
Aku masih mengejar Salsa yang menghindari pukulan mautku karena tadi dia mengerjaiku.
"awas kamu ya Sa kalau sampai ketangkep sama aku habis kamu"
"ha ha ha ayo kejar kalau kamu bisa lari, kamu kan gemoy ha ha ha"
"Nashwa... Salsabila..."
mendengar suara abah aku dan Salsa sama-sama berhenti berlari dan berdiri tegak seketika.
"abah Sa..."
"iya-iya aku denger"
"ayo ke sana"
aku dan Salsa bersama berjalan ke ruang tamu dimana abah memanggil kami, aku, Salsa dan abah memang tinggal satu rumah dan di belakang rumah kami adalah pondok pesantren milik abah dan almarhumah umi.
"enggeh bah"
"Salsa kamu itu sudah mau menikah kok yo pancet wae mringis terus, kamu juga Nashwa kamu itu ustadzah di pondok dan guru di sekolah tapi tingkahmu kaya anak kecil, tau ndak orang kalau kebanyakan bercanda dan tertawa berlebihan akan memudarkan ilmu dan membodohkan juga, kalau tertawa itu sewajarnya" (pancet\=masih sama, mringis\=bercanda berlebihan)
"maaf bah" aku dan Salsa berbicara berbarengan
"ya sudah sana balik ke pondok sudah waktumu mengisi pengajian sore untuk santriwati "
"enggeh bah" aku meninggalkan Salsa di kamar abah
__ADS_1
"kamu sini Sa"
Salsa duduk di kursi yang agak jauh dari abah, aku masih mengintip dari balik pintu ingin tahu apa yang abah akan bicarakan dengan Salsa berdua.
"Nashwa...balik ke pondok"
aduh ketahuan (Nashwa)
"nggeh bah" akhirnya dengan berat hati aku pergi ke kamarku mengambil kitab yang akan aku ajarkan kepada santriwati sore ini.
°_° °_° °_° °_° °_°
"Dewi sini"
aku memanggil salah satu santri senior di pondok ini, karena ada salah satu santri yang keluarganya datang untuk berkunjung ingin melihat anaknya.
"nggih ning"
"nggih"
aku menunggu Dewi memanggil salah satu santri baru yang di jenguk orang tuanya bersama keluarga lainnya. Alisyah adalah salah satu diantara ratusan santri baru yang paling sering di sambangi keluarganya, Alisyah sepertinya anak orang kaya dari kota yang dipaksa mondok di pesantren ini karena tidak jarang aku melihat dia menangis sendirian di taman pondok atau di tangga.
"saya di sambang ning?"
"iya Alisyah ayo saya antar kamu ke depan, keluargamu ada di depan"
"iya ning"
__ADS_1
aku lebih dulu berjalan di depan Alisyah dan menggiringnya ke ruang tamu rumah abah, ada sekitar empat orang dari keluarga Alisyah yang datang untuk menengok Alisyah.
"ini Alisyah nya bah"
"iya sini masuk" abah mempersilahkan kami masuk, aku dan Alisyah masuk dan Alisyah langsung memeluk wanita yang sudah tua karena rambutnya sudah agak banyak yang mulai memutih.
"oooww cucuku yang cantik apa kabarmu nak?"
"Alisyah pengen pulang Oma...hiks...hiks..." seketika tangis Alisyah pecah
"Alisyah kan pinter Alisyah harus betah ya cuma tiga tahun kok"
"tiga tahun itu lama Oma...hiks...hiks... Bang Ali aja nggak disuruh mondok kenapa Alisyah harus mondok?"
"ih bawa-bawa gua lagi" laki-laki muda sebayaku itu mulai sewot dengan tingkah adiknya.
"Bu gimana kalau kita pindah tempat ke sana?"
Laki-laki yang lebih muda dari wanita yang di panggil Oma itu menyarankan agar mereka pindah ke ruangan khusus keluarga yang sedang sambang.
"iya Bu ayo pindah ke sana disini panas nggak ada AC nya" wanita yang juga lebih muda dari Oma itu ikut berbicara
"silahkan pak bu...memang tempat itu di sediakan untuk keluarga yang mau berkunjung"
keluarga itu serentak berdiri dan meninggalkan rumah abah, sebelum mereka keluar dari pintu...
"o iya bu disana juga ndak ada AC nya jadi maaf kalau panas"
__ADS_1
"tuh kan pah pantes Alisyah nggak betah disini semuanya panas banget"
"mah jaga tingkah mu itu... eh tidak apa-apa nak Nashwa tidak jadi masalah"