Ali Dan Erika

Ali Dan Erika
Bab 19


__ADS_3

Masa iya sih kotak makan itu dari Pak Roy pantesan kemarin dia bilang tentang pernyataan cinta sama Erika, biarin aja pokoknya sekarang Erika pacar gua. Tapi kenapa gua kaya gini ya sebelumnya gua nggak pernah gini kayaknya, apa gua suka beneran sama Erika, udahlah kalaupun gua suka beneran nggak ada ruginya juga toh Erika juga gadis baik-baik (Ali)


"Pak Ali " Pak Roy datang dengan lagaknya yang galak menghampiri Ali


"apa?" jawab Ali tak kalah galak yang sedetik kemudian membuat Pak Roy menciut


"nggak papa Pak, saya cuma mau bilang itu... emm...Bu Erika itu gebetan saya "


"eh Bu Erika itu pacar gua"


"nggak mungkin soalnya Bu Erika itu nggak mau pacaran "


"apanya yang nggak mungkin? orang kedua orang tua gua udah bilang sama pak kyai kalau gua pacaran sama anaknya"


jadi hubungan mereka sudah sejauh itu? (Roy)


"sebelum janur kuning melengkung saya nggak akan menyerah mendapatkan Bu Erika"


"coba aja kalau bisa "


Pak Roy pun meninggalkan Ali sendirian di ruangannya.


sepertinya makin seru nih, si Pak Roy itu lucu juga ha ha ha gua kerjain aja ah (Ali)



__ADS_1


Beberapa hari lagi Salsa akan melangsungkan pernikahan dengan mas Aab seperti yang sudah di rencanakan, semua orang tengah sibuk menata ini-itu untuk acara spesial Salsa dan mas Aab tidak terkecuali aku.



Aku mempersiapkan beberapa makanan khas pernikahan, aku memesannya karena memang di lingkungan pondok tidak ada yang bisa membuat makanan seperti itu. Acara akad nikah akan dilangsungkan di musholah pondok dan dilanjutkan acara resepsi yang juga akan di lakukan di lingkungan pondok, jadi beberapa hari ini aku memutuskan untuk libur mengajar di sekolah karena harus mempersiapkan segalanya.



Mbak Nia dan adikku Namira juga sudah pulang untuk ikut meramaikan acara pernikahan Salsa. Melihat raut wajah abah yang berseri karena semua putrinya telah berkumpul adalah hal paling membahagiakan bagiku untuk saat ini. Prioritas ku saat ini adalah abah, kalau abah bahagia semua juga akan baik-baik saja.



"mbak Nia pacarnya ndak di ajak pulang ke jawa?" Salsa




"hi hi hi maaf mbak Nia sengaja ha ha ha"



"dasar kamu ini, kalau aku di omelin abah kamu mau tanggung jawab?"



"loh yo jelas ndak mau he he he"

__ADS_1



"mbak Nia punya pacar?" Erika



"punya dong"



"kalau abah tahu pasti abah marah mbak"



"iya mbak tahu mangkanya kamu diem aja nggak usah bilang abah biar abah nggak marah"



Aku memilih diam dari pada semakin panjang, karena begitulah mbak Nia dia tidak akan mau mengalah dan selalu mengikuti apa yang dia inginkan, meskipun itu menentang abah.



Namira lebih cuek dari kami semua, dia lebih suka menghabiskan waktu di kamar bersama laptop nya, hanya sesekali jika dia mau berkumpul bersama banyak orang. Namira cenderung pendiam dan cuek akan hal sekitar, Namira malah sama sekali tidak mengurusi tentang percintaan atau apalah itu, karena dia adalah seorang penulis dan juga guru TK jadi dia lebih sering di depan laptop.



Kami semua memiliki kepribadian yang berbeda-beda, mbak Nia super perfeksionis dan cenderung melakukan segalanya sesuka hati, aku yang ceria dan selalu pemberani (ha ha ha yang baik-baik aja ya reader yang di sebut 🤭) , dan Namira yang super duper cuek.

__ADS_1


__ADS_2