Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
42


__ADS_3

Acara hari ini telah selesai. Meski begitu melelahkan, aku sangat bahagia dan puas karena semuanya berjalan dengan lancar. Kini kami semua sedang berkumpul di rumah Mas Dwi, rumah tempat aku tinggal mulai sekarang.


"Jadi Mama gak menginap lagi?" tanya Mas Dwi ketika Mama Meira sudah mengeluarkan koper dari dalam kamar.


"Ya gak dong! Nanti Mama ganggu malam pertama kalian gimana?"


Blusshh! Jawabannya membuat pipiku seketika memanas. Terlihat Tria terkekeh di sebelah papanya.


"Jangan menggodaku, Ma! Lagi pula kalian pasti capek. Istirahatlah dulu sehari atau dua hari!" ujar Mas Dwi.


"Bagaimana, Pa?" tanya Mama Meira pada Papa.


"Gak bisa, besok pagi Papa ada rapat," jawab Papa.


"Tuh, kan, dengar sendiri," ujar Mama Meira.


"Ah, baiklah. Terus itu koper Tria kenapa dikeluarkan juga?" tanya Mas Dwi sembari menunjuk koper pink dengan gantungan boneka koala biru di atasnya.


"Aku kan mau liburan ke tempat Mama," jawab Tria. Aku pun terkejut, jadi aku akan ditinggal berdua dengan Mas Dwi?


"Kok gak bilang dulu?" tanya Mas Dwi yang tak kalah kaget.


"Masku yang paling ganteng, adikmu ini peka. Gak mau ganggu malam bahagia kalian. Yah, lebih tepatnya aku gak mau jadi obat nyamuk," ujarnya kemudian tersenyum memperlihatkan jajaran gigi putihnya.


"Ya sudah, sebelum terlalu larut. Papamu juga butuh istirahat," ujar Mama Meira yang kemudian langsung memakai jaketnya.


Akhirnya Tria, Mama Meira dan Papa pulang. Perjalanan untuk sampai ke rumah membutuhkan waktu lebih kurang lima jam. Tinggallah aku berdua di rumah dengan Mas Dwi. Perasaanku mulai bergejolak, ada rasa takut di sana. Meski dia kini telah menjadi suamiku, rasanya aku belum siap jika Mas Dwi meminta melakukan 'itu' malam ini.


"Len, kamu pasti capek. Mau makan dulu atau langsung tidur?" tanya Mas Dwi.


"Hah? Eh ... anu, aku gak laper, Mas," jawabku tergagap. Pikiranku sedang melantur kemana-mana.


"Kamu kenapa? Kok kaya ngelamun gitu."


"Eng ... gak kok, Mas. Gak papa. Kayanya aku butuh tidur." Aku tidak bohong, badanku rasanya pegal semua.


"Ya gak papa sih kalau mau langsung tidur," jawab Mas Dwi. Entah mengapa aku merasa tersirat perasaan kecewa di sana. Apakah dia berharap akan melakukan 'itu' malam ini juga?


"Memang Mas gak capek?" tanyaku.


"Gak terlalu kok, tapi kalau kamu tidur ya aku juga tidur," jawabnya sembari beranjak ke dapur.


Blush! Pipiku kembali menghangat. Aku lupa, melakukan 'itu' ataupun tidak, aku akan tetap tidur satu ranjang dengan Mas Dwi. Aku masih terpaku di sofa. Adalah hal yang bodoh jika aku menolak untuk tidur bersamanya malam ini, tapi membayangkan saja rasanya jantungku sudah tidak karuan.


"Lena."


"Hah? Eh? Iya?" jawabku gugup. Mas Dwi sudah duduk di sebelahku.


"Kamu mikirin apa, sih? Kok dari tadi ngelamun gitu. Masih ada beban, kah? Atau ada sesuatu yang masih mengganjal di acara resepsi tadi?" tanya Mas Dwi lembut.


"Gak ada kok, Mas. Gak ada apa-apa," jawabku kemudian tersenyum.


"Kamu takut, ya?" Pertanyaan itu membuatku terkejut. Semudah itu dia membaca ekspresiku.

__ADS_1


"Ma--maaf ... aku gugup, Mas," jawabku jujur.


