![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
POV Alena
Istri kedua? Anak yang lain? Sungguh sulit untuk bisa dipercaya. Hanya aku saja yang tidak tahu atau memang Papa pandai menyembunyikannya? Bahkan jika aku tidak berlibur kemari, sepertinya hal ini tinggallah cerita bagi mereka yang mengetahuinya.
Aku kembali ke kamar dengan pikiran yang bercabang banyak. Setelah melihat Mas Dwi yang tertidur begitu pulas, aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri sampai akhirnya nanti kami kembali ke rumah. Aku tidak ingin merusak waktu liburan Mas Dwi dan kedua saudarinya.
Sebelum berbaring dan beristirahat, aku lebih dulu mengganti pakaian dan membasuh wajah. Seandainya bisa, ingin rasanya tidur dan terbangun saat sudah pulang agar aku tidak terlalu lama menyimpan rasa penasaran ini. Papa yang selama ini kuanggap baik, ternyata menyimpan rahasia besar. Sangat amat sulit dipercaya.
***
Malam harinya sebelum tidur, aku bersama dengan Mas Dwi duduk di teras yang kebetulan bersebelahan dengan kamar kami, dengan hamparan laut yang tenang sebagai pemandangannya. Mas Dwi menyadari kalau perasaanku sedang tidak baik dan ia pun mempertanyakan hal itu.
“Masih mikirin omongan Bu Hepi tadi, ya?”
Aku mengangguk pelan, lalu menatapnya. “Sedikit, tapi bukan apa-apa kok, Mas. Mungkin bener kalo Bu Hepi cuma salah ingat.”
“Tapi kamu memang pernah liburan sama keluargamu ke sini?” tanyanya lagi.
“Iya, tapi aku lupa nginepnya di villa yang mana. Soalnya udah lama banget.”
“Ya udah, mungkin memang Bu Hepi salah ingat. Kita ke sini tujuannya untuk senang-senang, jadi kamu jangan mikirin hal-hal yang gak penting, ya!” ucapnya seraya memberikan senyum dan mengusap puncak kepalaku.
“Oh iya, Mas. Kayaknya tadi aku liat Tria pergi sama Bli Agung, ya? Mau ke mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Mungkin jalan-jalan,” jawab Mas Dwi santai. Tangannya yang tak bisa diam, memainkan ujung rambutku.
“Bukannya mereka lagi gak akur, ya?” tanyaku lagi.
“Biasa. Kan aku udah bilang kalau si Tria itu labil. Eh, sebentar! Kamu ubanan?” tanyanya seraya mendekatkan wajah.
“Ini malem, Mas. Mungkin kamu salah liat,” ujarku tak percaya.
“Beneran ini. Bentar deh aku cabut.”
Aku hanya mengangguk dan tidak menjawab lagi, biarkan dia membuktikan sendiri. Tapi ternyata sebuah kecupan justru mendarat di keningku.
“Ih, nakal banget! Kalau ada orang gimana coba?” Entah bagaimana dengan pasangan lain, tetapi jika menerima perlakuan manis yang tiba-tiba, aku masih saja merasa salah tingkah.
Bukan Mas Dwi jika tidak jahil. Ia justru menarik tubuhku yang entah bagaimana caranya tiba-tiba aku sudah berada di pangkuannya.
__ADS_1
“Mas, jangan macam-macam deh! Malu kalau dilihat orang,” omelku sembari meletakkan kedua tangan di bahunya untuk menahan tubuh agar tidak terlalu rapat.
“Nakal gimana sih? Orang cuma pengen main sama anak kita kok, kamu kepedean banget!” ledeknya seraya tertawa. Kemudian ia mengusap perutku dan bertanya, “Udah makin gede, ya. Sakit, gak?”
“Sakit sih enggak, cuma kadang agak engap aja.”
Bisa kurasakan usapan tangannya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Aku sangat berharap anak kami bisa mendapatkan kasih sayang yang layak dari ayahnya. Sejujurnya, aku tidak meragukan Mas Dwi sama sekali. Justru diriku sendiri yang kukhawatirkan.
“Mulai dingin nih. Masuk aja, yuk!” ajak Mas Dwi. Aku mengangguk, lalu ia menurunkanku dari pangkuannya dan kami masuk ke dalam kamar.
***
POV Author
Di lain tempat, Tria dan Agung sedang duduk di sebuah kedai di tepi pantai. Sesaat keduanya saling diam, namun kemudian Agung memulai percakapan.
“Gimana kuliahmu?”
“Lancar,” jawab Tria singkat.
“Syukurlah. Udah hampir selesai kan, ya?” tanya Agung lagi.
“Pengen ngobrol aja. Soalnya kalau di rumah berasa canggung ada Mas Dwi.”
