah, iya sih."
"Ya sudah yuk, makan!"
Kemudian kami berdua duduk dan makan dengan tenang, sepertinya sama-sama kelaparan. Memang sejak semalam kami hanya makan cemilan saja.
"Kira-kira Tria bakal pergi berapa hari ya, Mas?" tanyaku setelah suapan terakhir berhasil kutelan.
"Gak tahu, dia betah kalau suruh ikut Mama Papa. Apalagi sekarang dia libur, ya sudah jadi kesempatan emas," jawabnya kemudian meneguk air mineral dari gelasnya. "Oh, iya. Ada yang mau kuberi tahu padamu."
"Apa itu?"
"Sebentar!" pintanya lalu ia masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, Mas Dwi kembali dengan membawa handphone di tangannya dan duduk di sebelahku.
"Ah, si Puspa, katanya dia mau datang ke rumah," ujar Mas Dwi. Aku pun terbelalak kaget.
"Mau apa? Apa dia tahu tentang aku?" tanyaku panik.
"Ssttt ... jangan panik dulu! Semua bakal baik-baik aja. Dia cuma mau berkunjung kok, soalnya minggu depan harus balik ke Singapura lagi," jelas Mas Dwi seraya mengusap punggungku.
"Kalau dia tahu, aku harus bagaimana?" tanyaku lesu.
"Ya jawab saja bagaimana kenyataannya. Semua ini bukan murni kesalahanmu."
Ting Tung! Bel rumah berbunyi.
"Apa itu Puspa?" tanyaku.
"Sebentar aku cek dulu," jawab Mas Dwi kemudian ia beranjak dan membuka pintu. Sementara aku masih duduk di ruang makan.
__ADS_1
Aku mengintip dari balik tirai, tidak terlihat siapa tamunya karena tertutup tubuh Mas Dwi.
"Hahaha! Dasar pengantin baru! Apa kalian bermain sampai pagi? Sampai-sampai jam segini pun kalian belum mandi?" Terdengar samar suara wanita dari sana. Aku pun beranjak dan menghampiri mereka.
"Hai Alena!" Dia menyapaku lebih dulu. Aku membalasnya dengan senyum yang sedikit kaku.
"Eh, hai Kak Puspa," balasku sedikit kikuk.
"Panggil Puspa saja cukup, jangan panggil 'kak'. Aku tidak ingin terlihat tua," ujarnya kemudian tertawa dan melangkah masuk.
"Ah, aku sampai lupa menawarimu untuk masuk," ujar Mas Dwi seraya menutup pintu.
"Mau minum apa? Biar aku ambilkan," tawarku.
"Biar aku saja. Kalian ngobrol saja dulu," ujar Mas Dwi yang kemudian langsung menuju dapur.
Aku sedikit mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin aku ditinggalkan berdua seperti ini? Padahal jelas Mas Dwi tahu kalau aku masih takut berhadapan langsung dengan Puspa.
"Silakan duduk, Kak," ujarku mempersilakan.
"Iya, terima kasih." Suaranya lembut sekali, sesuai dengan parasnya. Kami pun duduk berdua di ruang tamu itu.
"Bagaimana rasanya tinggal bersama Dwi? Apa sudah menemukan sifat aslinya?" tanya Puspa ketika kami baru saja duduk.
"Umm ... sifat asli yang bagaimana ya?"
"Ah, dulu aku pernah dikerjainya sampai menangis," ujar Puspa dengan ekspresi yang tampak berpikir.
"Kapan itu?"
"Waktu SMA, kami satu sekolah. Dia pernah menaruh cicak mainan di dalam kotak pensilku padahal dia sangat tahu kalau aku begitu geli pada cicak. Memang anak yang nakal."
"Tapi tenang saja, dia bukan anak yang kurang aj*r kok. Dia sangat baik dan penyayang. Di balik sifat jahilnya, dia sebenarnya hanya ingin akrab dengan teman-teman. Dan tentu saja dia akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya nanti," ujar Puspa lagi.
