Ali Dan Erika

Ali Dan Erika
Bab 11


__ADS_3

"assalamualaikum...eh ada Bu Erika yang cantik disini" aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Dika dan Soni sedang berdiri di pintu koprasi


"waalaikumsalam wr.wb... kalian mau beli?"


"iya Bu Er kita mau beli kertas HVS " Soni


"berapa nak?"


aku mulai mencari keberadaan kertas yang di maksud anak didik ku itu.


"mau berapa ini?" kataku setelah menemukannya.


"masing-masing lima Bu aku lima soni lima"


"ok jadi sepuluh ya"


"iyups"


aku menghitung lembar demi lembar kertas putih polos itu.


"ini"


"jadi berapa Bu?"


"nah itu dia Bu Erika nggak tahu harganya berapa soalnya Bu Linda lagi di belakang beres-beres"


"ya udah Bu kita bayar segini aja dulu nanti kalau Bu Linda udah balik pas istirahat kita tanya lagi" kata Soni sambil menyerahkan satu uang lembaran sepuluh ribuan kepadaku


"ya udah terserah kalian aja lah" aku menyimpan uang di bawah kertas HVS yang masih sangat tebal itu.


"ya udah Bu kita permisi assalamualaikum..."


"waalaikumsalam wr.wb..."


"Bu Er nanti kalau kurang telpon Dika ya bu" teriak Dika sambil meninggalkan koprasi


"dasar anak kecil"

__ADS_1


aku melirik jam tanganku


"harusnya jam segini udah..."


tet....


"baru juga di omongin udah kejadian aja" aku belum menyelesaikan perkataan ku tapi ternyata sudah kejadian.




aku memandang keluar jendela kamarku tampak ada banyak santri putri dengan segala aktifitas mereka di hari yang hampir sore ini. Ada yang sedang piket menyapu dan mengepel, ada yang masih tidur siang ada juga yang sedang berjejer mencari kutu rambut. Inilah salah satu yang membuatku tidak ingin pergi dari desa ini dan memilih untuk menemani abah yaitu suasana pondok yang memang tidak pernah sepi, mataku masih sibuk menyapu pandangan di hadapanku yang kemudian menangkap salah satu sosok seorang gadis tengah duduk sendirian di taman pondok sedang menangis.



*siapa yang menangis disana itu*?



aku bertekad menghampiri anak itu yang ternyata adalah Alisyah.




"ning? Alisyah nggak pa pa " katanya sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi gembul anak ini, aku kemudian duduk bersamanya mencoba menghilangkan kesan kaku antara guru dan murid, aku ingin dia bisa menganggap ku sebagai teman agar bisa dengan leluasa bercerita.



"ning dulu juga pernah jauh dari orang tua ning malah lebih jauh dari kamu"



"dimana ning" tanya Alisyah mulai tertarik


__ADS_1


"dulu ning kuliah di Kairo"



"Mesir ning?"



aku mengangguk



"jauh banget ning nggak pengen pulang?"



"pengen banget terus ning inget tujuan abah menguliahkan ning disini, abah ingin anaknya paham ilmu agama dengan baik agar nantinya di akhirat ning nggak kesusahan untuk masuk surga, ibunya ning udah meninggal lama dan itu juga yang membuat ning kuat dan bertahan di sana. Abah bilang ibu nggak mau apa-apa ibu maunya hanya dikirim doa dan dibacakan ayat al-qur'an yang banyak"



"ning kan bisa belajar dari pak kyai"



"iya sih tapi abah juga kepingin anak-anaknya menjadi anak yang tidak merugi dalam artian merugi karena tidak belajar ilmu pengetahuan, dalam islam sudah di katakan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Kamu juga pernah dengar kan?"



Alisyah mengangguk-angguk memahami apa yang aku katakan.



"jadi kalau kamu disini hanya merasa tertekan dan merasa bahwa orang tua kamu menghukum kamu maka semua itu hanya akan membuat kamu sedih dan tersiksa, coba deh kamu mulai berdamai sama keadaan dan mencoba welcome sama semua orang disini pasti kamu akan nggak mau pulang nantinya"



"iya ning Alisyah akan coba "

__ADS_1



"pelan-pelan aja kamu pasti senang karena disini banyak teman-teman yang sebaya dengan kamu"


__ADS_2