Meski matahari sudah sepenuhnya terbenam, di sana masih ramai pengunjung. Pancaran sinar lampu yang tidak terlalu menyilaukan di sepanjang jalan membuat suasana terasa lebih tenang. Angin yang berhembus juga cukup dingin, beruntung mereka berdua sudah menggunakan jaket.
“Sekarang udah punya pacar?” Tria bertanya tanpa basa-basi.
Agung tertawa pelan, lalu menghela napas. “Pengennya punya, tapi di umur segini seharusnya bukan pacar lagi, kan?”
Tria menoleh dan berusaha untuk memahami ucapan Agung. Muncul sedikit rasa percaya dirinya, namun segera ditepis mengingat ia sudah tidak lagi mengharapkan laki-laki itu. Ia masih canggung bukan karena perasaan yang tak terbalas, melainkan malu karena terlalu mudah menyatakan perasaan di masa lalu.
Agung bertanya kembali, “Kamu sendiri, udah punya pacar?”
Kali ini Tria yang tertawa, pengalaman memalukan itu entah mengapa ingin sekali ia ceritakan.
“Kok malah ketawa sih? Nyindir saya, ya?”
“Enggak. Aku ngetawain diri sendiri kok,” jawab Tria. “Aku belum punya pacar lagi, semenjak putus dari dia yang—” ucapannya terhenti karena tak kuasa menahan tawa. “Maaf-maaf!”
__ADS_1
Agung mengerutkan keningnya, lalu mengangguk. “Iya, gak apa-apa. Kayaknya ada sesuatu yang lucu banget sampai kamu gak bisa nahan ketawa dari tadi.”
“Mantanku itu… belok,” jawab Tria setelah tawanya mereda.
“Belok? Suka sama laki-laki maksudnya?” tanya Agung memperjelas.
Tria mengangguk sembari menahan tawa. "Aku malu karena kebodohanku sendiri kok. Dia gak sepenuhnya salah. Karena mau gimana lagi? Itu hak dia, kan?”
“Iya, kamu benar. Mereka punya hak untuk itu. Tapi, kok bisa sih kecolongan? Memang kalian kenalannya cuma sebentar?”
Dari sini, obrolan mereka menjadi lebih santai layaknya teman. Tria menceritakan apa yang bisa ia ceritakan tentang masa lalunya itu. Hubungan percintaan dengan mantannya itu hanya berlangsung 7 bulan dengan masa perkenalan yang hanya dua setengah bulan. Dan lucunya, yang menjadi ‘selingkuhan’ adalah seseorang yang selama ini ia kenal sebagai sahabat dari mantannya. Siapa yang akan menyangka bila perselingkuhan itu bisa terjadi diantara mereka?
“Agak kocak sih memang, yah setidaknya kamu beruntung bisa tahu perselingkuhan mereka sebelum terlambat,” ujar Agung setelah cerita Tria berakhir.
“Yap, seharusnya memang aku merasa beruntung. Bli sendiri, gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kisah asmaranya. Kayaknya mustahil gak ada cerita.”
“Saya ada suka sama seseorang, tapi gak yakin dia mau sama saya,” ucap Agung ragu-ragu.
“Why? Kali aja dia udah nunggu, kan? Kalau kebanyakan ragu-ragu, nanti diambil orang. Urusan diterima apa enggak mah urusan belakang. Yakin deh!”
Agung melihat Tria, kemudian tersenyum. “Kamu makin dewasa ya. Udah gak kayak dulu lagi.”
“Heeeey, Anda jangan coba-coba menggoda saya ya!” seru Tria sembari menambah jarak duduk di antara mereka, hal itu membuat Agung tertawa.
“Haha, enggak! Mana berani saya godain kamu? Kamu udah dewasa, pasti udah bukan Tria yang dulu lagi. Apa kamu masih suka sama saya?”
Seketika Tria menutup kedua telinganya dan berseru. “STOOOPPP!! Lupain, tolong lupain!!!”
Agung tidak tersinggung apalagi marah. Ia sangat mengerti dengan cara pandang Tria di masa lalu dan ia juga tidak pernah berharap pada gadis itu. Perasaannya pada Tria murni sebagai seorang adik dan juga majikan.
“Iya, iya, oke. Jadi, kamu mau tau gak saya sukanya sama siapa?”
“Mau dong! Coba mana fotonya!” Tria begitu bersemangat melihat bagaimana rupa gadis yang disukai oleh Agung.
“Sebentar!” Agung mengambil ponselnya dan mencari sebuah foto. “Ini orangnya.”
__ADS_1
Setelah melihat foto itu, sontak Tria pun menyipitkan kedua matanya. “W—waitt!! Dia?”