![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Aku sudah diizinkan untuk pulang. Meski belum sepenuhnya pulih, kukira menginap di rumah sakit dua hari saja sudah cukup. Aku tidak tega melihat Mas Dwi setiap malam harus tidur di sofa. Dengan berat hati, akhirnya kami kembali ke rumah. Bukan rumah kontrakan melainkan rumah kami yang sebelumnya. Mertuaku tidak mengizinkan aku tinggal di rumah baru apalagi hanya ditemani asisten yang kami juga belum tahu bagaimana perilakunya.
Memang sedikit gegabah dan terlalu terburu-buru. Untung saja rumah tersebut belum kami bayar sepenuhnya, hanya uang muka saja. Dan baiknya lagi, pemilik rumah tersebut hanya mengambil seperempat dari uang muka yang sudah Mas Dwi bayarkan. Lalu untuk masalah asisten rumah tangga yang sudah kami dapatkan, kami pekerjakan di rumah untuk membantuku.
"Lalu Kak Julia gimana, Mas? Sekarang dia masih di rumah?" tanyaku. Aku masih memikirkan di mana ia akan tinggal karena pekerjaannya pun sudah ia lepaskan.
"Aku gak tahu dan gak peduli," jawab Mas Dwi sembari memasukkan barang-barangku ke dalam tas.
"Mas, jangan gitu! Bagaimanapun juga, Kak Julia itu kakakmu," ujarku mengingatkan.
"Kamu gak lupa, kan, sama yang Papa bilang waktu itu?" tanya Mas Dwi kemudian.
"Tapi ...."
"Tapi apa? Kalau kamu gak peduli sama anak kita dan lebih peduli sama Kak Julia, silakan! Yang pasti aku gak mau anak kita kenapa-kenapa," ucap Mas Dwi tegas sembari menatap mataku lekat.
Aku diam dan tak berani menjawab. Setelah semua barangku selesai dikemas, kami segera keluar dari kamar rawat ini dan pulang. Sepanjang perjalanan, kami tak banyak bicara. Aku tahu, Mas Dwi tentu memikirkan keadaanku dan anak kami, namun aku merasa aku juga tidak bisa egois. Kak Julia pun memiliki anak.
Ketika kami baru turun dari mobil, seorang wanita berusia 30-an keluar dari rumah dan menghampiri kami.
"Selamat pagi, Pak, Bu. Saya Arum, asisten baru di rumah ini," ucapnya memperkenalkan diri.
"Ah iya, terima kasih sudah datang," jawab Mas Dwi.
"Mari saya bawakan barang-barangnya!" ujar wanita itu.
Mas Dwi memberikan tasku pada wanita itu dan ia pun membawanya masuk. Ia berdiri di depan pintu kamar kami.
"Kenapa gak masuk?" tanya Mas Dwi.
"Maaf, Pak. Saya gak berani lancang masuk ke sembarang ruangan, kecuali memang sudah diizinkan," jawabnya. Sepertinya kerjanya bagus, semoga saja tidak mengecewakan.
"Hmm." Mas Dwi mengangguk setuju dan berkata, "Baiklah, sini tasnya! Biar saya aja yang bawa masuk."
"Baik, Pak," jawabnya kemudian memberikan tas itu kepada Mas Dwi.
Kami masuk ke kamar dan wanita itu pergi. Masih sama-sama diam, tak ada yang membuka suara lebih dulu. Tidak pernah seperti ini, mungkin Mas Dwi benar-benar lelah. Tidak ada salahnya aku mengalah untuk bicara lebih dulu.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesan di luar," tanya Mas Dwi tiba-tiba, padahal aku berniat untuk bertanya lebih dulu.
__ADS_1
"Emm ... apa aja, yang pedes," jawabku. Ya, aku butuh penghilang rasa mualku.
Mas Dwi keluar dari kamar. Aku kira ia akan pesan lewat telepon, ternyata dia sendiri yang pergi. Aku mendengus kesal. Aku kesal pada diriku sendiri yang sulit untuk mengikuti keinginan suamiku, padahal aku tahu itu baik untukku serta calon bayi kami.
Aku baru ingat, aku belum memastikan Kak Julia masih ada di rumah ini atau tidak. Aku turun kembali dari ranjangku dan hendak ke luar kamar.
"Mau ke mana?" tanya Mas Dwi yang baru membuka pintu kamar. Untung saja kepalaku tidak terbentur lagi.
"M--mau minum," jawabku berbohong.
"Dingin apa nggak? Biar aku yang ambilkan," tanyanya lagi.
"Yang gak dingin," jawabku.
Mas Dwi mengangguk dan menutup pintu kamar lagi. Aku kembali duduk di ranjangku. Mas Dwi terasa begitu dingin. Ia belum pernah begini sebelumnya. Dia benar-benar marah padaku. Apa setelah ini aku akan dikurung di kamar? Untuk sekedar ambil air saja tidak boleh.
