![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Parfumnya begitu manis, mirip dengan yang biasa aku gunakan namun tetap saja berbeda. Aku sangat yakin aroma ini adalah aroma parfum wanita. Kalau memang pemilik aroma parfum tersebut adalah rekan kerja Mas Dwi, tentu aku akan memaklumi jika aromanya kutemukan pada jasnya. Namun ini ada di dasi yang jelas-jelas tersimpan di dalam jas. Aku tidak mau menuduh, tapi terlalu sulit untuk mencari alasan yang bisa diterima.
Kutarik napas dalam-dalam. Aku yakin Tuhan tidak akan sejahat itu untuk memberikan pengkhianatan terjadi lagi dalam hidupku. Ini hanya kesalahpahaman, Mas Dwi pasti punya alasan yang tepat. Oke, asam lambungku meningkat. Aku tidak bisa membiarkan ini terlalu lama. Terpaksa aku membangunkan Mas Dwi dari tidurnya.
"Mas, Mas," panggilku sembari menepuk bahunya pelan.
"Hm, iya? Aku capek, Sayang. Boleh tidur sebentar lagi?" tanyanya tanpa membuka mata.
"Mas, bangun dulu!" pintaku dengan suara yang mulai tercekat. Air mataku mulai memberontak untuk keluar.
"Iya, oke. Ada ap--" Ia berhenti bicara ketika manik matanya telah menangkap ekspresi wajahku dengan jelas. "Sayang, kamu kenapa? Ada apa?" Kini ia bangkit dari posisi tidurnya.
"Mas dari mana lima hari kemarin?" tanyaku dengan suara yang sedikit kupaksa untuk bisa keluar. Tenggorokanku terasa begitu serak. Jantung dan asam lambungku mulai tidak bisa berkompromi.
"Aku kerja, Sayang. Toh setiap hari kita video call. Ada yang ngasih berita buruk ke kamu, ya? Ada yang fitnah aku? Atau apa? Cerita, Sayang!" paksa Mas Dwi sembari memegang kedua tanganku dengan erat. Air mataku mulai mengalir.
"Mas gak akan bohong sama aku, kan?" tanyaku masih berusaha meyakinkan kalau Mas Dwi bukan orang jahat.
"Untuk apa aku bohong, Sayang. Apa yang membuat kamu sampai seperti ini?"
"Ini bau parfum siapa, Mas?" tanyaku sembari menyerahkan dasi hitam dengan garis putih samar itu pada Mas Dwi.
"Parfum?" Mas Dwi mengambil dasi itu dari tanganku dan menciumnya. Kemudian ia menghela napas. "Sayang, kamu masih mempercayaiku, kan?"
"Aku berharap begitu, Mas." Aku tertunduk dan larut dalam tangis. Ia menarikku dalam pelukannya lalu mengusap punggungku dengan lembut.
"Berhentilah menangis! Ada sesuatu yang mau aku berikan padamu," ujarnya dengan tangan yang kini mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang.
"Apa yang mau Mas beri padaku? Surat cerai?" Kini aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya.
"Eh? Kamu bicara apa, sih? Jangan sembarangan gitu!"
"Lalu apa?" tanyaku dengan nada yang sedikit keras, bisa dibilang menantang. Emosi mulai menguasai otakku, ini tidak baik.
"Oke-oke, tenang! Jangan ngamuk! Tunggu di sini sebentar ya, Sayang!" ujar Mas Dwi dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Ia turun dari kasur dan mengambil tas kerjanya. Lalu kembali dengan membawa sebuah paperbag kecil berwarna merah muda dengan pita biru gelap.
"Maaf kalau membuatmu jadi salah paham, aku hanya mencoba ini tadi," ujarnya sembari memberikan paperbag itu padaku.
"Ini apa?"
"Buka aja! Aku harap ini bisa menjawab kekhawatiranmu."
Aku pun menerima paperbag itu dari tangan Mas Dwi dan membukanya. Ternyata isinya adalah sebotol parfum dengan nuansa merah muda. Aku membuka tutupnya lalu membedakannya aromanya dengan bau yang lekat pada dasi Mas Dwi tadi. Syukurlah, aromanya sama.
"Tapi kenapa baunya ada di dasi?" tanyaku masih meminta kejelasan.
"Ya kupikir paling aman di dasi karena dasi ada di dalam jas," jawabnya polos. Padahal orang biasanya mencoba parfum di pergelangan tangan, mengapa ia bisa berinisiatif untuk mencobanya di dasi?
"Lalu, kenapa Mas bisa membeli parfum? Mas di sana sempet jalan-jalan?"
"Bukan, Sayang. Kebetulan aku kemarin dapat panggilan mendadak karena pemilik perusahaan parfum terkenal di Singapura mau bertemu denganku sebagai peresmian kerja sama perusahaan kami. Beliau juga pernah menawarkan akan membawakan parfum sebagai hadiah. Dan aku memesankan khusus untukmu. Maaf kalau aku salah mencobanya." Mas Dwi menjelaskannya dengan rinci. Aku menjadi kasihan karena sudah salah paham padanya.