Aku senang mendengarnya. Sejauh ini tidak ada hal buruk yang perlu aku takutkan dari sifat dan perilaku Mas Dwi.
"Kalian ngomongin aku, ya?" tanya Mas Dwi yang kini sudah berdiri di antara kami. Ia meletakkan tiga gelas minuman dingin dan makanan ringan di atas meja kemudian duduk di sebelahku.
"PD sekali!" hardik Puspa. "Aku hanya bertanya apakah istrimu ini sudah melihat sisi jahilmu," ujarnya lagi.
"Aku jahil?" tanyanya pada Puspa. "Aku gak begitu kan, Sayang?" Kini ia bertanya dan melihat ke arahku.
"Hah? Gak jahil apanya?" tanyaku mengelak, ia pun tertawa.
Kemudian kami mengobrol hal-hal ringan terkait kehidupan Puspa di luar negeri. Dia juga sharing jurusan apa yang sebaiknya aku ambil nanti. Lalu kami masuk ke sesi pembicaraan yang menurutku itu penting.
"Jadi, sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu pada kalian," ujar Puspa memulai pembicaraan penting tersebut.
"Aku ingin mengakhiri pertunanganku dengan Robi."
Deg! Jantungku seperti tertusuk, apa mungkin dia sudah mengetahui semuanya?
"Maaf, Alena. Mungkin kamu gak mengenal siapa laki-laki yang aku sebut ini. Akan kuberitahu sedikit, Robi adalah tunanganku, tapi aku sama sekali gak mencintainya. Aku bertunangan dengannya hanya karena perjodohan orang tua kami berdua."
"Ah iya, aku mengerti," jawabku seolah aku benar-benar tidak tahu. Tanganku menggigil, aku takut semuanya suatu saat akan terbongkar.
"Aku menemukan pria yang menurutku lebih baik di luar negeri. Awalnya aku gak mau melibatkan perasaan padanya karena kami hanya rekan kerja. Tapi lama kelamaan dia bisa mencuri hatiku, dia jauh lebih mapan jika dibandingkan dengan Robi. Keluarga dia juga termasuk kalangan konglomerat, aku rasa keluargaku gak akan keberatan jika membatalkan perjodohanku dengan Robi demi memilih pria ini," jelas Puspa.
"Memang kamu sama sekali gak mencintai Robi?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ya," jawabnya yakin. "Aku sering mencoba untuk menerima Robi, tapi gak bisa. Di samping itu juga, aku sering dapat laporan kalau pacar Robi ada di mana-mana. Itu membuatku muak." Terlihat ekspresi Puspa begitu kesal ketika menjawab ini. Aku dan Mas Dwi pun saling pandang.
"Kalau kamu punya bukti, bicarakan saja dengan orang tuamu. Selain itu, apa kamu sudah benar-benar mengenal pria yang kamu sebut tadi?" tanya Mas Dwi.
"Aku sudah mengenalnya kurang lebih satu tahun. Orang-orang suruhanku juga belum menemukan sesuatu yang mengganjal, semoga saja dia memang orang baik."
Aku hanya diam, belum berani untuk turut angkat bicara karena aku belum mengenal keluarga mereka. Setidaknya aku senang kalau Puspa benar akan membatalkan pertunangannya bukan karena aku. Bukan semata-mata karena dendamku pada Robi, tapi juga aku berharap wanita sebaik Puspa bisa mendapatkan pasangan yang baik pula.
"Jadi, kamu mendukungku untuk membatalkan pertunangan ini, kan?" tanya Puspa pada Mas Dwi.
"Jika memang itu yang terbaik untukmu, maka aku akan mendukungmu," jawab Mas Dwi mantap. Terasa disana kalau mereka begitu dekat meski bukan saudara kandung.
"Kamu memang saudaraku yang terbaik, kalau gak ada kamu mungkin aku sudah berakhir menjadi anak-anak yang mentalnya rusak dan menjadi sampah masyarakat," ujar Puspa seraya tersenyum.
