![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Sejak tinggal sendiri, aku merasa sedikit lebih baik. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa sakit dikhianati oleh Mama tidak semudah itu untuk bisa dihilangkan. Mengetahui aku keluar dari rumah, Robi terus menghubungiku setiap hari untuk mencari tahu di mana keberadaanku. Kebalikan dari Mama, tak ada satupun pesan masuk darinya. Aku memang tidak berharap, tapi aku merasa aku tidak menemukan sosok 'mama' lagi dalam dirinya.
Mas Dwi, dia tak tahu sama sekali kalau aku pergi dari rumah. Minggu lalu kami batal keluar, setiap ada rencana pergi juga dengan berbagai alasan kubuat agar ia tidak menjemput atau mengantarku pulang. Jadi, hingga saat ini dia tidak mengetahui apapun.
Genap dua minggu aku tinggal sendiri. Tidak ada masalah yang berarti, sampai akhirnya aku merasakan sebuah keganjilan. Mereka yang lewat di depan ruanganku, tak sedikit yang melirik ke dalam. Entah apa dan siapa yang mereka lihat, aku juga tidak tahu. Rasanya tidak ada yang berubah sama sekali.
Kebetulan Atika sudah tiga hari tidak masuk kerja, katanya tubuhnya drop, kandungannya melemah karena terlalu banyak bekerja. Sehingga ia izin untuk bekerja dari rumah. Hanya Atika rekan kerja terdekatku, bisa saja aku bertanya dengan yang lain, tapi akhir-akhir ini orang-orang terasa menjauhiku. Jangankan bertanya, untuk menyapa saja rasanya ganjil.
Mas Dwi : Len, bisa ke kafe sebentar sepulang kerja?
Alena : Iya, bisa Mas.
Mas Dwi : Tunggu aku di parkiran ya!
Alena : Oke.
Tumben sekali Mas Dwi menghubungiku lewat chat, biasanya langsung menghampiri sebelum dia keluar kantor.
Akhirnya, kami datang ke kafe tempat biasa kami bertemu. Anehnya, atmosfernya kini terasa sangat mencekam meskipun ada musik pop yang mengalun lembut. Ekspresi Mas Dwi juga tampak gelisah, apa dia sedang ada masalah?
"Lena," ucapnya membuka pembicaraan setelah beberapa menit kami saling diam.
"Iya, Mas?"
"Selama beberapa hari ini, kamu kemana saja?" tanya Mas Dwi pelan dan tampak sangat berhati-hati.
"Kemana? Gak kemana-mana. Hanya bekerja lalu pulang dan istirahat. Memang ada apa?" Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Mas Dwi bertanya begini.
"Apa kamu sudah punya pacar baru?" Suara Mas Dwi terdengar sedikit bergetar. Pertanyaan itu juga membuatku sangat terkejut.
"Pacar? Maksud Mas apa?"
"Tolong jangan ada yang ditutupi, Len! Kamu sudah tahu aku menginginkanmu, meski kita belum terikat bukan berarti kamu bisa dengan yang lain seenaknya," ujar Mas Dwi dan membuat keningku mengerenyit.
"Mas, aku sama sekali gak paham apa yang Mas katakan. Aku gak punya pacar."
"Aku tahu kamu orangnya cuek, tapi apa kamu gak tahu kalau akibat perbuatanmu itu membuat seisi kantor was-was dan penasaran?"
__ADS_1
"Was-was? Penasaran? Maksud mas apa sih? Coba tolong langsung ke poinnya, aku gak mengerti apa yang Mas bicarakan." Perasaanku semakin tidak enak. Kesalahan apalagi yang sudah aku perbuat?
Mas Dwi menghela nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Meminum sedikit kopinya lalu fokus lagi menatapku.
"Dengan siapa kamu pergi setiap malam?" tanyanya tegas.
"Pergi? Aku bahkan akhir-akhir ini selalu tidur lebih awal," jawabku jujur. Aku memang tidur lebih cepat karena pikiranku menguras energi akhir-akhir ini.
"Jangan mencoba berbohong, Lena!"
"Mas, untuk apa aku berbohong? Aku memang tidur dan gak pergi kemana pun."
"Lalu siapa laki-laki yang kamu temui setiap malam di komplek kos-kosan di perumahan barat?"
Deg! Itu ... itukan komplek kosanku.
"Siapa yang bilang begitu, Mas?"
"Jawab pertanyaanku, Lena! Sekarang siapa yang menyebarkan semua ini bukan hal yang penting, yang penting sekarang kamu berani jujur atau gak sama aku." Nada bicara mas Dwi sudah terlihat kalau ia sedang menahan emosi.
"Jangan lagi ada kebohongan!" ancamnya.
"Iya, Mas." Aku bicara selembut mungkin.
"Jadi, sebenarnya sekarang aku tinggal disana," ujarku memulai bercerita.