"Aku paham kok, apa kamu mau tidur sendiri-sendiri dulu untuk sementara?"


"Apa yang begitu boleh?"


"Ya kalau memang kamu belum siap, gak apa-apa kok," jawabnya santai disertai senyuman lembutnya.


Aku diam sejenak. Kami sudah suami istri, bukan hal yang baik kalau kami berpisah tempat tidur. Meskipun Mas Dwi tidak keberatan, rasanya gak pantas kalau karena ketakutanku ini sampai mengorbankan suamiku sendiri.


"Mas ...."


"Iya?"


"Kita tidur bareng aja," ujarku pelan.


"Yakin? Kalau kamu gak nyaman gimana?"


"Aku capek kok, jadi bisa gampang tidur," jawabku sekenanya. Tentu saja rasa gugupku tidak hilang begitu saja. Semoga rasa capekku bisa membantuku tidur lebih cepat.


Kami pun masuk ke kamar. Aku sudah masuk ke kamar ini tadi sore sewaktu memasukkan beberapa pakaian ganti, tapi aku baru sadar kalau kamar ini cukup luas untuk di tempati berdua. Tidak hanya ranjang dan lemari, kamar ini juga di lengkapi sofa dan meja kerja. Tidak terbayang sebelumnya ada kamar sebesar ini di rumah yang desainnya minimalis.


"Biasa tidur gelap atau terang?" tanya Mas Dwi ketika ia baru saja menutup pintu.


"Terang, Mas." Aku terbilang penakut, jadi tidurpun harus dengan kondisi kamar yang terang.


"Baiklah." Kemudian ia duduk di ranjang di sisi kiri. Aku pun duduk di sisi lainnya.


"Iya, Mas. Terima kasih banyak." Mengingat Mas Dwi yang sejak awal memang begitu menghargai aku, rasanya tidak ada yang perlu aku takutkan kali ini.


Aku duduk di sebelahnya di balik selimut yang sama. Kamar ini begitu menenangkan dengan sentuhan warna abu-abu yang lembut, tidak begitu gelap, tidak terlalu terang juga. Rasanya aku akan betah tanpa harus menambah atau mengurangi isinya.


Mas Dwi terlihat memejamkan mata kemudian menghela napas panjang. Kantukku mulai datang, akupun merebahkan diri di sebelahnya dan menghadap arah lain. Tiba-tiba terasa Mas Dwi bergerak sedikit dan mengecup pipiku.


"Selamat istirahat, istriku," ujarnya lembut di telingaku.


Blush! Pipiku menghangat, jantungku berdegup kencang, tubuhku kaku, tenggorokanku tercekat. Perasaan kaget, senang dan terharu bercampur menjadi satu. Ingin rasanya aku membalas mengucapkan selamat istirahat juga, sayangnya tubuhku justru bereaksi sebaliknya. Kupejamkan mataku erat-erat. Aku berharap bisa terlelap secepat mungkin, supaya rasa yang berkecamuk ini tidak terlalu lama menyelimutiku.


Beberapa menit kemudian, terdengar hembusan napas yang begitu tenang. Kuberanikan diri untuk melihatnya. Mas Dwi dengan tenangnya sudah terlelap menghadap ke langit-langit. Kupandangi dirinya yang hanya mengenakan kaos putih tanpa kemeja dan dasi seperti yang biasa kulihat. Ia tampan sekali, tanpa kusadari aku memandanginya sambil tersenyum.


"Selamat istirahat juga, suamiku," ujarku pelan. Kemudian aku kembali berbalik arah dan mencoba tidur.


..


Aku merasakan udara di sekelilingku begitu dingin. Mungkin di luar baru saja hujan, aku tidak bisa mendengar terlalu jelas. Tanpa membuka mata, aku meringkuk dan menarik selimutku sampai batas leher. Sayang, rasa dingin tak juga berkurang. Kemudian, kurasakan sesuatu yang berat kini melintang di atas selimutku.


Perlahan kubuka mata yang masih begitu berat, akupun terkejut. Wajah Mas Dwi sudah ada di hadapanku, matanya masih terpejam. Aku mengerjap beberapa kali, seolah tak percaya ada seseorang yang kini tidur bersamaku. Kini ia memelukku erat, mungkin ia tahu kalau aku sedang kedinginan.


