Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
24


__ADS_3

"Selamat yaa Irvan," ujarku sembari menyalami tangannya ketika giliranku dan Mas Dwi tiba.


"Terima kasih banyak sudah datang. Wah, kalian serasi sekali," serunya setelah melihat aku dan Mas Dwi datang berdua.


"Jangan membuatku malu deh!" ujarku yang sedikit salah tingkah. "Semuanya terlihat dipersiapkan dengan sangat baik, semoga lancar sampai akhir, ya!" tambahku lagi.


Lalu aku berlanjut ke pengantin perempuan. Aku menyalaminya dan juga mengucapkan selamat. Kemudian kami saling pandang, seolah sama-sama sedang mengingat sesuatu.


"Alena, kan?" tanyanya kemudian. Aku sedikit terkejut, tapi aku juga merasa wajahnya tidak asing.


"Iyaa, kamu ...." Aku masih berusaha mengingat. Seingatku di undangan tertera nama mempelai wanita adalah Putri, tapi aku tidak punya teman namanya Putri.


"Aku Dinda. Adinda Putri. Ingat, kan?" Ia memberitahukan nama panggilannya dulu dan berhasil membuatku mengingat.


"Astaga! Dinda? Ya ampun. Pantas saja aku seperti mengenalmu." Dia teman SMA-ku. Lalu kami ngobrol sebentar dan foto bersama.


"Kamu mengenal istrinya?" tanya Mas Dwi ketika kami sudah di luar gedung menuju mobil.


"Iya, teman SMA-ku ternyata. Kami gak pernah komunikasi semenjak aku berhenti sekolah."


"Berhenti sekolah?" tanya Mas Dwi yang nampaknya belum tahu. Aku mengangguk.


"Di CV-ku waktu itu ada kok Mas, mungkin Mas lupa," jawabku. Wajahnya tampak memperlihatkan kalau dia sedang berpikir.


"Ahh, begitu. Sepertinya kita harus banyak menghabiskan waktu bersama agar aku bisa lebih banyak mengenal dirimu," ujarnya yang kemudian tersenyum dan merangkul bahuku.


"Alena!" Seseorang memanggilku dari belakang. Kami berdua langsung menengok ke arahnya.


"Eh, Radit," ujarku. Kemudian ia mendekat ke arah kami. Tangan Mas Dwi berpindah dari bahu langsung menggenggam tanganku.


"Akhirnya bisa bertemu lagi," ucapnya kemudian mengulurkan tangan, mungkin mengajak salaman. Baru saja hendak melepas genggaman Mas Dwi dan membalas salaman Radit, Mas Dwi justru memperkuat genggamannya.


"Dwi, calon suami Lena," ujar Mas Dwi memperkenalkan diri dan membalas jabatan tangan Radit.


"Oh, haha!" Radit tertawa mendengarnya. "Saya Radit, teman SMA Lena." Sekilas ia langsung melepas salamannya dari tangan Mas Dwi dan kembali bicara padaku. "Kamu dapat undangan dari Dinda?"


"Ah, bukan. Aku kenal suaminya," jawabku.


"Oh begitu, apa ada waktu untuk ngobrol?" tanyanya lagi. Nekat sekali bicara begitu di depan orang yang jelas-jelas memperkenalkan diri sebagai calon suamiku.


"Maaf, kami harus segera pulang," ujar Mas Dwi tegas dan tak memberikanku ruang untuk menjawab.


Aku yang merasakan ketegangan disini. Ekspresi keduanya sangat serius, tidak ada yang santai. Mas Dwi sama sekali tidak mengizinkan aku menjauh darinya sejengkal pun.


"Ah, ternyata kalian buru-buru mau pulang. Hati-hati ya! Senang bisa bertemu denganmu lagi, Alena," ujar Radit dengan pandangan yang sedikit menggoda. Hal itu membuatku sedikit geli dan Mas Dwi pun semakin naik pitam.


"Iya, terima kasih," ujar Mas Dwi singkat dan tersenyum sinis. Ada apa? Kenapa situasinya jadi begini? Radit pun berlalu dari hadapan kami. Kami juga melanjutkan jalan ke mobil.


"Mas?" tanyaku sembari melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Iya," jawab Mas Dwi.


"Kenapa tadi Mas bersikap seperti itu?"


"Apa kamu keberatan aku memperkenalkan diri sebagai calon suamimu?"


"Ah bukan begitu, Mas."


"Masuk!" perintahnya pelan. Kami sudah sampai di depan mobil. Aku pun masuk.


"Apa dia sering menghubungimu?" tanya Mas Dwi seraya menghidupkan mesin mobil.


"Jarang, itu pun gak kugubris."


"Baguslah."


"Memang kenapa, Mas?"


"Kayanya playboy gitu. Gak punya aturan. Jangan ladeni lagi!" ujar Mas Dwi penuh emosi.


"Iya, Mas."


Aku merasa sedikit tegang. Apakah dia cemburu? Kami diam beberapa saat di tengah deru mobil yang belum melaju. Kemudian Mas Dwi menengadahkan tangan kirinya di depanku. Aku tidak mengerti apa maksudnya sehingga aku justru menengok ke arahnya.


