![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Akhirnya, hari yang ditunggu tiba. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Sejak dua hari yang lalu, aku disibukkan dengan orang-orang yang katanya akan membantuku agar tetap rileks. Mulai dari perawatan wajah, pijat, lulur, dan masih banyak lagi treatment yang aku terima. Ulah siapa lagi kalau bukan calon mertuaku. Beliau mengirimkan orang ke rumahku tanpa persetujuan.
Benar, memang secara fisik aku menjadi lebih rileks, tapi tidak kupungkiri pikiranku masih terus melalang buana. Hari ini, aku akan melepas masa lajangku. Aku akan menjadi istri orang dan menjadi bagian baru dari keluarga Hermansyah. Aku masih belum bisa percaya semua bisa terjadi secepat ini.
"Waahh!!! Coba deh lihat! Pengantinnya cantik sekali," ujar kak Melia, seorang make-up artist yang bertanggungjawab untuk merias wajahku. Aku pun tersenyum senang tapi juga sedikit malu. Wajah yang kulihat di pantulan cermin ini seperti bukan diriku.
"Cepat-cepat ayo ganti pakaiannya! Gue udah gak sabar buat lihat Lena lebih cantik lagi," ujar kak Sen semangat.
Ia menarikku ke ruang ganti, di sana aku dibantu dengan asisten Kak Sen. Alasan bukan Kak Sen yang membantuku tentu saja karena dia adalah seorang laki-laki. Perlahan kakak asisten itu memakaikan kebaya untuk akad itu padaku.
"Benar-benar luar biasa!" puji Kak Sen ketika aku baru saja keluar dari ruang ganti. "Lo cantik banget Alena! Ya ampun! Dwi beruntung dapat istri secantik lo."
Aku tersenyum malu. Jika tidak tertutup make-up, tentu akan terlihat kalau wajahku kini memerah seperti udang rebus. Kulihat penampilanku dari pantulan cermin. Sungguh aku pun terpesona. Apa benar itu aku? Begitu cantik dan anggun, tidak seperti Alena yang selama ini aku lihat. Astaga! Selama ini siapa yang aku lihat? Make-up artist-nya terlalu handal.
"Permisi, apa pengantinnya sudah selesai dirias?" tanya Tante Meira yang tiba-tiba masuk ke ruangan. Seketika beliau juga langsung takjub melihatku. "Ini benar Alena, kan?" tanyanya tak percaya.
"I--iya, Tante," jawabku malu.
"Kamu cantik sekali, Nak," puji Tante Meira. Aku makin merasa malu dipuji calon mertuaku sendiri.
"Kayanya karena Alena ini jarang pakai make-up, jadinya begitu pakai make-up kita semua langsung terpesona," ujar Kak Sen.
"Benar tuh! Kamu harus hati-hati ya, Dik! Nanti setelah menikah kalau mau pakai make-up jangan terlalu cantik! Kasihan suamimu nanti kalau banyak yang mendekatimu," tambah Kak Melia.
"Hehe, iya, Kak," jawabku malu.
"Sudah siap, kan? Yuk keluar!" ajak Tante Meira.
Aku merasa sedikit aneh, Tante Meira begitu semangat bahkan sampai mencariku ke ruang rias. Mama di mana? Bukannya seharusnya aku bersama Mama, bukan calon mertuaku?
Ketika baru saja keluar ruangan, terlihat Mama dan Om Andre juga istrinya. Om Andre menyambutku dengan senyum yang cerah, begitu juga istrinya. Berbeda dengan Mama, meski tersenyum aku bisa melihat tersirat kesedihan di sana.
__ADS_1
"Lena cantik sekali! Iya kan, Pa?" puji Tante Esti meminta persetujuan suaminya.
"Iya kamu sangat cantik, Lena," ujar Om Andre.
"Mirip sekali dengan Mbak Maya waktu muda," tambah Tante Esti.
"Ah kamu benar, Sayang. Ingat dulu waktu hari pernikahan almarhum Mas Hendra dan Mbak Maya. Mbak Maya juga secantik Lena," tambah Om Andre lagi.
"Iya, anakku sangat mirip denganku," ujar Mama. Terlihat ia sedang menahan air matanya, mungkin ia tak mau make-up-nya luntur.
"Mama juga sekarang terlihat sangat cantik," ujarku.
Mama memelukku sebentar, aku merasakan momen haru di sini. Aku tidak tahu apa yang membuat Mama sedih kali ini. Mungkin karena almarhum Papa tidak bisa datang dan menikahkan aku, atau juga mungkin karena aku akan segera resmi meninggalkan rumah. Entahlah, aku tidak bisa menanyakan itu sekarang.
"Yuk keluar, sudah waktunya nih!" ajak Om Andre.
Begitu keluar ruangan, di dalam aula sudah banyak tamu yang hadir. Terlihat Mas Dwi berdiri dengan gagahnya mengenakan jas hitam dengan mawar merah di dada kirinya. Ia berdiri di balik meja di sebelah kiri ruangan, tempat kami akan mengikat janji pernikahan. Dengan senyum yang sangat menawan ia menyapaku. Tuhan, sungguh benarkah dia calon suamiku?
"Bisa kita mulai?" tanya Om Andre yang akan menikahkan kami berdua. Kami pun mengangguk kompak.