Mas Dwi sudah kembali membawakanku sebuah teko kecil dengan gelasnya dan meletakkan di atas nakas. Tanpa bicara ia keluar kamar lagi dan dalam sekejap ia kembali dengan membawa segelas susu.
"Maaf ketinggalan, ini di minum dulu!" ujarnya seraya memberikan segelas susu itu padaku.
Aku menerimanya dan Mas Dwi melangkah ke meja kerja. Aku menghela napas panjang. Rasanya aku sudah melakukan kesalahan besar hingga membuat Mas Dwi semarah itu padaku. Aku meminum susu itu sedikit, lalu meletakkannya di atas nakas. Kulihat Mas Dwi dari sini, ia mulai berkutat dengan komputernya. Sudah tiga hari ia tidak berangkat ke kantor, belum lagi pekerjaannya yang lain. Hah ... aku hanya bisa membuat masalah saja.
Tiba-tiba aku teringat kisah cinta pasangan di komik-komik yang dulu aku baca. Banyak yang menceritakan tentang pemilik perusahaan justru bisa enak-enakan dan hanya mengurusi wanitanya saja. Kenyataannya berbanding balik denganku. Yah, meski tidak sepenuhnya salah. Namun yang kulihat di sini, Mas Dwi tidak bisa melimpahkan pekerjaan kepada bawahannya begitu saja.
"Permisi, Pak, Bu, pesanannya sudah datang."
Terdengar suara Arum setelah ia mengetuk pintu. Mas Dwi membuka pintu dan menerima box makanan itu lalu menutup pintunya kembali. Ia meletakkan box itu di atas meja dan mengambil meja lipat. Lalu ia memasang meja itu di depan sofa sebelah ranjang kami.
"Ayo, makan!" ajak Mas Dwi yang sudah duduk di sofa sembari membuka box makanan itu.
"Iya," jawabku seraya turun dari ranjang dan duduk di sebelahnya.
Ia memesan dua box ayam goreng saus. Yang pertama ada ayam goreng saus pedas, sedangkan satunya ayam goreng saus keju pedas. Kami memang sesama pecinta makanan pedas, jadi tidak heran kalau memesan dua makanan yang sama pedasnya.
"Nih, a!"
Ia sudah menyuwir ayamnya sedikit dan memberikannya padaku. Aku justru terdiam melihatnya. Kukira ia sedang marah padaku, namun mengapa bisa masih berlaku manis begini?
"Aku gak marah kok, ayo makan! Anak kita pasti udah kelaperan," ujarnya kemudian. Sepertinya ia memiliki kemampuan untuk membaca pikiranku.
__ADS_1
"Iya, aku makan kok," jawabku seraya membuka nasi bagianku yang masih terbungkus. Ayam yang hendak Mas Dwi suapkan padaku, malah ia makan sendiri.
"Ughuk!" Tiba-tiba Mas Dwi tersedak.
"Ehh! Mas, pelan-pelan dong!" ucapku seraya mengambilkan air yang ada di atas nakas.
Mas Dwi meminum air itu perlahan. Wajahnya memerah, rasanya pasti panas sekali.
"Pedes banget, gak kayak biasanya," ucapnya setelah meminum dua gelas air.
"Mas gak pelan-pelan sih! Keselek, kan, jadinya," omelku sembari mengusap punggung Mas Dwi.
"Iya, maaf. Soalnya bau pedasnya menusuk banget, belum sempat ditelan udah bikin batuk," jawabnya.
"Masih panas banget, ya, tenggorokannya?" tanyaku khawatir.
"Sedikit, agak perih sih," jawab Mas Dwi sambil meringis menahan sakitnya.
"Minum susu nih." Aku memberikan susu yang tadi sudah ia buatkan. Mas Dwi langsung menerimanya dan meminumnya sampai sisa setengah gelas.
"Eh!" Ia berhenti minum dan melihat ke arahku.
"Kenapa, Mas?"
"Ini punyamu, kan?" tanyanya.
"Iya, memang kenapa?"
"Memang aku boleh minum? Kalau ada efeknya gimana?" tanyanya panik.
"Emm ... mungkin payud*ra Mas bisa semakin ...." Aku tak melanjutkan ucapanku, sengaja mengerjai Mas Dwi.
"Sayang, kamu jangan bercanda ya!" ancam Mas Dwi kemudian, wajahnya tampak begitu lucu.
"Hihi, wajahmu lucu sekali, Mas," ucapku seraya mencubit pipinya.
"Kan ... hahh ...." Ia menghela napas lega. "Kamu beruntung tanganku yang satu kotor, kalau bersih semua kamu pasti udah habis," ucapnya kesal.
"Habis?" Kuulang lagi perkataannya.
__ADS_1
"Iya, habis kumakan!" jawabnya seraya menarikku dengan tangannya yang tidak kotor dan menghujani pipiku dengan ciumannya.
"Ampun, haha! Ampun, Mas!" Aku berusaha melepaskan diri darinya namun tetap tidak bisa. Meski hanya satu tangan yang ia gunakan untuk mendekapku, kekuatanku tetap tak sebanding.