Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
36


__ADS_3

Baru sebentar aku tinggal di tempat ini, kini aku harus kembali membereskan semuanya. Aku harus kembali ke rumah. Katanya, sebelum menikah itu berat godaannya jadi harus ada yang menjagaku. Meski terdengar mustahil, tapi aku tidak bisa menolak. Orang tua lebih berpengalaman dalam hal ini, jadi aku menurut. Aku tidak ingin pernikahanku gagal karena keegoisanku sendiri.


Tok tok tok!


Seseorang mengetuk pintu kamarku, aku sudah tahu, itu pasti dia.


Ceklek.


"Sila--" Ucapanku terhenti. Kukira yang datang adalah Mas Dwi, karena dia sudah janji akan membantuku membereskan barang.


"Ngapain kamu kesini?" tanyaku kesal. Aku berharap tidak akan pernah melihat wajahnya lagi. Lagi pula, bagaimana ia bisa tahu nomor kamarku?


"Maaf, aku hanya ingin bicara sebentar," ujarnya pelan.


"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hutangku padamu akan kucicil setiap bulan," ujarku padanya. Ya, dia adalah Robi.


"Ini bukan perkara hutang. Akan aku hapus segala hutangmu asal kamu mau lakukan apa yang aku pinta kali ini."


"Apa menurutmu aku akan mendengarkan? Silakan pergi sekarang juga sebelum Mas Dwi datang!" usirku.


"Tolong, demi nama baik dan keluargaku!" ucapnya memohon.


"Hm? Bisa diulang? Apa tadi, nama baik? Keluarga?" tanyaku mengejek.


"Aku mengerti aku sudah menghancurkan hubunganmu dengan mamamu, tapi--"


"Tapi nama baikmu jauh lebih penting karena kamu adalah orang terpandang? Begitu maksudmu? Apa kamu pikir orang miskin seperti kami gak punya harga diri sehingga bisa kamu rendahkan begitu saja?" jawabku penuh emosi.


"Semua ini terjadi karena memang Mamamu yang gak punya harga diri."


Plak!


Kutampar pipi kirinya dengan keras. Enteng sekali mulutnya bicara seperti itu. Meski aku membenci mamaku, tapi aku sangat geram jika ada yang menganggapnya begitu rendah.


"Hentikan mulut kotormu itu Robi!" bentakku. "Mama gak akan melakukan itu semua kalau bukan karena ia tahu kelakuanmu di belakangku!"


"Cih! Alasan! Dasarnya mamamu itu adalah wanita mur*h! Dia rela menukarkan dirinya dengan uang," ujarnya sembari mengusap pipi kiri yang baru saja kutampar


"Tutup mulutmu! Kupastikan tunanganmu akan segera mengetahui semuanya," ujarku menantang.

__ADS_1


"Haha! Lucu! Sepertinya kamu lupa kalau kamu akan segera menikah. Apa kamu ingin keluarga Hermansyah tahu aib keluargamu dan membatalkan pernikahan kalian?" tanyanya seraya menyunggingkan senyum licik. Aku membeku. Dia benar, kalau aku membongkar rahasianya, maka aib keluargaku akan terbongkar juga.


"Kenapa diam, hm? Benar kan apa yang aku katakan?" ucapnya seraya mendekatkan wajahnya ke sebelah telingaku.


"Jadilah anak baik! Hanya itu yang aku pinta darimu. Jaga nama baikku, aku pun akan menjaga nama baikmu. Ah, satu lagi, hutangmu lunas kalau kamu mau menjaga semua rahasia ini. Mengerti?" bisiknya seraya menyunggingkan senyum licik yang mengintimidasi.


Kemudian ia pergi. Aku masih membeku dan terduduk di lantai depan pintu. Sebenarnya aku sudah tenang dan berusaha melupakan perbuatannya dengan mamaku. Kedatangannya kali ini justru membuatku teringat semuanya dan ingin membalas dendam, tapi kenyataannya semua ini terasa seperti jebakan.


"Lena, kenapa kamu duduk di sini?" Tanpa kusadari Mas Dwi sudah berdiri disebelahku dan membantuku bangun. "Tadi aku lihat mobil Robi, untuk apa dia datang ke sini?"


Aku hanya bingung melihat wajahnya. Yang dirasakan olehku kini hanya ada rasa bersalah. Apa aku layak menjadi istrinya? Apa aku layak bergabung dengan keluarganya? Mengapa baru terpikirkan sekarang?


"Hei, apa yang terjadi?" tanyanya panik. Aku hanya menggeleng.


