Ali Dan Erika

Ali Dan Erika
Bab 29


__ADS_3

Ali tetap mengamati Rendi dari lantai dua pondok, setelah beberapa saat Rendi keluar sendirian dengan muka masamnya.


alamat nggak di bolehin ini keliatan muka si Rendi kusut gitu (Ali)


Ali melorot duduk bersandar pada pagar tembok karena di rasa sohibnya itu tidak berhasil dengan misi nya.


Rendi menghampiri Ali yang sudah lemas saja.


"gagal kan?" Ali


"jelas lah"


"apa gua bilang"


"jelas berhasil dong ha ha ha"


Rendi mengeluarkan ponsel berwarna abu-abu mewah dari salah satu produk termahal itu dari sakunya.


"widih... berhasil seneng banget gua ha ha " Ali


"jangan lupa alhamdulillah..."


"o iya alhamdulillah... terima kasih ya Allah... kok lu bisa tahu ini hp gua?"


"soalnya yang hp nya modelan gitu cuma punya lu doang"


"lu emang brother gua ha ha "



"Nashwa..."


__ADS_1


"dalem bah"



"ayo jamaah nduk"



"nggeh bah"



Erika mengambil air wudhu kemudian mengambil mukenah nya, diliriknya jam dinding menunjukkan pukul 22:15.



Tidak biasanya pak kyai mengajak Nashwa sholat malam di jam-jam seperti ini, biasanya pak kyai mengimami di musholah putra untuk sholat malam di jam ini.


Erika sampai di musholah rumahnya tapi tak di temukan seorang pun disana, Erika berinisiatif untuk ke musholah putra dan benar saja semua santri telah berkumpul disana, santri putra dan putri, mereka di sekat sebuah tabir yang terbuat dari kayu dan papan.




Setelah melakukan sholat sunnah dan wirit yang panjang dan lama semua jamaah membubarkan diri masing-masing saat pak kyai menyebutkan sholawat nabi.



"allahummasholli ala sayyidina muhammad..."



"shollu alaih..."

__ADS_1



Erika sudah mulai terbiasa dengan hidup barunya yang serba sibuk ketika pagi hari, ketiadaan Salsa memang berpengaruh besar baginya, apalagi urusan dapur, kedua saudarinya juga yang sudah kembali ke kota dan melanjutkan kegiatan masing-masing membuat Erika benar-benar sendiri dan tidak ada yang membantu.


Pagi ini semua terkendali dengan rapi, sarapan dirinya dan pak kyai, bekalnya, juga pekerjaan rumah lainnya sudah terselesaikan karena Erika bangun lebih pagi lagi. Erika menyempatkan mencuci bajunya dan pak kyai karena tidak sedang mengajar jam pertama.


Setelah berkutat dengan kesibukan paginya barulah Erika bisa sedikit beristirahat. Erika merebahkan dirinya di kasur kamarnya kemudian mengutak-atik ponselnya.


Dalam grup chat guru pondok ada seseorang yang baru saja di tambahkan jadi anggota, Erika kepo kemudian meng klik nomor itu dan melihat foto profil si pemilik nomor.


Ketika muncul foto Ali, Erika kaget karena setahunya Ali tidak memegang ponsel, Erika bangkit dan memeriksa dimana biasanya dia menyimpan ponsel-ponsel santri yang dia sita dan ternyata tidak ada ponsel Ali disana.


"cari apa nduk?" pak kyai


"eh abah, Nashwa ngecek hp nya santri-santri bah, kok kayaknya ada yang hilang satu"


"ndak hilang nduk, tapi memang abah yang kasih"


"kok bisa abah kasih?"


"Ali kan juga guru sama kayak Rendi dan Iqbal juga guru-guru pondok lainnya, jadi dia juga berhak atas satu keistimewaan itu ya dengan catatan tidak untuk yang aneh-aneh"


"oh gitu"


"kamu ndak ngajar?"


"ngajar bah"


"na mandi sana, nanti telat"


"nggeh bah, Abah mau Nashwa siapin sarapan?"


"tadi abah sudah sarapan sama pak Rt sehabis tausiah di masjid tadi"

__ADS_1


"oh nggeh pun bah"


__ADS_2