![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Pagi itu aku sedang menyusun pakaian yang baru selesai kusetrika, tak sengaja aku menjatuhkan jaket Mas Dwi yang berwarna biru. Rasanya seperti tidak asing. Aku yakin Mas Dwi belum pernah memakainya di depanku, tapi aku merasa sangat familiar dengan jaket itu.
"Kenapa jaketnya?" tanya Mas Dwi yang baru masuk ke kamar usai menjemur pakaian.
"Ah, ini gak sengaja jatuh. Ini punya Mas?" tanyaku sembari menyodorkan jaket biru itu pada Mas Dwi.
"Iya, tapi udah lama gak kupakai," jawabnya kemudian mengambil jaket itu dari tanganku dan memakainya.
"Bagus, kenapa gak dipakai?"
"Aku jarang buka lemari sebelah sini, jadi lupa kalau punya ini." Kemudian dilepasnya lagi jaket itu dan diletakkan di gantungan baju.
"Mau dipakai lagi, Mas?"
"Iya, besok aku ke luar kota, mau kupakai. Terima kasih ya, udah nemuin jaket ini lagi!" ujarnya kemudian mengecup pipi kananku.
"Ih, Mas kebiasaan deh!" ujarku malu. Sudah pasti pipiku kembali memerah. Ia pun hanya tertawa kecil dan duduk di meja kerja lalu menghidupkan komputernya.
Kuperhatikan lagi jaket biru yang kini sedang tergantung. Sungguh, aku merasa benar-benar tidak asing dengannya. Akhirnya aku ingat, jaket biru itu adalah jaket yang dulu sering muncul dalam mimpiku. Apa benar jaket biru itu yang sebenarnya menjagaku sejak dulu? ** (baca part 10 season 1)
"Kamu kenapa diam di situ, Sayang?" tanya Mas Dwi sembari memutar kursinya dan kini ia menghadap ke arahku.
"Mmm, Mas ...."
"Iya, ada apa?"
"Terima kasih udah jadi yang terbaik buatku," ujarku kemudian memeluknya.
"Eh? Kamu kenapa?" tanyanya. Mungkin ia bingung melihat tingkahku yang tiba-tiba seperti ini.
"Gak apa-apa, aku mencintaimu, Mas," ujarku spontan. Entah keberanian dari mana aku bisa menyatakan itu. Yang pasti, aku benar-benar mencintainya.
"Sedikit aneh, tapi ... aku juga mencintaimu," balas Mas Dwi seraya memelukku dengan erat.
Usai melewatkan momen manis tadi, Mas Dwi mulai menanyakan apa alasanku mengapa bisa bertindak seperti bukan Alena yang ia kenal. Ia pun merasa sedikit aneh dengan mimpi itu, tapi kami percaya bahwa mimpi bisa menjadi petunjuk. Petunjuk bahwa Mas Dwi benar-benar jodoh yang Tuhan pilihkan untukku.
..
Sepulang kerja, aku dan Atika datang ke kafe. Kuaduk teh yang isinya tinggal setengah sembari menunggu Atika kembali dari kamar mandi. Hari ini Mas Dwi sedang ke luar kota untuk mengecek perusahaannya. Jadi aku berangkat dan pulang sendiri dari kantor.
__ADS_1
"Maaf ya lama, suka kesel nih. Udah hamil besar kok masih aja sering mual," keluh Atika yang baru saja kembali dari kamar mandi.
"Iya, gak apa-apa kok, aku ngerti. Yang penting kamu dan bayimu sehat."
"Iya, amin. Jadi, kamu udah fix nih mau resign dan fokus kuliah?" tanya Atika memulai kembali pembahasan kami yang sempat terjeda.
"Setelah kupertimbangkan sih, baiknya begitu. Sedikit gak nyaman juga setiap ditelepon mertua pasti bahasnya masalah itu terus," jawabku mengingat setiap ucapan Mama Meira yang ingin aku fokus belajar saja.
"Ya udah, gak apa-apa. Toh kamu jadi lebih longgar, gak perlu susah-susah bagi waktu."
"Tapi aku malu, Tik. Nanti aku paling tua di kelas bagaimana?"
Jika aku mengambil kelas reguler maka akan lebih banyak mahasiswa yang baru saja lulus sekolah menengah atas. Lain halnya jika yang aku ambil adalah kelas karyawan, maka akan lebih banyak yang seusia denganku. Yah, setidaknya bayanganku seperti itu.
"Tenang, anak kuliahan itu gak semua anak yang baru lulus sekolah kok. Banyak juga yang kerja dulu baru kuliah. Lagi pula badanmu kecil begini, pasti gak banyak yang sadar kalau usiamu jauh di atas mereka," ujar Atika meyakinkan.
"Jangan mengada-ada deh! Mana ada kalau gak kelihatan tua?" ujarku masih tidak percaya diri.
