
Perjalanan terasa sangat lama karena memang perasaan Erika sedang tidak dalam mood yang bagus.
"kenapa kamu jalannya lama banget sih?" Erika
"aku ngikut itu mobil depan, mereka pelan aku juga pelan dong"
Erika menyadari mood nya yang berantakan membuat dirinya selalu saja emosi.
"astaghfirullah... astaghfirullah... audzubillahiminassyaitonirrojim... ya Allah jauhkan setan dari hati hamba ya allah..." bisik Erika kemudian dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Erika sedikit merasa tenang karena sudah meminta perlindungan dari tuhannya.
Tiba-tiba hujan mengguyur jalanan dimana mereka semua sedang berada di dalam mobil.
"allahumma shoyyiban nafia..."
"untung aja ide dari si Iqbal buat kendaraan anak-anak di setujui sama Roy kalau nggak bakalan kehujanan semua" Ali
"iya alhamdulillah... anak-anak aman di dalam bis" Ali menoleh ke arah Erika yang menanggapi ucapannya dengan kata-kata yang lebih tenang dari pada tadi.
__ADS_1
"udah nggak ngambek?" Ali
"udah deh jangan di gangguin lagi baru juga mood aku baikan malah di gangguin lagi"
"iya deh maaf, kamu makan ya itu makanan yang tadi aku bawa"
"iya nanti kalau aku laper"
"ehm... kita nggak jadi putus ya?"
Erika hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan Ali.
"Erika? Erika Nashwa? dik Erika ?"
ada getaran tersendiri ketika kata "dik Erika" terucap dari bibir Ali dan mendarat tepat di telinga Erika. Panggilan yang juga sering Rendi sematkan dalam nama Erika tidak se menyenangkan ketika Ali yang menyebutnya.
Erika sampai salah tingkah, beberapa kali dia membenahi duduknya yang sebenarnya tidak ada masalah.
"gimana? kita nggak putus ya, aku nggak tahu lagi harus karena apa aku bertahan di pondok jika bukan karena kamu sebagai motivasi ku, kamu benar-benar sudah merubah pendirian ku"
__ADS_1
"harusnya kamu nggak jadiin aku motivasi, kamu harus bisa bertahan di pondok karena keinginan kamu untuk mendalami ilmu agama seperti apa yang papa kamu inginkan, lagian kamu juga harus melakukan semua itu semata-mata karena Allah bukan karena manusia"
"i know, but it's not that easy. Kehidupanku yang dulu tidak akan begitu saja aku lupakan dengan mudah, untuk saat ini aku butuh seseorang yang bisa memotivasi aku setidaknya untuk bertahan di pondok. Selebihnya setelah aku betah di pondok mungkin aku akan dengan mudah meyakinkan hatiku untuk mantap mendalami ilmu agama karena Allah, yang aku mau kamu nggak kemana-mana cuma ada bersamaku dengan ikatan ini"
"tapi kamu tahu kan ini nggak benar, islam nggak pernah mengajarkan kita untuk pacaran"
"lalu apa? menikah? aku belum siap"
Mereka berdua terdiam, ada sedikit perasaan ngilu dalam dada Erika mendengar kata "tidak siap" dari Ali.
"aku belum mempunyai pekerjaan tetap yang nantinya akan bisa menopang hidup kamu dan aku, belum juga kalau kita punya anak mau di kasih makan apa nanti anak kita? aku tidak akan bergantung kepada orang tua ku, ketika aku memutuskan untuk menikah maka aku akan memberi makan keluargaku dengan hasil keringatku sendiri"
Erika sedikit lega mendengar penjelasan panjang Ali.
setidaknya alasan itulah mengapa dia belum siap untuk menikah (Erika)
"ya sudah" Erika
"ya sudah apa?"
__ADS_1
"ya sudah gitu aja"
"ya sudah apa? kamu ngomong yang jelas biar aku nggak bingung"