Ucapannya tadi membuatku semakin penasaran dengan keluarga besar mereka. Apa semua ini lekat dengan perilaku orang tua yang terlalu mengekang anak-anak dan membuat anak-anak menjadi semakin menggila bahkan liar? Aku harus menanyakannya nanti.
..
Malamnya, ketika aku dan Mas Dwi baru saja kembali ke kamar setelah makan malam, Puspa kembali memberi kabar pada Mas Dwi.
Puspa : Terima kasih ya kamu sudah meyakinkan untuk membicarakan semua ini pada orang tuaku. Papa gak keberatan aku membatalkan semuanya. Yah, alasannya sih karena keluarga Fredy lebih menguntungkan dari pada keluarga Robi. Hmm ... sedih sekali semua hanya dinilai dari besarnya nominal uang.
"Maafkan keluarga besarku, ya. Kebanyakan keluarga Papa hanya memandang orang dari hartanya saja. Untung papaku gak terlalu," ujar Mas Dwi setelah aku selesai membaca pesan dari Puspa.
"Apa mimpi-mimpi Puspa juga diatur orang tuanya? Soalnya tadi siang dia bilang kalau gak ada Mas, dia bakal jadi sampah masyarakat," tanyaku.
"Hmm ... lebih tepatnya dia terlalu dipaksa untuk terus belajar dan meneruskan usaha keluarga karena dia anak tunggal. Dia pernah hampir menyerah dan kabur dari rumah karena gak ada waktu bahkan untuk sekedar menonton TV atau bermain dengan teman seusianya."
"Sampai begitu?" tanyaku kaget. Mas Dwi mengangguk menjawab pertanyaanku. "Jadi, bagaimana Mas bisa membuatnya bangkit lagi?"
"Lulus SMP, aku membujuk orang tuaku untuk boleh lanjut SMA di sekolah yang sama dengan Puspa. Kebetulan peringkat kami juga seimbang sehingga kami bisa satu kelas. Kebetulan sekolah kami mengurutkan kelas berdasarkan urutan peringkat umum."
"Ohh ya-ya-ya, lalu bagaimana?"
"Ya dengan alasan belajar bersama, aku sering mengajaknya untuk keluar. Meski hanya sekedar beli es krim atau pergi ke pasar malam, itu sudah membuat Puspa terlihat senang keluar dari kekangan yang selama ini mengikatnya. Itulah alasan mengapa sampai sekarang dia begitu dekat denganku, karena dia merasa hanya aku yang bisa membantunya terlepas dari masalahnya dulu."
Ting! Satu pesan dari Puspa kembali kami terima.
Puspa : Aku senang sekali! Pokoknya terima kasih banyak untuk kalian berdua! Kini aku bisa tenang dan bebas memilih dambaan hatiku. Semoga segera menyusul mengikat cinta seperti kalian. Ah, malam semakin larut. Jangan lupa buatkan aku keponakan yang terlucu! Aku akan memberikan mainan apapun yang dia inginkan nanti. Aku tunggu kabar dua garis merahnya, oke! ;D
Blush! Pipiku kembali menghangat membaca pesan itu. Tanpa sengaja aku dan Mas Dwi kompak saling pandang. Mas Dwi pun tersenyum lembut padaku.
"Apa kamu mau mencoba melakukan 'itu' malam ini, sayang?" tanyanya lembut.
Glek! Kutelan saliva seketika dan mengerjap beberapa kali.
"Bo--boleh," jawabku takut.
"Benarkah? Aku gak akan memaksa loh. Kita harus melakukan karena memang sama-sama mau, jangan sebelah pihak!" ucap Mas Dwi meyakinkan.
"Iya Mas, aku mau kok. Tapi ... pelan-pelan, ya?" pintaku dengan hati-hati.
"Tentu saja," ujarnya seraya tersenyum dan meletakkan handphonenya di atas nakas. Kemudian ia kembali menghadap ke arahku. "Jadi, kita mau mulai dari mana?"
..
..
~ SEASON 1 SELESAI ~
__ADS_1