"Memang masalahnya apa kalau mereka tahu kamu lebih tua? Bukannya lebih aman ya? Jadi mereka gak berani untuk godain kamu," tambah Atika lagi.
"Oh iya, kamu benar juga." Kali ini aku setuju padanya. Ia pun mengangguk bangga atas ucapannya sendiri.
Mas Dwi berjanji akan pulang malam ini, tapi sampai lewat jam makan malam ia belum juga pulang. Badanku masih terasa meriang, ada yang bergejolak dalam perutku. Sepertinya aku tidak meminum kopi hari ini, mengapa maagku bisa kambuh?
Kuminum obatku dan mencoba tidur lebih cepat. Syukurlah, rasa sakitnya perlahan mereda. Tak lama kemudian Mas Dwi pulang. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan melepaskan sepatu serta jaketnya. Melihatnya datang, aku langsung bangun dan kembali duduk.
"Maaf ya kemalaman, tadi di jalan agak macet," ujarnya sembari melepaskan dasinya.
"Iya, Mas gak apa-apa. Mas udah makan?" tanyaku.
"Udah kok, tadi sempet berhenti sebentar nemenin Pak Rudi buka puasa."
"Loh, kok bisa sama Pak Rudi?" tanyaku bingung. Pak Rudi adalah tetangga depan, rumah kami berseberangan.
"Iya, tadi gak sengaja ketemu di bandara. Beliau gak ada yang jemput. Ya udah sekalian."
"Mmm, ya udah kalau gitu," jawabku.
"Kamu udah makan, kan?" tanya Mas Dwi memastikan.
__ADS_1
"Udah kok, Mas."
Kemudian ia mengambil handuknya dan segera mandi. Aku kembali membenamkan diri dalam selimut. AC kamar tidak begitu dingin, tapi tubuhku terasa agak menggigil. Usai mandi, Mas Dwi langsung duduk di sebelahku. Ia sudah mengenakan kaus putih dan celana pendek yang biasa tersedia di lemari sebelah kamar mandi.
"Kamu kenapa? AC-nya dingin?" tanya Mas Dwi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Nggak kok, Mas. Gak tahu dari tadi sore rasanya kaya meriang gitu."
Ia langsung meletakkan handuk kecilnya di atas meja dan mendekat ke arahku. Tangan kanannya memegang keningku.
"Gak panas tuh, rasanya gimana? Udah minum obat?" tanyanya khawatir.
"Tadi udah minum obat maag, sakit perutnya udah mendingan. Tinggal pusing aja, Mas. Badannya juga gak enak," jawabku menjelaskan.
"Mau ke dokter?"
"Gak usah, Mas. Mau tidur aja, semoga besok udah enakan," jawabku lagi.
Mas Dwi pun langsung masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk tubuhku. Selain perlakuannya yang lembut, harum tubuhnya juga begitu menenangkanku. Tak lupa satu kecupan manis melengkapi ritual kami sebelum tidur. Meski tubuhku kurang sehat, adanya Mas Dwi di sampingku kini membuatku merasa lebih aman.
..
Tidak seperti biasanya, aku sudah bangun sebelum alarm berdering. Mas Dwi masih tidur dengan nyamannya di sebelahku. Lagi-lagi hal menyebalkan ini terjadi, rasa mual menyerang tubuhku. Aku langsung berlari ke kamar mandi. Mungkin maagku benar-benar kambuh atau bisa juga masuk angin.
Sebisa mungkin kukeluarkan isi perutku di kamar mandi, namun sayang tak ada yang bisa dikeluarkan. Tenggorokanku sedikit sakit, tubuhku terasa begitu lemas tidak seperti biasanya. Keringat dingin membasahi tubuhku. Aku harus segera minum obat.
Baru saja keluar dari kamar mandi, Mas Dwi sudah muncul di depan pintu kamar kami dengan wajah bantalnya. Ia langsung berjalan ke arahku dan memegang keningku lagi.
"Sayang, kamu beneran sakit. Aku panggil dokter, ya?" ucapnya khawatir.
"Aku gak apa-apa, Mas. Minum obat aja terus istirahat, nanti juga sembuh kok," jawabku meyakinkan.
"Ya udah, ayo istirahat lagi!"
Kemudian Mas Dwi membantuku kembali masuk ke kamar dan mengambilkan obatku di dalam laci di meja rias. Setelah minum obat, aku kembali merebahkan diri di atas kasur. Mas Dwi membelai rambutku dengan lembut.
"Mas di sini aja, ya!" pintaku. Aku senang menghirup aroma tubuhnya. Rasa mualku perlahan menghilang.
"Iya, gak ke mana-mana kok," jawab Mas Dwi.
__ADS_1
Kurapatkan tubuhku dalam dekapan Mas Dwi. Suhu tubuhnya yang hangat semakin membuatku nyaman. Mas Dwi adalah obatku sebenarnya, aku pasti bisa sehat lagi.