
"nikah? "
"iyalah mau kemana lagi kalau nggak nikah? kalian kan udah sama-sama gede"
Ali terdiam merenungkan satu kata yang sukses membuat hatinya gundah. Hingga hari beranjak sore dan kedua orang tua Ali berpamitan untuk pulang.
Pengajian dilakukan seperti biasa, Ali mengikuti dengan pikiran yang tetap tidak fokus. Malam beranjak dan kata "menikah" masih saja menjadi angan-angannya.
menikah? apa gua sanggup? ilmu agama gua nggak sebanding dengan Erika saat ini, apa gua bisa membimbing dia nanti? ya Allah... bener-bener nggak terlintas di pikiran gua bakalan seberat ini tanggung jawab yang harus gua pikul setelah menikah apalagi ini menyangkut akhirat kelak, entahlah... (Ali)
"kenapa bro? "
"gua pantes nggak sih sama Erika? gua ngrasa kecil di depan Erika, dia bak seorang guru besar dan gua orang bodoh yang nggak tahu apa-apa "
"lu ngomong apa sih sebenarnya? "
"gua sama Erika jauh tertinggal Ren, Erika ustadzah dan ilmu agamanya tidak diragukan lagi lah gua apa Ren surat-surat pendek aja gua masih lupa-lupa ingat "
"nggak ada solusi lain untuk hal ini cuma satu, lu belajar dengan sungguh-sungguh pasti Allah kasih jalan sama lu, bukannya Allah udah janji مَنْ جَدَّ وَ جَدَ barang siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan "
"lu bener Ren, lu bantu gua ya"
"pasti selagi gua bisa"
__ADS_1
Ghufron berdiri di depan kamar Erika, melihat putrinya yang tengah khusuk di dalam munajat malam nya.
Dengan khusuk Erika tetap melanjutkan sholat malam nya tanpa dia sadari seseorang tengah mengawasi dirinya, Erika melanjutkan dengan berdzikir yang sangat lama, setelah itu Erika menengadahkan tangannya dan berdoa, Ghufron mendengar isakan putrinya, cukup jelas tapi tidak terlalu keras. Erika bersujud lagi dan dengan tangisnya dia menyebutkan satu kata.
"umi.... hiks... hiks... hiks... "
*ya Allah putriku merindukan ibunya sampai menangis seperti itu, pantas saat dia bersama Ali dan keluarganya dia terlihat sangat bahagia, dia pasti merasakan kehangatan di tengah-tengah keluarga yang lengkap itu, ya Allah sepertinya aku benar-benar harus merelakan putriku untuk berkeluarga dan mendapatkan kebahagiaannya* (Ghufron)
Ghufron menenangkan dirinya di kamarnya.
__ADS_1
*Mi... seandainya kamu disini bersamaku saat ini aku tidak akan se bimbang ini mengambil keputusan tentang keberlangsungan putri-putri kita Mi*.... (Ghufron)
Erika sudah rapi dengan seragam dan buku-buku di tangannya, sarapan sudah dia sediakan di atas meja, Erika melihat lagi ke arah cermin mengoreksi tidak ada yang salah darinya.
"ok siap berangkat! bismillahirrahmanirrahim... "
ting!
hubby : pagi sayang...
Erika : assalamualaikum.... pagi juga
hubby : waalaikum salam he he he maaf lupa
Erika : jangan di biasain
hubby : insyallah sayang... jangan lupa bawa sarapan aku yah
Erika : nggak lupa, nih udah ad di tas aku
hubby : terimakasih calon istri sholihah ku 🥰
__ADS_1
Erika tersenyum tanpa membalas lagi pesan dari Ali kemudian langsung meninggalkan kamarnya dan pergi ke sekolah. Kyai Ghufron tidak berada di rumah pagi ini, Salsa juga Aab sudah kembali ke rumah mertua Salsa sejak kemarin malam.
Ali yang melihat bayangan kekasih hatinya itu segera bergegas memakai sepatu dan topinya kemudian mengejar Erika agar bisa berangkat bersama.