Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 38


__ADS_3

"Kamu yakin mau bantu pekerjaanku? Kamu, kan, masih harus belajar juga."


Mas Dwi masih terus menolak untuk kubantu. Kurasa, selain ia tak mau menambah bebanku, ia juga berpikir ulang masalah kemampuanku. Apa yang bisa dilakukan seorang lulusan SMA untuk membantu pekerjaan seorang CEO?


"Apa aku salah berniat membantumu, Mas? Apa karena aku hanya lulusan paket C?" tanyaku menyampaikan apa yang aku pikirkan.


"Hei, aku gak mikir ke sana sama sekali! Aku cuma gak mau kamu kecapekan, kamu lagi hamil, Sayang," ujarnya seraya memegang tanganku.


"Cuma duduk dan mengecek aja, kalau capek bisa istirahat. Toh aku bekerja di rumah. Iya, kan?"


Aku masih keukeuh pada pendirianku. Aku tidak ingin melihat Mas Dwi terus menghabiskan waktunya untuk bekerja. Untuk apa memiliki banyak uang kalau tidak punya waktu untuk menikmati hidup? Kalau terlalu banyak bekerja dan jatuh sakit, bukankah uangnya akan terbuang sia-sia?


"Baiklah-baiklah, tapi ada syaratnya," ucapnya kemudian.


"Apa itu?"


"Pertama, kamu hanya boleh mengerjakan ini setelah semua tugas kuliahmu selesai. Kedua, jangan sampai pekerjaan ini menyita waktu istirahatmu," ucapnya dengan tegas.


"Iya, aku akan memenuhi syaratnya," jawabku yakin.


"Kalau melanggar, kamu gak akan aku izinkan untuk membantu lagi."


"Iya, Mas, iya."


Kemudian Mas Dwi membuka lemari kecil yang ada di bawah mejanya. Ia mengambil sebuah map besar berwarna merah serta sebuah buku tebal.


"Ini buku panduan, di dalamnya ada visi misi perusahaan dan penjelasan lainnya. Yang ini modul untuk petunjuk pemeriksaan setiap laporan yang masuk," ujar Mas Dwi sembari memberikan buku itu satu persatu.


"Yang biasanya banyak dipakai, ada di halaman 103. Kamu bisa pelajari ini pelan-pelan. Sebenarnya gak susah, cuma butuh ketelitian aja," ujar Mas Dwi lagi.


"Oke, aku akan pelajari semuanya pelan-pelan," jawabku sembari mengangguk.


Buku ini terlalu tebal, aku sedikit ragu bisa menguasainya dalam waktu singkat. Namun, aku tidak akan tahu kalau aku tidak mencobanya. Aku harus bisa meringankan pekerjaan Mas Dwi.


"Ingat, ya, jangan kecapekan!" Mas Dwi masih terus mengingatkanku.


"Iya, Mas tenang aja!"


"Oh iya, satu lagi." Ia sepertinya melupakan sesuatu dan langsung membuka berkas yang ada di komputernya.


"Ini berkas laporan setiap bulan, kamu juga harus mempelajari ini. Nanti dipelajari dulu mengapa laporannya harus jadi seperti ini, mengapa setiap bulan harus ada--" Ia menghentikan penjelasannya dan melihat ke arahku. "Ahh, kamu yakin akan mengerjakan semua ini? Nanti kamu pusing. Aku gak mau kamu stres, Sayang," ucapnya penuh kekhawatiran.


"Mas, aku akan melakukan semampuku. Kalau aku gak bisa atau aku gak kuat, aku gak akan melanjutkan pekerjaan ini. Kamu gak mau kasih kesempatan untuk aku mencoba?" Aku masih berusaha meyakinkannya.


"Hahh, ini bukan tanggung jawabmu, jadi aku minta jangan jadikan ini sebagai bebanmu!"

__ADS_1


Wajahnya terlihat begitu khawatir. Sepertinya ia mengkhawatirkan dua hal, yang pertama ia takut aku kelelahan seperti yang ia ungkapkan. Yang kedua, ia khawatir hasil kerjaku tidak baik dan membuatnya kerja dua kali. Aku berharap kekhawatirannya tidak akan menjadi kenyataan, akan kuusahakan semaksimal mungkin.