Tante Meira memasangkan selendang putih untuk kami berdua. Memastikan semua sudah siap, Om Andre mulai melafalkan kalimat yang menyebutkan namaku, almarhum Papa serta mas kawin yang Mas Dwi berikan. Mendengar nama Papa disebut, air mataku mengalir. Akhirnya keinginan Papa untuk melihat anak gadisnya menikah kini terlaksana. Aku tahu, Papa pasti bahagia melihatku saat ini dari surga sana.
'Terima kasih atas restumu, Pa,' batinku.
Menghirup napas sejenak, kemudian dengan tegas dan lancar Mas Dwi melafalkan kalimat yang menyatakan bahwa ia menerimaku -Alena Citra Mahendra- sebagai istrinya. Senyumku mengembang. Tangisku semakin pecah ketika para saksi mengucap satu kata yang paling ditunggu, yakni kata 'sah'.
Akhirnya, detik ini juga aku resmi menjadi istri dari Alfarez Dwi Hermansyah, anak kedua dari keluarga Hermansyah. Tanganku gemetar ketika kami bertukar cincin. Perasaan senang dan haru menyelimuti kami berdua. Bibir lembutnya menyentuh keningku. Sungguh aku sangat berharap dialah suami pertama dan terakhir bagiku, begitu pula sebaliknya. Aku tak akan melupakan hari ini sampai kapanpun.
Lanjut ke acara berikutnya, yakni sesi sungkeman. Baru saja aku berlutut di depan Mama, air mataku sudah mengalir.
"Ma, terima kasih atas semua yang sudah Mama berikan untuk Lena. Terima kasih sudah melahirkan dan mengurus Lena sampai detik ini." Aku berhenti sejenak. Mengusap air mata dan mengatur kembali napasku.
__ADS_1
"Terima kasih atas segalanya, Ma. Maaf, Lena belum bisa menjadi anak yang cukup baik untuk Mama, maaf Lena belum bisa membalas semua kebaikan Mama."
"Di hari ini, Lena mohon doa restu Mama. Doakan yang terbaik untuk rumah tangga Lena ya, Ma!" pintaku mengakhiri ucapanku. Aku tidak pandai merangkai kata, hanya itu yang bisa aku ungkapkan. Semua kata yang sudah kusiapkan sebelumnya semuanya buyar.
Mama mengusap lembut punggungku. Terdengar pula isak tangisnya. Semoga tangisnya adalah tangis bahagia.
"Lena, anakku. Akhirnya tiba masanya kamu membentuk keluarga yang baru. Mama bersyukur bisa menemanimu sampai saat ini. Maafkan segala kekurangan Mama dalam mendidik dan membesarkanmu. Semoga keluargamu selalu bahagia dan diberikan anak cucu yang juga baik seperti dirimu. Doa Mama selalu menyertaimu, Alena," ucap Mama dengan suara yang bergetar. Kemudian ia mengecup kedua pipi dan keningku.
"Jadilah istri dan ibu yang baik ya, Nak!" tambah Mama lagi. Aku mengangguk.
Setelah itu aku berlanjut ke Pamanku. Ia memberikanku pesan-pesan yang baik pula. Kemudian beralih lagi ke ibu mertuaku. Terlihat matanya sudah berkaca-kaca.
"Mama, terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Mas Dwi. Terima kasih sudah mendidik dengan baik lelaki yang kini menjadi suamiku. Restui kami berdua dan izinkan Lena untuk melanjutkan tugas Mama dalam mengurus dan menemani hidup Mas Dwi setiap hari seumur hidup kami! Lena akan berusaha yang terbaik untuk anak Mama," ujarku di hadapan Mama Meira.
"Alena, menantuku. Mama restui hubungan kalian berdua, Nak. Jadilah istri yang baik untuk anakku, cintai dia sepenuh hatimu! Selamat datang di keluarga kami, Anakku. Semoga kalian diberkahi anak-anak yang lucu dan sehat, kehidupan yang layak juga saling mencintai sampai maut memisahkan kalian berdua," ucap Mama Meira. Meski masih terasa kaku, namun aku harus terbiasa memanggilnya 'mama'.
Mama Meira mengecup keningku kemudian memeluk dan mengusap air mataku. Senyumnya begitu hangat. Mas Dwi sudah selesai dengan Om Andre, sudah waktunya aku beralih ke Papa Hermansyah. Aku tidak bisa mengucap banyak kalimat.
"Anggaplah aku ini Papamu! Jagalah anak lelakiku dengan baik! Jangan segan untuk menegurnya jika dia memang bersalah! Bahagialah selalu, Alena!" ujar papa Hermansyah. Singkat dan sangat bermakna. Tangisku kembali pecah. Aku seperti merasakan kehadiran Papa di sini.
Kemudian aku masuk ke ruang ganti untuk berganti gaun dan istirahat. Energiku terkuras banyak, perasaan haru yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Semoga benar keluarga Mas Dwi bisa menerimaku dengan baik, bukan pencitraan semata.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Mas Dwi ketika kami baru saja duduk di pelaminan.
Kebayaku sudah berganti dengan gaun putih nan cantik dan elegan, Mas Dwi juga sudah berganti jasnya dengan yang warna putih. Kali ini dia juga tampan sekali.
"Sangat bahagia, Mas," jawabku jujur. Ia mengembangkan senyum indah itu lagi.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku," ujarnya seraya mencium punggung tanganku. Meski dia kini adalah suamiku, tetap saja aku malu diperlakukan seperti ini di muka umum.
"Iya, Mas. Terima kasih juga sudah menerimaku menjadi istrimu," jawabku seraya tersenyum padanya. Hari ini adalah hari terbahagia seumur hidupku.
__ADS_1