"Duduk dulu!" Ia menarikku duduk di kursi yang ada di depan kamar. "Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Apa yang sudah dia katakan?"


Aku menggeleng lagi. Otakku dipenuhi pertanyaan yang selama ini tidak terpikirkan. Batinku dipenuhi rasa bersalah. Rasanya aku sudah salah langkah.


"Mas."


"Iya, ceritakan pelan-pelan saja!" pintanya lembut.


"Hm? Persiapan pernikahan kita sudah beres semua. Untuk bertanya seperti itu?"


"Rasanya aku salah, Mas. Aku gak berpikir panjang ketika menerima lamaranmu."


"Apa maksudmu? Kamu menyesal? Kita tinggal mengurus administrasi besok pagi, kenapa sekarang kamu ragu? Apa yang sudah Robi katakan?"


"Mas, aku gak mau menghancurkan nama baik keluargamu. Aku gak mau karena kedatanganku justru merusak keluargamu," ujarku sembari tertunduk.


"Menghancurkan? Merusak? Ada apa sih? Coba jelaskan dulu!"


"Kalau saja Robi membongkar aib keluargaku, mungkin saja keluarga Mas akan langsung menendangku."


"Aib Mamamu maksudnya?" tanya Mas Dwi memperjelas. Aku pun mengangguk.


"Dia gak akan membongkar kuburannya sendiri."


"Tapi kalau ada orang lain yang membongkarnya, bagaimana?"

__ADS_1


"Bisakah kamu berpikir positif? Pikirkan yang baik-baik saja. Jangan pikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi!"


"Tapi kalau sampai terjadi bagaimana?"


"Sstttt! Aku mencintaimu, apapun yang terjadi aku tetap akan memperjuangkanmu. Mengerti?" ujarnya seraya mengusap punggung tanganku.


"Tapi keluarga Mas--"


"Gak ada tapi-tapi lagi. Ayo kemasi barang-barangmu! Siang nanti kita harus ke butik untuk mencoba pakaianmu."


"Baiklah," ujarku lesu.


"Hei, apa kamu terpaksa menikah denganku?" pertanyaan Mas Dwi membuatku terkejut.


"Mana mungkin aku terpaksa? Aku juga mencintai Mas."


"Rasanya aku kehilangan semangatmu."


"Maafkan aku, Mas. Aku akan berusaha lebih fokus."


Aku pun masuk ke kamar dan mengeluarkan barang-barang yang sudah aku kemasi. Mas Dwi membantuku memindahkan barang-barangku ke mobil. Mobilku sudah kutinggal di rumah Mama sejak hari aku menginap waktu itu. Jadi sekarang aku pulang bersama dengan Mas Dwi.


"Jangan terlalu dipikirkan! Semua akan baik-baik saja," ujar mas Dwi sebelum ia menghidupkan mesin mobil. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


..


"Apa kamu sudah yakin akan segera menikah?" tanya Mama ketika ia baru selesai menelan suapan terakhirnya.


"Hm ... tentu saja," jawabku seadanya. Seketika nafsu makanku hilang. Rasa benciku kembali dan semakin mencuat. Teringat tindakan Mama yang kini membuatku terjebak.


"Terlihat moodmu sedang buruk sejak tadi pagi. Bahkan seperti gak akur dengan Dwi. Apa sesuatu baru saja terjadi?"


"Bukan apa-apa," jawabku kemudian beranjak dan membawa piringku ke tempat cucian piring. Membuang isinya yang masih beberapa sendok lalu kucuci piringnya.


"Loh, kok gak dihabiskan?"


"Kenyang."


Tanpa memberi penjelasan, aku langsung masuk ke kamar. Kalau sudah menghadapi Mama, rasanya terlalu banyak pertimbangan. Seandainya yang membuat masalah itu bukan Mama, mungkin dirinya sudah habis di tanganku sendiri. Meski aku pernah khilaf berkata kasar bahkan kabur dari rumah, meski rasanya begitu sakit, aku tetap merasa berdosa bertindak seperti itu pada ibu kandungku.

__ADS_1


Sungguh aku dilema. Apa aku terlalu cepat memutuskan tanpa berpikir panjang? Kalau pun aku membatalkan pernikahan, itu sama saja mengulang pengalaman pahit Mas Dwi untuk kedua kalinya. Apa mungkin jika dilanjutkan, aib keluargaku tidak akan terbongkar dan semua bisa berjalan seolah tidak terjadi apa-apa? Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan.


__ADS_2