Mas Dwi bersiap untuk ke kantor, aku duduk di kursinya dan mulai membuka lembaran yang ada di dalam map merah tadi. Ternyata perusahaan yang dikelola adalah perusahaan keluarga, dan salah satu anak cabangnya dikelola oleh Mas Dwi sebagai CEO-nya. Sama sekali tak terlihat kalau ia merupakan keturunan konglomerat, bahkan Tria pun kuliah hanya mengendarai sepeda motor.


Bodohnya aku baru mengetahuinya setelah hampir setengah tahun menikah. Hmm, aku lupa kalau aku memang mudah dibodohi. Setidaknya kini aku bersyukur. Meski Mas Dwi terlahir di keluarga kaya, namun ia masih mau bekerja keras, tidak hanya mengandalkan uang orang tuanya. Dan satu hal lagi, kini aku mengerti apalah arti nama baik bagi keluarga ini, sehingga nama Kak Julia bisa benar-benar dihapuskan dari daftar keluarga.


Kututup map merah tadi seraya menyandarkan punggungku. Kuhiup napas dalam-dalam, aku kembali teringat pada Kak Julia. Bagaimana keadaanya saat ini? Di mana ia tinggal sekarang? Bagaimana keadaan Faiz?


"Sayang, hari ini aku pakai kemeja yang mana?" Pertanyaan Mas Dwi membuyarkan lamunanku.


"Ah, iya, sebentar ya, Mas."


Aku langsung beranjak dari kursi dan menyiapkan setelan kerja untuk Mas Dwi. Kuambilkan kemeja putih dan dasi hitam. Tak lupa jasnya yang pastinya juga berwarna hitam.


"Sayang, kamu yakin udah bisa mencium bau parfum? Kamu gak akan mengusirku lagi, kan?" tanya Mas Dwi yang kaget karena aku mengambilkan parfum juga untuknya.


"Eh, iya, ya?" Aku kaget menyadari bahwa kini aku memegang parfum yang sudah disimpan baik-baik di dalam lemari selama sebulan terakhir.


"Kamu mikirin apa sih, Sayang? Kok sampai gak fokus begitu? Ada apa?" Mas Dwi mendekat ke arahku dan menyentuh pipiku dengan lembut.


"Gak apa-apa kok, Mas. Mungkin aku cuma masih ngantuk aja," ujarku berbohong. Aku tidak mungkin jujur masalah Kak Julia, ini masalah yang cukup sensitif baginya.


"Jangan bohong! Kamu gak bisa bohong sama aku, Sayang," ucap Mas Dwi lagi dengan suara yang masih lembut, begitulah cara dia memaksaku untuk jujur padanya.


"Bukan apa-apa, Mas. Aku merasa kamu terlalu sibuk, pekerjaanmu terlalu berat. Aku takut gak bisa bantu apa-apa," ujarku masih berbohong.


Aku mengangguk dalam dekapannya. Mas Dwi benar, kalau keadaanku kacau seperti kemarin, aku hanya bisa menghambat pekerjaannya saja. PR-ku saat ini adalah menjaga pikiranku agar tetap tenang. Mungkin tak apa sekali saja untuk tidak peduli pada orang lain, apalagi untuk Kak Julia yang jelas-jelas sudah membuat masalah dengan keluarga ini.


..


Mas Dwi masih belum pulang, namun aku ingin sekali makan es krim yang dulu pernah kami beli bersama. Mas Dwi menyarankan untuk pesan secara online, namun aku ingin makan di kafenya secara langsung.


"Sayang, aku satu jam lagi pulang. Nanti aku bawain deh, mau berapa rasa?" bujuk Mas Dwi lewat telepon.


"Mas, tapi aku pengennya sekarang," rengekku. Entah mengapa rasanya ingin sekali memakan es krim itu untuk sekarang.


"Pesan online aja, ya? Aku gak mau kamu pergi sendirian." Mas Dwi masih mencoba untuk menahanku.


"Mas …." Aku terus merengek seperti anak kecil.


"Ya udah, ke sana aja duluan nanti aku susul, ya? Gimana?" Akhirnya Mas Dwi mengalah dan memberikan opsi.