"Kenapa Mas gak bilang dari awal, sih? Kan aku jadi durhaka karena tadi udah membentakmu, Mas," ujarku menyesal namun juga masih menyalahkan.
"Maaf ya, Sayang. Aku niatnya mau kasih surprise, sayangnya aku capek banget dan lupa atas surprise yang aku siapkan sendiri."
"Sama-sama memaafkan, ya! Kamu suka gak sama parfumnya?" Aku mengangguk, aku memang menyukai parfum yang manis, lembut dan tidak menyengat.
"Mas selalu tahu apa yang aku suka," jawabku.
"Aku senang kamu menyukainya," jawabnya kemudian tersenyum manis sekali.
Aku memeluknya erat. Menyesal sudah mengikuti emosiku dan hampir merusak sesuatu yang sudah baik-baik saja. Ia pun balas memelukku dengan lembut. Tangisku kembali pecah, aku takut ketakutanku kembali menjadi kenyataan. Aku trauma akan pengkhianatan. Meski aku tahu Mas Dwi begitu menyayangiku, tetap saja rasa takut terkhianati masih bisa muncul.
"Tenang ya! Rasa takutmu itu wajar, sangat wajar. Tapi percayalah, aku lebih baik mati daripada harus mengkhianatimu."
Kubenamkan wajahku pada dadanya yang bidang. Air mataku tak kunjung berhenti. Namun, tiba-tiba ....
Krucuk-krucuk.
__ADS_1
Aku dan Mas Dwi saling menatap, sesaat kemudian kami tertawa bersamaan. Perut Mas Dwi tak bisa diajak kompromi, momen haru seketika menjadi ceria kembali.
"Hehe, maaf, ya! Kamu udah masak, kan?"
"Iya gak apa-apa, Mas," jawabku dengan tawa yang masih tersisa. "Udah masak kok, tinggal manasin lagi aja."
Kemudian kami makan bersama. Aku senang Mas Dwi selalu menikmati apapun yang aku masak. Meski aku sadar tak seenak masakan wanita lain di luaran sana, setidaknya aku tidak memberikan makanan yang bisa meracuninya dan masih bisa dinikmati lidah.
"Mas, malam itu siapa yang mengirimkan pesan?" tanyaku di sela makan malam kami.
"Pesan yang mana? Kapan?"
"Malam sebelum Mas berangkat ke luar kota."
"Oh, bukan apa-apa. Itu pesan dari kantor, makanya aku langsung berangkat sore harinya. Lain waktu kalau mau buka pesannya, buka aja! Biar gak nyimpen kecurigaan lagi," jawabnya.
Syukurlah, tidak ada yang perlu kutakutkan lagi. Rasa curigaku terpatahkan semua. Entah mengapa semakin tua justru semakin sensitif. Aku pribadi menjadi tidak nyaman karena terlalu sering berpikiran negatif, batin tersiksa sendiri karenanya.
Usai kami makan, tak lama kemudian terdengar pintu depan terbuka. Sudah pasti itu adalah Tria. Mas Dwi masih sibuk menikmati tempe gorengnya yang masih tersisa beberapa potong. Aku sengaja keluar dari dapur untuk meletakkan lap meja ke keranjang pakaian kotor. Kemudian Tria memanggilku.
"Kak Len!"
"Iya?"
Aku melihat ke arahnya. Ia berdiri di ruang tengah bersama seorang wanita cantik yang menggunakan kemeja merah dengan kerah berwarna hitam. Wanita itu menggandeng seorang anak laki-laki yang tampan mungkin berusia sekitar 10 atau 11 tahun. Aku tidak mengenal mereka, tapi sekilas ada kemiripan di antara mereka. Mungkinkah? Aku pun mendekati mereka berdua.
"Ini Kak Julia," ujar Tria memperkenalkan.
Meski aku sudah mengira, tetap saja aku terbelalak kaget. Sejenak aku membeku, aku bingung harus bagaimana. Mengingat ia juga kini adalah kakakku, apapun masalah yang pernah menjeratnya, aku tetap harus bisa menghormatinya.
"Saya Alena, Kak," ujarku memperkenalkan diri seraya menyalaminya. Ia pun tersenyum, persis senyuman yang dimiliki Mas Dwi.
"Dek, salaman sama Tante!" perintahnya pada anak lelaki di sebelahnya. Anak itu menurut apa yang diperintahkan ibunya.
"Namaku Faiz, Tante," ujarnya kemudian mencium punggung tanganku dengan pipi kanannya.
__ADS_1
"Sayang, ada sia--" ucapan Mas Dwi terhenti.
Ia berhenti di tempatnya. Aku tak bisa membaca ekspresinya. Terlihat juga Kak Julia menarik Faiz ke belakang punggungnya. Kurasakan atmosfer di ruangan ini mulai menegang. Sungguh aku takut amarah Mas Dwi meledak saat ini.