Jantungku berdebar kencang, kantukku seketika hilang. Ingin rasanya keluar dari pelukannya, namun di sisi lain aku merasa nyaman juga. Kulirik jam dinding yang tak jauh dari pandanganku, masih pukul 02.20. Sebaiknya aku tidur lagi.


"Engh ... Lena," ujarnya dengan suara yang sedikit serak, matanya terbuka sedikit.


"Iya, Mas," jawabku.

__ADS_1


"Maaf, gak nyaman, ya? Kukira tadi kamu kedinginan," ujarnya kemudian melepas pelukannya dariku.


"Gak apa-apa kok, Mas. Aku memang kedinginan. Terima kasih, ya."


Mas Dwi mengerjap beberapa kali lalu matanya terbuka sempurna. Ia balik badan sebentar, sepertinya melihat ke arah jam.


"Gak mau tidur lagi?" tanyanya kemudian menguap.


"Ah, tidur lagi kok, Mas. Sebentar lagi."


"Boleh aku peluk kamu lagi?" tanya Mas Dwi sedikit ragu.


"Mmm ... boleh kok, Mas."


Ia tersenyum kemudian memelukku lagi dan memejamkan mata. Kini tubuh kami saling bersentuhan, rasa dingin tadi semakin berkurang, aroma tubuhnya harum, aku suka. Kupejamkan mata dan berharap bisa tidur lagi.


..


Kuregangkan tubuhku kuat-kuat, bahuku masih terasa sedikit pegal. Kudapati Mas Dwi sudah tidak ada di sebelahku. Sepertinya dia bangun lebih dulu. Kukumpulkan nyawaku yang masih berpencar, pandanganku masih belum sempurna. Ketika melihat jam, jarum pendek menunjuk ke angka sembilan, aku langsung terduduk dan mengucek mata.


"Ya ampun! Aku kesiangan. Kok bisa lupa sih sekarang aku udah jadi istri? Kan seharusnya aku bangun lebih dulu dan masakin untuk Mas Dwi," gerutuku.


Aku langsung turun dari kasur dan bergegas ke luar kamar. Namun sayang, bertepatan dengan aku yang hendak menarik gagang pintu, Mas Dwi membuka pintu dari luar.


Jduk!


"Aakk!" pekikku. Daun pintu itu membentur keningku.


"Eh? Sayang, ya ampun! Maafkan aku!"


Mas Dwi langsung panik dan memeriksa keningku. Di balik rasa sakitku, aku justru salah fokus pada panggilan 'sayang' darinya. Sebenarnya Mas Dwi tidak membuka pintu dengan kuat, tapi karena kebetulan aku juga berlari, maka rasanya jadi lumayan sakit.


"Gak papa kok, Mas. Salahku yang gak hati-hati."


"Beneran gak papa? Pusing gak? Ini merah, loh," ujarnya panik dengan jari yang masih mengusap keningku.


"Gak pusing kok, serius mas aku gak papa," ujarku meyakinkan seraya menarik tangannya dari keningku.


"Syukurlah kalau gak pusing," ujarnya kemudian menarik bahuku dan mengecup keningku. "Selamat pagi, istriku."


Blush! Yah, bisa dipastikan pipiku kini memerah. Mas Dwi tersenyum penuh kemenangan di sana. Ia pun mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Akhirnya aku bisa dengan puas memainkan pipimu yang sering menjelma menjadi udang rebus ini ," ucapnya gemas.


Meski kesal diperlakukan seperti anak kecil, tapi aku juga senang diperlakukan seperti ini. Aku pun gantian mencubit pelan pinggangnya.


"Eh! Nakal ya!" ujarnya kemudian melepas tangannya dari pipiku.


Dengan sigap Mas Dwi menggendong dan merebahkanku di atas kasur. Sejenak kami saling menatap, jantungku berdebar lagi.


"Siap?" tanyanya.


Belum sempat pikiranku berkeliaran, Mas Dwi langsung membalas menggelitik pinggangku. Aku pun menggeliat kegelian, terlihat Mas Dwi tertawa begitu bahagia. Aku tidak menyangka punya suami yang ternyata sangat jahil seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2