"Iya, tapi jangan lama-lama."


"Iya, Sayang. Aku selesaikan pekerjaanku secepatnya kok," ucapnya padaku.

__ADS_1


Telepon pun ditutup, aku bersiap untuk pergi ke kafe yang sudah lama sekali tidak aku kunjungi. Terakhir kali ke sana, aku pergi bersama Mas Dwi sebelum kami menikah. Aku begitu merindukan es krim itu. Rasa es krimnya berbeda dengan es krim lainnya. Aku yang bukan pecinta makanan manis pun bisa menyukainya.


Sampailah aku di kafe itu. Kondisinya tidak begitu ramai, tak banyak yang berubah juga jika dibandingkan dengan terakhir kali aku berkunjung ke tempat ini. Karyawannya juga masih sama, hanya saja sepertinya menu yang dijual kini semakin beragam.


Ketika pesananku sudah datang, tak lama kemudian ada seorang gadis kecil yang menghampiriku. Ia begitu lucu dan menggemaskan, sepertinya usianya baru dua atau tiga tahun.


"Ante, apa?" ucapnya sembari menunjuk mangkuk es krimku.


"Apa? Apanya, Dek?" tanyaku tak mengerti. Ia belum bisa bicara dengan jelas.


"Apa, Ante, ini?" ucapnya lagi seraya mendekat dan masih menunjuk mangkuk es krimku.


"Oh, adek tanya ini apa, ya?" tanyaku yang mencoba menafsirkan apa yang ia katakan. Anak itu mengangguk setuju, ternyata benar ia menanyakan apa yang ada di dalam mangkukku.


"Alya, ya ampun! Kamu di sini ternyata." Seorang perempuan sebaya denganku datang dan langsung menggendong anak ini. Mungkin dia ibunya.


"Undaaa!!" teriak anak itu dengan senang.


"Maaf, ya, Kak. Saya tinggal ke kamar mandi sebentar eh malah jalan-jalan sendiri," ucapnya padaku.


"Iya, gak apa-apa kok, Kak. Anaknya lucu, pintar juga," pujiku.


"Ah, terima kasih. Sekali lagi maaf ya sudah mengganggu," ucapnya seraya menunduk hormat dan kembali ke mejanya.


Anak yang dipanggil Alya tadi menengok ke arahku dan melambaikan tangannya sembari tersenyum lucu. Sungguh anak yang menggemaskan. Aku berharap anakku nanti juga selucu dirinya.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya Mas Dwi datang juga. Sejak tadi aku hanya diam sembari melihat tingkah laku Alya yang menggemaskan. Ia sepertinya baru belajar bicara, sehingga apapun yang ia lihat menjadi bahan pertanyaannya.


"Kok cepet banget, Mas? Pasti buru-buru deh tadi," ucapku pada Mas Dwi.


"Enggak kok. Memang kerjaannya aja yang kebetulan gak banyak," jawab Mas Dwi sembari meletakkan tas kerjanya di kursi yang kosong.


"Yah, mereka pulang," keluhku. Padahal aku senang melihat tingkah laku Alya.


"Siapa yang pulang?" tanya Mas Dwi sembari menengok ke arah mataku memandang, sayangnya mereka sudah keluar sebelum Mas Dwi melihatnya.


"Anak kecil, lucu banget tahu, Mas. Jadi aku suka lihat dia dari tadi," jawabku.


"Jadi, dari tadi kamu cuma ngelihatin dia doang?" tanya Mas Dwi.


"Hehe, iya," jawabku sambil tertawa kecil. Mas Dwi hanya menggeleng seraya mencubit pipiku dengan gemas.


"Aku bukan anak kecil, Mas!" keluhku sembari mengusap pipi yang baru saja ia cubit.


"Abisnya kamu lebih menggemaskan daripada anak kecil," ucapnya seraya memberikanku senyum manis dari bibirnya

__ADS_1


'Untung saja dia suamiku, kalau bukan mungkin aku sudah berdosa karena jatuh cinta pada lelaki orang,' batinku yang sangat bersyukur bisa memiliki dan dicintai oleh Mas Dwi.


__ADS_2