
Hari yang penting di kehidupan baru Salsabila dengan Aab telah di mulai, acara pernikahan yang di gelar di pondok sudah berakhir, dan Salsa juga telah pergi ke rumah Aab untuk menjadi istri serta menantu disana.
Hari-hari seperti biasa mulai di jalani Erika, tapi berbeda dengan sebelumnya jika Erika bisa santai hanya ikut membantu Salsa dalam mengurus pekerjaan rumah, kali ini Erika lah yang memegang kendali atas semua pekerjaan rumah, jika di pondok ada dua pembantu yang khusus memasak untuk semua santri, lain hal nya dengan di rumah pak kyai Ghufron, hanya Erika yang akan menjadi koki disana.
Seperti biasa Erika selalu terbangun di sepertiga malam untuk melakukan sholat sunnah, setelah melakukan sholat sambil menunggu subuh Erika menyiapkan keperluan dapur, terlebih dahulu Erika membuat kopi untuk abah nya dan di letakkan di atas kulkas seperti biasa. Erika mulai memasak nasi dan meracik bumbu untuk menu yang akan di masak nanti setelah sholat subuh. Adzan berkumandang ketika Erika sedang menghaluskan bumbu untuk masakannya, segera Erika meninggalkan pekerjaannya dan melakukan jamaah sholat subuh bersama semua santri di musholah putri.
Pak kyai Ghufron sudah standby di musholah sejak sebelum murottal di kumandangkan, sesekali pak kyai membangunkan santri senior agar membangunkan santri lain untuk sholat subuh, karena sholat sunnah telah di lakukan jam sepuluh tadi malam.
Ali dengan malas menuruni tangga di pondok menuju kamar mandi yang letaknya memang di lantai bawah bangunan, matanya tertuju pada seseorang yang duduk dengan sedikit meringkuk menghadap kiblat, Ali mengamati orang itu yang ternyata sedang menahan tangisnya yang sesenggukan terlihat badannya sedikit berguncang.
"ngeliatin apa? ayo sana mandi, wudhu, terus sholat" Rendi
"itu pak kyai kan?" Ali
Rendi melihat ke arah yang di tunjuk Ali
"iya itu pak kyai"
"kayaknya beliau nangis"
"pak kyai emang sering nangis kalau lagi melakukan wirid"
"kasihan"
"kasihan kenapa?"
"nggak ada yang ngurus"
__ADS_1
"kan ada Erika"
"ya kalau Erika married sama gua kan pak kyai sendirian"
"astaghfirullah... ni anak masih aja ngelindur, sana mandi biar bangun"
"semua memang berawal dari mimpi bray... ha ha ha"
Ali meninggalkan Rendi yang masih menggeleng-gelengkan kepalanya karena gemas dengan tingkah laku teman sekamarnya itu.
"dasar orang kota" Rendi
"kamu beneran ndak mau minta bantuan sama mbak Lis untuk bantu-bantu di rumah?"
(mbak Lis salah satu orang yang memasak di dapur pondok)
"mboten bah, kalau urusan di rumah Nashwa masih sanggup mengurusnya sendiri, biar mbak Lis di pondok saja, sama itu bah bekal buat para guru yang dari pondok itu biar mbak Lis sama mbak Nur yang siapin ndak apa-apa to bah?"
__ADS_1
"ya ndak apa-apa biar kamu juga ndak kerepotan nduk"
"nggeh bah, abah mau sarapan sekarang?"
"enggak nduk masih kepagian, nanti saja abah mau ke kolam dulu"
"Nashwa siapin di meja ya bah, nanti kalau abah mau makan sudah ada di meja, Nashwa mau ngajar bah ada kelas pagi"
"iya nduk, nanti abah cari sendiri"
Pak kyai Ghufron pergi untuk memberi makan ternak lele di kolam di belakang pondok.
*kasihan abah, sejak ibu pergi abah nggak punya temen, apalagi sekarang Salsa juga sudah nggak di rumah ini, rasanya abah semakin kesepian* (Erika)
__ADS_1