"Kamu tinggal bersama dengan laki-laki yang belum menjadi suamimu?" tanya Mas Dwi bahkan sebelum mulutku mengatup.
"Mas, tolong dengarkan dulu penjelasanku! Aku akan meluruskan semuanya."
"Iya, silakan," ujar Mas Dwi yang tentu saja sudah tersulut emosi.
"Aku pergi dari rumah, dua minggu yang lalu. Aku ada masalah dengan Mama yang membuatku gak bisa memaafkan Mama lagi. Yah, setidaknya dalam waktu dekat." Aku menceritakan semua dari awal.
"Sekarang, aku tinggal di kost-kostan perumahan barat. Memang kost itu bukan khusus perempuan, jadi ada juga laki-laki yang tinggal di sana. Kamar lantai atas khusus perempuan, sedangkan di bawah bisa untuk laki-laki juga pasutri." Terlihat Mas Dwi menyimak dengan baik cerita yang aku ucapkan.
"Aku bisa meluruskan, Mas bisa cek kost-kostanku kalau gak percaya. Aku gak pernah membawa laki-laki siapapun itu ke kamarku."
__ADS_1
"Kenapa kamu gak menceritakan ini padaku dari awal, Lena? Apa kamu masih belum bisa mempercayaiku?" tanya Mas Dwi.
"Aku minta maaf, Mas. Masalahku sangat memalukan sehingga aku gak bisa membaginya kepada siapapun," ujarku.
"Bahkan padaku yang akan menjadi calon suamimu?" Mendengar itu, aku merasa sakit.
"Mas, bukan aku gak percaya padamu, tapi aku terlalu malu untuk menceritakan ini semua." Aku menunduk, sungguh aib keluarga yang sangat memalukan.
"Lena, aku mengajakmu ke sini bukan untuk menghakimimu. Aku hanya ingin meluruskan. Maaf kalau caraku salah," ujar Mas Dwi seraya mengusap bahuku.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi! Aku gak percaya dengan semua gosip yang beredar di kantor. Maka dari itu, aku ingin kamu jujur. Aku gak akan membeberkan aib keluargamu. Percayalah!"
"Tapi, Mas. Apa gak cukup kalau mas hanya tahu aku ingin tinggal sendirian? Entah apapun itu yang terjadi di dalam keluargaku." Aku masih berusaha untuk menutupi aib Mama. Mas Dwi menarik nafasnya, pandangannya mengedar ke luar jendela. Kemudian ia kembali menatapku.
"Entah apa yang sekarang sedang kamu alami dan kamu rasakan. Aku gak memaksamu untuk menceritakan semuanya saat ini, tapi aku harap kamu bisa mempercayai aku," ucapnya seraya mengusap bahuku lagi dan tersenyum.
"Terima kasih Mas selalu menghargai keputusanku. Aku percaya padamu, hanya saja aku belum siap."
Mas Dwi mengusap rambutku lembut, kurasakan kasih sayang yang besar darinya. Aku berharap ini bukan hanya sementara.
"Maaf ya. Maaf aku sempat mencurigaimu. Seharusnya aku gak mempercayai omongan mereka," ujar mas Dwi lembut.
"Gak papa, Mas. Lagi pula aku terlalu tertutup di kantor, mungkin sulit bagi mereka untuk bisa mempercayai aku. Lalu, siapa yang menyebarkan berita bohong ini, Mas?" tanyaku. Mas Dwi melepaskan pegangannya dari bahuku dan bertumpu di meja.
"Aku juga kurang tahu, tiba-tiba semua menyebar begitu saja. Bahkan sampai bagian produksi juga mengetahui itu." Pernyataan Mas Dwi membuatku terkejut. Bagian produksi berbeda gedung dengan kami, tapi mereka sampai tahu juga. Dahsyat sekali mulut-mulut manusia ini.
"Padahal aku pergi untuk menghindar dari masalah, kenapa harus ada masalah baru?" tanyaku sedih. Mengapa tahun ini sial sekali untukku?
"Lena, jangan terlalu di pikirkan ya! Semua akan baik-baik saja," ujarnya dan kemudian menggenggam tanganku. Setidaknya aku merasa sedikit tenang.
"Iya Mas, terimakasih," ucapku kemudian tersenyum. "Lalu, apa kita perlu cari tahu siapa dalangnya?"
"Menurutku untuk sekarang, ada baiknya kita bungkam dulu. Aku akan membantumu untuk menutup gosip ini."
"Caranya?"
"Kita lihat saja nanti," ujar Mas Dwi kemudian tersenyum dan mengusap punggung tanganku. Tatapan matanya lembut bertemu dengan mataku. Ah, kalau tahu sangat menenangkan seperti ini, seharusnya aku menemuinya sejak minggu kemarin.
__ADS_1