"Pegang tanganku!" ujarnya. Meski belum mengerti apa tujuannya, aku pun memegang tangannya. Lalu ia menghela nafasnya.


"Lena?"


"Iya." Aku sedikit terkejut karena otakku masih berusaha menenangkan jantungku yang bergejolak.


"Mendekatlah kemari!" pintanya dengan tangan kiri yang masih menggenggam tanganku.


Aku bergeser sedikit sehingga jarak kami hanya tersisa mungkin satu jengkal. Kami saling berhadapan. Dengan tangan bebasnya, Mas Dwi mengusap rambutku, lembut sekali. Rasanya dia sedikit lebih tenang, tapi justru jantungku yang tidak bisa tenang.


"Lena, meski kamu belum menjawab lamaranku. Aku senang kamu mau menjaga perasaanku, setidaknya dihadapanku," ucapnya kemudian tersenyum. Aku tidak bisa banyak bicara, jantungku sangat tidak stabil. Aku hanya bisa membalas senyumannya.


"Lena?" panggilnya lembut.


"Iya, Mas."


Mas Dwi tidak menjawab lagi. Ia masih mengusap rambutku dan memberikan sunggingan senyum yang tidak pudar sama sekali. Beberapa detik kemudian, Mas Dwi mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di keningku.


Deg! Rasanya jantungku berhenti berdetak saat itu juga. Mas Dwi menciumku?


"Aku mencintaimu, Alena," ucapnya setelah kecupan itu menjauh dari keningku.


"A--aku ...." Aku terbata. Rasanya aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku sangat terkejut saking berbunganya.


"Gak perlu dijawab kok," ujar Mas Dwi.

__ADS_1


Kemudian ia mengusap pelan lagi rambutku dan kembali menghadap kemudinya. Aku juga kembali ke kursiku lalu memasang sabuk pengamanku. Kurasakan darahku menjalar hangat ke seluruh tubuh. Sepertinya kini wajahku sudah mirip dengan udang rebus.


..


Atika : Lena, apakah aku ketinggalan gosip?


Lena : Gosip? Hmm.. Jangan tanyakan gosip padaku, jelas aku gak tahu!


Atika : Aku mendengar dari Tasya, tapi tentu saja aku gak percaya. Kamu gak mungkin seperti yang mereka bilang.


Lena : Hah, pikirkan saja kandunganmu dulu! Semua ini hanya gosip dan akan segera menghilang. Oke?


Atika : Berjanjilah untuk menceritakan semuanya padaku, oke! Jangan biarkan aku terlalu terlalu lama percaya pada kebohongan ini sehingga kebohongan berubah menjadi sesuatu yang benar karena tidak diluruskan.


Lena : Yayaya! Berhentilah menjadi Atika Teguh!


Atika : Haha! Maaf! Baiklah, sudah mendekati jam makan siang. Jangan lupa makan! Aku gak ada di sana untuk mengambilkanmu obat.


Belum sempat kubalas, ia mengirimkan satu pesan lagi.


Atika : Ah aku lupa. Sudah ada Pak Dwi, aku gak perlu khawatir lagi. Hihihi!


Lena : Hei! Awas ya kamu nanti kalau sudah masuk kerja!


Atika : Aku tunggu berita baiknya! : ))


Kumatikan handphone dan bersandar di kursi. Hah ... entahtah kapan gosip-gosip ini akan menghilang. Bukannya semakin hilang malah makin beragam.


Tiba-tiba mataku tertuju dengan dua orang yang baru saja bertabrakan di depan pintu ruanganku. Terlihat kopi yang Reyna bawa tumpah ke kemeja Mas Dwi. Astaga anak itu! Maunya apa, sih? Kuambil dompet dan handphone, lalu keluar ruangan.


"Maaf Pak, saya gak sengaja," ujar Reyna.


"It's ok. Gak papa," jawab mas Dwi sembari menarik dan mengibas kemejanya yang basah. Mungkin kopinya panas.


"Boleh saya bant--" ujarnya seraya menggerakkan tangannya hendak mengelap kemeja Mas Dwi dengan tisu, tapi tanganku spontan menahannya.


"Jangan lakukan itu!" ujarku pada Reyna. Mas Dwi yang tadinya menunduk melihat kemejanya, kini melihat ke arahku.


"Hei, it's ok. Ke kantin lah duluan! Aku ada kemeja cadangan di ruangan," ucap Mas Dwi padaku.


"Baiklah," jawabku. Kemudian Mas Dwi kembali ke ruangannya.


"Maafkan aku, Kak," ucap Reyna.


"Hmm." Lalu aku melangkah ke kantin tanpa mengacuhkannya.


Terlihat banyak pasang mata yang tertuju ke arah kami. Aku tidak peduli. Sebagai mana Mas Dwi bilang, ia tidak akan membiarkan satupun orang bisa menyentuhku, maka itupun berlaku untuknya.


Aku sedikit merasa tidak nyaman. Memang tidak ada larangan untuk pasangan yang bekerja di kantor yang sama di kantorku ini. Tapi tetap saja, jika hal buruk ini terus berlangsung, mungkin salah satu kami harus resign atau buruknya, hubungan kami yang harus berakhir. Hah! Di mulai saja belum, bagaimana bisa diakhiri?

__ADS_1


__ADS_2